Home / Rumah Tangga / Berhasil Usai Bercerai / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of Berhasil Usai Bercerai: Chapter 21 - Chapter 30

65 Chapters

Bab 21 - Rencana Aldi

Heri memang tidak mengatakan apa-apa sejak dirinya mengetahui blacklist pada Aldi waktu itu, karena dia pikir hanya akan membuang waktu Rania jika menginfokan kandidat yang sudah tidak masuk kriteria.“Lalu hasilnya?”, tanya Rania.“Kandidat memiliki riwayat pekerjaan yang kurang baik, Bu. Ia dipecat secara tidak hormat karena menyelewengkan uang perusahaan sebelumnya”.Rania terkejut menatap Heri.“Apakah kamu yakin?”, tanya Rania lagi. Heri mengangguk, “HR sudah dua kali saya minta untuk cek terpisah dengan saya, begitu juga saya pribadi sudah crosscheck juga, info dari HR di sektor penjualan barang retail, namanya sudah ditandai kurang baik, Bu”, jawab Heri yakin.“Oh... kalau gitu tidak mungkin kita tetap pakai dia, dicoret saja namanya dari daftar kandidat kita”, pinta Rania.“Tapi menurut Pak Robert, orang ini punya skill komunikasi yang baik dan cukup menjual, pengalamannya di bidang distribusi retail dan consumer goods cukup mumpuni. Kandidat ini juga dinilai cukup punya leade
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 22 - Siasat

Aldi sangat berharap bisa diterima bekerja di perusahaan yang sama dengan Rania, dalam perkiraannya jabatan Rania pasti berada di bawahnya jika melihat pengalaman kerja yang pasti masih jauh dibawahnya. Saat bercerai dengan Rania dulu, Aldi sudah menjabat sebagai kepala divisi penjualan, sementara Rania hanya seorang istri pengangguran, Ibu rumah tangga yang bisanya hanya membersihkan rumah dan perabotannya, memasak, menyipakan air hangat untuknya mandi, membuat kopi, dan perintah-perintah lainnya dari Aldi. Selama tiga tahun menikah, selama itu pula Rania tidak bekerja. Jabatan terakhir Rania yang diketahui Aldi pun hanya staff penjualan biasa, Rania tidak pernah membanggakan pekerjaannya sebagai asisten manager di perusahaan berskala internasional itu karena khawatir membuat suaminya kala itu merasa tersaingi.Aldi memutar otaknya, dia tahu imej pengalaman kerja terdahulu sangat menjatuhkan kredibilitasnya sebagai seseorang yang biasa mempunyai posisi tinggi di perusahaan, akan suli
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 23 - Tak Lagi Cinta

“Mas... “ panggil Angela pelan.Aldi diam saja tak menjawab, Ia mencari dasi dan jas lama yang bisa dia pakai besok.“Mas, aku lapar”, ucap Angela.Aldi menoleh dengan tatapan tajam, “Kamu ini benar-benar merepotkan, bisanya minta makan aja, kenapa tidak minta makan sama laki-laki selingkuhan yang sudah menghamili kamu dan memberi penyakit sialan itu padaku?”, hardik Aldi dengan nada tinggi.“Mas, jangan berani bicara seperti itu padaku!”, bantah Angela.Aldi bangkit dari berjongkok, dengan senyum sinis Ia menghampiri Angela yang masih menatapnya dengan mata bulatnya. Mata itu dulu membuat Aldi tergila-gila, sekarang rasanya Ia ingin mencolok dengan jarinya kalau bisa.“Lalu kamu mau apa kalau aku bicara begitu? Memang itu kenyataannya, kamu harus sadar diri, kenapa aku harus takut bicara kebenaran itu sama kamu? Aku akan terus mengatakannya lagi dan lagi sampai kamu mati”, setelah selesai bicara Aldi melempar salah satu kemejanya ke arah Angela hingga mengenai wajahnya.Angela mengam
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 24 - Rencana Robert

Rania sejenak berpikir sambil menggaruk lembut pelipisnya yang tidak gatal, dia sesungguhnya tengah memutar otak bagaimana cara untuk menolak kandidat ini, sungguh Ia sangat tidak mau lagi bertemu dengan mantan suaminya itu. Luka lama itu telah dikuburnya dalam dan Ia tak ingin melihat Aldi dan berurusan dengan lelaki itu.“Oh, Aldi? kalau begitu saya pasti punya alasan mengapa menolak. Apakah Pak Robert sudah mengetahui alasannya dan mencari tahu kebenarannya?”, tanya Rania.“Saya sudah dengar dari Heri dan HR, tapi mungkin saja staff HR perusahaannya yang lama memang secara pribadi ada yang kurang suka dengannya. Kita kan tidak pernah tahu masalah yang sebenarnya, Bu. Harus divalidasi lagi kebenaran informasinya”, jawab Pak Robert.“Kalau begitu bagaimana cara kita bisa memvalidasi kebenaran informasi itu jika tidak dengan jalan mencari tahu kredibilitasnya saat bekerja pada perusahaan terdahulu?”, tanya Rania lagi, Ia sesungguhnya penasaran kenapa Pak Robert sampai segitunya mau me
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 25 - Jadwal Interview

Robert tersenyum senang, “Saya akan melihat jadwal Ibu hari ini dengan Heri, jika memungkinkan Ibu bisa bertemu dengannya hari ini kan Bu?”, tanya Robert.Rania diam sejenak kemudian mengangguk, “Tanyakan pada Heri apakah saya ada kosong hari ini”“Sebentar saja, Bu. Saya rasa 10 menit saja cukup”, ucap Robert.Rania mengangguk. Ia mulai membereskan kertas, ponsel yang tergeletak begitu saja di meja kerja juga menghibernate komputernya. Ia mempersilahkan Robert untuk keluar.“Saya mau makan siang dulu, sampai bertemu lagi”, pamit Rania.Robert mengangguk patuh lalu bangun dari duduk dan berdiri memiringkan tubuhnya sebagai isyarat mempersilahkan Rania untuk berjalan melewatinya lalu membukakan pintu ruangan untuk Rania.“Terima kasih”, ucap Rania datar lalu Ia berjalan keluar diikuti dengan Robert melewati Heri yang masih duduk di meja kerja. Robert menghampiri Heri dan mulai menanyakan waktu kosong Rania hari ini. Heri mulai mengecek agenda Rania, dan memang jadwal Rania setelah maka
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 26 - Akhirnya Bertemu

Tanpa bisa dicegah, ingatannya kemudian melayang pada pernikahan keduanya, Angela hampir setiap hari meminta dibawakan makanan enak, tapi tak pernah sekalipun Aldi memarahinya. Berganti-ganti menu makanan di mall, atau dipesankan online selalu saja diusahakan Aldi untuk istri keduanya itu. Tapi tak juga dihargai karena biasanya Angela hanya menyicip sedikit lalu membiarkan makanan tergeletak begitu saja hingga basi. Walau begitu Aldi masih terus mengikuti kemauannya karena khawatir ditinggalkan oleh wanita cantik pujaan hatinya itu.Sekarang dengan mengingat itu semua, kepalanya terasa sakit sebelah. Ia merasa bersalah pada Rania, Ia baru menyadari bagaimana perbedan dirinya dalam bersikap pada kedua wanita yang pernah menjadi istrinya itu.Apakah semua kesusahan ini akibat dari sikapku yang jahat pada Rania dulu, karena telah menyia-nyiakan dan menghinanya dulu? Aldi juga ingat, waktu itu Rania sedang sakit kista ovarium, bagaimana akhirnya dia bisa bertahan hidup sampai sekarang hin
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 27 - Malu

“Apa kamu belum bisa memafkan mas?”, tanya Aldi dengan wajah memelas, Ia masih berusaha meraih simpati Rania.Rania memutar bola matanya dengan malas, Ia mulai mengabaikan Aldi. Ia merasa geli dengan panggilan ‘Mas’ yang disebut Aldi. Panggilan itu telah lama mati di hatinya. Ia bahkan sampai saat ini tidak mau memanggil siapapun dengan sebutan itu. Trauma di hatinya begtu dalam sampai panggilan itu telah dia hilangkan selama-lamanya dari hidupnya.“Rania, tolong dengarkan Mas bicara”, pinta Aldi.Rania menoleh dengan cepat, “jangan lagi bicara seolah-olah kita dua orang yang mengenal dekat”.“Apa maksud kamu, Rania? Mas tidak mengerti”, jawab Aldi dengan muka yang dibuat bingung.“Sudah... sudah... lupakan saja, ini hanya membuang waktu. Tolong jangan membahasakan diri kamu dengan ‘Mas’ lagi di depan saya, kamu bukan siapa-siapa buat saya. Saya sudah melupakan kejadian itu, jadi tak perlu menemui saya lagi untuk membahas itu”, hardik Rania.Aldi terkejut bukan main dengan jawaban Ran
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 28 - Karma Untuk Angela

“Anda kenapa Pak? Kenapa penampilan anda... ?”, tanya Robert yang tidak dapat menyembunyikan keheranannya. Ia pun akan malu pada Rania bila kandidat manager pilihannya berepenampilan seperti ini.“A-anu pak saya... kecipratan air kran di dala tadi, ada yang bocor”, jawab Aldi sekenanya.“Lebih baik saya jadwalkan ulang bertemu direktur saya, daripada kamu bertemu beliau dengan penampilan kotor seperti ini malah tidak meyakinkan”, ucap Robert jujur.“Eh jangan dijadwal ulang lagi pak, mendingan saya pulang dulu saja ke rumah, nanti saya kembali lagi jam 4 sore untuk bertemu beliau”, pinta Aldi. Dia takut jika dijadwalkan ulang, malah terancam batal wawancaranya dengan sang direktur.“Ok, kalau gitu, nanti bisa hubungi saya lagi kalau kamu sudah tiba disini”, jawab Robert.Aldi mengangguk, “baik, permisi Pak”, pamit Aldi sopan.Aldi terpaksa pulang ke rumah karena celananya bau pesing dan basah, tidak mungkin dia meneruskan wawancara penting dengan keadaan seperti ini. Dia merutuki nasib
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 29 - Panggilan Untuk Aldi

Sepeninggalnya Aldi, Angela bangun dan mulai pelan-pelan membereskan kamarnya, dia lipat satu persatu kemeja Aldi yang berserakan hasil dari lemparannya tadi pagi karena kesal pada keadaan. Ia menata baju dan memasukkannya ke keranjang setrika, merapikan tempat tidur, menyapu lalu mengepel kamar. Ia beristirahat sejenak, mengambil air minum di kulkas dan menenggaknya dengan rakus. Ia menatap sendu keadaan rumahnya yang berantakan, orang normal yang melihat kondisi rumah itu sudah pasti malas untuk kembali pulang ke rumah karena teramat kotor. Pantas saja suaminya selalu marah-marah dan kusut saat kembali pulang. Perlahan dia mulai membersihkan ruangan demi ruangan, memunguti bantal-bantal dan kertas yang berserakan di lantai, sesekali ditekannya perut yang terasa sakit, lalu direbahkan tubuhnya di sela-sela kegiatannya berberes rumah. Dirinya mulai kehausan, sudah lama dia tak melakukan kegiatan ini, karena biasanya dia tak pernah mau tangan mulusnya terkena sabun cuci atau pembersih
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 30 - Ketakutan Aldi

“Selamat malam, silahkan duduk”, suara wanita menjawab, masih dengan posisi membelakangi tamu.Rasanya suara itu terdengar familiar untuknya, Aldi sibuk mengingat dimana dia mendengar suara itu. Dilihatnya lagi kursi besar itu yang masih membelakanginya.“Apakah bisa saya tinggal, Bu?”, tawar Robert. Sesungguhnya dia agak sedikit heran dengan sikap dan cara sang direktur saat berinteraksi dengan pelamar. Tidak biasanya bersikap asing begini, batin Robert.Yang ditanya melambaikan tangan kirinya, pertanda dia tetap menginginkan Robert berada disitu. Robert pun menurut, “Baik Bu”Aldi mulai merasakan aura misterius disini.“Siapa nama kandidatnya?”, tanya wanita dibalik kursi itu.“Aldi Pra..., jawab Robert berusaha membantu Aldi untuk menjawab.“Biarkan dia menjawab sendiri”, potong RaniaRobert memberi tanda supaya Aldi menjawab pertanyaan yang diajukan.“Sa-saya Aldi Pratama bu”, jawab Aldi gugup. Pasalnya dia baru pertama kali diwawancara dengan konsep seperti ini yang tanpa melihat
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status