Kirei menatap dengan sorot tak dapat diartikan. “Meksiko?” Dev mengangguk. “Bagaimana?”Kirei langsung menggeleng, lalu membalikkan badan.“Kenapa?”“Aku tidak mau pergi denganmu,” tolak Kirei.Dev berusaha tetap tenang menyikapi penolakan sang istri. Sesuai arahan Maitea, dia harus lebih sabar dalam menghadapi Kirei.“Sudah lama, aku tidak pulang ke Meksiko. Kupikir, kita bisa pergi ke sana sambil berlibur. Itu bukan ide buruk. Dari Meksiko, kita bisa melanjutkan perjalanan dengan memilih tempat tujuan lain.”Kirei tidak menjawab.
Beberapa saat berlalu. Suami-istri itu sudah berpakaian rapi, lalu sarapan bersama.Ada sesuatu yang terlihat berbeda kali ini. Kebahagiaan terpancar jelas dari paras tampan Dev, yang biasanya menunjukkan raut datar. Harus diakui, cinta telah berhasil menyentuh sudut hati pria yang selalu tampil maskulin dengan kemeja putih tersebut.Perubahan Dev dinilai terlalu cepat. Itu sempat membuat Santi keheranan. Namun, dia bahagia menyaksikan kedekatan antara Dev dan Kirei, setelah kejadian kemarin.“Aku ingin mengesahkan pernikahan kita secara hukum,” ucap Dev, seusai sarapan.Namun, Kirei tak segera menanggapi. Dia justru tampak ragu untuk menerima itu. Sepertinya, Kirei belum bisa benar-benar melepaskan diri dari rasa takut, meskipun Dev sudah memperl
“Aku tidak menerima penolakan dengan alasan apa pun,” ucap Dev, seakan sudah bisa menebak apa yang akan Kirei katakan. Dia yang awalnya menatap lurus ke depan, kali ini mengarahkan perhatian kepada sang istri. “Aku sudah mempersiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk perjalanan ini.”“Tapi, kenapa harus Meksiko?” “Memangnya kenapa?” Dev balik bertanya, lalu kembali menatap ke depan. “Meksiko adalah kampung halaman mamaku. Aku ingin mengajakmu bertemu dengannya.”“Apa?” Kirei membelalakan mata tak percaya. Dia bahkan sampai berpindah e hadapan Dev, sehingga membuat perhatian pria itu jadi teralihkan. “Aku sedang melihat kinerja para tukang, Sayang,” ujar Dev. Mendengar itu, Kirei kembali ke sebelah Dev. “Apa yang harus kukatakan di depan mamamu?” tanya Kirei, setengah bergumam. Dev mengembuskan napas berat dan dalam. Namun, dia tak menanggapi. Dev justru melihat arloji. Jarum pendeknya sudah menunjuk angka lima. “Ayo, pulang,” ajak Dev, seraya berbalik. Dia membukakan pintu
“Kirei.” Maitea mengulang nama yang disebutkan Dev. “Sungguh cantik.”Kirei tersenyum, meskipun bingung karena tak mengerti dengan yang ibunda Dev ucapkan. “Mamaku mengatakan kamu sangat cantik,” ucap Dev. Seketika, senyum Kirei lebih lebar dari sebelumnya. “Thank you,” balasnya sopan.“Ucapkan ‘gracias’,” bisik Dev, seraya merengkuh pinggang Kirei. “Oh. Gracias,” ucap Kirei kaku. “Jangan memaksanya, Dev,” tegur Maitea. “Come in,” ajak wanita itu.Dev menuntun Jenna masuk, mengikuti sang ibunda. Setelah berada di dalam, Kirei begitu terpukau dengan suasana rumah perkebunan milik ibunda Dev tersebut. Dia jadi ingat pada kisah-kisah serial televisi khas negara Meksiko. “Aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian,” ucap Maitea, seraya mengarahkan Dev dan Kirei ke lantai dua rumah itu. “Jangan katakan itu adalah kamar lamaku,” ujar Dev, dengan tatapan menebak-nebak. “Ah, kau sangat pintar.” Maitea yang berjalan di depan, menoleh sambil tersenyum lembut. “Aku sudah merenovasi kamar lam
“Aku belum punya uang.”“Begitukah?” Dev tersenyum sinis. Dia beranjak ke pintu, lalu menguncinya. “Dev ….” Alvaro menangkap gelagat tak baik. Dia harus waspada.“Aku tidak mau ada yang mengganggu pembicaraan serius kita,” ucap Dev dingin, seraya kembali ke dekat meja.“Ayolah, Dev. Aku sudah meminta perpanjangan waktu kepada anak buahmu.”“Dan batas waktu itu sudah habis. Namun, kau belum juga melunasinya.” Dev maju ke dekat meja. “Jangan bermain-main denganku, Gimenez. Kau tak akan menyukainya.” “Aku tidak bermain-main denganmu. Tidak mungkin melakukan itu. Tapi, tolong pahami posisiku saat ini. Kondisi organisasiku sedang tidak baik-baik saja. Jadi ____”Dev langsung menarik leher baju Alvaro, hingga pria itu maju dan mendekat kepadanya. Alvaro memekik cukup kencang karena bagian bawah perutnya membentur pinggiran meja. “Kau sangat keterlaluan, Dev!" protes Alvaro. Namun, dia tak sempat melawan karena Dev lebih dulu menariknya dengan sekuat tenaga, sehingga dia terlempar melewat
Dev tidak menjawab. Dia langsung berbalik meninggalkan Kirei yang keheranan.“Tunggu, Dev,” cegah Kirei, seraya mengikuti sang suami. “Apa yang baru kamu lakukan?” tanyanya. Dia berusaha mengimbangi langkah tegap Dev yang cukup cepat.“Tidak ada,” jawab Dev tanpa menoleh.“Berhenti!” titah Kirei tegas.Seketika, Dev menghentikan langkah, lalu menoleh. Dia menatap aneh Kirei, yang berpindah posisi jadi berdiri di hadapannya. “Kenapa?”Kirei tidak menjawab. Dia langsung memeriksa seluruh tubuh Dev.“Apa yang kamu lakukan?” Dev menatap keheranan.
“Hai, Dev,” sapa wanita cantik berpenampilan anggun, yang tak lain adalah Maria Jose. Dia tersenyum manis, seraya berjalan ke hadapan Dev.Seperti yang Maitea katakan tempo hari. Maria Jose memang sangat cantik. Rambutnya cokelat terang bergelombang sebatas punggung. Dia juga memiliki sepasang mata hazel yang sangat indah. Selain itu, bentuk tubuh Maria Jose benar-benar menggoda. Cocok dengan cara berpakaiannya yang elegan.“Lama sekali tidak bertemu,” ucap Maria Jose lembut. “Ya. Aku jarang pulang kemari,” balas Dev, berusaha tak memperhatikan wanita di hadapannya dengan intens. “Aku mendengar kau pulang. Karena itulah sengaja mampir kemari.” Sorot mata Maria Jose dipenuhi binar indah, saat menatap Dev dari jarak cukup dekat. “Apa mamaku yang mengatakan itu?” Maria Jose mengangguk, diiringi senyum manis. Bahasa tubuhnya terlihat begitu memesona.Namun, Dev sudah menutup mata dari wanita lain. Untuk saat ini, di hatinya hanya ada Kirei, meskipun hubungan mereka terasa aneh. “Baik
“Apa yang kamu ketahui tentang Dev Aydin di Indonesia?”Kirei tak langsung menjawab. Sejujurnya, dia tak mengetahui apa pun tentang pria itu, sebelum mencari informasi dari situs bisnis di internet.“Kamu … um ….” Kirei terdiam sejenak, kemudian membalikkan badan. Ditatapnya sang suami, dengan sorot penuh arti.“Dev Aydin Bahran. Pengusaha yang berhasil meraih kesuksesan di usia muda. Direktur utama dari PT. Bahran Resources International, salah satu perusahaan tambang ternama di Indonesia. Direktur utama dari Hacienda Green World, perusahan property dan real estate yang juga diperhitungkan ….”“Aku juga merupakan ketua dari organisasi bernama La Lechuza yang berpu
Kirei menoleh, menatap dengan sorot tak dapat diartikan. Namun, dia tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi ucapan Dev. Akhirnya, dia lebih memilih diam, lalu memalingkan muka.Beberapa saat kemudian, mobil yang Dev dan Kirei tumpangi sudah tiba di halaman parkir belakang rumah perkebunan milik Maitea. Kedatangan mereka disambut senyum hangat ibunda Dev tersebut.Bahasa tubuh Maitea masih terlihat sama. Dia tidak menunjukkan kemarahan atau semacamnya, meskipun Kirei sudah melakukan kesalahan dengan melarikan dari sang putra. Entah kesalahan atau bukan yang Kirei lakukan. Namun, sepertinya Maitea berusaha memahami situasi yang dihadapi wanita muda itu.“Apa kabar, Nak? Selamat datang kembali di rumah ini,” sambut Maitea hangat dan penuh kasih. Dipeluk serta diciumnya kening Kirei, bagai seorang ibu te
Dev mengepalkan tangan mendengar ucapan Kirei. Tanpa banyak bicara, dia berlalu keluar kamar. Dev mengunci pintu, agar Kirei tidak bisa melarikan diri.Dengan langkah gagah penuh percaya diri, dia menuju kamar Luis.“Ada yang bisa kubantu, Tuan?” tanya Luis.Dev tidak segera menjawab. Dia menatap sang ajudan, dengan sorot tajam penuh makna. Namun, hanya lewat tatapan seperti itu, Luis sudah mengetahui apa yang akan Dev katakan.“Owen Wyatt,” ucap Dev dingin.Luis mengangguk. “Siap, Tuan.”“Ingat. Jangan meninggalkan jejak sedikit pun.”
Kirei terbelalak lebar, lalu mundur. Namun, Owen langsung pindah ke belakang sehingga dia tak bisa ke mana-mana. “Owen … kau ….” Suara Kirei begitu lirih. Bibirnya pun bergetar menahan kemarahan yang bisa dilampiaskan.“Luis akan memberikan bayaranmu,” ucap seseorang, yang tak lain adalah Dev. Pria tampan berkemeja putih itu tersenyum kalem, dengan sorot tak dapat diartikan yang terus tertuju kepada Kirei.“Terima kasih, Tuan Dev,” sahut Owen tanpa beban.“Ayo, pulang,” ajak Dev, seraya maju ke hadapan Kirei yang menatap ketakutan. “Kita akan kembali ke Meksiko.”Kirei menggeleng kencang, menolak keras ajakan Dev. Namun, dia tidak bisa melarikan diri, berhubung Owen menahannya dari bela
“New York?” Kirei menatap tajam Owen yang langsung mengangguk. “Kenapa? Kenapa kau ingin membawaku ke sana?” tanya Kirei penuh selidik.“Bukankah kau tidak ingin kembali pada Dev Aydin? Pria itu ada di kota ini. Jika kau juga masih di sini, bukan tak mungkin dia akan menemukanmu dalam waktu dekat,” jelas Owen.Namun, Kirei langsung menggeleng kencang. “Tidak!” tolaknya tegas, seraya berdiri dan menjauh dari Owen. “Aku tidak akan mengulangi kebodohan yang sama, dengan langsung percaya pada pria yang belum kukenal baik.”“Apa yang salah dariku? Aku tidak punya niat buruk padamu. Aku justru ….” Owen yang sudah beranjak dari duduk, berjalan ke hadapan Kirei. “Kau sangat menarik,” ucapnya, seraya menyentuh pipi wanita itu.“Jangan merayuku!” Kirei menepiskan kasar tangan Owen dari wajahnya. “Aku tidak mengenalmu dan tak tahu apa yang kau inginkan.”“Jika aku punya niat buruk, aku pasti sudah memberitahukan keberadaanmu sejak awal kepada Dev Aydin. Aku juga tidak akan mengakui telah ditugas
Kirei tersenyum lebar, diiringi gelengan tak percaya. “Kupikir, kau tidak selucu ini, Tuan Wyatt.”“Aku serius.”Perlahan, senyuman Kirei memudar. Raut wajahnya berubah aneh.“Kenapa?”“Seharusnya, aku yang bertanya kenapa.”Owen tidak menjawab. Dia berbalik, menghadapkan tubuh sepenuhnya kepada Kirei. Pria tampan berambut cokelat gelap itu makin mendekat. “Anggap saja sebagai salam pertemuan dan perpisahan.”“Maksudmu?” Kirei menatap tak mengerti.“Aku tak tahu apakah kita akan bertemu lagi atau tidak. Kau wanita yang sangat menarik, Helena.&rdqu
Kirei duduk di hadapan Owen, yang menatapnya dengan sorot tak dapat diartikan. “Sejak kapan kau ada di sini?” “Aku baru masuk.” “Aku tidak percaya.” Kirei menatap ragu.“Sungguh menyedihkan jadi Owen Wyatt. Kenapa sulit sekali mendapat kepercayaan dari orang lain?” Owen menggeleng tak mengerti, lalu berdecak pelan. “Ya, ampun. Apakah kata-kataku telah menyinggung perasaanmu?” Kirei menatap tak enak. “Aku tidak bermaksud begitu, mengingat semalam kau ….” Kirei tak melanjutkan kalimatnya.Owen justru tersenyum kalem menanggapi ekspresi tak enak yang Kirei tunjukkan. “Aku hanya sedang membutuhkan teman bicara,” ucapnya. “Kau pikir, aku adalah orang yang tepat untuk dijadikan teman bicara?”Owen kembali tersenyum kalem. “Ayo. Temani aku jalan-jalan. Anggap saja sebagai balas budi atas pertolonganku kemarin malam,” ujarnya enteng. Kirei mengembuskan napas pelan bernada keluhan. Wanita muda berkulit eksotis itu menatap aneh.“Ayolah, Nona.” Owen beranjak dari duduk, seakan tak menerima
Kirei tak langsung menyetujui ajakan Owen. Dia terpaku menatap pria tampan bermata biru itu. Kali ini, dirinya harus lebih berhati-hati. Jangan sampai kejadian seperti terhadap Hernan terulang kembali.“Aku bisa pulang sendiri,” tolak Kirei halus.“Kenapa?” Owen tersenyum kalem. “Jangan khawatir. Aku bukan penjahat yang akan menculikmu,” candanya, meskipun terdengar tidak lucu.Namun, Kirei tetap menanggapi dengan senyuman. Ucapan Owen cukup menghibur, walau tak tahu apakah itu murni candaan atau bukan.Owen melangkah makin dekat ke hadapan Kirei. “Aku tahu siapa kau sebenarnya,” ucap pria itu pelan dan dalam.“Maksudmu?” Kirei menautkan
“Apa maksudmu, Tuan?” Kirei menatap tak mengerti.“Kami akan memberikan uang tips sesuai yang kau inginkan. Bagaimana?” Si pria tersenyum culas. “Kau tidak akan terlalu kewalahan melayani kami bertiga secara bersamaan ____”“Maaf. Aku tidak bisa,” tolak Kirei segera. Dia langsung berbalik, tak ingin meladeni para pria gila yang sedang berahi.“Hey, Sayang. Tunggu sebentar.” Pria itu meraih tangan Kirei, menahannya agar tidak pergi.Kirei yang merasa terancam, langsung berbalik. Tanpa segan, dia memukulkan nampan stainless yang dipegangnya ke kepala si pria hingga melepaskan cengkraman dan mundur beberapa langkah.Melihat temannya diperlakukan
“Hai, Kawan. Apa kabar?” sapa Luis, seraya menyalami Owen.“Seperti yang kau lihat,” jawab Owen kalem, kemudian mengalihkan perhatian kepada Dev.“Ini Tuan Dev Aydin,” ucap Luis memperkenalkan.“Apa kabar, Tuan Dev,” sapa Owen, seraya mengulurkan tangan mengajak bersalaman.“Baik,” balas Dev datar. “Langsung saja ke inti dari pertemuan ini,” ucapnya tanpa basa-basi.Owen mempersilakan duduk, lalu memanggil pramusaji untuk memesan minuman. “Jadi, bagaimana? Apa yang bisa kubantu?” tanyanya.Dev tidak langsung menjawab. Dia mengeluarkan selembar foto dari dalam saku jake