“Lalu sekarang Pak Fahmi mau kemana lagi? Bukannya mau pulang lihat Ibu?”, tanya Rania penasaran.“Sebentar saja, Ran. Aku mau minta maaf”, jawab Fahmi, Ia hanya tersenyum lalu keluar dari mobil menghampiri Aldi yang nafasnya sudah terdengar naik turun, dia tampak emosi.Rania tampak bingung tapi tak punya kesempatan untuk bertanya lagi karena Fahmi sudah langsung membuka pintu mobil sambil melebarkan payung.“Heh, lo nggak lihat ada orang disini jalan sampai nyipratin air, mentang-mentang mobil bagus suka-sukanya sendiri, air comberan ini kena muka gue”, teriak Aldi emosi.Rania menoleh ke belakang, Ia kaget bukan main melihat Aldi marah-marah pada Fahmi yang tetap terlihat tenang.Fahmi berusaha minta maaf tapi Aldi semakin emosi. Bagi yang sudah cukup mengenal Aldi pastilah tahu kalau orang ini memang punya attitude yang aneh. Jika orang sudah merendahkan diri meminta maaf, responnya suka semakin semena-mena memperlakukan orang. Tak berapa lama, dari dalam mobil Rania melihat Aldi
Siasat Rania cukup tepat sasaran, Aldi mulai didera rasa panik, ia sadar sudah berbuat kesalahan dengan memukul Fahmi tadi menggunakan batang sapu ijuk, ketakutan mulai merajai hatinya, ia berpikir juga kalau dirinya bisa diamuk massa karena telah menyerang orang yang berjalan membelakanginya dan tidak melakukan perlawanan terhadapnya, dia bisa dituduh main hakim sendiri. Akhirnya Aldi malah memilih lari demi menghindari amuk massa, benar-benar cara yang tidak sportif, tapi bukan Aldi namanya kalau memakai cara yang sportif. Laki-laki itu memang terbiasa bermain curang, dulu dan sekarang.Rania kembali mendekati Fahmi yang sudah mulai sadar dan terduduk di kursi panjang di depan mini market. Wajahnya yang pucat tampak lebih cerah saat melihat Rania berjalan ke arahnya, senyum Rania mengembang kala sampai di depannya.“Rania...” , ucap Fahmi pelan, Ia tengah berusaha menahan sakit di kepalanya.“Iya Pak, bagaimana keadaan Pak Fahmi? Maaf tadi saya tinggal, orang itu benar-benar gila, s
Tiba di rumah sakit, dokter langsung memeriksa keadaan Bu Ratna, Ibunya Fahmi. Dokter saraf meminta CT Scan dilakukan karena ada indikasi penyumbatan pembulu darah di otak setelah terjatuh tadi. Segala pemeriksaan terbaik dilakukan sesuai permintaan Fahmi, dia sungguh tak ingin terjadi apa-apa pada ibunya.Rania tetap berada di sisi Fahmi untuk menguatkan. Fahmi akhirnya tersadar juga bahwa sudah selarut ini Rania bersamanya, ia melihat jam di pergelangan tangannya, sudah pukul 1.30 dini hari.“Rania, ini sudah sangat malam, maaf kamu masih harus nemenin aku”, ucap Fahmi.Rania menarik sedikit bibir atasnya untuk tersenyum, “tidak apa-apa, setelah Ibu selesai di CT scan mungkin aku pulang dulu ya, Pak”, jawab Rania.Fahmi mengangguk lemah sembari memaksakan tersenyum, “iya, tapi biar aku antar kamu pulang ya, jangan ditolak. Aku perlu meminta maaf pada Ibumu”, terang Fahmi.Rania mengangguk mengiyakan permintaan Fahmi.**Aldi terus dikejar beberapa orang hingga ia memutuskan untuk me
“I-i-iya suster”, jawab Aldi terbata.“Jadi bagaimana Bapak? Apakah pengobatan Bu Angela mau dilanjutkan atau bagaimana?”, tanya suster lagi tepat pada intinya. Aldi membuang nafas kasar, sungguh ia merasa buntu. Tak mendengar jawaban apaun dari Aldi, akhirnya suster hanya meminta Aldi untuk datang dan menyelesaikan administrasi untuk tindakan yang sudah terlanjur dijalankan.“Posisi bapak dimana? tolong segera kembali ke rumah sakit ya untuk menyelesaikan administrasi pasien pulang jika memang tidak melanjutkan pengobatan di Kurnia Asih”, ucap suster lagi.“Baik suster, saya akan segera kesana”, jawab Aldi akhirnya. Dan sambungan telepon pun diakhiri.Dengan langkah lemah Aldi mulai mencari jalan ke arah rumah sakit. Ia memesan ojek online karena sulit mencari tumpangan di waktu yang sudah selarut ini.**Di rumah sakit, Angela masih tak sadarkan diri, tubuhnya terlihat lemah bagaikan tak ada nyawa. Kondisinya semakin memprihatinkan, dokter jaga dan perawat yang memeriksa Angela ju
“Itu... itu Aldi”, jawab Rania spontan.Fahmi melihat Rania dengan serius, “siapa Aldi?”.Rania menjadi gugup mendengar pertanyaan Fahmi, dia baru sadar tadi dia keceplosan menyebut nama itu.“Tunggu dulu”, Fahmi mencoba mengingat-ingat, “itu kan orang yang tadi memukulku dan mencoba memerasku”, Fahmi menatap tajam mata Rania.“Iya, Pak”“Apa kamu mengenalnya, siapa Aldi...?”, tanya Fahmi curiga.“Dia..dia...”, Rania menggantungkan ucapannya, Fahmi masih terus menatap Rania. Tanpa sadar langkah mereka berdua berhenti di tempat. Dan sesungguhnya perempuan itu tengah bingung setengah mati harus mulai dari mana menjelaskan kepada lelaki di hadapannya. Atasannya itu tahu persis keadaan rumah tangganya yang hancur dulu karena perselingkuhan, tapi lelaki itu tidak pernah benar-benar mengenal atau bahkan melihat wujud mantan suaminya itu.Fahmi memicingkan matanya melihat sikap Rania yang tak biasa. Sementara di sudut lobby Aldi masih terus berupaya untuk bernegosiasi.“Rania...”, panggilan
Hanya ada seorang perempuan yang di kursi roda, sementara Aldi sedang mondar mandir kebingungan, petugas wanita yang tadi berbicara dengan Aldi saat ini sudah sibuk melayani pasien lain. Rania berpikir, tidak mungkinlah petugas wanita itu yang memanggil dirinya, secara dia tidak ada kepentingan apapun di rumah sakit ini selain menemani Fahmi mengantar sang Ibu. Kemungkinan besar memang hanya wanita di kursi roda itu. Rania dan Fahmi bermonolog dalam hatinya masing-masing. Tapi siapa perempuan di kursi roda itu? tanya Rania pada dirinya sendiri. Ia merasa tak punya banyak urusan di Jakarta selain urusan pekerjaan dan urusan kesehatan Ibunya.Sekali lagi Rania mendongak ke atas melihat wajah Fahmi yang juga tengah menatapnya lekat, Ia seperti meminta persetujuan untuk menghampiri wanita di kursi roda, Fahmi mengangguk perlahan sambil terus menatapnya lekat.“Rania... “, suara itu terdengar sedikit lebih keras dari sebelumnya hingga Aldi pun terkejut lalu menghampiri Angela, Ia heran men
“Aku tak mengira bisa secara tidak sengaja bertemu kamu disini Rania, tapi sejak tadi entah kenapa Angela terus menyebut nama kamu dan meminta aku untuk memanggil kamu. Aku bahkan tidak tahu kalau kamu juga berada di rumah sakit ini”, terang Aldi dengan suara rendah. Bagaimanapun juga Ia merasa tak enak hati dengan lelaki di sebelah Rania yang terus menatap tajam ke arahnya.Mendengar itu, Rania hanya melirik Aldi sekilas dan kembali menatap wanita malang di depannya. Tak terbayangkan bagaimana perasaan Rania saat ini melihat wanita yang dulu nampak cantik dan seksi itu kini memiliki wajah yang kusam dan jauh dari kata menarik. Wanita yang berhasil merebut suaminya kala itu dan membuatnya terusir dari rumahnya sendiri, yang kala itu berdiri dengan sombongnya di samping suaminya saat tubuhnya limbung ke lantai setelah di dorong oleh sang suami tepat setelah kata talak diucapkan. Wanita yang dulu dengan lantangnya menyebut dirinya penyakitan dan mandul kini tengah berada di hadapannya d
“Ran, Ibu sudah siuman”, ucap Fahmi pelan. Ia tahu keadaan sedang tak baik di depannya. Walaupun tadi ia begitu membenci sikap Aldi tapi tak dapat dipungkiri, mengetahui kelsulitan yang tengah dihadapi Aldi membuat rasa benci hilang begitu saja.“kalau begitu ayo kita lihat”, ajak Rania cepat. Ia tidak mungkin menangguhkan kepentingan ibunya fahmi hanya demi dua orang yang pernah mengacaukan hidupnya dulu.“Tunggu Ran, apa ada yang harus kita bantu?”, tanya Fahmi sedikit berbisik.Rania menghela nafas dan berpikir dengan cepat. Ia sebenarnya sudah inginmembantu hanya tak tahu dari mana harus memulainya.“Apakah Ibu ini tidak memiliki kartu jaminan kesehatan?”, tanya Rania pada petugas.“Kartunya sudah lama mati, kepesertaanya sudah tidak aktif dalam waktu yang cukup lama, Bu”, jawab petugas itu jujur.“Beri kami sedikit waktu untuk bicara, mbak”, ucap Rania. Petugas itu mengangguk sopan lalu meninggalkan mereka.Rania memandang Aldi dengan sinis, “memangnya berapa yang kamu butuhkan?
"Aku benar-benar sayang sama kamu, jangan pernah kamu ragukan itu", ucap Fahmi lembut. Ia menatap wanita di hadapannya dengan rasa sayang yang teramat dalam.Ia tak punya alasan untuk mendebat Fahmi. Ia hanya merasa sangat melankolis saat dihadapkan pada dua orang lelaki yang kini ada di hidupnya, yang satu sangat ia benci, yang satu sangat ia sayang.“Maaf…”, hanya kata itu yang keluar dari mulut Rania.Fahmi tersenyum mengangguk lalu mengajak Rania kembali ke ruangan Angela.Di ujung jalan, Aldi melihat kejadian itu dengan sedih, ia mendengar semua perkataan Fahmi dan ia merasa cemburu. Ya, walau kecemburuannya sama sekali tidak berdasar, tapi penyesalan menyeruak ke dasar hatinya karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik Rania. Aku benar-benar bersalah sama kamu, Rania, kamu terlalu baik buat aku makanya Allah memisahkan kita, ucap Aldi dalam hati. Ia pun berbalik arah untuk segera kembali ke ruangan dimana istrinya berada. Ia tak ingin Rania dan Fahmi mengetahui bahwa dirinya mend
Pintu ruangan diketuk pelan, Rania dan Fahmi masuk ke dalam dengan raut muka penyesalan, apalagi Rania yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya menyaksikan kepergian Angela secepat itu setelah berbicara panjang lebar kemarin. Rania bersyukur telah memberitahu Angela bahwa ia telah memaafkan segala kesalahan yang pernah doperbuat Angela padanya. Fahmi menghampiri Aldi sementara Rania membuka kain penutup wajah Angela, dadanya mulai terasa sesak menyaksikan semua yang menimpa wanita perebut suaminya dulu, sungguh ia tak mengira begini akhir cerita hidup wanita yang dulu menghina dan mencemooh dirinya. Air mata membasahi pipi Rania, perlahan ia menghapusnya. Fahmi dan Aldi menghampiri Rania. Aldi menunduk melihat Rania, ia seperti tak sanggup menatap wajah teduh mantan istrinya. Betapa banyaknya dosa yang telah dia lakukan pada Rania, menghina dan mengusirnya tanpa menyadari bahwa Allah tak pernah tidur menyaksikan perbuatan hamba-hamba-Nya yang lewat batas dan lupa diri.“Rania...” ra
Aldi menoleh ke arah Rania dan menatapnya sekian detik, entah mengapa setiap kata-kata yang keluar dari mulut Rania terasa sangat indah saat ini untuk Aldi. Meskipun kalimat itu adalah bentuk teguran nyata untuk dirinya, bahkan masih tersirat kebencian di sorot matanya, tapi Aldi cukup lega karena setidaknya Rania masih mau menatapnya saat berbicara tadi.Fahmi berdehem untuk memecah kesunyian yang tercipta beberapa detik diantara mereka bertiga."Hmm... kalau begitu kami pamit dulu. Semoga istri kamu lekas sadar dan pulih. Kalau ada kemajuan ataupun penurunan kondisi, bisa hubungi saya. Rania butuh istirahat, kasihan dari kemarin dia sibuk bolak balik ke rumah sakit, besuk ibu saya juga. Jadi jangan sungkan menghubungi saya. ", Fahmi menyerahkan kartu nama miliknya ke depan Aldi.Aldi menerimanya dengan tatapan tak enak."Baik pak Fahmi, terima kasih", jawab Aldi.Rania dan Fahmi sudah meninggalkan kamar rawat Angela, mereka pulang setelah menjenguk nyonya Lastri di ruang perawatan da
"Jangan membuat keributan disini, ingat ini rumah sakit!", seru Rania dengan penekanan.Fahmi memandang tajam ke arah Aldi."Jangan jadi laki-laki pengecut, saya paling ngga suka lelaki kasar yang beraninya hanya sama perempuan. Kamu jangan pernah membangunkan macan tidur, saya disini untuk membantu kamu dan Angela, dan jelas itu semua karena Rania. Jadi kalau kamu memang tidak mau istri dan bayi kamu selamat, lebih baik bilang dari sekarang, jangan buang waktu saya dan Rania! Saya akan menarik kembali uang jaminan saya!", Fahmi memperingatkan Aldi dengan serius, raut mukanya memancarkan kemarahan yang dalam. Aldi menunduk mendengarnya. Ia merasa tak enak mendengar penuturan Fahmi. Apalagi dia masih berharap Fahmi dapat membantunya mendapat pekerjaan di perusahaannya, kalau belum apa-apa Fahmi sudah kesal padanya, bagaimana dia bisa membantu aku nanti? Aldi bermonolog dalam hati. Ditengah keadaan Angela dan bayinya yang sakit, Aldi masih sanggup memikirkan dirinya sendiri.Rania menat
"Bagaimana bisa dia hamil sekarang? itu bukan anakku!", teriak Aldi histeris. Fahmi menarik paksa Aldi keluar dari kamar, dia bahkan sampai menyeret Aldi dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Untung saja Aldi tak banyak perlawanan.Bunyi pintu kamar yang didorong paksa dari dalam mengejutkan Rania yang sudah lebih dulu berdiri karena sebelumnya sudah merasa ada yang tak beres di dalam kamar. Rania mundur beberapa langkah saat melihat Aldi di dorong oleh Fahmi keluar, kerah baju di pegang kuat oleh Fahmi, sementara satu tangannya yang lain juga dikunci gerakannya oleh Fahmi. Setelah pintu tertutup dengan sempurna Fahmi melepaskan tubuh Aldi dengan kasar hingga Aldi nyaris terjatuh.Geram sekali dia melihat sikap Aldi yang pengecut. Apa yang sudah terjadi adalah buah dari apa yang pernah kita perbuat di masa lalu, harusnya Aldi introspeksi diri, bukan malah terus menyalahkan orang lain atas apa yang sudah terjadi. Walau bagaimana pun, Angela adalah istrinya, kehamilannya harus tetap dit
Dokter datang memeriksa keadaan Angela, ia cukup heran dengan kemajuan yang ditunjukkan perempuan itu. Padahal sebelumnya sudah segala cara dikerahkan supaya pasien ini sadar dari pingsannya tapi tak juga menunjukkan hasil apa-apa. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah tak adanya detak jantung dalam waktu yang relatif lama dimana grafik pada layar sempat stagnan berada di garis lurus, makanya ia mulai menyerah dan meminta Aldi untuk menghubungi orang-orang terdekatnya supaya Angela bisa pergi dengan tenang disaksikan keluarga agar tidak ada penyesalan.Dia juga merasa heran kenapa Aldi sebagai suami tidak mengatakan padanya kalau istrinya ini sedang hamil, sehingga dari awal dokter di rumah sakit pun tidak mereferensikan Angela ke dokter kandungan untuk memeriksa kondisi kehamilannya. Entah apa yang ada di pikiran sang dokter, image Aldi sebagai seorang suami memang sudah tampak jelek sejak bermasalah dari awal kedatangannya di rumah sakit ini. Tidak memiliki biaya tapi gayanya selan
Rania dan Fahmi tiba di depan kamar rawat Angela. Aldi mempersilahkan masuk.Kondisi Angela semakin memprihatinkan.Rania mulai mendekati Angela, ia memanggil Angela dengan berbisik di telinga kanannya, satu tangannya menggenggam tangan kanan Angela, ia berharap Angela bisa merasakan kehadirannya."Angela... Angela", panggil Rania. Tak ada jawaban, Angela masih tak sadarkan diri. Fahmi berdiri di samping Rania memberi kekuatan bagi wanita di sebelahnya. Aldi memperhatikan istrinya yang tertidur pulas, bibirnya terlihat pucat pasi, entah apa Angela masih punya kesempatan untuk hidup dan berbicara lagi dengan Rania, ia benar-benar tak tahu. Sesekali ia melirik ke arah Rania dan Fahmi, melihat lelaki itu begitu lembut saat berbicara dengan mantan istrinya, ada sejengkal rasa cemburu merajai hatinya. Penyesalah dirasakan menyeruak dari dasar hatinya mengingat masa dulu dirinya pernah mengkhianati ketulusan wanita itu, wanita penurut yang begitu ingin berbakti padanya, yang sayangnya semua
Dokter menggeleng lemah melihat kondisi Angela, dia tahu tidak ada harapan lagi untuk menyembuhkannya. Berbagai cara sudah dilakukan tapi nafas Angela tetap tak terdengar, detak jantungnya sudah tak ada sejak tiga puluh menit yang lalu walau sudah diupayakan menggunakan alat defribillator untuk memberikan kejutan listrik ke jantungnya. Dokter dan suster saling menatap putus asa karena tak bisa melakukan apa-apa lagi."Pak Aldi, tolong hubungi orang yang dirasa penting untuk bu Angela. Apakah orang tuanya masih ada?", tanya sang dokter.Aldi menggeleng lesu. "Bu Angela butuh seseorang yang bisa membangkitkan semangatnya untuk hidup, entah siapa tapi saya yakin ada yang benar-benar ditunggu oleh bu Angela", ucap dokter lagi.Aldi menarik nafas dan membuangnya perlahan."Mungkin saya tahu ada orang yang sangat ingin ditemuinya, dok", jawab Aldi."Tidak ada salahnya mencoba, Pak Aldi. Silahkan dihubungi", pinta sang dokter. Aldi mengangguk sambil membuka daftar kontak di ponselnya."Kala
“Siapa yang sudah mencintai saya selama tiga belas tahun?”, tanya Rania tanpa mengalihkan pandangannya dari Fahmi. Ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tak terasa mobil hampir memasuki komplek perumahan Rania.Fahmi mengurangi laju mobilnya perlahan kemudian menghentikannya di pinggir jalan.“Aku”, jawab Fahmi yakin sambil menatap lekat wanita di depannya. “Hah?”, Rania reflek menutup mulut dengan tangannya. Wajah herannya nampak begitu menggemaskan di mata Fahmi.Fahmi menarik nafas dan membuangnya perlahan. Ia mencoba mengumpulkan keberanian yang selama ini selalu menguap entah kemana saat berhadapan dengan Rania. Padahal dia adalah pemimpin yang kemampuan berbicaranya tak perlu diragukan lagi, tapi di depan Rania, untuk mengungkapkan perasaan saja musti dibantu ibunya segala untuk melamar, ah mengingat itu Fahmi jadi malu sendiri.“Aku sudah jatuh cinta sama kamu kira-kira beberapa bulan setelah kamu mulai bekerja di kantor dulu. Waktu itu kamu belum menikah dan jika kuhitu