Home / Rumah Tangga / ISTRI LUPA DIRI / Chapter 11 - Chapter 20

All Chapters of ISTRI LUPA DIRI: Chapter 11 - Chapter 20

78 Chapters

Bab 11: Perang Dimulai

Rachel meremas ujung gaunnya, jantungnya berdetak kencang saat membaca isi surat gugatan yang baru saja diberikan pria berjas hitam. Leonard menuduh mereka menyalahgunakan aset perusahaan Martin. Rachel mengangkat wajahnya, menatap Martin yang masih berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Matanya menyiratkan ketenangan, tetapi tangannya mengepal di atas selimut. “Jadi ini langkah pertama Leonard?” gumam Martin, suaranya terdengar serak. Pria berjas hitam itu mengangguk. “Ya, dan ini bukan gugatan biasa. Jika Leonard menang, pasti kalian akan kehilangan semua aset Martin, termasuk rumah dan sahamnya di perusahaan.” Rachel terperanjat. “Itu berarti kita akan kehilangan segalanya?” “Benar,” jawab pria itu dengan nada yang serius. Rachel menelan ludah. Baru saja ia memilih untuk tetap bersama Martin, sekarang mereka harus menghadapi ancaman yang jauh lebih besar. Leonard tidak main-main. Ia memang benar ingin menghancurkan mereka. “Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Rachel, suara
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 12: Pilihan yang Mustahil

Rachel menggenggam dokumen di tangannya, jari-jarinya gemetar.Leonard menatapnya dengan tenang, seolah sudah tahu jawabannya.“Jangan terburu-buru, Rachel,” katanya dengan nada santai. “Ambil waktumu, tapi ingat, tawaran ini tidak berlaku selamanya.”Rachel menatap pria itu dengan penuh kebencian. Ia tahu Leonard tidak akan membiarkan mereka menang begitu saja.“Aku tidak akan mengkhianati Martin,” ucapnya tegas.Leonard menghela napas, lalu menatapnya tajam. “Rachel, Martin tidak akan bisa menang melawan aku. Jika kau tetap bersamanya, kau hanya akan jatuh lebih dalam ke jurang kemiskinan. Tapi jika kau menandatangani ini…”Ia menunjuk dokumen di tangan Rachel.“Kau bisa hidup nyaman, kaya, dan bebas dari semua masalah ini.”Rachel menatap dokumen itu lagi. Tawaran ini memang menggoda.Dulu, sebelum menikah dengan Martin, ia hanyalah seorang gadis miskin yang tidak memiliki apa-apa.Sekarang, ia kembali dihadapkan dengan pilihan sulit.Jika ia memilih bertahan bersama Martin, mereka
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 13: Kode Rahasia

Malam itu, Rachel berdiri di depan jendela kamar rumah sakit. Tangannya mengepal erat, pikirannya berputar cepat. Siapa orang yang meneleponnya tadi? Apa benar dia memiliki informasi tentang Leonard? Dan yang paling penting,apakah ini jebakan atau harapan? Martin masih tertidur, wajahnya terlihat lelah setelah semua yang terjadi hari ini. Rachel tahu ia tidak bisa membiarkan Martin menghadapi ini sendirian. Dia harus bertindak. Dengan hati-hati, Rachel mengambil tasnya dan keluar dari kamar. Langkahnya cepat namun hati-hati, takut membangunkan Martin. Namun, baru beberapa langkah dari kamar, seseorang menarik lengannya dengan kuat. “Rachel, kau mau ke mana?” Rachel tersentak. Ia menoleh dan mendapati sosok Erik, sahabat lama Martin sekaligus mantan pengacaranya. “Erik?” suaranya berbisik. Pria itu menatapnya tajam. “Kau mau menemui seseorang, bukan?” Rachel mengerjap. “Bagaimana kau tahu?” Erik menghela napas. “Aku sudah menduga kau akan melakukan sesuatu seperti ini. Rac
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 14: Perangkap

Rachel menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Kata-kata terakhir dari penelepon itu terus terngiang di kepalanya.“Jika kau ingin kode itu, temui aku di tempat yang akan aku kirimkan. Datang sendiri. Jika kau membawa siapa pun, Martin akan mati.”Jantungnya berdebar kencang.Siapa penelepon itu?Bagaimana orang itu tahu tentang flash drive ini?Dan yang paling mengerikan,bagaimana dia bisa mengancam Martin?Rachel menggigit bibirnya. Ini perangkap. Itu jelas. Tapi ia tidak punya pilihan.Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk.“Gudang tua di Jalan Richmond. Tengah malam. Datang sendiri.”Rachel menelan ludah. Mereka hanya memberinya waktu beberapa jam.Rencana yang BerbahayaRachel berjalan mondar-mandir di kamar rumah sakit Martin. Erik mengamati dari sudut ruangan dengan ekspresi serius, sementara Martin mencoba duduk dengan susah payah.“Rachel, kau tidak bisa pergi sendiri,” kata Martin dengan suara lemah. “Ini jelas jebakan.”“Aku tahu,” Rachel menjawab, suaranya penuh keb
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 15: Siapa Orang itu?

Rachel mengira hidupnya kini sempurna. Ia memiliki suami kaya, rumah mewah, dan status sosial yang ia impikan sejak dulu. Tidak ada lagi hinaan dan penderitaan yang menghantuinya seperti saat ia masih miskin. Namun, di balik kemewahan yang ia nikmati, ancaman tak kasat mata mulai mengintai. Sore itu, Rachel sedang duduk di ruang tamu, mengenakan gaun sutra mahal sambil menyesap teh hangat. Seorang pelayan baru saja datang dengan wajah gugup, dan menyerahkan sebuah amplop berwarna hitam. “Nyonya, ini dikirimkan seseorang tadi siang. Katanya penting.” Rachel mengangkat alis. Surat fisik? Di zaman sekarang? Penasaran, ia membuka amplop itu. Selembar kertas putih dengan tulisan tangan kasar terbaca jelas sangat jelas : “Kau pikir bisa menikmati hidup tanpa konsekuensi? Bersiaplah, sesuatu yang besar akan segera menghancurkanmu.” Jantungnya berdegup kencang. Tangannya sedikit gemetar saat ia melipat kembali surat itu. Apa maksudnya? Siapa yang mengirim surat ini? Ia berusaha meng
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 16: Fakta yang Menghantui

Rachel duduk di ruang tamunya dengan perasaan tidak tenang. Sejak menerima surat ancaman itu, tidurnya tidak pernah nyenyak. Martin masih terbaring sakit di kamar atas, dan sekarang dia merasa seolah-olah ada seseorang yang mengawasi rumahnya. Angin malam bertiup pelan melalui celah jendela yang lupa ditutup. Ia mendekap dirinya sendiri, mencoba menenangkan detak jantung yang berdebar keras. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari dapur. Rachel tersentak. Dia bangkit perlahan, menajamkan pendengaran. “Siapa di sana?” Tidak ada jawaban. Dia melangkah ke arah dapur, tangannya gemetar saat meraih pegangan pintu. Dengan satu tarikan napas dalam, dia mendorong pintu terbuka. Seseorang berdiri di sana. “Sandra?” Wanita itu menatapnya dengan sorot mata dingin. Rambutnya tampak berantakan, wajahnya lebih tirus dari terakhir kali mereka bertemu. “Kau tampak terkejut melihatku,” kata Sandra dengan suara datar. Rachel menelan ludah. “Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bis
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 17: Resah Dan Gelisah

Rachel duduk di tepi tempat tidur Martin, matanya tak lepas dari suaminya yang masih tampak lemah. Keringat dingin mengalir di pelipis pria itu, wajahnya pucat, dan napasnya terengah-engah. Sandra berdiri di dekat pintu, masih menggenggam pisau dapur dengan erat. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, mencari tanda-tanda kehadiran orang lain. Tapi tidak ada siapa pun. Rachel menggenggam tangan Martin. “Siapa yang kau lihat?” bisiknya. Martin menggeleng pelan, matanya tampak kosong. “Aku tidak tahu… tapi aku merasa ada seseorang di sini. Aku bisa mendengar napasnya, Rachel. Aku bahkan bisa mencium bau parfumnya.” Rachel merasakan bulu kuduknya berdiri. “Seseorang sudah masuk ke rumah ini,” kata Sandra. “Dan dia ingin kita tahu bahwa dia ada di sini.” Rachel menelan ludah. “Tapi kenapa? Apa yang mereka inginkan?” Sandra mendesah. “Kau benar-benar tidak sadar, ya?” Rachel menatapnya bingung. “Ini tentang uang, Rachel. Kekayaan Martin. Semua ini terlalu jelas.” Rachel terdiam. Ap
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 18: Rahasia Terungkap

Rachel menatap surat di tangannya dengan gemetar. Kata-kata di atas kertas itu seperti pisau tajam yang menusuk langsung ke jantungnya.“Jangan terlalu nyaman. Aku akan segera datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”Siapa yang menulis ini?Rachel menoleh ke arah Sandra, yang berdiri dengan ekspresi serius. Martin, yang masih berbaring lemah, tampak semakin pucat setelah membaca surat itu.“Martin,” suara Rachel bergetar. “Kau tahu siapa yang menulis ini, bukan?”Suaminya tidak segera menjawab. Dia menatap langit-langit dengan pandangan kosong, seolah pikirannya sedang berlari ke masa lalu yang suram.Sandra mendesak. “Martin, jika kau tahu sesuatu, katakan sekarang! Kita dalam bahaya!”Martin menarik napas panjang dan menutup matanya sesaat, seolah sedang berjuang untuk mengumpulkan keberanian. Lalu, dia berbicara pelan.“Ada seseorang… seseorang yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupku. Aku pikir dia sudah menghilang, tapi ternyata aku salah.”Rachel menelan
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 19: Jerat yang Mulai Mengunci

Rachel menatap wajah pucat Martin yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Napasnya terdengar lemah, tubuhnya semakin kurus, dan matanya tetap terpejam. Sejak Martin jatuh sakit, hidup Rachel terasa seperti mimpi buruk.Dulu, ketika menikah dengan Martin, ia merasa dunia ada di tangannya. Kemewahan, status, dan segala hal yang tak pernah bisa ia bayangkan saat masih hidup miskin kini menjadi miliknya. Namun, seiring waktu, keserakahan menelannya bulat-bulat. Ia lupa siapa dirinya dulu, lupa pada keluarganya sendiri.Tapi sekarang, segalanya berubah.Sebuah ketukan di pintu membuat Rachel tersentak. Ia mengangkat kepalanya dan melihat seorang pria melangkah masuk dengan santai—Damar.Rachel langsung menegang. Damar adalah rekan bisnis Martin yang selama ini bersikap manis di depan mereka. Tapi Rachel tahu ada sesuatu yang tidak beres.“Bagaimana kabar suamimu?” tanya Damar dengan nada santai.Rachel berdiri, menatapnya dengan penuh kewaspadaan. “Apa yang kau lakukan di sini?”Damar
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 20: Perlawanan

Rachel berdiri di tepi ranjang Martin, menggenggam tangan suaminya yang masih dingin. Napasnya berat, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia baru saja mengetahui bahwa Damar telah menipu Martin dan mengambil alih sebagian besar asetnya. Untungnya, Reza muncul dengan bukti yang bisa membalikkan keadaan.Namun, Rachel tahu satu hal: ini belum berakhir.Reza berdiri di sisi lain ruangan, memperhatikannya dengan tenang. “Rachel, kita harus bergerak cepat. Damar tidak akan tinggal diam setelah pertemuan tadi.”Rachel menarik napas dalam. “Aku tahu… Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana.”Reza tersenyum kecil. “Aku akan membantumu. Tapi yang pertama, kau harus mengambil alih peranmu sebagai istri Martin dan pemilik sah semua yang telah ia bangun.”Rachel menatap Reza ragu-ragu. “Tapi… aku tidak punya pengalaman dalam bisnis. Aku hanya menikmati hasil kerja Martin selama ini tanpa benar-benar memahami apa yang terjadi di dalamnya.”Reza menatapnya tajam. “Justru itu yang harus diub
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more
PREV
123456
...
8
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status