Home / Romansa / Terjebak Asmara Tuan Argen / Chapter 61 - Chapter 70

All Chapters of Terjebak Asmara Tuan Argen : Chapter 61 - Chapter 70

70 Chapters

BAB 61

Sementara itu di kantor Domaz Group.Miria yang sudah memberikan makan siang Argen membawa kotak bekalnya sendiri ke kantin kantor. Ramai. Beberapa orang menunduk hormat saat berpapasan dengannya. Miria menggangukan kepala, duduk di meja yang kosong. Biasanya dia makan siang sendirian, karena jarang ada karyawan lain yang mendekat. Kecuali satu orang ini. Laki-laki berwajah cerita tapi memiliki sejuta muslihat di otaknya. Pengacara Domaz Group. Laki-laki itu duduk tanpa meminta izin terlebih dahulu. Miria mendongak sebentar, lalu tak acuh lagi. Fokus melihat makanan yang ada di kotak bekal.Aaaaa, bagaimana ini aku mulai terbiasa. Kenapa Ale bisa membuat bekal yang berbeda setiap hari si. Aaaaa, aku jadi jatuh cinta setengah mati karenanya."Ternyata benar ya, gosip yang aku dengar selama beberapa hari ini." Pengacara itu mebuka suara.Cih, jangan bicara denganku. Aku sedang menikmati bekal makan siang buatan pacarku. Nasinya pulen dan nikmat, aromanya harum dan menggugah selera. Miri
last updateLast Updated : 2025-04-01
Read more

BAB 62

Di rumah sederhana yang dihuni oleh 7 orang. Ada 4 kamar tidur di dalamnya. Dapur, dua kamar mandi dan satu ruang keluarga yang selalu mereka pakai berkumpul setiap harinya. Ruang tamu kecil dengan sofa yang sudah tampak lusuh, meja bundar kaca yang dihiasi taplak meja motif bunga.Dan di akhir pekan ini ada sedikit yang berbeda. Sedari pagi para penghuni rumah sudah berjibaku, bahu membahu bersama membereskan sudut rumah. Merapikan halaman rumah yang tidak terlalu luas. Mereka dengan giat melakukannya bersama, untuk menyambut kedatangan teman ibu. Teman lama ibu dulu, yang beberapa kali ditemui Rene saat remaja. Yang kata ibu setiap bulan selalu mengirimkan uang donasi untuk anak-anak. Bahkan ketika ibu sudah meninggal, Rene selalu mendapati uang transferan setiap bulan di hari yang sama tanpa terlewat sekalipun. Dan hari ini adalah hari yang sangat penting bagi mereka semua, setelah sekian lama, Rene dan adik-adiknya berkesempatan untuk berterimaksih pada orang baik itu.Saat wakt
last updateLast Updated : 2025-04-01
Read more

BAB 63

Bibi menatap anak-anak yang dipenuhi keceriaan dalam semua keterbatasan yang ada. Kakak perempuan tertua yang setegar karang dilautan. Gadis yang luar biasa. Kamu sangat luar biasa temanku, sampai bisa mendidik Rene seperti sekarang. Gumamnya sambil menatap satu persatu anak-anak di depannya.Aku ingin merawat mereka, apa boleh ya. Ah, kalau anakku menikah dengan Rene pasti boleh kan. Ah, sayang Rene sudah menyukai laki-laki lain. Seperti itulah akhir pekan Rene bersama teman ibu yang mereka hormati. Sampai mau pulang bibi masih saja bicara tentang anaknya yang tinggi dan tampan. Rene sampai mendelik pada adiknya yang tidak berhenti bercie, dan cie.***Sementara itu di tempat lain. Menjelang tengah hari. Mereka mau berkencan makan siang terlebih dulu setelah itu pergi nonton. Ale yang mempersiapkan kencan makan siang, dan Miria yang menentukan di mana serta film apa yang akan ditonton. Miria setuju saja dengan ide itu. Walaupun dia tidak pernah nonton film di bioskop, tapi dia bisa
last updateLast Updated : 2025-04-04
Read more

BAB 64

Ale muncul dengan kemeja lengan pendek yang warnanya sama persis dengan yang dipakai Miria. Di tangan kanannya dia menenteng satu keranjang piknik yang ukurannya cukup besar. Satu tangan lagi memegang tas kertas yang terlihat lebih ringan.Kenapa dia bawa begituan, katanya mau makan siang?"Biar kubantu, aku baru datang kok, waktu kamu keluar." Merebut bawaan Ale, bukanya meraih tas kertas dia malah mengambil tas piknik yang berat. Wah berat juga, dia bawa apa si."Apa yang kau lakukan Miria!" Ale menjerit karena kaget, saat cepat sekali tangan Miria bergerak merebut bawaannya. "Itu kan berat, kalau kau mau membantu bawa yang ini, tikar untuk alas duduk nanti." Ale menarik keranjang pikniknya lagi. Memaksa. Walaupun dengan berat hati akhirnya Miria serahkan lagi keranjang piknik itu ke pemiliknya. Padahal ini kan berat."Kita bawa berdua ya." Miria masih tidak tega."Apa sih, aku juga kuat. Cuma sampai ke mobil juga. Yuk jalan." Tangan kiri Ale yang kosong menggenggam tangan kanan M
last updateLast Updated : 2025-04-04
Read more

BAB 65

Kita kembali ke waktu pagi di Apartemen Argen. Saat matahari belum terlalu tinggi. Namun kesejukan pagi sudah menguap ke udara. Embun di atas dedaunan juga sudah lenyap. Di jalanan sudah tergantikan debu, asap dan polusi.Sementara di dalam kamar di apartemen Argen seorang gadis masih berbalut selimut. Merasai pegal di tubuhnya. Namun terselip bahagia yang tidak terkira juga.Kenapa kami melakukannya juga di pagi hari!Ana memekik tanpa suara, ambruk bergelung selimut. Tubuhnya tidak terlihat hanya rambut hitamnya yang menyembul dibawah selimut. Dia menjerit lagi. Antara senang, malu dan lelah yang juga bercampur.Kenapa Kak Argen jadi begini si, padahal dia belum menyatakan cinta padaku. Tapi kenapa, hubungan kami sudah seperti orang yang dimabuk cinta begini. Ana merasa ada bagian yang salah dalam hubungannya dengan Argen. Dia masih merasa ada yang kurang. Pengakuan cinta dari Kak Argen yang belum kunjung dia dapatkan. Namun, walaupun dia belum mendengar kata cinta itu, hubungan me
last updateLast Updated : 2025-04-04
Read more

BAB 66

Pasti suaminya tampan ya, hihi.Sini buat aku suaminya, wkwkwk.Itu cinta namanya, cuma tidak diucapkan saja. Aku juga mau dicintai begitu.Suamiku malah kebalikannya, tiap hari bilang cinta nggak ada habisnya. Wkwkwk.Tanya kak, tanya langsung suaminya.Paksa aja suruh bilang cinta, kalau nggak mau jangan kasih jatah. Wkwkwk.Huaaaaa, apa sih, ada yang komen ngawur. Haha. Ana tertawa sendiri saat membaca komentar balasan. Tapi ada yang komen serius membagi pengalaman juga. Hah, apa kami kurang komunikasi ya. Tapi aku kan sudah mengaku cinta. Cuma Kak Argen saja yang belum. Memang sepertinya aku harus memaksanya mengaku. Tapi, rasa takut terbersit lagi di hati Ana.Kalau dia tersinggung dan hubungan kami berjarak lagi bagaimana.Ana menjatuhkan tubuh menatap langit-lagit kamar sendu. Mengukir nama Argen dan dirinya di udara. "Ana!" Teriakan dari kamar mandi mengagetkan lamunan. "Ana!" Jeritan kedua kalinya terdengar."Ia Kak, kenapa?" Menyibak selimut mencari-cari baju yang bisa dipa
last updateLast Updated : 2025-04-04
Read more

BAB 67

"Sepertinya Tuan Arko di tolak masuk vila Tuan." Pengawal Argen sudah keluar, membuka pintu belakang. Argen belum turun, dia menahan tangan Ana yang mau meraih handle pintu. "Ana, tunggu sebentar di mobil, ada yang mau aku temui di gerbang depan.""Siapa Kak?""Sampah, kau tidak perlu memikirkannya. Tunggu sebentar ya." Ana hanya bisa mengiyakan. Karena Kak Argen terlihat moodnya berubah setelah mobil memasuki gerbang utama. Saat melihat keluar dia bisa melihat ada pelayan dan penjaga yang sedang menunggu. Memberi salam pada Argen. Argen berjalan menuju gerbang utama. Pengawalnya mengikuti di samping."Hei Argen sialan! Apa yang kau lakukan sampai aku tidak boleh masuk!" Saat melihat Argen mendekat, Arko menyalak marah. Argen hanya mendesah sambil tertawa mengejek tidak menjawab, membuat Arko tersulut emosi. "Dasar sialan!" Dia maju mau menerjang Argen dengan tinjunya. Namun dia kalah cepat, pengawal Argen menangkap tangan itu dan memelintirnya ke belakang. "Aaaaaa, aaaa, sakit! S
last updateLast Updated : 2025-04-04
Read more

BAB 68

Jalan menuju ruang kerja kakek, seperti lorong tanpa ujung sekarang. Senyap, hanya langkah kaki ketiganya yang terdengar. Saat ini, Ana mulai bisa merasakan perasaan tidak nyaman di hatinya. Saat melihat Kak Argen, gurat wajahnya juga menjadi kaku dan dingin. Ana meraih tangan Argen, membuat laki-laki itu terperanjat, namun seutas senyum samar muncul dan dia mendekatkan tubuh, membisikkan sesuatu di telinga Ana.Bibi pengurus rumah berjalan di depan mereka dengan langkah tegap."Semua yang aku katakan di dalam nanti hanyalah kebohongan, Ana kau percaya padaku kan." Jangan menyimpan apa pun yang aku katakan di depan kakek dalam hatimu, karena aku melakukannya untuk melindungimu. "Aku tidak tahu kakek akan bicara apa, tapi yang pasti kata-katanya tidak akan enak didengar. Kau boleh marah padaku nanti, tapi aku mohon bertahanlah di depan kakek." Mendengar itu rasa takut dan cemas Ana bersemi seperti rumput disiram hujan. Bahkan bulu kuduknya rasanya merinding karena ngeri. Aku jadi t
last updateLast Updated : 2025-04-04
Read more

BAB 69

Status sosial. Martabat keluarga, embel-embel nama baik diucapkan kakek. Keluarga yang berdiri sejajar dengan Domaz Group. Bukan keluarga pemilik toko roti yang bahkan bangunan gedungnya dilunasi melalui pinjaman.Rasa mual langsung menjalar naik ke leher Argen. Perutnya seperti diaduk-aduk. Dia muak dengan omong kosong yang kakek katakan. Mereka saja baru saja menikah, sudah membicarakan tentang wanita selevel yang bisa dia nikahi lagi.Apa isi kepalanya hanya wanita. Cih, orang seperti ini kenapa bisa membawa kejayaan Domaz Group. Api kemarahan rasanya ingin memuntahkan laharnya. Argen menarik nafas dalam-dalam menahan gejolak emosi dan amarahnya."Perihal anak yang akan dilahirkan istrimu.""Kami belum berencana memiliki anak Kek." Argen memotong, kakek terlihat tidak senang karena Argen menyanggah perkataannya. "Ana masih sekolah, Ale juga ingin dia terus sekolah sampai lulus, jadi belum akan ada anak diantara kami.""Baguslah kalau itu rencana mu.""Ana tidak akan terlibat apa pu
last updateLast Updated : 2025-04-04
Read more

BAB 70

Argen membawa hadiah berupa botol parfum. Dari sebuah toko terkenal yang ada di Domaz Mall. Produk terbaru yang bahkan baru akan diluncurkan bulan depan. Semua terlihat berterimakasih tulus di depan wajah Argen, entah di belakangnya. Perihal Arko pasti sudah menyebar ke telinga semua orang. Ketidakhadirannya di meja makan ini pun sudah menjadi jawaban siapa yang selalu di bela kakek. Argen masih menjadi cucu kesayangannya. Jangan mengusiknya secara terang-terangan sekarang. Bahkan beberapa orang mengutuki kebodohan Arko. Cara yang dia pakai menjatuhkan Argen terlalu frontal yang bahkan merugikan keluarga mereka sendiri.Meja makan berdenting dengan suara. Obrolan bisik-bisik bercampur dentingan sendok.Argen makan dengan tenang, tidak seperti biasanya yang hanya memainkan sendok di piringnya. Tangan kiri Argen menyentuh pangkuan Ana di bawah meja. mereka saling pandang dan tersenyum. Saat hal-hal rutin dibicarakan seperti laporan pekerjaan, atau kegiatan-kegiatan Domaz Group yang b
last updateLast Updated : 2025-04-04
Read more
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status