Home / Rumah Tangga / ISTRI LUPA DIRI / Chapter 41 - Chapter 50

All Chapters of ISTRI LUPA DIRI: Chapter 41 - Chapter 50

78 Chapters

Bab 41: Siapa Yang Harus Aku Percayai?

Rachel duduk diam di dalam mobil yang melaju menuju sebuah kafe di pusat kota. Tangannya mengepal di atas pangkuan, sementara pikirannya dipenuhi berbagai spekulasi. Keiza. Nama itu kembali menghantuinya.“Apa kau yakin ingin menemuinya sekarang?” tanya Martin, yang duduk di sampingnya dengan ekspresi khawatir.Rachel menoleh, menatap wajah suaminya yang penuh kecemasan. “Aku harus. Jika Keiza memang ada hubungannya dengan semua ini, aku ingin mendengar langsung dari mulutnya.”Martin menarik napas panjang. “Baiklah. Tapi aku akan tetap di dekatmu. Aku tidak ingin kau menghadapi ini sendirian.”Rachel mengangguk. Meskipun hatinya berdebar kencang, ia tahu ini adalah sesuatu yang harus ia lakukan.Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan kafe. Martin membuka pintu untuknya, dan mereka masuk bersama. Pandangan Rachel langsung menyapu seluruh ruangan. Ia menemukan Keiza duduk di salah satu sudut, mengenakan blazer merah dengan rambut panjang yang digerai. Wanita itu tampak tenang, seol
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 42: Bahaya Menyesatkan

Rachel duduk di ruang tamu rumahnya, memandangi ponselnya dengan perasaan tak menentu. Pesan dari Leonard masih ada di layar, menawarkan bantuan yang sulit ia tolak. Meskipun ia tahu Martin tak akan menyukai kedekatannya dengan Leonard, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuatnya merasa memiliki seseorang yang bisa diandalkan.Namun, pikirannya kembali ke ibunya. Sudah lama ia tidak menghubungi wanita itu. Sejak kehidupannya berubah drastis, Rachel merasa enggan untuk mengingat masa lalunya yang penuh kesulitan. Namun, di balik semua kemewahan ini, ia tahu ibunya masih hidup dalam keterbatasan.Ia menggigit bibir, merasa bersalah. “Mungkin aku harus mengunjunginya sebentar,” gumamnya.Belum sempat ia mengambil keputusan, suara pintu diketuk keras dari luar. Rachel terkejut. Dengan langkah hati-hati, ia berjalan menuju pintu dan membukanya.Seorang wanita berdiri di hadapannya, dengan wajah penuh amarah.“Kamu Rachel, kan?” suara wanita itu dingin, menusuk.Rachel mengerutkan kenin
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 43: Semakin Menyesakkan

Rachel berdiri dengan tubuh tegang di tengah ruangan. Sofia menyilangkan tangan di depan dada, menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan. Dua pria berbadan kekar berdiri di dekat pintu, memastikan bahwa Rachel tidak bisa keluar dengan mudah.“Aku tidak akan tinggal diam,” kata Rachel, mencoba menahan getaran dalam suaranya.Sofia tertawa kecil, seolah menganggap ancaman Rachel sebagai lelucon. “Lalu, apa yang bisa kau lakukan? Leonard mungkin kasihan padamu, tapi dia tidak akan bisa menyelamatkanmu dari ini.”Rachel menggertakkan giginya. Ia tahu bahwa Sofia bukan orang yang bisa dianggap enteng. Wanita itu selalu punya cara untuk menghancurkan orang lain tanpa harus mengotori tangannya sendiri.“Apa yang sebenarnya kau inginkan, Sofia?” Rachel bertanya, mencoba mengulur waktu.Sofia berjalan mendekat, menundukkan wajahnya hingga hampir sejajar dengan Rachel. “Aku hanya ingin melihat bagaimana seorang wanita murahan sepertimu jatuh dari tempat yang kau pikir sudah aman. Kau pikir den
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 44: Pelarian

Rachel merasa jantungnya berdegup kencang saat tatapan Sofia tak lepas dari wajahnya. Ruangan terasa semakin sempit, udara seolah menipis. Ia harus segera keluar dari tempat ini, sebelum Sofia benar-benar menghancurkan hidupnya.Namun, dua pria berbadan kekar yang berjaga di pintu menjadi penghalang utama. Rachel melirik sekeliling, mencoba mencari celah. Tidak ada jendela besar yang bisa ia panjat, tidak ada pintu lain selain yang dijaga ketat.Sofia tampaknya menyadari kegelisahan Rachel. Ia tertawa kecil dan berjalan ke arah meja, menuangkan anggur ke dalam gelasnya. “Jangan repot-repot mencari jalan keluar, Rachel. Aku sudah memastikan kau tidak bisa kabur dengan mudah.”Rachel mengepalkan tangannya. Ia harus tetap tenang dan tidak menunjukkan ketakutan. Jika ia panik, Sofia akan semakin menikmati permainan ini.“Aku sudah memberi pilihan padamu,” lanjut Sofia, mengaduk-aduk anggurnya dengan gerakan santai. “Tinggalkan Martin dengan cara yang kuberitahukan, atau… aku pastikan duni
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 45: Benang Tipis Pengkhianatan

Rachel menunduk, jantungnya masih berdebar keras setelah insiden di butik. Langkah kaki Leonard terdengar jelas di lorong sempit itu, tegas dan penuh tekanan. Tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Rachel, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa selain mengikutinya.Saat mereka tiba di luar, Leonard melepaskan genggamannya. Ia menatap Rachel dalam-dalam, ekspresi wajahnya sulit ditebak.“Kau ingin menjelaskan sekarang atau harus kupaksa?” suaranya dingin, tanpa sedikit pun kelembutan.Rachel menelan ludah. Ia tahu Leonard tidak akan mudah percaya. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, ada kemungkinan ia semakin terjebak dalam masalah ini.“Aku hanya datang ke sana untuk berbicara dengan Sofia,” jawab Rachel akhirnya, berusaha terdengar santai.Leonard tertawa kecil, tetapi tawanya penuh sindiran. “Berbicara? Kau terlihat seperti orang yang baru saja ditahan paksa.”Rachel terdiam. Leonard benar. Apa yang terjadi di dalam butik tadi bukan sekadar percakapan biasa.Leonard menyilangka
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 46: Kesombongan Berbuah Petaka

Rachel duduk di restoran mewah dengan interior klasik, dikelilingi lampu gantung kristal yang berkilauan. Gaun merah marun yang membalut tubuhnya semakin menegaskan status barunya sebagai istri pria kaya. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi empuk, menyeruput kopi mahal sambil menelusuri layar ponsel.Di media sosial, notifikasinya terus berdering.“Rachel, kamu benar-benar seperti sosialita sejati!”“Cantik dan berkelas!”“Aku ingin hidup seperti kamu!”Rachel tersenyum puas. Ini adalah kehidupan yang dulu hanya bisa ia impikan yaitu hidup di lingkungan elite, menikmati kemewahan tanpa harus memikirkan uang. Sekarang, ia sudah berada di puncak, dan tidak ada yang bisa menjatuhkannya.Namun, lamunannya terganggu oleh sebuah notifikasi dari grup keluarga. Itu dari salah satu kerabat ibunya.“Rachel, ibumu sakit. Dia butuh uang untuk berobat.”Tatapan Rachel mengeras. Ia membaca pesan itu tanpa ekspresi, lalu dengan santai meletakkan ponselnya di atas meja. Perasaan tidak nyaman sempat men
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 47: Kebenaran yang Menampar Rachel

Rachel berdiri terpaku di depan cermin, ponsel masih menempel di telinganya. Kata-kata Lina barusan masih bergema di kepalanya. “Sepertinya… kau harus datang sekarang.” Dada Rachel terasa sesak, tapi ia menepis perasaan itu. Ia mencoba berpikir jernih. Martin adalah pria yang kuat. Ia pasti akan baik-baik saja. “Ini pasti hanya masalah kecil.” Namun, saat ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, jari-jarinya justru bergerak sendiri, meraih tasnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah berada di dalam mobilnya, melaju menuju rumah sakit. Di Ruang Rumah Sakit Begitu Rachel tiba di rumah sakit, ia berjalan cepat ke ruang VIP yang disebutkan Lina. Aroma antiseptik menyengat hidungnya, dan suara alat-alat medis berdenging di telinganya. Saat ia membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang terbaring lemah di tempat tidur. Martin. Wajahnya pucat, dengan selang infus terpasang di tangannya. Dokter dan perawat masih berdiri di sekelilingnya, mencatat sesuatu di papan
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 48: Rachel Yang Tak Lagi Sama

Rachel menatap Leonard dengan tajam. Ia masih tidak percaya pria ini tiba-tiba muncul di rumah sakit dan sekarang menawarkan sesuatu yang bisa mengubah hidupnya selamanya.Martin masih terbaring lemah di tempat tidur, sementara Lina tampak tidak nyaman dengan kehadiran Leonard.“Apa maksudmu dengan tawaran itu, Leonard?” tanya Rachel dengan suara pelan namun penuh tekanan.Leonard menyilangkan tangan di dadanya, lalu melirik sekilas ke arah Martin. “Aku pikir kita bisa bicara berdua. Aku tidak ingin pria ini mendengar percakapan kita.”Rachel menggeleng. “Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja di sini.”Leonard mendesah, lalu melangkah lebih dekat. “Aku hanya ingin tahu… bagaimana rasanya hidup dengan pria yang tidak bisa memberikan apa pun lagi untukmu?”Rachel tersentak.“Apa maksudmu?”Leonard menatapnya penuh keyakinan. “Martin sakit. Kau tahu itu, aku tahu itu. Dia tidak bisa lagi memberimu kehidupan yang mewah. Tidak bisa lagi memanjakanmu seperti dulu. Bahkan, dia mungk
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 49: Tak Terelakkan

Rachel berdiri di depan jendela besar ruang tamu, menatap ke luar dengan pikiran yang berkecamuk. Sudah beberapa hari ini ia merasa ada yang berbeda dalam sikap Martin. Suaminya yang dulu hangat dan penuh perhatian, kini terasa semakin jauh. Setiap kali Rachel mencoba berbicara dengannya, pria itu selalu terlihat sibuk atau malah menghindar.Dia memegang kepalanya, mencoba menahan perasaan gelisah yang mulai menguasai hatinya. Apakah Martin mulai bosan dengannya? Apakah dia diam-diam menyimpan sesuatu?Ketukan pintu tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Seorang pelayan berdiri di ambang pintu dengan ekspresi ragu.“Madam, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda,” katanya dengan suara hati-hati.Rachel mengernyit. “Siapa?”Pelayan itu menunduk sedikit sebelum menjawab, “Nyonya Keiza.”Jantung Rachel berdegup kencang. Nama itu membawa kembali begitu banyak kenangan, kebanyakan di antaranya tidak menyenangkan. Keiza adalah mantan tunangan Martin, wanita yang selalu dipandang sebagai pasangan
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 50: Sandiwara Penghancur

Rachel masih berdiri membeku di ruang tamu, menggenggam erat foto-foto yang baru saja ditunjukkan Keiza. Hatinya terasa seperti dihantam badai. Jantungnya berdebar kencang, tetapi bukan karena kebahagiaan, melainkan karena kemarahan yang membara.Martin mencoba mendekatinya lagi, tetapi Rachel segera mundur selangkah. “Jangan mendekat, Martin,” katanya dengan suara bergetar. “Aku ingin jawaban sekarang. Apa ini semua benar?”Martin menatapnya dengan wajah penuh keseriusan. “Rachel, aku bisa jelaskan. Tapi tidak seperti yang kau pikirkan.”Rachel tertawa pahit. “Kau ingin aku percaya begitu saja? Setelah melihat foto-foto ini?” Ia mengangkat salah satu foto yang menunjukkan Martin duduk berdua dengan seorang wanita di sebuah restoran. “Siapa dia?”Martin menatap foto itu dengan rahang mengatup. “Namanya Laura. Dia—”Rachel langsung menyela dengan cepat. “Jadi kau mengakuinya?”Martin mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku tidak pernah berselingkuh, Rachel! Laura adalah… seseorang dari ma
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more
PREV
1
...
345678
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status