Tanpa bisa dicegah, ingatannya kemudian melayang pada pernikahan keduanya, Angela hampir setiap hari meminta dibawakan makanan enak, tapi tak pernah sekalipun Aldi memarahinya. Berganti-ganti menu makanan di mall, atau dipesankan online selalu saja diusahakan Aldi untuk istri keduanya itu. Tapi tak juga dihargai karena biasanya Angela hanya menyicip sedikit lalu membiarkan makanan tergeletak begitu saja hingga basi. Walau begitu Aldi masih terus mengikuti kemauannya karena khawatir ditinggalkan oleh wanita cantik pujaan hatinya itu.Sekarang dengan mengingat itu semua, kepalanya terasa sakit sebelah. Ia merasa bersalah pada Rania, Ia baru menyadari bagaimana perbedan dirinya dalam bersikap pada kedua wanita yang pernah menjadi istrinya itu.Apakah semua kesusahan ini akibat dari sikapku yang jahat pada Rania dulu, karena telah menyia-nyiakan dan menghinanya dulu? Aldi juga ingat, waktu itu Rania sedang sakit kista ovarium, bagaimana akhirnya dia bisa bertahan hidup sampai sekarang hin
“Apa kamu belum bisa memafkan mas?”, tanya Aldi dengan wajah memelas, Ia masih berusaha meraih simpati Rania.Rania memutar bola matanya dengan malas, Ia mulai mengabaikan Aldi. Ia merasa geli dengan panggilan ‘Mas’ yang disebut Aldi. Panggilan itu telah lama mati di hatinya. Ia bahkan sampai saat ini tidak mau memanggil siapapun dengan sebutan itu. Trauma di hatinya begtu dalam sampai panggilan itu telah dia hilangkan selama-lamanya dari hidupnya.“Rania, tolong dengarkan Mas bicara”, pinta Aldi.Rania menoleh dengan cepat, “jangan lagi bicara seolah-olah kita dua orang yang mengenal dekat”.“Apa maksud kamu, Rania? Mas tidak mengerti”, jawab Aldi dengan muka yang dibuat bingung.“Sudah... sudah... lupakan saja, ini hanya membuang waktu. Tolong jangan membahasakan diri kamu dengan ‘Mas’ lagi di depan saya, kamu bukan siapa-siapa buat saya. Saya sudah melupakan kejadian itu, jadi tak perlu menemui saya lagi untuk membahas itu”, hardik Rania.Aldi terkejut bukan main dengan jawaban Ran
“Anda kenapa Pak? Kenapa penampilan anda... ?”, tanya Robert yang tidak dapat menyembunyikan keheranannya. Ia pun akan malu pada Rania bila kandidat manager pilihannya berepenampilan seperti ini.“A-anu pak saya... kecipratan air kran di dala tadi, ada yang bocor”, jawab Aldi sekenanya.“Lebih baik saya jadwalkan ulang bertemu direktur saya, daripada kamu bertemu beliau dengan penampilan kotor seperti ini malah tidak meyakinkan”, ucap Robert jujur.“Eh jangan dijadwal ulang lagi pak, mendingan saya pulang dulu saja ke rumah, nanti saya kembali lagi jam 4 sore untuk bertemu beliau”, pinta Aldi. Dia takut jika dijadwalkan ulang, malah terancam batal wawancaranya dengan sang direktur.“Ok, kalau gitu, nanti bisa hubungi saya lagi kalau kamu sudah tiba disini”, jawab Robert.Aldi mengangguk, “baik, permisi Pak”, pamit Aldi sopan.Aldi terpaksa pulang ke rumah karena celananya bau pesing dan basah, tidak mungkin dia meneruskan wawancara penting dengan keadaan seperti ini. Dia merutuki nasib
Sepeninggalnya Aldi, Angela bangun dan mulai pelan-pelan membereskan kamarnya, dia lipat satu persatu kemeja Aldi yang berserakan hasil dari lemparannya tadi pagi karena kesal pada keadaan. Ia menata baju dan memasukkannya ke keranjang setrika, merapikan tempat tidur, menyapu lalu mengepel kamar. Ia beristirahat sejenak, mengambil air minum di kulkas dan menenggaknya dengan rakus. Ia menatap sendu keadaan rumahnya yang berantakan, orang normal yang melihat kondisi rumah itu sudah pasti malas untuk kembali pulang ke rumah karena teramat kotor. Pantas saja suaminya selalu marah-marah dan kusut saat kembali pulang. Perlahan dia mulai membersihkan ruangan demi ruangan, memunguti bantal-bantal dan kertas yang berserakan di lantai, sesekali ditekannya perut yang terasa sakit, lalu direbahkan tubuhnya di sela-sela kegiatannya berberes rumah. Dirinya mulai kehausan, sudah lama dia tak melakukan kegiatan ini, karena biasanya dia tak pernah mau tangan mulusnya terkena sabun cuci atau pembersih
“Selamat malam, silahkan duduk”, suara wanita menjawab, masih dengan posisi membelakangi tamu.Rasanya suara itu terdengar familiar untuknya, Aldi sibuk mengingat dimana dia mendengar suara itu. Dilihatnya lagi kursi besar itu yang masih membelakanginya.“Apakah bisa saya tinggal, Bu?”, tawar Robert. Sesungguhnya dia agak sedikit heran dengan sikap dan cara sang direktur saat berinteraksi dengan pelamar. Tidak biasanya bersikap asing begini, batin Robert.Yang ditanya melambaikan tangan kirinya, pertanda dia tetap menginginkan Robert berada disitu. Robert pun menurut, “Baik Bu”Aldi mulai merasakan aura misterius disini.“Siapa nama kandidatnya?”, tanya wanita dibalik kursi itu.“Aldi Pra..., jawab Robert berusaha membantu Aldi untuk menjawab.“Biarkan dia menjawab sendiri”, potong RaniaRobert memberi tanda supaya Aldi menjawab pertanyaan yang diajukan.“Sa-saya Aldi Pratama bu”, jawab Aldi gugup. Pasalnya dia baru pertama kali diwawancara dengan konsep seperti ini yang tanpa melihat
Heri mulai berkirim pesan pada Pak Joko. Sebelumnya dia memang sudah ditugaskan Rania untuk menghubungi Pak Joko untuk meminta keterangan dan kesediaannya memberi referensi. Dan oleh karena saat itu Rania yang meminta, dengan posisi yang sama-sama direktur, apalagi perusahaan tempat Rania bekerja jauh lebih besar dari Pak Joko, maka lebih mudah untuk melobby dan menjalin komunikasi yang baik diantara senir manajemen perusahaan. Rania memang saat ini sudah cukup dikenal sebagai direktur wanita yang profesional dan mempunyai kredibilitas tinggi di industri.Sepeninggal Heri, suasana di dalam ruangan tak kalah hening, tak ada satupun membuka suara. Sampai akhirnya Robert bertanya, “Mohon izin Bu Rania, apakah tidak melanggar privacy kandidat bila...”, dengan sangat hati-hati Ia membuka suara.Dari balik kursi Rania melambaikan tangan kanannya pertanda perintahnya tak mau dibantah.Aldi menengadahkan kepala, dia kaget bukan main mendengar nama Rania disebut, suara wanita mewawancarainya i
“Oh ya, ngomong-ngomong bapak kenal Aldi Pratama, kepala divisi penjualan yang katanya pekerjaan dan kredibilitasnya bagus lalu resign karena mau dipindahtugaskan ke luar kota ya. Bolehlah saya dikasih referensi, karena kandidatnya lagi melamar di tempat saya sebagai sales manager”Muka Aldi memerah menahan malu, rasa takut menghingapi hatinya.Pak Joko terdiam, Ia mulai memutar otak ke belakang mengingat kejadian empat tahun lalu saat perusahaannya mengalami kerugian berat akibat korupsi yang dilakukan karyawan yang sudah dipercayainya dan bekerja cukup lama padanya. Sungguh pukulan yang teramat berat untuknya sebagai direktur penjualan, bahwa ternyata banyak margin yang dimark up untuk kepentingan pribadi dan diselewengkan ke rekening Aldi. Perusahaannya sampai merugi hingga dua milyar rupiah karena kecurangan Aldi. Saat itu perusahaannya juga menenpuh jalur hukum, dan Aldi diminta mengembalikan uang perusahaan tapi karena tidak seluruhnya sanggup dikembalikan, maka Aldi dijebloskan
“Hallo Bu Rania?”, sapa Pak Joko karena tak juga mendengar respon dari Rania di sebrang telpon.“Oh ya, maaf saya terlalu konsen mendalami keterangan bapak. Terima kasih sudah bersedia berbagi informasiya pak. Ini sangat berguna sekali untuk stabilitas perusahaan saya”, ucap Rania jujur.“tidak masalah, Bu, dengan senang hati”, jawab Pak Joko.Panggilan telpon diakhiri. Semua orang di ruangan itu terdiam beberapa detik hingga akhirnya Rania bersuara.“Jadi bagaimana? Semua sudah mendengar dengan jelas, tak ada yang ditutupi. Pak Aldi, ada yang ingin anda sampaikan atau klarifikasi? Pak Robert bagaimana menurut bapak?”, tanya Rania pada kedua orang itu sekaligus dengan posisi masih dengan kursi membelakangi.Hening tak ada jawaban, semua tampak berpikir. Robert tidak berani bicara untuk sekedar mengiyakan keputusan Rania. Aldi juga takut untuk membela diri, ia merasa pembelaannya tidak akan berguna mengingat sang nara sumber sudah berbicara dengan begitu gamblang.“Apakah kita masih p
"Aku benar-benar sayang sama kamu, jangan pernah kamu ragukan itu", ucap Fahmi lembut. Ia menatap wanita di hadapannya dengan rasa sayang yang teramat dalam.Ia tak punya alasan untuk mendebat Fahmi. Ia hanya merasa sangat melankolis saat dihadapkan pada dua orang lelaki yang kini ada di hidupnya, yang satu sangat ia benci, yang satu sangat ia sayang.“Maaf…”, hanya kata itu yang keluar dari mulut Rania.Fahmi tersenyum mengangguk lalu mengajak Rania kembali ke ruangan Angela.Di ujung jalan, Aldi melihat kejadian itu dengan sedih, ia mendengar semua perkataan Fahmi dan ia merasa cemburu. Ya, walau kecemburuannya sama sekali tidak berdasar, tapi penyesalan menyeruak ke dasar hatinya karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik Rania. Aku benar-benar bersalah sama kamu, Rania, kamu terlalu baik buat aku makanya Allah memisahkan kita, ucap Aldi dalam hati. Ia pun berbalik arah untuk segera kembali ke ruangan dimana istrinya berada. Ia tak ingin Rania dan Fahmi mengetahui bahwa dirinya mend
Pintu ruangan diketuk pelan, Rania dan Fahmi masuk ke dalam dengan raut muka penyesalan, apalagi Rania yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya menyaksikan kepergian Angela secepat itu setelah berbicara panjang lebar kemarin. Rania bersyukur telah memberitahu Angela bahwa ia telah memaafkan segala kesalahan yang pernah doperbuat Angela padanya. Fahmi menghampiri Aldi sementara Rania membuka kain penutup wajah Angela, dadanya mulai terasa sesak menyaksikan semua yang menimpa wanita perebut suaminya dulu, sungguh ia tak mengira begini akhir cerita hidup wanita yang dulu menghina dan mencemooh dirinya. Air mata membasahi pipi Rania, perlahan ia menghapusnya. Fahmi dan Aldi menghampiri Rania. Aldi menunduk melihat Rania, ia seperti tak sanggup menatap wajah teduh mantan istrinya. Betapa banyaknya dosa yang telah dia lakukan pada Rania, menghina dan mengusirnya tanpa menyadari bahwa Allah tak pernah tidur menyaksikan perbuatan hamba-hamba-Nya yang lewat batas dan lupa diri.“Rania...” ra
Aldi menoleh ke arah Rania dan menatapnya sekian detik, entah mengapa setiap kata-kata yang keluar dari mulut Rania terasa sangat indah saat ini untuk Aldi. Meskipun kalimat itu adalah bentuk teguran nyata untuk dirinya, bahkan masih tersirat kebencian di sorot matanya, tapi Aldi cukup lega karena setidaknya Rania masih mau menatapnya saat berbicara tadi.Fahmi berdehem untuk memecah kesunyian yang tercipta beberapa detik diantara mereka bertiga."Hmm... kalau begitu kami pamit dulu. Semoga istri kamu lekas sadar dan pulih. Kalau ada kemajuan ataupun penurunan kondisi, bisa hubungi saya. Rania butuh istirahat, kasihan dari kemarin dia sibuk bolak balik ke rumah sakit, besuk ibu saya juga. Jadi jangan sungkan menghubungi saya. ", Fahmi menyerahkan kartu nama miliknya ke depan Aldi.Aldi menerimanya dengan tatapan tak enak."Baik pak Fahmi, terima kasih", jawab Aldi.Rania dan Fahmi sudah meninggalkan kamar rawat Angela, mereka pulang setelah menjenguk nyonya Lastri di ruang perawatan da
"Jangan membuat keributan disini, ingat ini rumah sakit!", seru Rania dengan penekanan.Fahmi memandang tajam ke arah Aldi."Jangan jadi laki-laki pengecut, saya paling ngga suka lelaki kasar yang beraninya hanya sama perempuan. Kamu jangan pernah membangunkan macan tidur, saya disini untuk membantu kamu dan Angela, dan jelas itu semua karena Rania. Jadi kalau kamu memang tidak mau istri dan bayi kamu selamat, lebih baik bilang dari sekarang, jangan buang waktu saya dan Rania! Saya akan menarik kembali uang jaminan saya!", Fahmi memperingatkan Aldi dengan serius, raut mukanya memancarkan kemarahan yang dalam. Aldi menunduk mendengarnya. Ia merasa tak enak mendengar penuturan Fahmi. Apalagi dia masih berharap Fahmi dapat membantunya mendapat pekerjaan di perusahaannya, kalau belum apa-apa Fahmi sudah kesal padanya, bagaimana dia bisa membantu aku nanti? Aldi bermonolog dalam hati. Ditengah keadaan Angela dan bayinya yang sakit, Aldi masih sanggup memikirkan dirinya sendiri.Rania menat
"Bagaimana bisa dia hamil sekarang? itu bukan anakku!", teriak Aldi histeris. Fahmi menarik paksa Aldi keluar dari kamar, dia bahkan sampai menyeret Aldi dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Untung saja Aldi tak banyak perlawanan.Bunyi pintu kamar yang didorong paksa dari dalam mengejutkan Rania yang sudah lebih dulu berdiri karena sebelumnya sudah merasa ada yang tak beres di dalam kamar. Rania mundur beberapa langkah saat melihat Aldi di dorong oleh Fahmi keluar, kerah baju di pegang kuat oleh Fahmi, sementara satu tangannya yang lain juga dikunci gerakannya oleh Fahmi. Setelah pintu tertutup dengan sempurna Fahmi melepaskan tubuh Aldi dengan kasar hingga Aldi nyaris terjatuh.Geram sekali dia melihat sikap Aldi yang pengecut. Apa yang sudah terjadi adalah buah dari apa yang pernah kita perbuat di masa lalu, harusnya Aldi introspeksi diri, bukan malah terus menyalahkan orang lain atas apa yang sudah terjadi. Walau bagaimana pun, Angela adalah istrinya, kehamilannya harus tetap dit
Dokter datang memeriksa keadaan Angela, ia cukup heran dengan kemajuan yang ditunjukkan perempuan itu. Padahal sebelumnya sudah segala cara dikerahkan supaya pasien ini sadar dari pingsannya tapi tak juga menunjukkan hasil apa-apa. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah tak adanya detak jantung dalam waktu yang relatif lama dimana grafik pada layar sempat stagnan berada di garis lurus, makanya ia mulai menyerah dan meminta Aldi untuk menghubungi orang-orang terdekatnya supaya Angela bisa pergi dengan tenang disaksikan keluarga agar tidak ada penyesalan.Dia juga merasa heran kenapa Aldi sebagai suami tidak mengatakan padanya kalau istrinya ini sedang hamil, sehingga dari awal dokter di rumah sakit pun tidak mereferensikan Angela ke dokter kandungan untuk memeriksa kondisi kehamilannya. Entah apa yang ada di pikiran sang dokter, image Aldi sebagai seorang suami memang sudah tampak jelek sejak bermasalah dari awal kedatangannya di rumah sakit ini. Tidak memiliki biaya tapi gayanya selan
Rania dan Fahmi tiba di depan kamar rawat Angela. Aldi mempersilahkan masuk.Kondisi Angela semakin memprihatinkan.Rania mulai mendekati Angela, ia memanggil Angela dengan berbisik di telinga kanannya, satu tangannya menggenggam tangan kanan Angela, ia berharap Angela bisa merasakan kehadirannya."Angela... Angela", panggil Rania. Tak ada jawaban, Angela masih tak sadarkan diri. Fahmi berdiri di samping Rania memberi kekuatan bagi wanita di sebelahnya. Aldi memperhatikan istrinya yang tertidur pulas, bibirnya terlihat pucat pasi, entah apa Angela masih punya kesempatan untuk hidup dan berbicara lagi dengan Rania, ia benar-benar tak tahu. Sesekali ia melirik ke arah Rania dan Fahmi, melihat lelaki itu begitu lembut saat berbicara dengan mantan istrinya, ada sejengkal rasa cemburu merajai hatinya. Penyesalah dirasakan menyeruak dari dasar hatinya mengingat masa dulu dirinya pernah mengkhianati ketulusan wanita itu, wanita penurut yang begitu ingin berbakti padanya, yang sayangnya semua
Dokter menggeleng lemah melihat kondisi Angela, dia tahu tidak ada harapan lagi untuk menyembuhkannya. Berbagai cara sudah dilakukan tapi nafas Angela tetap tak terdengar, detak jantungnya sudah tak ada sejak tiga puluh menit yang lalu walau sudah diupayakan menggunakan alat defribillator untuk memberikan kejutan listrik ke jantungnya. Dokter dan suster saling menatap putus asa karena tak bisa melakukan apa-apa lagi."Pak Aldi, tolong hubungi orang yang dirasa penting untuk bu Angela. Apakah orang tuanya masih ada?", tanya sang dokter.Aldi menggeleng lesu. "Bu Angela butuh seseorang yang bisa membangkitkan semangatnya untuk hidup, entah siapa tapi saya yakin ada yang benar-benar ditunggu oleh bu Angela", ucap dokter lagi.Aldi menarik nafas dan membuangnya perlahan."Mungkin saya tahu ada orang yang sangat ingin ditemuinya, dok", jawab Aldi."Tidak ada salahnya mencoba, Pak Aldi. Silahkan dihubungi", pinta sang dokter. Aldi mengangguk sambil membuka daftar kontak di ponselnya."Kala
“Siapa yang sudah mencintai saya selama tiga belas tahun?”, tanya Rania tanpa mengalihkan pandangannya dari Fahmi. Ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tak terasa mobil hampir memasuki komplek perumahan Rania.Fahmi mengurangi laju mobilnya perlahan kemudian menghentikannya di pinggir jalan.“Aku”, jawab Fahmi yakin sambil menatap lekat wanita di depannya. “Hah?”, Rania reflek menutup mulut dengan tangannya. Wajah herannya nampak begitu menggemaskan di mata Fahmi.Fahmi menarik nafas dan membuangnya perlahan. Ia mencoba mengumpulkan keberanian yang selama ini selalu menguap entah kemana saat berhadapan dengan Rania. Padahal dia adalah pemimpin yang kemampuan berbicaranya tak perlu diragukan lagi, tapi di depan Rania, untuk mengungkapkan perasaan saja musti dibantu ibunya segala untuk melamar, ah mengingat itu Fahmi jadi malu sendiri.“Aku sudah jatuh cinta sama kamu kira-kira beberapa bulan setelah kamu mulai bekerja di kantor dulu. Waktu itu kamu belum menikah dan jika kuhitu