Home / Rumah Tangga / ISTRI LUPA DIRI / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of ISTRI LUPA DIRI: Chapter 21 - Chapter 30

78 Chapters

Bab 21: Ancaman kepada Rachel

Rachel masih terpaku menatap layar ponselnya. Pesan ancaman itu nyata.“Jangan ikut campur. Jika kau tetap melawan, Martin akan membayar harganya.”Jantungnya berdetak kencang. Ini bukan sekadar peringatan, ini ancaman langsung terhadap suaminya.Reza, yang berdiri di sampingnya, membaca pesan itu dengan ekspresi serius. “Mereka mulai merasa terancam,” katanya. “Kita harus lebih berhati-hati.”Rachel mengepalkan tangan. Ia tidak akan mundur. Ia telah kehilangan banyak hal karena kesalahannya sendiri, tapi kali ini ia tidak akan tinggal diam.“Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya.Reza berpikir sejenak. “Kita tetap pergi ke kantor Martin besok. Aku juga akan mencari tahu siapa yang mengirim pesan ini.”Rachel mengangguk. Namun, ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya merasa tidak nyaman—seolah ada yang mengawasinya.Keesokan PaginyaRachel mengenakan pakaian yang lebih formal. Hari ini adalah awal perlawanan.Saat ia keluar dari rumah sakit, angin pagi terasa lebih dingin dari bias
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 22: Nyaris Ketahuan

Rachel menarik napas panjang. Pintu belakang berhasil mereka masuki, tetapi perang baru saja dimulai.Ia dan Reza bersembunyi di balik rak arsip. Brankas utama yang menyimpan semua dokumen penting ada di lantai 15. Itu berarti mereka harus bergerak dengan hati-hati, menghindari keamanan yang dipasang oleh Damar.“Bagaimana kita bisa ke atas tanpa ketahuan?” bisik Rachel.Reza mengintip ke luar ruangan. “Ada dua petugas keamanan di lobi, dan beberapa kamera di setiap sudut.”Rachel menggigit bibirnya. Damar benar-benar sudah menguasai perusahaan ini.Namun, ia tidak akan menyerah. Ini bukan hanya tentang Martin. Ini tentang mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik mereka.Di Lantai 15 – Ruang DirekturDamar sedang duduk dengan santai, memandangi layar monitor yang menampilkan CCTV seluruh gedung.Ia tersenyum sinis. Rachel pasti akan mencoba sesuatu.Seorang pria bertubuh besar berdiri di sampingnya. “Apa yang harus kita lakukan jika mereka mencoba masuk?”Damar mengangkat b
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 23: Dibelenggu Dosa Lama

Rachel menatap kosong ke luar jendela apartemen mewahnya. Kota bersinar dengan gemerlap lampu, tapi hatinya terasa hampa. Dulu ia bermimpi bisa hidup seperti ini,yaitu tidak lagi kekurangan, tidak lagi merasa rendah diri. Tapi sekarang, mengapa rasanya ada sesuatu yang hilang?Di belakangnya, suara batuk terdengar dari kamar tidur. Martin.Suaminya yang dulu begitu gagah kini terbaring lemah karena penyakit yang semakin menggerogoti tubuhnya. Rachel menggigit bibirnya. Kenapa hidup selalu mempermainkannya?Dulu, saat masih miskin, ia harus berjuang mati-matian untuk bertahan. Sekarang, ketika ia sudah punya segalanya, hidupnya malah terasa seperti penjara.Martin memanggil namanya dengan suara lemah, “Rachel…”Rachel menoleh. Wajah Martin pucat, matanya tampak lelah. Ada permohonan dalam tatapannya, tapi Rachel berpura-pura tidak melihatnya. Ia terlalu lelah. Terlalu muak dengan kehidupannya sendiri.“Minumlah obatmu,” kata Rachel singkat.Martin tersenyum samar. “Aku lebih butuh kamu
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 24: Keserakahan

Rachel duduk di kursi kerjanya, menatap layar laptop dengan sorot mata kosong. Keningnya berkerut dalam kebingungan. Transaksi keuangan yang mencurigakan atas namanya masih menghantuinya. Puluhan juta telah dipindahkan ke rekening yang bahkan ia tak kenal. Ia menghela napas panjang, jemarinya menggenggam ponsel dengan erat. Ia telah mencoba menghubungi beberapa bank, namun jawabannya selalu sama—semua transaksi telah dilakukan atas persetujuan dirinya sendiri. “Tidak mungkin… aku tidak pernah melakukan ini,” gumamnya dengan suara gemetar. Rachel mencoba mengingat apakah ia pernah menandatangani dokumen tertentu yang bisa memungkinkan transaksi ini terjadi, tetapi memorinya terasa buram. Apakah mungkin seseorang telah memalsukan tanda tangannya? Ketakutan mulai merayap di benaknya. Jika Martin mengetahui semua ini, ia pasti akan menuduhnya sebagai wanita serakah. Tiba-tiba, suara ketukan di pintu mengagetkannya. Marta, kepala pelayan rumah tangga, masuk dengan ragu. “Nyonya, Tuan
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 25: Permainan Kotor

Rachel duduk di dalam mobil polisi dengan tangan gemetar. Sirene meraung-raung, menggema di dalam kepalanya seperti suara lonceng kematian bagi kehidupannya yang baru saja ia nikmati. Ia menoleh ke luar jendela, melihat Martin berdiri di ambang pintu rumah mereka, masih dengan ekspresi dingin yang sulit diartikan.Apakah ini hukuman karena aku telah melupakan siapa diriku dulu?Mobil berhenti di depan kantor polisi. Seorang petugas membuka pintu dan menuntunnya masuk. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari para pegawai kantor polisi membuat jantungnya berdetak lebih cepat.“Ayo, masuk,” kata salah satu petugas dengan suara tegas.Rachel mengikuti langkah petugas itu tanpa bisa melawan. Tangannya berkeringat dingin, jantungnya berdebar begitu keras hingga ia merasa sesak napas. Ia dibawa ke sebuah ruangan kecil dengan dinding berwarna abu-abu, hanya ada satu meja dan dua kursi di dalamnya.Tak lama kemudian, seorang pria berkemeja biru masuk. Ia membawa sebuah berkas tebal dan meletakkanny
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 26: Peringatan Yang Mengusik

Rachel duduk di tepi ranjang dengan tangan gemetar. Surat misterius yang baru saja ia baca masih tergenggam erat. Kalimatnya begitu jelas—peringatan bahwa seseorang sedang mengincarnya. Namun, tidak ada nama, tidak ada petunjuk siapa yang mengirimkan surat itu. Matanya beralih ke Martin yang masih tertidur lemah di ranjang rumah sakit. Wajah pucat pria itu semakin membuat Rachel cemas. Ini bukan hanya tentang dirinya lagi, tetapi juga tentang pria yang telah menyelamatkannya dari kehidupan miskin dulu. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Bayangan keserakahannya selama ini menghantuinya. Ia telah meninggalkan keluarganya sendiri demi kehidupan mewah, dan sekarang semua kenyamanan itu terasa seperti pasir yang perlahan-lahan menghilang di genggamannya. Tiba-tiba, suara ketukan pintu mengagetkannya. Tok. Tok. Tok. Rachel menegang. Ketukan itu terdengar pelan, tetapi ada sesuatu yang terasa aneh. Dengan hati-hati, ia berjalan menuju pintu dan bertanya, “Siapa?” Tidak a
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 27: Kehilangan Jejak

Rachel duduk di ruang kerja Martin dengan jantung berdebar. Surat peringatan itu masih tergeletak di atas meja, seolah menertawakan kebodohannya yang selama ini merasa aman. Sejak ancaman itu datang, tidurnya tak pernah nyenyak. Ketakutan terus menghantui, membuatnya waspada terhadap setiap langkah yang ia ambil.Martin masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi serius. “Rachel, kau harus menjelaskan semuanya sekarang. Siapa yang mengancammu?”Rachel menghela napas panjang. Ia ingin berkata jujur, tapi bayangan ancaman itu membuatnya ragu. Jika ia mengaku, apakah Martin akan tetap berpihak padanya?“Aku tidak tahu siapa mereka,” akhirnya Rachel berucap dengan suara lirih. “Tapi mereka tahu terlalu banyak tentangku.”Martin menatapnya tajam. “Kalau begitu, kita harus mencari tahu siapa mereka.”Tiba-tiba, pintu diketuk. Seorang asisten masuk dengan ekspresi gugup. “Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Nyonya Rachel. Dia bilang ini tentang sesuatu yang penting.”Rachel dan Martin s
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 28: Bayang-bayang Ancaman

Rachel berdiri di dekat jendela kamar, menyingkap tirai dengan hati-hati. Matanya terpaku pada mobil hitam yang terparkir di seberang jalan. Sudah hampir dua jam kendaraan itu tetap di sana tanpa ada tanda-tanda kehidupan dari dalamnya. Ada sesuatu yang tidak beres. Rachel merapatkan bibirnya. Perasaan aneh menyusup ke dalam dadanya sebuah firasat buruk yang tidak bisa ia abaikan. Sejak beberapa hari terakhir, ia merasa diawasi. Pesan misterius yang ia terima di ponselnya malam lalu semakin memperkuat kecurigaannya. “Jangan percayai siapa pun. Termasuk suamimu.” Kata-kata itu masih terngiang di kepalanya. Siapa yang mengirimnya? Apa yang sebenarnya terjadi? Ia menutup tirai perlahan dan menarik napas dalam. Tidak boleh panik. Ia harus tetap berpikir jernih. Rachel menoleh ke arah ranjang, tempat Martin terbaring dengan wajah pucat. Sejak sakitnya semakin parah, Martin jarang keluar rumah. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat, dan Rachel melakukan segala ha
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 29: Kehadiran Yang Mengancam

Rachel mengira semuanya akan kembali normal setelah berbagai kejadian yang mengguncang hidupnya. Martin mulai pulih, bisnis keluarganya berjalan stabil, dan ia perlahan mulai menata hubungannya dengan sang suami. Namun, satu hal yang tak pernah ia duga adalah kemunculan seseorang dari masa lalu Martin—Kezia.Pertemuan pertama mereka terjadi di rumah sakit saat Rachel menemani Martin untuk pemeriksaan lanjutan. Ia tak terlalu memikirkan siapa dokter yang menangani suaminya, hingga seorang wanita dengan rambut panjang tergerai dan wajah penuh percaya diri melangkah masuk ke ruangan dengan senyum yang terlalu akrab bagi Martin.“Kezia?” Martin terdengar terkejut tapi sorot matanya tak menunjukkan ketidak senangan,justru ada kehangatan di sana.Rachel langsung merasa tak nyaman. Ia memperhatikan wanita itu dari ujung kepala hingga kaki. Dokter yang cantik, anggun, dan tampak sukses. Dan entah mengapa, Martin terlihat lebih hidup saat berbicara dengannya.“Aku tidak menyangka akan bertemu
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 30: Berani di Tengah Badai

Rachel duduk di ruang kerja Martin, memandangi lembaran-lembaran dokumen yang berserakan di atas meja. Hatinya berdebar saat ia membaca ulang isi dokumen yang baru saja ditemukan—surat kepemilikan saham Martin di berbagai perusahaan besar, surat perjanjian bisnis, dan beberapa kontrak investasi yang ia sendiri tidak mengerti sepenuhnya. Jika Martin benar-benar dalam kondisi kritis seperti yang dikatakan dokter, maka ini adalah kesempatan bagi orang-orang di sekitar mereka untuk mulai bergerak merebut segalanya. Rachel sangat bingung dan Ia tidak pernah benar-benar terlibat dalam urusan bisnis suaminya. Selama ini, ia hanya menikmati hidup mewah yang diberikan Martin tanpa banyak bertanya. Namun, sekarang situasinya berubah. “Apakah aku harus mengambil alih semuanya?” gumamnya pelan, suara hatinya penuh keraguan. Di tengah kebingungannya, pintu ruangan terbuka. William, tangan kanan Martin yang selama ini mengelola sebagian besar urusan bisnisnya, masuk dengan wajah serius. Rachel s
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more
PREV
1234568
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status