All Chapters of Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir: Chapter 81 - Chapter 90

216 Chapters

BAB 81: DYAH SULASTRI MENGOORBANKAN DIRINYA LAGI

Pertempuran besar melawan penyihir gelap mungkin sudah usai, namun kehancuran yang ditinggalkan masih terasa di setiap sudut kerajaan. Istana yang dulunya megah kini penuh dengan reruntuhan dan asap hitam yang belum sepenuhnya hilang. Udara dipenuhi aroma dupa dan lilin dari ritual pemurnian yang dilakukan oleh para pendeta kerajaan. Suara angin malam berdesir pelan, membawa aura misterius yang membuat suasana semakin suram.Raka, yang baru saja mengetahui identitas sejatinya sebagai reinkarnasi Raden Suryakanta, masih terbaring lemah di sebuah ruangan sederhana di sayap istana. Tubuhnya masih terbungkus perban akibat luka parah yang dideritanya saat melindungi Dyah Sulastri. Meskipun demikian, ia tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya—menghadapi takdirnya, atau mencoba melarikan diri dari semua ini.Namun, ketenangan sesaat itu tiba-tiba terpecahkan oleh suara jeritan dari arah halaman istana. Raka bergegas bangkit meskipun tubuh
last updateLast Updated : 2025-02-26
Read more

BAB 82: KEKUATAN BARU RAKA

Setelah kejadian dramatis di halaman istana, suasana menjadi sunyi. Udara dipenuhi aroma dupa yang menyengat, bercampur dengan asap sisa-sisa pertempuran yang masih menggantung di udara. Para prajurit dan pendeta kerajaan bergerak perlahan, membersihkan reruntuhan dan merawat korban luka. Namun, bagi Raka, malam ini terasa lebih berat daripada sebelumnya.Raka duduk di samping tempat tidur Dyah Sulastri, wajahnya penuh dengan rasa bersalah dan penyesalan. Ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari tubuh Dyah yang terbaring lemah, napasnya begitu tipis hingga hampir tak terlihat. Cahaya lilin di ruangan itu berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang di dinding, seolah-olah dunia sendiri sedang menangisi nasib mereka."Aku gagal melindungimu," gumam Raka pelan, suaranya penuh emosi yang tertahan. "Apa gunanya semua ini jika aku hanya bisa duduk di sini tanpa bisa melakukan apa pun?"Resi Agung Darmaja masuk ke ruangan, langkah kakinya hampir tak terdengar di atas lantai kayu tua. Matan
last updateLast Updated : 2025-02-26
Read more

BAB 83: KEMENANGAN SEMENTARA

Setelah pertempuran besar melawan penyihir gelap, suasana di Kerajaan Gilingwesi berangsur-angsur mulai tenang. Namun, kemenangan itu tidak membawa sukacita. Udara dipenuhi aroma asap dan debu dari reruntuhan istana yang hancur. Matahari senja memancarkan cahaya keemasan, tetapi sinarnya tidak mampu menyembunyikan luka mendalam yang dialami kerajaan ini.Pasukan asing yang sebelumnya menyerang telah mundur, meninggalkan medan perang dalam keheningan yang mencekam. Prajurit-prajurit Gilingwesi yang tersisa berkumpul di halaman istana, wajah mereka penuh lelah dan kesedihan. Beberapa dari mereka masih sibuk merawat korban luka, sementara yang lain mencoba membersihkan puing-puing dengan tangan kosong.Di tengah kehancuran ini, Rakai Wisesa berdiri di tangga utama istana yang rusak parah. Matanya menyapu seluruh area, wajahnya terlihat tegar meskipun jelas terlihat bekas air mata di pipinya. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang diam. Suaranya yang dalam dan berat meme
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

BAB 84: PORTAL WAKTU AKTIF KEMBALI

Setelah pertempuran besar yang menghancurkan sebagian besar istana, suasana di Kerajaan Gilingwesi mulai berangsur-angsur tenang. Namun, ketenangan itu tiba-tiba terganggu oleh getaran aneh yang berasal dari ruang bawah tanah istana. Para prajurit dan pendeta kerajaan yang sedang membersihkan reruntuhan mulai merasakan energi spiritual yang kuat mengalir di udara.Raka, yang masih duduk di samping tempat tidur Dyah Sulastri, tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak biasa. Tubuhnya gemetar, seolah-olah ada kekuatan besar yang menariknya. Ia bangkit dengan cepat, wajahnya penuh rasa ingin tahu dan cemas."Apa ini?" gumam Raka pelan, tangannya menyentuh dinding ruangan. "Aku bisa merasakannya... portal waktu..."Dengan langkah cepat, ia menuju ruang bawah tanah istana, tempat portal waktu yang rusak disimpan selama ini. Di sana, ia menemukan para pendeta kerajaan berkumpul dalam lingkaran, melakukan ritual pemurnian untuk menstabilkan energi yang bergejolak.Cermin perunggu kuno—artefak yan
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

BAB 84: PORTAL WAKTU AKTIF KEMBALI

Setelah pertempuran besar yang menghancurkan sebagian besar istana, suasana di Kerajaan Gilingwesi mulai berangsur-angsur tenang. Namun, ketenangan itu tiba-tiba terganggu oleh getaran aneh yang berasal dari ruang bawah tanah istana. Para prajurit dan pendeta kerajaan yang sedang membersihkan reruntuhan mulai merasakan energi spiritual yang kuat mengalir di udara.Raka, yang masih duduk di samping tempat tidur Dyah Sulastri, tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak biasa. Tubuhnya gemetar, seolah-olah ada kekuatan besar yang menariknya. Ia bangkit dengan cepat, wajahnya penuh rasa ingin tahu dan cemas."Apa ini?" gumam Raka pelan, tangannya menyentuh dinding ruangan. "Aku bisa merasakannya... portal waktu..."Dengan langkah cepat, ia menuju ruang bawah tanah istana, tempat portal waktu yang rusak disimpan selama ini. Di sana, ia menemukan para pendeta kerajaan berkumpul dalam lingkaran, melakukan ritual pemurnian untuk menstabilkan energi yang bergejolak.Cermin perunggu kuno—artefak yan
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

BAB 85: KEPUTUSAN TERAKHIR

Portal waktu masih aktif, memancarkan cahaya biru keperakan yang menyilaukan. Getarannya menggema di seluruh ruang bawah tanah istana, menciptakan atmosfer yang penuh ketegangan. Udara di ruangan itu dipenuhi aroma dupa dan lilin, menciptakan suasana mistis yang mendukung pembicaraan spiritual. Lilin-lilin di sudut ruangan berkedip lebih cepat, seolah-olah energi spiritual mulai mengalir di udara.Raka berdiri di depan cermin perunggu kuno, tubuhnya gemetar bukan hanya karena energi spiritual yang kuat, tetapi juga karena beban emosional yang ia rasakan. Ia menatap refleksi dirinya sendiri di permukaan cermin—wajahnya penuh dilema, matanya kosong namun dipenuhi konflik internal. Di satu sisi, ia bisa melihat bayangan dunia modern yang ia tinggalkan: laboratorium arkeologi, buku-buku sejarah, dan kehidupan yang ia kenal. Namun, di sisi lain, ada Dyah Sulastri—wanita yang telah mengorbankan segalanya untuknya, wanita yang membuatnya merasa memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekada
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

BAB 86: MENGHADAPI DIRI SENDIRI

Cahaya biru keperakan dari portal waktu masih menyelimuti ruang bawah tanah istana, memancarkan aura magis yang tak terhindarkan. Udara di ruangan itu dingin, namun aroma dupa dan lilin memberikan kesan mistis yang mendalam. Suara angin malam berdesir pelan, seolah-olah dunia gaib sedang berbicara langsung kepadanya. Lilin-lilin di sudut ruangan berkedip lebih cepat, mencerminkan ketegangan emosional yang ia rasakan.Raka berdiri di depan cermin perunggu kuno, tubuhnya diam namun pikirannya dipenuhi oleh ribuan pertanyaan dan kenangan yang bergulat dalam benaknya. Ia menatap refleksinya di permukaan cermin—wajahnya penuh dilema, matanya kosong namun dipenuhi konflik internal. Ia tidak hanya melihat dirinya sendiri, tetapi juga bayangan masa lalu dan masa depan yang saling bertabrakan."Bagaimana aku bisa sampai di sini?" gumam Raka pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah desiran energi spiritual. "Aku hanya seorang arkeolog biasa... tapi sekarang... apa yang harus kulakukan?"Pi
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

BAB 87: RESI AGUNG DARMAJA MEMBERIKAN NASIHAT

Langkah kaki pelan namun berwibawa terdengar dari pintu masuk ruang bawah tanah. Raka, yang masih berdiri di depan portal waktu, menoleh untuk melihat siapa yang datang. Cahaya biru keperakan dari cermin perunggu memantul di wajah Resi Agung Darmaja, memberikan kesan misterius pada sosoknya yang bijaksana.Resi Agung Darmaja mengenakan jubah putih panjang dengan bordiran simbol-simbol spiritual kuno. Matanya yang tajam dan penuh kebijaksanaan menatap Raka dengan intens, seolah-olah ia bisa membaca pikiran pemuda itu. Ia mendekati Raka dengan langkah tenang, lalu berhenti beberapa langkah di belakangnya."Kau telah sampai pada titik ini, Nak," kata Resi Agung Darmaja pelan, suaranya dalam dan berat, seperti gema dari masa lalu. "Keputusanmu tidak hanya akan menentukan nasibmu sendiri, tetapi juga takdir seluruh kerajaan."Raka menoleh sepenuhnya, matanya dipenuhi oleh rasa ingin tahu dan ketegangan. "Apa maksudmu, Guru? Aku... aku hanya seorang pendatang dari masa depan. Bagaimana mungk
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

BAB 88: ARYA KERTAJAYA MEMOHON

Setelah kepergian Resi Agung Darmaja, suasana di ruang bawah tanah istana kembali hening. Hanya ada Raka dan portal waktu yang masih aktif, memancarkan cahaya biru keperakan yang lembut namun penuh tekanan. Udara di ruangan itu dingin, dipenuhi aroma dupa dan lilin yang semakin kuat, menciptakan suasana mistis yang mendalam. Suara angin malam terus berdesir pelan, membawa aura misterius yang membuat Raka semakin tenggelam dalam pikiran-pikiran beratnya.Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari pintu masuk ruangan. Arya Kertajaya muncul dengan wajah tegang, tubuhnya yang tegap tampak lebih lelah daripada biasanya. Ia mengenakan jubah perang yang sedikit kotor akibat pertempuran sebelumnya, dan matanya dipenuhi oleh rasa khawatir serta keteguhan."Aku tahu aku tidak punya hak untuk meminta ini," kata Arya langsung tanpa basa-basi, suaranya parau namun penuh emosi. "Namun, aku harus bicara."Raka menoleh, menatap Arya dengan ekspresi campuran antara kebingungan dan rasa hormat. "Apa y
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

BAB 89: RAKAI WISESA MENYAMPAIKAN PERMINTAAN TERAKHIR

Setelah kepergian Arya Kertajaya, suasana di ruang bawah tanah istana kembali hening. Hanya ada Raka dan portal waktu yang masih aktif, memancarkan cahaya biru keperakan yang lembut namun penuh tekanan. Udara di ruangan itu dingin, dipenuhi aroma dupa dan lilin yang semakin kuat, menciptakan suasana mistis yang mendalam. Suara angin malam terus berdesir pelan, membawa aura misterius yang membuat Raka semakin tenggelam dalam pikiran-pikiran beratnya.Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari pintu masuk ruangan. Rakai Wisesa muncul dengan wajah tegang, tubuhnya yang tegap tampak lebih lelah daripada biasanya. Ia mengenakan jubah kerajaan yang sedikit kotor akibat pertempuran sebelumnya, dan matanya dipenuhi oleh rasa khawatir serta keteguhan."Raka," kata Rakai Wisesa langsung tanpa basa-basi, suaranya tegas namun penuh emosi. "Aku tahu kau sedang menghadapi dilema besar. Namun, aku harus bicara."Raka menoleh, menatap Rakai Wisesa dengan ekspresi campuran antara kebingungan dan rasa
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more
PREV
1
...
7891011
...
22
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status