Home / Rumah Tangga / ISTRI LUPA DIRI / Chapter 31 - Chapter 40

All Chapters of ISTRI LUPA DIRI: Chapter 31 - Chapter 40

78 Chapters

Bab 31: Benang Kusut Perusahaan

Rachel duduk di ruang kerja rumahnya, menatap laporan keuangan yang terbuka di hadapannya. Meskipun tampak fokus, pikirannya melayang ke banyak hal. Setelah insiden di rumah sakit, hubungan antara dirinya dan Martin semakin merenggang. Ia tahu Martin masih belum sepenuhnya pulih, tetapi sikap pria itu yang semakin dingin membuatnya merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Namun, yang lebih mengganggu pikirannya saat ini adalah kondisi perusahaan. Sejak Martin menyerahkan sebagian kendali kepadanya, Rachel mulai menyadari bahwa bisnis ini tidak semulus yang terlihat. Ada laporan yang tidak beres, pemasukan yang tidak sesuai dengan catatan, dan beberapa transaksi mencurigakan yang membuatnya bertanya-tanya—apakah ini hanya kesalahan biasa atau ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi? Rachel menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya, berusaha menyingkirkan rasa lelah yang mulai menguasainya. Jika saja Martin lebih terbuka padanya, mungkin ia tidak perlu merasa sendirian dalam meng
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 32: Kebenaran Mulai Terkuak

Rachel duduk di ruang kerjanya dengan ekspresi tegang. Matanya terpaku pada layar komputer, menelusuri angka-angka dalam laporan keuangan perusahaan yang baru ia terima. Semakin dalam ia menyelidiki, semakin banyak kejanggalan yang ia temukan. Ada aliran dana mencurigakan yang jumlahnya tidak sedikit.Martin masih dalam kondisi lemah sejak penyakitnya semakin parah. Ia belum sepenuhnya pulih, dan Rachel tidak ingin menambah bebannya. Tapi ini bukan hal yang bisa diabaikan. Jika benar ada kebocoran dana, perusahaan bisa dalam bahaya besar.Rachel meremas tangannya, mencoba menenangkan diri. “Aku harus mencari tahu lebih dalam,” gumamnya pelan.Ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. Dina, sekretarisnya, masuk dengan wajah tegang.“Bu Rachel, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda. Katanya ini penting.”Rachel menatapnya penuh tanya. “Siapa?”“Dia bilang namanya Arman. Seorang auditor independen.”Rachel menegakkan punggungnya. Auditor independen? Siapa yang mengutusnya? Apakah
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 33: Dia Masa lalu

Rachel masih duduk di ruangannya dengan pikiran yang penuh. Ucapan Leonard terus terngiang di benaknya.“Terkadang, mencari tahu terlalu dalam bisa berbahaya.”Apa maksudnya? Apakah itu ancaman? Atau peringatan?Di depannya, Arman tampak gelisah. Pria itu masih berada di ruangan, tampaknya menunggu instruksi.“Bu Rachel, saya rasa kita harus segera mengambil tindakan sebelum orang yang terlibat semakin sulit dilacak,” ujar Arman dengan nada serius.Rachel menatapnya, lalu mengangguk. “Aku setuju. Tapi kita tidak bisa gegabah. Kita butuh lebih banyak bukti sebelum mengambil langkah besar.”Arman menyandarkan punggungnya ke kursi. “Saya bisa menelusuri lebih dalam lagi. Tapi jika ini sudah melibatkan pihak dalam, kita harus berhati-hati.”Rachel mengepalkan tangannya. Ia tidak ingin perusahaannya hancur karena ulah orang-orang licik.Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar. Ia ragu sejenak, tapi akhirnya mengangkat.“Halo?”Tidak ada suara di seberang. Ha
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 34: Terlena dalam Kemewahan, Lupa Daratan

Rachel duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun sutra merah yang ia kenakan membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan sosoknya yang kini lebih anggun dan berkelas. Berlian yang menggantung di lehernya berkilauan di bawah cahaya lampu kamar, mencerminkan statusnya yang kini jauh berbeda dari dulu. Hidupnya sudah berubah. Ia bukan lagi gadis miskin yang dulu harus berjuang untuk sesuap nasi. Kini, ia adalah nyonya dari seorang pria kaya dan terpandang. Semua yang dulu hanya bisa ia impikan, kini berada dalam genggamannya. Namun, di tengah gemerlapnya kehidupan baru ini, bayangan masa lalu tiba-tiba menyusup ke dalam pikirannya. Sosok seorang wanita tua yang mengenakan pakaian lusuh, duduk sendirian di dalam rumah reyot dengan atap bocor dan dinding kusam. Rumah yang dulu menjadi tempat ia berlindung dari hujan dan teriknya matahari. Ibunya. Rachel menghela napas. Entah mengapa, ada perasaan tidak nyaman yang mengusik hatinya. Ia tahu betul bagaimana
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 35: Ibu Yang Terlupakan

Rachel duduk di ruang tamu rumah mewahnya, memandangi cangkir teh yang sudah mendingin di atas meja. Pikirannya kalut. Semua yang ia miliki saat ini adalah impian yang dulu terasa mustahil bagi Rachel yaitu kekayaan, status sosial, dan kebebasan untuk menikmati hidup tanpa harus memikirkan kekurangan uang. Namun, entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.Bayangan ibunya yang tinggal di rumah kecil yang dulu mereka tempati kembali muncul di pikirannya. Sudah berhari-hari ia tidak menghubungi wanita tua itu. Ia tahu betul kondisi ibunya tidak baik, tetapi ia memilih mengabaikannya. Baginya, kemiskinan itu seperti racun yang harus dijauhi sejauh mungkin.Rachel menghela napas panjang dan berdiri, mencoba mengusir perasaan tidak nyaman itu. Ia berjalan ke lemari kaca tempat koleksi perhiasannya tersusun rapi. Dengan jemarinya, ia menyentuh kalung berlian yang baru saja dibelikan Martin untuknya. Seharusnya ia bahagia, bukan?Namun, kebahagiaan itu terasa kosong.Saat ia masih
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 36: Sebuah Pilihan

Rachel berdiri di depan cermin besar di dalam butik mewah, mengenakan gaun satin berwarna merah tua yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Pelayan butik berdiri di belakangnya, tersenyum penuh kekaguman.“Gaun ini benar-benar cocok untuk Anda, Nyonya Martin,” ucap pelayan itu.Rachel mengangkat dagunya sedikit, dan menatap pantulan dirinya. Tak dapat dipungkiri, bahwa kehidupan mewah ini adalah sesuatu yang dulu hanya bisa ia impikan. Kini, segalanya sudah pasti ada di genggamannya.Namun, saat di tengah keindahan yang mengelilinginya, pikirannya berkelana jauh. Ia teringat ibunya yaitu wanita tua yang kini hidup sendiri di rumah sederhana, tanpa ada dirinya di sisi. Rachel mencoba menepis rasa bersalah yang mulai mengusik pikirannya. Toh, ibunya selalu hidup dalam kesulitan, dan ia tak pernah benar-benar mengeluh.Tepat saat ia hendak berbicara, suara ponselnya bergetar di dalam tasnya. Rachel melirik layar—sebuah pesan dari Leonard.Leonard: “Aku ingin bertemu sekarang. Ada yang ha
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 37: Kebenaran yang Menghancurkan

Rachel berdiri di depan jendela kamar, memandang langit malam yang gelap tanpa bintang. Pikirannya dipenuhi kegelisahan sejak ia menemukan dokumen yang kini tergenggam erat di tangannya. Dokumen itu bukan sekadar kertas biasa. Tulisan di dalamnya mengandung fakta yang bisa mengguncang dunianya. [Kontrak Investasi dan Pengalihan Aset] Nama Martin tertera di sana, tetapi yang lebih mengejutkan adalah nama lain yang tertulis di dalamnya—Keiza. Rachel mengerutkan kening, membaca ulang isi dokumen itu dengan cermat. Ia mencoba menemukan kesalahan atau mungkin sekadar kebetulan, tetapi semakin ia menelusuri setiap detailnya, semakin jelas bahwa Keiza memiliki keterlibatan dalam aset Martin. Sebuah pertanyaan besar muncul di benaknya: Kenapa Martin tidak pernah mengatakan apa pun tentang ini? Hatinya mulai diliputi kecurigaan. Apakah suaminya masih memiliki hubungan bisnis dengan mantan kekasihnya? Atau lebih dari itu—apakah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya? Ketika
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 38: Rasa Terusik

Rachel duduk di dalam mobil dengan tangan terlipat di pangkuannya. Pikirannya masih terbayang kejadian di butik tadi. Ia bisa merasakan tatapan para wanita sosialita yang meremehkannya. Walau sekarang ia dalam kemewahan, tetap saja ada yang menganggapnya tidak pantas. Martin yang sedang duduk di sebelahnya, terlihat sangat fokus menyetir. Ia sesekali melirik Rachel yang diam saja sejak mereka meninggalkan butik. “Kamu baik-baik saja?” Martin bertanya dengan nada lembut. Rachel mengangguk singkat, tetapi jelas ada sesuatu yang mengganggunya. “Aku hanya lelah,” jawabnya datar. Martin tidak memaksa Rachel untuk bercerita sekarang. Ia tahu, terkadang istrinya membutuhkan waktu sendiri untuk mencerna perasaannya. Mobil berhenti tepat di depan restoran yang mewah. Martin sudah merencanakan makan malam romantis untuk mereka berdua. Sebagai suami, ia ingin Rachel merasa lebih nyaman di lingkungan sosialnya. “Kita makan di sini?” Rachel bertanya, agak terkejut. Martin tersenyum. “
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 39: Ada Yang Mengintai

Setelah makan malam yang penuh kegelisahan itu, Rachel tidak bisa tidur dengan tenang. Kata-kata Keiza terus terngiang di benaknya. “Hati-hati, Rachel. Kehidupan mewah bisa membuat seseorang kehilangan arah.”Apa maksudnya? Apakah itu hanya sindiran biasa, atau ada sesuatu yang lebih dalam?Rachel berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamar yang megah. Cahaya temaram dari lampu tidur membuat bayang-bayang di dinding terlihat bergerak-gerak, seakan menari bersama pikirannya yang tak henti-henti.Di sampingnya, Martin sudah tertidur. Wajahnya terlihat damai, tetapi Rachel tahu, suaminya juga menyimpan banyak beban.Dengan hati gelisah, Rachel bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon. Angin malam yang sejuk menyentuh kulitnya, membawa serta perasaan aneh yang sulit ia jelaskan. Dari atas gedung apartemen mereka, ia bisa melihat kelap-kelip lampu kota yang tak pernah tidur.Dulu, hidupnya tak pernah setenang ini. Ia masih ingat bagaimana dulu ia harus bekerja keras
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 40: Dibalik Lensa

Rachel masih memandangi foto-foto itu dengan mata membelalak. Tangannya gemetar saat ia mengangkat lembar terakhir. Bayangan seseorang yang muncul di belakangnya dalam foto itu membuat napasnya tercekat.“Ini… tidak mungkin,” gumamnya.Martin yang berdiri di sampingnya ikut menatap gambar itu dengan rahang mengeras. “Rachel, kau mengenal orang ini?”Rachel seolah terdiam tapi jantungnya berdetak sangat kencang. Sosok dalam foto itu adalah seseorang dari masa lalunya, yaitu seseorang yang seharusnya sudah tidak ada dalam kehidupannya.Keiza.Wanita itu berdiri di belakangnya dalam salah satu foto yang diambil di butik. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, tetapi Rachel mengenali sorot mata itu. Tatapan yang penuh makna, seakan mengamatinya dengan cermat.“Tidak mungkin dia ada di sini,” bisik Rachel, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku tidak pernah melihatnya”Martin meraih bahunya dengan lembut. “Rachel, tenang. Kita akan cari tahu siapa yang mengirim foto-foto ini dan apa tujuannya.”
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more
PREV
1234568
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status