Rachel berdiri di depan cermin besar di dalam butik mewah, mengenakan gaun satin berwarna merah tua yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Pelayan butik berdiri di belakangnya, tersenyum penuh kekaguman.โGaun ini benar-benar cocok untuk Anda, Nyonya Martin,โ ucap pelayan itu.Rachel mengangkat dagunya sedikit, dan menatap pantulan dirinya. Tak dapat dipungkiri, bahwa kehidupan mewah ini adalah sesuatu yang dulu hanya bisa ia impikan. Kini, segalanya sudah pasti ada di genggamannya.Namun, saat di tengah keindahan yang mengelilinginya, pikirannya berkelana jauh. Ia teringat ibunya yaitu wanita tua yang kini hidup sendiri di rumah sederhana, tanpa ada dirinya di sisi. Rachel mencoba menepis rasa bersalah yang mulai mengusik pikirannya. Toh, ibunya selalu hidup dalam kesulitan, dan ia tak pernah benar-benar mengeluh.Tepat saat ia hendak berbicara, suara ponselnya bergetar di dalam tasnya. Rachel melirik layarโsebuah pesan dari Leonard.Leonard: โAku ingin bertemu sekarang. Ada yang ha
Rachel berdiri di depan jendela kamar, memandang langit malam yang gelap tanpa bintang. Pikirannya dipenuhi kegelisahan sejak ia menemukan dokumen yang kini tergenggam erat di tangannya. Dokumen itu bukan sekadar kertas biasa. Tulisan di dalamnya mengandung fakta yang bisa mengguncang dunianya. [Kontrak Investasi dan Pengalihan Aset] Nama Martin tertera di sana, tetapi yang lebih mengejutkan adalah nama lain yang tertulis di dalamnyaโKeiza. Rachel mengerutkan kening, membaca ulang isi dokumen itu dengan cermat. Ia mencoba menemukan kesalahan atau mungkin sekadar kebetulan, tetapi semakin ia menelusuri setiap detailnya, semakin jelas bahwa Keiza memiliki keterlibatan dalam aset Martin. Sebuah pertanyaan besar muncul di benaknya: Kenapa Martin tidak pernah mengatakan apa pun tentang ini? Hatinya mulai diliputi kecurigaan. Apakah suaminya masih memiliki hubungan bisnis dengan mantan kekasihnya? Atau lebih dari ituโapakah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya? Ketika
Rachel duduk di dalam mobil dengan tangan terlipat di pangkuannya. Pikirannya masih terbayang kejadian di butik tadi. Ia bisa merasakan tatapan para wanita sosialita yang meremehkannya. Walau sekarang ia dalam kemewahan, tetap saja ada yang menganggapnya tidak pantas. Martin yang sedang duduk di sebelahnya, terlihat sangat fokus menyetir. Ia sesekali melirik Rachel yang diam saja sejak mereka meninggalkan butik. โKamu baik-baik saja?โ Martin bertanya dengan nada lembut. Rachel mengangguk singkat, tetapi jelas ada sesuatu yang mengganggunya. โAku hanya lelah,โ jawabnya datar. Martin tidak memaksa Rachel untuk bercerita sekarang. Ia tahu, terkadang istrinya membutuhkan waktu sendiri untuk mencerna perasaannya. Mobil berhenti tepat di depan restoran yang mewah. Martin sudah merencanakan makan malam romantis untuk mereka berdua. Sebagai suami, ia ingin Rachel merasa lebih nyaman di lingkungan sosialnya. โKita makan di sini?โ Rachel bertanya, agak terkejut. Martin tersenyum. โ
Setelah makan malam yang penuh kegelisahan itu, Rachel tidak bisa tidur dengan tenang. Kata-kata Keiza terus terngiang di benaknya. โHati-hati, Rachel. Kehidupan mewah bisa membuat seseorang kehilangan arah.โApa maksudnya? Apakah itu hanya sindiran biasa, atau ada sesuatu yang lebih dalam?Rachel berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamar yang megah. Cahaya temaram dari lampu tidur membuat bayang-bayang di dinding terlihat bergerak-gerak, seakan menari bersama pikirannya yang tak henti-henti.Di sampingnya, Martin sudah tertidur. Wajahnya terlihat damai, tetapi Rachel tahu, suaminya juga menyimpan banyak beban.Dengan hati gelisah, Rachel bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon. Angin malam yang sejuk menyentuh kulitnya, membawa serta perasaan aneh yang sulit ia jelaskan. Dari atas gedung apartemen mereka, ia bisa melihat kelap-kelip lampu kota yang tak pernah tidur.Dulu, hidupnya tak pernah setenang ini. Ia masih ingat bagaimana dulu ia harus bekerja keras
Rachel masih memandangi foto-foto itu dengan mata membelalak. Tangannya gemetar saat ia mengangkat lembar terakhir. Bayangan seseorang yang muncul di belakangnya dalam foto itu membuat napasnya tercekat.โIniโฆ tidak mungkin,โ gumamnya.Martin yang berdiri di sampingnya ikut menatap gambar itu dengan rahang mengeras. โRachel, kau mengenal orang ini?โRachel seolah terdiam tapi jantungnya berdetak sangat kencang. Sosok dalam foto itu adalah seseorang dari masa lalunya, yaitu seseorang yang seharusnya sudah tidak ada dalam kehidupannya.Keiza.Wanita itu berdiri di belakangnya dalam salah satu foto yang diambil di butik. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, tetapi Rachel mengenali sorot mata itu. Tatapan yang penuh makna, seakan mengamatinya dengan cermat.โTidak mungkin dia ada di sini,โ bisik Rachel, lebih kepada dirinya sendiri. โAku tidak pernah melihatnyaโMartin meraih bahunya dengan lembut. โRachel, tenang. Kita akan cari tahu siapa yang mengirim foto-foto ini dan apa tujuannya.โ
Rachel duduk diam di dalam mobil yang melaju menuju sebuah kafe di pusat kota. Tangannya mengepal di atas pangkuan, sementara pikirannya dipenuhi berbagai spekulasi. Keiza. Nama itu kembali menghantuinya.โApa kau yakin ingin menemuinya sekarang?โ tanya Martin, yang duduk di sampingnya dengan ekspresi khawatir.Rachel menoleh, menatap wajah suaminya yang penuh kecemasan. โAku harus. Jika Keiza memang ada hubungannya dengan semua ini, aku ingin mendengar langsung dari mulutnya.โMartin menarik napas panjang. โBaiklah. Tapi aku akan tetap di dekatmu. Aku tidak ingin kau menghadapi ini sendirian.โRachel mengangguk. Meskipun hatinya berdebar kencang, ia tahu ini adalah sesuatu yang harus ia lakukan.Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan kafe. Martin membuka pintu untuknya, dan mereka masuk bersama. Pandangan Rachel langsung menyapu seluruh ruangan. Ia menemukan Keiza duduk di salah satu sudut, mengenakan blazer merah dengan rambut panjang yang digerai. Wanita itu tampak tenang, seol
Rachel duduk di ruang tamu rumahnya, memandangi ponselnya dengan perasaan tak menentu. Pesan dari Leonard masih ada di layar, menawarkan bantuan yang sulit ia tolak. Meskipun ia tahu Martin tak akan menyukai kedekatannya dengan Leonard, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuatnya merasa memiliki seseorang yang bisa diandalkan.Namun, pikirannya kembali ke ibunya. Sudah lama ia tidak menghubungi wanita itu. Sejak kehidupannya berubah drastis, Rachel merasa enggan untuk mengingat masa lalunya yang penuh kesulitan. Namun, di balik semua kemewahan ini, ia tahu ibunya masih hidup dalam keterbatasan.Ia menggigit bibir, merasa bersalah. โMungkin aku harus mengunjunginya sebentar,โ gumamnya.Belum sempat ia mengambil keputusan, suara pintu diketuk keras dari luar. Rachel terkejut. Dengan langkah hati-hati, ia berjalan menuju pintu dan membukanya.Seorang wanita berdiri di hadapannya, dengan wajah penuh amarah.โKamu Rachel, kan?โ suara wanita itu dingin, menusuk.Rachel mengerutkan kenin
Rachel berdiri dengan tubuh tegang di tengah ruangan. Sofia menyilangkan tangan di depan dada, menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan. Dua pria berbadan kekar berdiri di dekat pintu, memastikan bahwa Rachel tidak bisa keluar dengan mudah.โAku tidak akan tinggal diam,โ kata Rachel, mencoba menahan getaran dalam suaranya.Sofia tertawa kecil, seolah menganggap ancaman Rachel sebagai lelucon. โLalu, apa yang bisa kau lakukan? Leonard mungkin kasihan padamu, tapi dia tidak akan bisa menyelamatkanmu dari ini.โRachel menggertakkan giginya. Ia tahu bahwa Sofia bukan orang yang bisa dianggap enteng. Wanita itu selalu punya cara untuk menghancurkan orang lain tanpa harus mengotori tangannya sendiri.โApa yang sebenarnya kau inginkan, Sofia?โ Rachel bertanya, mencoba mengulur waktu.Sofia berjalan mendekat, menundukkan wajahnya hingga hampir sejajar dengan Rachel. โAku hanya ingin melihat bagaimana seorang wanita murahan sepertimu jatuh dari tempat yang kau pikir sudah aman. Kau pikir den
Sudah hampir dua minggu sejak Dali Malik mulai bekerja di butik Rachel. Sejauh ini, kinerjanya tidak mengecewakan. Ia bekerja tepat waktu, mengantarkan paket tanpa keluhan, dan selalu bersikap sopan kepada Rachel maupun staf lainnya.Rachel merasa lega karena beban pekerjaan semakin terbagi. Kehadirannya memungkinkan Rachel untuk lebih fokus mengelola desain dan produksi pakaian, juga menjalin kerja sama dengan vendor-vendor baru. Outlet yang ia kelola di salah satu mal ternama Jakarta kini menjadi sorotan banyak pelanggan. Bisnis berjalan lancar, dan setiap hari orderan online terus membludak.Namun, ada satu hal yang perlahan-lahan mulai mengganggu pikirannya. Beberapa kali, ia menangkap tatapan aneh dari Dali. Bukan tatapan menggoda atau tidak sopanโmelainkan seperti tatapan seseorang yang menyimpan rahasia. Tapi Rachel selalu mengabaikannya. Ia mengira itu hanya prasangkanya saja.Suatu sore, Martin datang menjemput Rachel sepulang kerja. Saat ia menunggu di parkiran belakang mal,
Seiring berjalannya waktu, kondisi Rachel semakin membaik. Ia rutin meminum obat yang diresepkan dokter, dan ingatannya perlahan mulai stabil. Rasa pusing yang sering menyerangnya kini berkurang, dan ia mulai merasa seperti dirinya yang dulu. Setiap pagi, Martin selalu mengingatkan Rachel untuk tidak melewatkan obatnya. Ia bahkan menyusun alarm di ponselnya agar tak ada satu pun dosis yang terlewat. Perhatian Martin membuat Rachel semakin yakin bahwa suaminya adalah pria terbaik yang pernah hadir dalam hidupnya. Ia memandangi wajah Martin yang tengah sibuk di ruang kerja. Walaupun lahir dari keluarga kaya raya, pria itu tidak pernah memandangnya rendah. Martin selalu menerima dirinya apa adanya, bahkan ketika ia dulu sempat lupa diri dan berubah menjadi orang yang berbeda. Rachel menggigit bibirnya, merasa sedikit bersalah. Dulu, ia terlalu sibuk menikmati kemewahan dan mengabaikan banyak hal penting, termasuk suaminya sendiri. Tapi sekarang, ia ingin menjadi pribadi yang lebih b
Pagi itu, Martin membangunkan Rachel lebih awal dari biasanya.โRachel, bangun. Kita harus ke rumah sakit hari ini,โ katanya lembut sambil menggoyangkan bahu istrinya.Rachel mengerjap pelan, matanya masih terasa berat. Kepalanya berdenyut, dan sebagian ingatannya masih terasa kabur. Ia sempat lupa bahwa hari ini adalah jadwal kontrolnya.Martin membantu Rachel duduk di tempat tidur. โKita harus pastikan kondisimu benar-benar stabil. Setelah itu, kamu bisa kembali minum obat dengan teratur.โRachel mengangguk lemah. Ia tahu Martin sangat mengkhawatirkannya. Sejak kecelakaan itu, suaminya semakin protektif, bahkan ia merasa Martin lebih sering memperhatikannya dibanding dirinya sendiri.Setelah tiba di rumah sakit, dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh. Rachel menjalani beberapa tes untuk memastikan kondisinya, terutama mengenai ingatannya yang masih belum sepenuhnya pulih.โSejauh ini, kondisinya cukup stabil,โ kata dokter sambil menuliskan sesuatu di buku catatan medis. โTapi efek
Sejak kepulangannya dari rumah sakit sebulan lalu, Rachel menjalani hari-harinya dengan lebih tenang. Martin kembali fokus pada perusahaannya yang sempat terguncang, sementara ia sendiri lebih banyak beristirahat di rumah, mengikuti saran dokter agar tubuhnya bisa pulih sepenuhnya.Setiap hari, ia rutin mengonsumsi obat yang diresepkan dokter. Namun, pagi ini, sesuatu terasa berbeda. Saat ia membuka laci tempat menyimpan obatnya, botol itu kosong. Rachel terdiam, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia kontrol ke rumah sakit.โOhโฆ seharusnya aku kontrol hari ini,โ gumamnya pelan.Namun, tubuhnya terasa terlalu lemas untuk bergerak. Kepala mulai berdenyut perlahan, lalu semakin tajam seiring berjalannya waktu.Sementara itu, Martin baru saja menyelesaikan rapat di kantornya. Setelah sempat absen selama berminggu-minggu karena kecelakaan, ia harus bekerja ekstra keras untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul di perusahaan. Beberapa orang bahkan mencoba mengambil kesempatan saat diri
Hari kedua di rumah sakit, Rachel mulai menyadari sesuatu yang mengganggu dirinya. Ada bagian dari ingatannya yang terasa kaburโtidak sepenuhnya hilang, tetapi sulit dijangkau. Saat ia berusaha mengingat masa lalu, kepalanya terasa berat, seolah ada kabut yang menghalangi pikirannya.Ia masih mengenali Martin, masih ingat siapa dirinya, dan masih memahami sebagian besar kehidupannya. Tapi ada detail-detail kecil yang terasa hilangโseperti kejadian-kejadian tertentu yang seharusnya ia ingat, tetapi kini hanya menyisakan bayangan samar.Rachel mengerutkan kening, mencoba mengingat sesuatu yang spesifik. โMartinโฆ aku merasa ada yang aneh dengan ingatanku. Aku bisa mengingat banyak hal, tapi rasanya tidak setajam biasanya.โMartin, yang sejak tadi duduk di sampingnya, menatap istrinya dengan tenang meski dalam hatinya ia merasa khawatir. Ia tahu sesuatu yang tidak Rachel sadariโdokter telah memberitahunya bahwa benturan yang dialami Rachel cukup serius dan mungkin menyebabkan gangguan mem
Malam di rumah sakit terasa begitu sunyi. Hanya suara detak mesin medis dan langkah kaki suster yang sesekali terdengar di lorong. Rachel masih terbaring di ranjang, sementara Martin duduk di sofa kecil di sampingnya. Matanya memandangi istrinya yang tertidur, namun pikirannya tak tenang.Siapa pun yang berusaha mencelakai mereka pasti memiliki alasan kuat untuk menyembunyikan kebenaran tentang Adrian. Tapi siapa?Ponsel Martin bergetar di atas meja kecil di samping ranjang. Ia mengambilnya dan melihat nama di layar: Nomor Tidak Dikenal.Martin ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab.โHalo?โ suaranya tenang, tapi waspada.Tak ada jawaban di seberang. Hanya suara napas pelan.โHalo?โ ulangnya, kali ini lebih tegas.Lalu, terdengar suara berat yang nyaris berbisik.โBerhenti mencariโฆ atau kau akan kehilangan lebih dari yang kau bayangkan.โSeketika, panggilan itu terputus.Martin merasakan tengkuknya meremang. Ini bukan peringatan biasaโini ancaman.Ia segera berdiri dan berjalan ke lua
Rasa sakit menusuk seluruh tubuh Rachel saat kesadarannya perlahan kembali. Matanya terasa begitu berat, namun ia bisa mendengar suara samar-samar di sekitarnya dan bunyi monitor medis yang berdetak pelan dan suara langkah kaki seseorang.Perlahan, ia membuka matanya. Langit-langit putih dan bau antiseptik memenuhi indranya. Rumah sakit. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tetapi rasa nyeri langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya meringis.โRachelโฆโSuara itu. Lembut, penuh kekhawatiran.Rachel menoleh perlahan dan melihat Martin duduk di samping tempat tidurnya. Wajahnya penuh luka dan lebam, namun sorot matanya tetap lembut menatapnya.โKamu sadar,โ katanya, suaranya dipenuhi rasa lega.Rachel mencoba berbicara, namun tenggorokannya begitu kering. Martin langsung menuangkan air ke dalam gelas dan mencoba membantunya untuk minum.โApaโฆ yang terjadi?โ Rachel akhirnya bisa bersuara, meski lemah.Martin menghela napas panjang. โKita telah mengalami kecelakaan. Mobil itu menabra
Pagi itu, yaitu setelah percakapan penuh emosi dengan ibunya, Rachel merasa semakin yakin bahwa dia harus menemukan pria yang dimaksud, yaitu Malik. Orang yang bisa jadi mengetahui lebih banyak tentang Adrian dan masa lalu yang selama ini disembunyikan. Martin, meski ragu, akhirnya setuju untuk ikut serta. Ia tahu betul betapa pentingnya pencarian ini bagi Rachel, dan meski ada rasa khawatir yang menggelayuti dirinya, ia tak bisa membiarkan Rachel melakukannya sendirian.Mereka berdua memutuskan untuk menuju ke daerah yang disebutkan oleh pria misterius di gudangโtempat terakhir Malik terlihat beberapa tahun lalu. Tidak ada petunjuk pasti mengenai keberadaan Malik, namun Rachel merasa bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.Di dalam mobil, suasana sunyi menyelimuti mereka. Rachel melirik Martin, mencoba membaca ekspresinya. Suaminya itu terlihat tegang, memfokuskan perhatian pada jalan yang semakin sepi.โMartin, kamu yakin kita harus melanjutk
Rachel terdiam setelah mendengar kata-kata Pak Surya. Matanya terasa kosong, kosong oleh semua informasi baru yang datang begitu cepat. Apa maksud Pak Surya dengan mengatakan kebenaran ini akan menghancurkannya? Apa yang lebih gelap dari apa yang sudah ia temui? Semua hal yang ia percayai kini terancam hancur.Pak Surya menatapnya dengan raut wajah yang penuh kecemasan. โRachel, aku tidak ingin kau terjebak dalam dunia ini. Dunia yang sudah mengubah hidup banyak orang. Dunia yang menganggap nyawa tak lebih dari sebuah harga yang bisa ditawar.โRachel dengan tegas. โSaya tidak akan mundur begitu saja, Pak. Saya harus tahu apa yang terjadi pada Adrian. Apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu?โPak Surya menghela napas panjang. โMalam ituโฆ bukan hanya Adrian yang menghilang. Ada banyak hal yang terjadi di balik itu. Banyak hal yang tidak pernah seharusnya kamu tahu.โRachel menatapnya intens. โKenapa sekarang, Pak? Kenapa Anda baru bicara sekarang?โPak Surya menundukkan kepala, tampa