Home / Rumah Tangga / Berhasil Usai Bercerai / Chapter 31 - Chapter 40

All Chapters of Berhasil Usai Bercerai: Chapter 31 - Chapter 40

65 Chapters

Bab 31 - Tak Punya Muka

Heri mulai berkirim pesan pada Pak Joko. Sebelumnya dia memang sudah ditugaskan Rania untuk menghubungi Pak Joko untuk meminta keterangan dan kesediaannya memberi referensi. Dan oleh karena saat itu Rania yang meminta, dengan posisi yang sama-sama direktur, apalagi perusahaan tempat Rania bekerja jauh lebih besar dari Pak Joko, maka lebih mudah untuk melobby dan menjalin komunikasi yang baik diantara senir manajemen perusahaan. Rania memang saat ini sudah cukup dikenal sebagai direktur wanita yang profesional dan mempunyai kredibilitas tinggi di industri.Sepeninggal Heri, suasana di dalam ruangan tak kalah hening, tak ada satupun membuka suara. Sampai akhirnya Robert bertanya, “Mohon izin Bu Rania, apakah tidak melanggar privacy kandidat bila...”, dengan sangat hati-hati Ia membuka suara.Dari balik kursi Rania melambaikan tangan kanannya pertanda perintahnya tak mau dibantah.Aldi menengadahkan kepala, dia kaget bukan main mendengar nama Rania disebut, suara wanita mewawancarainya i
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 32 - Fakta Tentang Aldi

“Oh ya, ngomong-ngomong bapak kenal Aldi Pratama, kepala divisi penjualan yang katanya pekerjaan dan kredibilitasnya bagus lalu resign karena mau dipindahtugaskan ke luar kota ya. Bolehlah saya dikasih referensi, karena kandidatnya lagi melamar di tempat saya sebagai sales manager”Muka Aldi memerah menahan malu, rasa takut menghingapi hatinya.Pak Joko terdiam, Ia mulai memutar otak ke belakang mengingat kejadian empat tahun lalu saat perusahaannya mengalami kerugian berat akibat korupsi yang dilakukan karyawan yang sudah dipercayainya dan bekerja cukup lama padanya. Sungguh pukulan yang teramat berat untuknya sebagai direktur penjualan, bahwa ternyata banyak margin yang dimark up untuk kepentingan pribadi dan diselewengkan ke rekening Aldi. Perusahaannya sampai merugi hingga dua milyar rupiah karena kecurangan Aldi. Saat itu perusahaannya juga menenpuh jalur hukum, dan Aldi diminta mengembalikan uang perusahaan tapi karena tidak seluruhnya sanggup dikembalikan, maka Aldi dijebloskan
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 33 - Pembalasan Dimulai

“Hallo Bu Rania?”, sapa Pak Joko karena tak juga mendengar respon dari Rania di sebrang telpon.“Oh ya, maaf saya terlalu konsen mendalami keterangan bapak. Terima kasih sudah bersedia berbagi informasiya pak. Ini sangat berguna sekali untuk stabilitas perusahaan saya”, ucap Rania jujur.“tidak masalah, Bu, dengan senang hati”, jawab Pak Joko.Panggilan telpon diakhiri. Semua orang di ruangan itu terdiam beberapa detik hingga akhirnya Rania bersuara.“Jadi bagaimana? Semua sudah mendengar dengan jelas, tak ada yang ditutupi. Pak Aldi, ada yang ingin anda sampaikan atau klarifikasi? Pak Robert bagaimana menurut bapak?”, tanya Rania pada kedua orang itu sekaligus dengan posisi masih dengan kursi membelakangi.Hening tak ada jawaban, semua tampak berpikir. Robert tidak berani bicara untuk sekedar mengiyakan keputusan Rania. Aldi juga takut untuk membela diri, ia merasa pembelaannya tidak akan berguna mengingat sang nara sumber sudah berbicara dengan begitu gamblang.“Apakah kita masih p
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 34 - Karma Untuk Aldi

“Berhenti bicara omong kosong kamu, jangan memaksa!”, hardik Robert. Aldi terkejut tapi dia memilih menahan emosi dan tidak menanggapi Robert. Dia fokus pada sang direktris yang akan menentukan hidupnya ke depan.Mendengar itu Rania hanya diam saja.“Saya mohon ibu Rania”, pinta Aldi dengan nada lemah. Hati Rania terenyuh mendengar nada memelas itu, Aldi mengucap namanya dengan intonasi berbeda kini. Sepuluh tahun yang lalu lelaki ini meneriaki namanya dengan kasar, menghardiknya, menghinanya mandul, menceraikan dan mengusirnya di depan selingkuhannya kala itu. Tanpa sadar dia mengusap perut bagian bawahnya, kista itu sudah lama menghilang dari rahimnya. Rania yang kala itu mengidap kista ovarium tetap dipaksa pergi meninggalkan rumah malam hari dalam keadaan hujan lebat. Rasa nyeri masih terasa di bawah sana saat pergi berjalan menembus hujan, tapi beberapa waktu kemudian tak lagi ia rasakan sakit apapun pada daerah kewanitaannya itu. Entah karena memang karena dipaksa kuat oleh kea
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 35 - Pingsan

“Tolong bawa dia ke ruang kesehatan, beri dia obat-obatan yang cukup”, perintah Rania.Semua mulai bergerak mengikuti perintah Rania.Pintu ruangannya ditutup, ia tetap di dalam ruangan. Dipijitnya pelipis mata yang mulai terasa berdenyut. Rasanya Rania terlalu terbawa perasaan. Niat hati ingin bermain-main sejenak dengan emosi Aldi, ternyata dia sendiri yang termakan emosi hingga tak bisa menahan diri untuk terus bermain pintar sampai akhirnya si target jatuh pingsan. Rania memejamkan matanya, ia merasa lelah pikiran dan tubuh hari ini. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Sebelum pulang dia butuh sesuatu untuk bisa menahan rasa kantuk yang mungkin menderanya dalam perjalanan pulang ke rumah nanti. Rania bangkit dari tempat duduknya, baru saja membuka pintu dirinya dikejutkan dengan kehadiran Fahmi yang tiba-tiba ada di depannya.“Pa-pak Fahmi”, sapa Rania gugup karena tubuh mereka hampir bertabrakan.“Ma-maaf tidak mengetuk pintu dulu Ran”, ucap Fahmi tak kalah gugup.
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 36 - Bantuan Rania

Rania mengangguk pasrah. Sebetulnya dia punya sedikit niat untuk membantu Aldi tapi dia tak enak hati bila menerimanya bekerja langsung pada hari ini juga, dia perlu meminta izin pada Fahmi terlebih dahulu sebelum memberi persetujuan untuk penerimaan karyawan baru apalagi posisi yang Rania pikir cocok untuk Aldi ini sedang tidak kekurangan karyawan. Jadi perlu ada persetujua khusus sebelum mengajukan pada departemen kepegawaian.Heri menoleh ke arah Rania meminta persetujuan. Rania mengangguk dengan berat hati. Dia sesungguhnya tak tega membayangkan wajah mantan suaminya yang pulang ke rumah dengan tangan kosong setelah dipermalukan seperti tadi. Walau Rania tidak berniat mempermalukan Aldi, ia hanya ingin memberi pelajaran agar Aldi tidak sombong dan hidup dengan penuh kejujuran, tetapi mungkin dampak psikologis yang dirasakan Aldi begitu berat karena ia terbiasa hidup dalam kepura-puraan dan gila hormat.Menilik ke belakang, apalah artinya konfrontasi virtual yang Rania lakukan tadi
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 37 - Karma dari Semesta

Aldi berjalan gontai ke luar ruangan itu, entah bagaimana dia akan pulang ke rumah, jam sudah menunjukkan angka 22.00, hari sudah cukup malam walau tak selarut malam waktu sepuluh tahun yang lalu ia mengusir Rania malam itu, yang sudah hampir mendekati jam 24.00. Saat tiba di lobby lantai bawah gedung saat dia akan keluar, tiba-tiba hujan deras mengguyur kota Jakarta. Tak bisa dielakkan lagi semua ini mengingatkan Aldi pada Rania, ya Tuhan jahat sekali aku waktu itu pada Rania, apakah semua yang terjadi di hidupku ini merupakan balasan atas kejahatan sikapku padanya dulu? Maafkan aku Rania, ampuni aku ya Allah. Tanpa bisa dicegah lagi air matanya jatuh tak terkira di pipinya yang tampak memucat. Sungguh dia merasa semakin lemas, tungkai kakinya juga terasa sulit berpijak, kepalanya terasa melayang. Hatinya juga terasa nyeri, mungkin terlalu dalam didera rasa malu dan bersalah pada Rania membuatnya kehilangan keseimbangan untuk berdiri tegak.Aldi terjatuh tapi pikirannya masih sadar.
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 38 - Angela Sakit

Rania sengaja mengosongkan jadwal kerjanya sore ini. Dia sudah meminta Heri mengatur waktu agar rapat diadakan sampai siang saja, karena dia akan pulang tepat pukul lima sore, lalu dari kantor akan langsung menuju rumah Fahmi. Boleh dengan beriringan mobil masing-masing atau langsung ketemu di rumah Fahmi saja. Nanti dia akan meminta sang atasan untuk membagikan lokasi rumahnya. Begitu pikir Rania.Setelah jam makan siang usai, Fahmi menemui Rania di ruangannya.“Bagaimana Ran?”, Fahmi menagih janjinya.“Baik Pak, inshaAllah saya akan datang. Jam 5.30 sore saya berangkat dari kantor menuju rumah Pak Fahmi, mohon dishare saja lokasinya ya Pak”, jawab Rania dengan senyum tipisnya.Fahmi memandang Rania sejenak sebelum akhirnya bicara.“Rania, biar saya jemput saja kamu di rumah. Tidak usah terlalu formil, kita akan makan malam dengan ibu saya, bukan ketemu calon klient”, balas Fahmi sekenanya. Rania tertawa kecil diikuti senyuman juga di wajah Fahmi. Keduanya merasakan hangat di hati ma
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 39 - Tak Bisa Berobat

Aldi dan Angela harus menunggu sekitar empat orang pasien yang masih mengantri, sementara satu orang pasien sedang dilayani oleh dokter umum.Aldi menunggu dengan gelisah. Kuatir tiba-tiba Angela hilang nafas, apalagi suhu badannya semakin panas.“Mbak, apakah giliran kami masih lama? Badan istri saya sudah panas dan menggigil ini”, tanya Aldi pada staf administrasi puskesmas. Dia tak lagi bisa menyembunyikan kepanikannya.Wanita muda yang ditanya Aldi itu mulai mengecek tekanan darah dan suhu badan Angela, ia sedikit terkejut karena suhu badannya panas sekali. Kemudian dia mengecek sejenak layar komputernya lalu masuk ke ruang pemeriksaan dokter. Tak lama ia keluar lagi menemui Aldi dan mengatakan kalau sisa pasien sebetulnya masih tiga orang lagi, tapi mempertimbangkan kondisi Angela yang buruk maka Aldi diperbolehkan masuk untuk mendahului dua orang pasien lain.“Tunggu setelah pasien ini keluar ya Pak, Setelahnya istri bapak bisa langsung diperiksa”, terang wanita itu.“Baik, Mbak
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 40 - Kejujuran Fahmi

“Ya, suster”, Aldi menghampiri.“Apakah bapak akan segera mengurus BPJS atau bagaimana? Pasien bisa kita bantu tangani dulu jika ada niat baik dari keluarga untuk mengurus administrasi dengan baik. Kebetulan dokter Wina bersedia menjaminkan sementara”, terang petugas pada Aldi.“I-iya baik, sus, akan saya urus segera”, jawab Aldi tak enak, sebetulnya tadi dia sempat ragu mau mengurusnya, tapi diberi kelonggaran ini membuatnya yakin untuk mengaktifkan kembali kepesertaan dirinya dan Angela, ia khawatir juga jika sewaktu-waktu membutuhkan perawatan intensif akibat penyakit kelamin yang dideritanya, yang semakin lama dirasa semakin memburuk kondisinya. Teringat dokter di puskesmas, Aldi merasa tersanjung, ternyata masih ada orang baik yang mau menolongnya. Lucunya ia merasa tersanjung, bukan terharu. Parahnya lagi, Aldi merasa cukup percaya diri jika dokter Wina menolong karena menyukainya, padahal hanya naluri kemanusiaannya sebagai dokter sajalah yang membuatnya bersedia membantu, apal
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status