Home / Rumah Tangga / Berhasil Usai Bercerai / Chapter 41 - Chapter 50

All Chapters of Berhasil Usai Bercerai: Chapter 41 - Chapter 50

65 Chapters

Bab 41 - Luka Rania

Rania tersenyum tipis mendengarkan Fahmi bercerita tanpa bermaksud memotong ucapannya. Ia memandang lurus ke depan, sesekali melihat Fahmi yang begitu terbawa suasana. Sepertinya lelaki itu lupa tujuan utamanya mengajak Rania makan malam bersama sang Ibu. Sinar bulan yang terang benderang di malam ini membawanya kembali pada kenangan bersama mendiang istrinya. Ia mendadak lupa kalau malam ini sedang bersama orang yang selama ini ia incar. Wanita yang telah mampu membuatnya melupakan rasa sakit akibat kehilangan sang istri untuk selama-lamanya.Rania memilih tetap mendengarkan walaupun hatinya terasa sedikit perih, ia berusaha melupakan perasaannya yang mulai tumbuh untuk Fahmi. Dia akhirnya menyadari bahwa dirinya memang tak sepantasnya berharap lebih untuk dicintai. Rania tersenyum sendiri menguatkan hatinya.Fahmi terdiam. Rania lalu menoleh ke arah Fahmi, ia merasa heran karena Fahmi tiba-tiba berhenti berbicara. Entah karena dia mulai menyadari apa yang sudah diceritakannya barusa
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 42 - Kesayangan Ibu

“Rania”, panggil wanita tua yang masih terlihat gurat kecantikan di wajahnya walaupun terlihat banyak keriput.“Iya bu”, Rania berjalan menghampiri sambil membungkukkan badannya sedikit.Rania dipegang tangannya kemudian perlahan dibawa sang ibu menjauhi Fahmi. Rania diajak masuk ke dalam kamarnya kemudian didudukkan di kursi samping tempat tidurnya. Rania tetap mengikutinya walau nampak heran. Fahmi hanya diam memandangi dua wanita yang teramat dicintainya itu dengan perasaan tak menentu. Ia masih merasa sangat bersalah pada Rania karena terlalu larut dalam kenangannya bersama almarhum istrinya. Ia tahu Rania mungkin kecewa tapi memiliki banyak muka untuk menutupi lukanya.“Mohon maaf, Bu, Rania mohon izin pamit. Sudah malam, nanti Ibu di rumah kuatir kalau Rania pulang terlalu malam”, Rania membuka suara.“Iya, nak. Pulanglah. Tapi berjanjilah akan datang lagi kesini ya, mengunjungi ibu. Apa yang dilakukan Fahmi tadi pasti tidak sengaja, ibu tahu betul bagaimana anak itu benar-benar
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 43 - Kembali Mencinta

“Rania, keluarkan saja apa yang mengganjal di hatimu. Jangan sungkan. Kan kamu tadi sendiri yang bilang, Kita hanya manusia biasa, tak selamanya harus selalu terlihat kuat. Ada kalanya kita butuh menangis untuk melepaskan beban yang ada. Dikeluarkan saja beban supaya hati lebih tenang, Ran, tolong izinkan saya untuk menanggung semua beban yang kamu hadapi. Tolong jangan kamu tanggung itu semua sendirian”, Fahmi berkata dengan sungguh-sungguh. Ia memiringkan tubuhnya demi bisa menatap Rania dengan intens. Rania bergeming dengan tetap menatap lurus ke depan, Ia tak merubah posisinya sedikitpun. Hanya air mata yang terus menetes di pipinya. Malam ini Rania merasa sedih sekali, ia seperti terbawa perasaan dan situasi. Hatinya mencelos mengingat Fahmi yang tadi terlihat masih sangat mencintai almarhumah istrinya, ia merasa kehadirannya ternyata tak cukup berarti untuk Fahmi. Lalu melihat mantan suaminya dengan kondisi pilu begini, membuatnya kembali mengingat peritiwa sepuluh tahun yang la
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 44 - Kembali Ke Rumah

“Rania, jangan ragu untuk bicara padaku. Aku mencintai kamu, tak perlu sungkan”, ucap Fahmi berusaha meyakinkan Rania.Rania menarik nafas dalam-dalam, berusaha megambil oksigen sebanyak-banyaknya. Ia pikir inilah saat terbaik untuk bicara pada Fahmi.“Kandidat yang melamar untuk area manager Sumatera tapi tidak cukup mempunyai reputasi pekerjaan yang baik”“Ok, lalu...?” tanya Fahmi sedikit tak sabar sambil terus menatap Rania. Ia masih belum bisa memahami arah pembicaraan Rania, apakah ke arah pribadi atau pekerjaan.“Apakah bisa kalau kita tetap menerimanya untuk bekerja sebagai apa saja di kantor?”“Maksud kamu?”, tanya Fahmi yang masih tak paham.“Bisakah kalau kita tetap mempekerjakan dia sebagai staf admin? Atau OB misalnya? Atau apa saja, Pak, Saya kasihan melihatnya, karena kelihatannya sangat membutuhkan pekerjaan”, jawab Rania. Ia menghembuskan nafas lega setelah bicara. Memang hanya persetujuan Fahmi sajalah yang dibutuhkan untuk menerima karyawan baru di kantor, apalagi u
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 45 - Berkelahi

“Lalu sekarang Pak Fahmi mau kemana lagi? Bukannya mau pulang lihat Ibu?”, tanya Rania penasaran.“Sebentar saja, Ran. Aku mau minta maaf”, jawab Fahmi, Ia hanya tersenyum lalu keluar dari mobil menghampiri Aldi yang nafasnya sudah terdengar naik turun, dia tampak emosi.Rania tampak bingung tapi tak punya kesempatan untuk bertanya lagi karena Fahmi sudah langsung membuka pintu mobil sambil melebarkan payung.“Heh, lo nggak lihat ada orang disini jalan sampai nyipratin air, mentang-mentang mobil bagus suka-sukanya sendiri, air comberan ini kena muka gue”, teriak Aldi emosi.Rania menoleh ke belakang, Ia kaget bukan main melihat Aldi marah-marah pada Fahmi yang tetap terlihat tenang.Fahmi berusaha minta maaf tapi Aldi semakin emosi. Bagi yang sudah cukup mengenal Aldi pastilah tahu kalau orang ini memang punya attitude yang aneh. Jika orang sudah merendahkan diri meminta maaf, responnya suka semakin semena-mena memperlakukan orang. Tak berapa lama, dari dalam mobil Rania melihat Aldi
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 46 - Panik

Siasat Rania cukup tepat sasaran, Aldi mulai didera rasa panik, ia sadar sudah berbuat kesalahan dengan memukul Fahmi tadi menggunakan batang sapu ijuk, ketakutan mulai merajai hatinya, ia berpikir juga kalau dirinya bisa diamuk massa karena telah menyerang orang yang berjalan membelakanginya dan tidak melakukan perlawanan terhadapnya, dia bisa dituduh main hakim sendiri. Akhirnya Aldi malah memilih lari demi menghindari amuk massa, benar-benar cara yang tidak sportif, tapi bukan Aldi namanya kalau memakai cara yang sportif. Laki-laki itu memang terbiasa bermain curang, dulu dan sekarang.Rania kembali mendekati Fahmi yang sudah mulai sadar dan terduduk di kursi panjang di depan mini market. Wajahnya yang pucat tampak lebih cerah saat melihat Rania berjalan ke arahnya, senyum Rania mengembang kala sampai di depannya.“Rania...” , ucap Fahmi pelan, Ia tengah berusaha menahan sakit di kepalanya.“Iya Pak, bagaimana keadaan Pak Fahmi? Maaf tadi saya tinggal, orang itu benar-benar gila, s
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 47 - Rumah Sakit

Tiba di rumah sakit, dokter langsung memeriksa keadaan Bu Ratna, Ibunya Fahmi. Dokter saraf meminta CT Scan dilakukan karena ada indikasi penyumbatan pembulu darah di otak setelah terjatuh tadi. Segala pemeriksaan terbaik dilakukan sesuai permintaan Fahmi, dia sungguh tak ingin terjadi apa-apa pada ibunya.Rania tetap berada di sisi Fahmi untuk menguatkan. Fahmi akhirnya tersadar juga bahwa sudah selarut ini Rania bersamanya, ia melihat jam di pergelangan tangannya, sudah pukul 1.30 dini hari.“Rania, ini sudah sangat malam, maaf kamu masih harus nemenin aku”, ucap Fahmi.Rania menarik sedikit bibir atasnya untuk tersenyum, “tidak apa-apa, setelah Ibu selesai di CT scan mungkin aku pulang dulu ya, Pak”, jawab Rania.Fahmi mengangguk lemah sembari memaksakan tersenyum, “iya, tapi biar aku antar kamu pulang ya, jangan ditolak. Aku perlu meminta maaf pada Ibumu”, terang Fahmi.Rania mengangguk mengiyakan permintaan Fahmi.**Aldi terus dikejar beberapa orang hingga ia memutuskan untuk me
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 48 - Gaduh

“I-i-iya suster”, jawab Aldi terbata.“Jadi bagaimana Bapak? Apakah pengobatan Bu Angela mau dilanjutkan atau bagaimana?”, tanya suster lagi tepat pada intinya. Aldi membuang nafas kasar, sungguh ia merasa buntu. Tak mendengar jawaban apaun dari Aldi, akhirnya suster hanya meminta Aldi untuk datang dan menyelesaikan administrasi untuk tindakan yang sudah terlanjur dijalankan.“Posisi bapak dimana? tolong segera kembali ke rumah sakit ya untuk menyelesaikan administrasi pasien pulang jika memang tidak melanjutkan pengobatan di Kurnia Asih”, ucap suster lagi.“Baik suster, saya akan segera kesana”, jawab Aldi akhirnya. Dan sambungan telepon pun diakhiri.Dengan langkah lemah Aldi mulai mencari jalan ke arah rumah sakit. Ia memesan ojek online karena sulit mencari tumpangan di waktu yang sudah selarut ini.**Di rumah sakit, Angela masih tak sadarkan diri, tubuhnya terlihat lemah bagaikan tak ada nyawa. Kondisinya semakin memprihatinkan, dokter jaga dan perawat yang memeriksa Angela ju
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 49 - Dia Lagi

“Itu... itu Aldi”, jawab Rania spontan.Fahmi melihat Rania dengan serius, “siapa Aldi?”.Rania menjadi gugup mendengar pertanyaan Fahmi, dia baru sadar tadi dia keceplosan menyebut nama itu.“Tunggu dulu”, Fahmi mencoba mengingat-ingat, “itu kan orang yang tadi memukulku dan mencoba memerasku”, Fahmi menatap tajam mata Rania.“Iya, Pak”“Apa kamu mengenalnya, siapa Aldi...?”, tanya Fahmi curiga.“Dia..dia...”, Rania menggantungkan ucapannya, Fahmi masih terus menatap Rania. Tanpa sadar langkah mereka berdua berhenti di tempat. Dan sesungguhnya perempuan itu tengah bingung setengah mati harus mulai dari mana menjelaskan kepada lelaki di hadapannya. Atasannya itu tahu persis keadaan rumah tangganya yang hancur dulu karena perselingkuhan, tapi lelaki itu tidak pernah benar-benar mengenal atau bahkan melihat wujud mantan suaminya itu.Fahmi memicingkan matanya melihat sikap Rania yang tak biasa. Sementara di sudut lobby Aldi masih terus berupaya untuk bernegosiasi.“Rania...”, panggilan
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 50 - Bertemu Angela

Hanya ada seorang perempuan yang di kursi roda, sementara Aldi sedang mondar mandir kebingungan, petugas wanita yang tadi berbicara dengan Aldi saat ini sudah sibuk melayani pasien lain. Rania berpikir, tidak mungkinlah petugas wanita itu yang memanggil dirinya, secara dia tidak ada kepentingan apapun di rumah sakit ini selain menemani Fahmi mengantar sang Ibu. Kemungkinan besar memang hanya wanita di kursi roda itu. Rania dan Fahmi bermonolog dalam hatinya masing-masing. Tapi siapa perempuan di kursi roda itu? tanya Rania pada dirinya sendiri. Ia merasa tak punya banyak urusan di Jakarta selain urusan pekerjaan dan urusan kesehatan Ibunya.Sekali lagi Rania mendongak ke atas melihat wajah Fahmi yang juga tengah menatapnya lekat, Ia seperti meminta persetujuan untuk menghampiri wanita di kursi roda, Fahmi mengangguk perlahan sambil terus menatapnya lekat.“Rania... “, suara itu terdengar sedikit lebih keras dari sebelumnya hingga Aldi pun terkejut lalu menghampiri Angela, Ia heran men
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status