Home / Rumah Tangga / Berhasil Usai Bercerai / Chapter 11 - Chapter 20

All Chapters of Berhasil Usai Bercerai: Chapter 11 - Chapter 20

24 Chapters

Bab 11 - Wanita Terpilih

“Ya, Rania masuk saja”, jawab Fahmi.Rania tersenyum lalu masuk beberapa langkah dan berhenti agak jauh di depan meja Fahmi, Ia memang tak berniat untuk mendekat atau duduk di depannya dan mengobrol berlama-lama karena hari sudah cukup malam dan Ia pun sudah lelah dengan situasi hari ini.“Bapak masih belum pulang?”, tanya Rania berbasa basi.“Sebentar lagi, Rania. Aku lagi mereview laporan dari area Bali dan Sumatra, sepertinya kalau melihat trend penjualan mereka yang kurang baik di kwartal dua, harus dipikirkan strategi lain untuk meningkatkan penjualan”, jawab Fahmi panjang lebar.Rania mengangguk-angguk tanda mengerti. Sudah malam begini masih saja bahas pekerjaan, mana bisa konsentrasi mikirin strategi jualan, apa dia nggak melihat posisi aku udah rapi pertanda udah siap pulang, udah bawa tas juga padahal, Rania membatin sebal. Otaknya sudah terasa penat sejak tadi, makanya dia memutuskan pulang, eh ini tiba-tiba bahas masalah yang tentunya membutuhkan kerja keras si otak untuk
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 12 - Galau

Fahmi menggeleng lesu, "tidak mudah mengajaknya bertemu Ibu, Fahmi saja sulit mengungkapkan perasaan Fahmi. Dia sangat menutup hatinya, sulit mendapatkannya, Bu. Ia juga tak peka. Fahmi ngga tahu harus bagaimana”, jelas Fahmi. Suaranya terdengar pelan tak bersemangat.“Wanita kalau sudah begitu rapat menutup diri dan hatinya, itu pasti karena pernah sangat dikecewakan sebelumnya. Mungkin itu yang harus kamu pahami dulu sebelum bertindak jauh”, nasihat sang Ibu.Fahmi mengangguk mengiyakan, “Iya, dia pernah diusir dan diceraikan suaminya yang berselingkuh. Sepertinya dia mengalami trauma berat”, jawab Fahmi.Nyonya Lastri terkejut. “Astaghfirullah, malang benar nasibnya, pantas saja Ia menutup diri”.Fahmi diam saja menatap kosong ke depan. Nyonya Lastri menjadi iba, Ia yakin wanita yang diceritakan anaknya itu adalah wanita hebat dan baik. Tidak mungkin Fahmi jatuh cinta dan mantap hanya memilih wanita itu jika dia bukan wanita baik-baik. Selama ini dia tahu Fahmi cukup selektif dalam
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 13 - Mendekati Rania

Rania melipat mukenanya. Hari ini cukup melelahkan untuknya. Setelah membersihkan diri, Ia langsung naik ke tempat tidurnya yang luas, memeriksa sekilas email dan whatsapp group kantor yang mungkin membutuhkan jawaban persetujuannya segera. Tidak ada yang mendesak, Rania meletakkan kembali ipad hitamnya di nakas yang terletak di sisi ranjangnya yang cukup besar.Pintu kamarnya diketuk.“Masuk”, jawabnya dari dalam.Bi Inah membuka pintu, dan dengan ragu Ia mengintip.“Iya ada apa, Bi? Masuk aja, Rania belum tidur”, ucap Rania mengeraskan sedikit volume suaranya, khawatir tidak terdengar karena Ia tahu pendengaran Bi Inah sudah mulai terganggu. Asisten rumah tangganya itu kerap kali tidak mendengar saat Rania meminta tolong atau menyampaikan sesuatu, yang alhasil semua permintaannya kembali dikerjakan sendiri oleh Rania karena perkataannya sering tak bisa ditangkap Bi Inah dengan sempurna. Usia Bi Inah yang tak lagi muda, 55 tahun, membuat kesehatan orang tua yang bekerja padanya sejak
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 14 - Niat Fahmi

Rania menuju pantry dengan perasaan sedikit kesal, maksud hati pulang dari kantor mau cepat istirahat, tapi malah direpotkan dengan kedatangan tamu tak diundang yang kelaparan dan tiba-tiba meminta makan, dan dia sendiri yang kini harus menyiapkannya karena kemungkinan Bi Inah sudah istirahat di kamarnya, dan Rania tak mau mengganggunya.Diam-diam dalam hatinya pun bertanya, sepenting apa hal yang ingin disampaikan oleh atasannya itu, mengingat hari sudah malam, kalau mau membahas masalah pekerjaan juga sudah lumayan larut, mana bisa konsentrasi, sulit juga dipaksa berpikir apalagi mata udah berat begini, masa iya harus diskusi proyek di rumah anak buah. Apakah sebegitu mendesaknya harus malam ini juga dibahasnya? Tapi kalau bukan masalah pekerjaan, ya apa juga yang mau dibahas, mengingat dirinya dan Fahmi bukan siapa-siapa, tak ada yang istimewa. Rania tanya jawab sendiri dengan dirinya.Rania menghangatkan sisa makanan yang tak habis dimakannya saat makan malam tadi. Masih ada tahu
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 15 - Pengakuan

“A-a-apa saya tidak salah dengar? Bapak atasan yang terhormat di kantor, sedangkan saya hanya wanita biasa yang pernah gagal berumah tangga. Umur saya juga sudah tidak muda lagi, masih banyak perempuan muda dan cantik yang pasti dengan mudah bisa bapak dapatkan. Saya mempunyai banyak sekali kekurangan sampai saya ditinggalkan oleh mantan suami saya dulu. Bapak kan sedikit banyak sudah tahu yang terjadi pada saya”, jawab Rania apa adanya, dia bicara lancar tanpa jeda.“Iya Rania, saya tahu semuanya. Saya juga salah satu saksi hidup yang melihat perjuangan kamu untuk bangkit dari keterpurukan kamu dulu saat bercerai dengan mantan suami kamu. Tapi bukan berarti kamu ngga berhak lagi untuk dicintai dan bahagia. Semua orang punya masa lalu, begitu juga saya. Nggak ada orang yang hidup dengan sempurna, Rania. Hidup itu ada kalanya di atas dan di bawah, dan bercerai bukan akhir dari segala-galanya”. Fahmi mencoba meyakinkan Rania, hatinya sungguh sedih dengan jawaban Rania yang memandang ren
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 16 - Hati Yang Menghangat

Rania bangun pagi lebih awal, entah mengapa Ia tidak lagi bisa tidur sejak bangun tahajud pukul tiga pagi tadi, padahal Ia baru tidur pukul sebelas malam, kira-kira tiga puluh menit setelah Fahmi pamit pulang. Ia merasakan pikirannya lebih enteng saat ini, mungkin karena akhirnya Ia kembali merasa berharga sebagai seorang manusia dan juga merasa dicintai lagi, tapi satu yang pasti Rania terharu sekaligus bahagia mengetahui perasaan Fahmi yang disimpan selama lebih dari tiga belas tahun, ia baru tahu ternyata ada orang yang mencintai dirinya setulus itu dan mampu bersabar dengan perasaan yang tak diungkapkannya. Padahal bisa saja dia menyatakan cintanya sebelum Rania menikah, tapi itu tak dilakukan Fahmi karena Ia tak mau mengganggu hubungan yang dijalani Rania saat itu. Fahmi tidak akan sampai hati memaksakan perasaannya sedangkan dia tahu Rania sangat mencintai mantan suaminya dulu.“Pagi Mba Rania”, sapa Bi Inah dari ujung dapur. Wanita tua itu sedang mengeringkan beberapa perabotan
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 17 - Dua Sisi Mata Uang

Ada perasaan kehilangan dan menyesal di hati Aldi tapi tak ada yang bisa dia lakukan untuk membawa Rania kembali karena Ia pun tak tahu persis dimana Rania tinggal. Sementara yang dia tahu ketika itu Angela telah hamil anaknya. Ia juga tahu pasti kalau Rania hanya sebatang kara di Jakarta, tapi tetap Ia paksa juga Rania untuk pergi malam itu juga tanpa tahu arah tujuan.Selama menikah dengan Aldi, Rania tidak pernah pergi keluar rumah kecuali bersama Aldi jadi dia belum terlalu mengenal wilayah Jakarta sepenuhnya. Karena itu dia memilih mengontrak di dekat situ, tak jauh dari bekas rumahnya dulu bersama Aldi tak lama setelah mendapat pekerjaan di kantor Fahmi. Kebebasan masa mudanya memang terenggut habis-habisan hanya karena satu alasan saja yaitu pengabdian kepada suami. Segala cita-cita dalam membangun karir telah dikuburnya dalam-dalam, dan dengan hati ikhlas hanya keridhaan suamilah yang akhirnya menjadi cita-cita Rania setelah menikah. Sayangnya, Ia mengabdi pada orang yang sal
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 18 - Berubah Drastis

Kini semua berubah 180 derajat, kehidupan dan status suami istri hanya berjalan sebagai formalitas saja. Lelaki itu mudah sekali tersulut emosi saat berbicara dengannya. Tak bisa lagi kini dia merajuk manja meminta apapun darinya, Ia tahu suaminya terpaksa bertahan tetap di sisinya karena sudah tak memiliki harta lagi, yang ada hanya rumah dan motor saja. Ya, Angela tahu persis kalau bertahannya Aldi di sisinya semata hanya karena laki-laki itu sudah miskin sekarang, ingin juga Ia mengusir pria tak berguna itu, tapi sayangnya Ia sudah tak semenarik dulu, bahkan penyakit AIDS yang ditularkan mantan pacar yang menghamilinya dulu terasa menyiksa karena terus menggorogoti tubuhnya. Ia memang sulit untuk hidup sendiri, karena penyakit yang dideritanya memaksa dia untuk hidup bergantung pada pertolongan orang lain, dan hanya Aldi orang yang tetap berada di sampingnya hingga saat ini. Jika sedang kambuh, dirasakannya sakit yang tak tertahan hingga membuatnya jatuh bergulingan di lantai. Dan
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 19 - Karma Itu Nyata

Aldi berjalan kaki di pinggir jalan raya sambil membawa motor di sebelahnya, motornya mogok karena kehabisan bensin. Ia baru akan menuju tempat panggilan interview kantor lain yang terletak tak jauh dari kantor Rania, naas motor bututnya mogok.Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan Aldi masih berjalan kaki yang membutuhkan waktu paling cepat setengah jam untuk bisa sampai di gedung itu, sementara jadwal interview Aldi tepat jam sepuluh. Keringat mulai membasahi dahi dan wajahnya, bajunya pun sudah terlihat kotor karena tadi saat mencoba membetulkan motornya, sebuah truk melintasi genangan air di dekat Aldi dan sukses memberinya sedikit cipratan pada kemeja yang dia setrika tadi malam. Aldi mencak-mencak kepada supir truk tapi supir itu berjalan terus saja tanpa memperdulikan Aldi atau bahkan meminta maaf.“Woyy... sialan, minta maaf kek lo!”, teriak Aldi. Supir itu jelas tak mendengar karena terus melaju, hanya orang-orang di sekitar Aldi saja yang memandang padanya dengan be
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 20 - Permainan Dimulai

Rania memperlambat laju mobilnya, lampu sen kiri sudah dinyalakan, pertanda dia akan berbelok masuk ke gedung bertingkat di kawasan Sudirman Jakarta. Tapi seorang pria lusuh terus saja berjalan sambil membawa motor di sisinya tanpa berniat berhenti padahal mobil Rania sudah akan masuk. Rania sempat membunyikan klakson dengan singkat hanya supaya orang tersebut menyadari dan berhati-hati, orang itu menengok cepat ke mobil Rania dengan sedikit terkejut dan reflek menghentikan langkahnya untuk memberi jalan, tetapi Rania tetap diam, tidak memajukan mobil dengan maksud memberi jalan. Seolah tahu bahwa dirinya diberi jalan lebih dulu, lelaki itu sedikit mengangguk dan memberi tangan tanda terima kasih. Sesaat Rania terperangah melihat orang itu.Mas Aldi! gumam Rania. Kenapa tampilannya kusut sekali? Apakah sudah sesulit itu hidupnya sekarang? Kemana mobilnya yang dulu selalu dibanggakannya setiap saat untuk dapat menghina aku dan keluargaku? Kemana tampilan parlente yang selalu Ia banggak
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more
PREV
123
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status