“Kirei.” Maitea mengulang nama yang disebutkan Dev. “Sungguh cantik.”Kirei tersenyum, meskipun bingung karena tak mengerti dengan yang ibunda Dev ucapkan. “Mamaku mengatakan kamu sangat cantik,” ucap Dev. Seketika, senyum Kirei lebih lebar dari sebelumnya. “Thank you,” balasnya sopan.“Ucapkan ‘gracias’,” bisik Dev, seraya merengkuh pinggang Kirei. “Oh. Gracias,” ucap Kirei kaku. “Jangan memaksanya, Dev,” tegur Maitea. “Come in,” ajak wanita itu.Dev menuntun Jenna masuk, mengikuti sang ibunda. Setelah berada di dalam, Kirei begitu terpukau dengan suasana rumah perkebunan milik ibunda Dev tersebut. Dia jadi ingat pada kisah-kisah serial televisi khas negara Meksiko. “Aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian,” ucap Maitea, seraya mengarahkan Dev dan Kirei ke lantai dua rumah itu. “Jangan katakan itu adalah kamar lamaku,” ujar Dev, dengan tatapan menebak-nebak. “Ah, kau sangat pintar.” Maitea yang berjalan di depan, menoleh sambil tersenyum lembut. “Aku sudah merenovasi kamar lam
Huling Na-update : 2025-03-10 Magbasa pa