Home / Romansa / Istri Cantik Penguasa Dingin / Chapter 41 - Chapter 50

All Chapters of Istri Cantik Penguasa Dingin: Chapter 41 - Chapter 50

71 Chapters

Dalam Pusaran Ketakutan

“Tuan Morales.” Dev yang menyadari sikap Hernan, segera mengalihkan perhatian pria itu. Hernan tersenyum kalem, seraya mempersilakan Dev dan Kirei masuk. “Maaf. Aku baru selesai menghidangkan makanan,” ucapnya, kemudian mengarahkan tangan ke sofa. “Anda memasak sendiri?” Dev yang sudah duduk di sebelah Kirei, menanggapi tenang ucapan Hernan. Dia harus berbasa-basi, meskipun tidak terlalu suka melakukannya. Terlebih, setelah melihat gelagat yang ditunjukkan pria itu terhadap Kirei. “Aku mencari resep di internet, lalu mencoba meracik dengan caraku. Semoga hasilnya memuaskan,” ujar Hernan. “Kami sangat menghargai itu. Kerja keras akan membuahkan hasil yang baik, meski terkadang tidak sesuai ekspe
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Take Me Away

“Kamu yang terlalu berlebihan, Kirei.”“Anggap saja begitu. Namun, sikapmu, rasa takutmu, kecurigaan dan … kamu tak segan memberikan hukuman menakutkan padaku.”“Itu belum seberapa dibanding yang kulakukan terhadap orang lain,” sanggah Dev cukup tegas. “Tapi, aku adalah wanitamu!” bantah Kirei tegas. “Sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan hidup bersama pria yang tiba-tiba marah karena hal sepele, lalu kembali bersikap baik dan mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Kamu pikir itu tidak membuatku bingung?” “Aku masih dalam masa transisi. Seumur hidup, aku tidak pernah melibatkan perasaan dalam menjalani kedekatan dengan wanita. Bagi sebagian pria, ini pasti terdengar sangat bodoh. Namun, bagiku ini sangat aneh, Kirei. Aku merasa lain. Dua sisi hatiku terus bertarung. Kamu tahu kenapa? Karena aku adalah Dev Aydin Bahran. Aku melawannya. Akan tetapi, aku tidak sanggup.”“Jangan terlalu berlebihan, Dev.” Kirei menatap lekat pria di belakang kemudi itu. “Kita terus mempermasalahkan h
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bukan Berita Membahagiakan

Hernan mengernyitkan kening, membaca tulisan yang tertera di kertas itu. Dia mencoba mencerna hingga beberapa kali karena takut menyalahartikan kalimat tadi. Pengusaha tampan 40 tahun tersebut membolak-balikkan kertas yang dipegangnya. Namun, dia tak menemukan catatan lain di sana. “Kenapa dia menulis seperti ini?” gumam Hernan tak mengerti. Rasa kantuk benar-benar sirna, memikirkan kalimat dalam secarik kertas, yang membuat Hernan merasa tertantang. Pikirannya melayang jauh, membayangkan sosok Kirei yang memang terlihat aneh setiap kali berhadapan dengannya. Kirei lebih sering tertunduk, bahkan langsung menghindar seakan takut. “Apakah ada sesuatu yang tidak beres dalam hubungan Tuan Dev dengan calon istrinya?” gumam Hernan penuh tanda tanya. 
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Melarikan Diri

Dev melepaskan cengkraman dari tangan Kirei, ketika Hernan muncul. “Tuan Morales,” sapanya tenang.“Semoga kedatanganku tidak mengganggu,” ucap Hernan, diiringi senyum kalem. Dia sangat pandai menguasai diri, meskipun ada rasa curiga melihat sikap Dev terhadap Kirei beberapa saat lalu. Namun, dia tak ingin berspekulasi.“Tentu saja tidak. Aku dan Kirei sedang berbincang santai sambil bercanda. Bukankah begitu, Sayang?” Dev menoleh, menatap penuh arti kepada Kirei. Namun, dia lupa karena berbicara dalam Bahasa Spanyol. Kirei tak mengerti apa yang diucapkan. Kirei hanya tersenyum kecil. Sesaat kemudian, ekor matanya mengarah kepada Hernan, seakan memberi isyarat. Sayang sekali, pria itu tidak memahami makna lirikan yang dirinya layangkan
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Melepaskan Diri

Dev bergegas mengejar Kirei. Namun, sebelum dia mendekat, wanita itu lebih dulu menyeberang jalan. “Kirei!” Dev tak segan berteriak kencang sehingga menjadi perhatian banyak orang. Dia memaksa menyeberang, meskipun lalu lintas cukup ramai. “Kirei!” Sekali lagi, Dev memanggil dengan kencang. Namun, Kirei terus berlari di antara orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar. Mengetahui Dev mengejarnya, Kirei bergegas masuk ke pusat perbelanjaan. Dia mencari toilet, lalu menanggalkan midi dress yang dipakai. Rupanya, di dalam dress cantik itu masih ada baju lain. Kirei mengenakan T-shirt press body, yang dipadukan legging sebatas betis. Dia melepas ikatan rambut, membiarkannya tergerai bebas. Setelah merasa siap, barulah keluar dari toilet dan berbaur dengan pengunjung lain, tetapi tak langsung keluar dari pusat perbelanjaan itu. Kirei takut Dev terus mengejarnya. Wanita muda tersebut melihat sekeliling, seakan tengah mencari sesuatu. Kirei terus berjalan hingga tiba di pusat informasi
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Membuat Perhitungan

“Ka-Kanada?” ulang Kirei. Hernan mengangguk. “Aku menetap di sana. Jika kau mau, aku akan membantumu untuk segala urusan keimigrasian.”“Ta-tapi ….” Kirei terlihat ragu. “Bukankah Anda tidak ingin ….”“Aku sudah telanjur masuk, Kirei,” ucap Hernan tenang. “Apa pun masalahmu dengan Tuan Dev, aku tidak akan mengulik terlalu dalam. Namun, karena kau meminta bantuanku, maka aku akan melakukan semaksimal mungkin.”Kirei menatap tak percaya. Keputusannya tidak keliru dengan meminta bantuan kepada Hernan, meskipun belum mengetahui secara jelas siapa dan seperti apa pria itu. Untuk saat ini, setidaknya dia tenang karena bisa terlepas dari Dev.“Pertimbangkan saja dulu. Jika kau tetap ingin kembali ke Indonesia, aku tidak akan melarangmu. Namun, pikirkan juga segala konsekuensi yang mungkin terjadi karena Dev pasti akan mencarimu ke sana.”Kirei terdiam memikirkan ucapan Hernan. Apa yang pria itu katakan memang sangat masuk akal. “Kuliahku terbengkalai. Padahal, hanya tinggal sebentar lagi,
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more

Hadiah Istimewa

“Aku sudah mengerahkan anak buah kita untuk menyisir seluruh kota. Namun, mereka tidak menemukan calon istri Anda, Tuan,” lapor Luis, pada keesokan harinya. Dev yang duduk di kursi kebesarannya sambil terpejam, langsung membuka mata. Dia menatap tajam Luis. Meski tanpa mengatakan apa-apa, tetapi kemarahan tergambar jelas di sana.Luis jadi tegang. Dia tahu betul seperti apa Dev, ketika dalam puncak amarah. “Kami akan memeriksa sekali lagi, TUan. Dengan lebih teliti,” ucapnya, memberikan penekanan pada kalimat kedua. Namun, Dev tetap tak menanggapi. Dia justru kembali memejamkan mata. “Permisi, Tuan,” pamit Luis, seraya berbalik menuju pintu. Sepeninggal Luis, Dev kem
last updateLast Updated : 2025-03-21
Read more

Golden Sharon

Hernan tersenyum kalem, setelah mengirimkan pesan itu. Meskipun belum dibuka, tetapi dia yakin Dev pasti membacanya. Sementara itu, Dev baru keluar dari ruang pribadi, setelah hanya berdiam diri menunggu laporan dari anak buahnya. Namun, sayang sekali tak ada titik terang sama sekali. “Kalian semua benar-benar bodoh!” sentak Dev kesal. “Apa yang kalian lakukan di luar sana? Kalian mencari seseorang yang bukan merupakan warga asli negara ini! Dia hanya wanita! Tanpa uang dan bahkan tidak menguasai Bahasa Spanyol!” Dev pantas marah besar kepada anak buahnya, berhubung tak ada satu pun yang menemukan jejak Kirei. “Maaf, Tuan. Kami sudah mencari sampai ke ____”“Tutup mulutmu!” sergah Dev, dengan telunjuk mengarah lurus kepada pria yang hendak memberikan pembelaan. “Jangan memberikan bantahan karena kenyataannya kalian semua tidak bisa diandalkan!”Semua diam tertunduk. Kali ini, tak ada seorang pun yang berani bersuara. “Cecunguk-cecunguk tidak berguna!” maki Dev, kemudian berlalu me
last updateLast Updated : 2025-03-21
Read more

Penyusup

Raut datar mengiringi langkah Dev ketika memasuki lift. Dia menekan tombol angka menuju lantai teratas bangunan itu. Tak berselang lama, pria tampan 33 tahun tersebut tiba di lantai yang dituju. Dalam pakaian petugas kebersihan, Dev kembali melangkah gagah menuju unit milik Hernan. Berhubung pernah datang ke sana, dia tahu betul di mana letak ruangan itu. Dev yang sudah mengantongi kartu akses, bisa masuk dengan leluasa ke unit yang seharusnya hanya dimasuki oleh pemilik, serta orang-orang berkepentingan atas seizin Hernan tentunya. Namun, hanya bermodalkan iming-iming sebotol parfume, dia bisa mendapatkan yang diinginkan, meskipun harus menyamar jadi petugas kebersihan.Suasana di dalam ruangan begitu sunyi, seperti tak ada siapa pun di sana. Dev mengedarkan pandangan ke sekeliling, kemudian melangkah ke dekat
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Tugas Membosankan

“Dev bisa melakukan apa pun,” ucap Kirei pelan. “Aku belum berani keluar dari kamar. Aku bahkan bersembunyi di bawah tempat tidur dan bicara berbisik-bisik seperti ini.” “Tapi, kunci utama apartemen ada padaku. Seharusnya, kalaupun ada yang masuk ke sana, tak mungkin lebih dari 15 menit karena jika lebih, maka petugas keamanan akan mengidentifikasi itu sebagai penyusup,” terang Hernan. “Lalu, bagaimana?” tanya Kirei resah. “Jangan khawatir. Aku tidak akan lama di Argentina. Jaga dirimu baik-baik di sana.”Tak ada yang bisa Kirei lakukan, selain menunggu hingga beberapa saat. Setelah menjelang senja, barulah dia keluar dari tempat persembunyian. Dengan penuh waspada, Kirei membuka kunci, lalu melihat sekeliling koridor kamar. Suasana begitu hening, seperti saat Hernan pergi. Kirei memberanikan diri keluar dari kamar, sekadar memastikan keadaan di ruangan lain. Tak ada satu pun barang yang berpindah dari tempatnya. Semua masih tertata rapi. Keesokan harinya, Hernan yang telah tiba
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more
PREV
1
...
345678
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status