Setelah kepergian Resi Agung Darmaja, suasana di ruang bawah tanah istana kembali hening. Hanya ada Raka dan portal waktu yang masih aktif, memancarkan cahaya biru keperakan yang lembut namun penuh tekanan. Udara di ruangan itu dingin, dipenuhi aroma dupa dan lilin yang semakin kuat, menciptakan suasana mistis yang mendalam. Suara angin malam terus berdesir pelan, membawa aura misterius yang membuat Raka semakin tenggelam dalam pikiran-pikiran beratnya.Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari pintu masuk ruangan. Arya Kertajaya muncul dengan wajah tegang, tubuhnya yang tegap tampak lebih lelah daripada biasanya. Ia mengenakan jubah perang yang sedikit kotor akibat pertempuran sebelumnya, dan matanya dipenuhi oleh rasa khawatir serta keteguhan."Aku tahu aku tidak punya hak untuk meminta ini," kata Arya langsung tanpa basa-basi, suaranya parau namun penuh emosi. "Namun, aku harus bicara."Raka menoleh, menatap Arya dengan ekspresi campuran antara kebingungan dan rasa hormat. "Apa y
Setelah kepergian Arya Kertajaya, suasana di ruang bawah tanah istana kembali hening. Hanya ada Raka dan portal waktu yang masih aktif, memancarkan cahaya biru keperakan yang lembut namun penuh tekanan. Udara di ruangan itu dingin, dipenuhi aroma dupa dan lilin yang semakin kuat, menciptakan suasana mistis yang mendalam. Suara angin malam terus berdesir pelan, membawa aura misterius yang membuat Raka semakin tenggelam dalam pikiran-pikiran beratnya.Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari pintu masuk ruangan. Rakai Wisesa muncul dengan wajah tegang, tubuhnya yang tegap tampak lebih lelah daripada biasanya. Ia mengenakan jubah kerajaan yang sedikit kotor akibat pertempuran sebelumnya, dan matanya dipenuhi oleh rasa khawatir serta keteguhan."Raka," kata Rakai Wisesa langsung tanpa basa-basi, suaranya tegas namun penuh emosi. "Aku tahu kau sedang menghadapi dilema besar. Namun, aku harus bicara."Raka menoleh, menatap Rakai Wisesa dengan ekspresi campuran antara kebingungan dan rasa
Raka berdiri di depan portal waktu yang masih aktif, cahaya biru keperakan dari cermin perunggu memancarkan aura mistis yang mendalam. Udara dingin menyelimuti ruangan, dipenuhi aroma dupa dan lilin yang semakin kuat, menciptakan suasana magis yang menekan. Suara angin malam terus berdesir pelan, membawa bisikan-bisikan gaib seolah mencoba memberinya jawaban atas dilema yang menghantui pikirannya.Matanya tertuju pada portal waktu, tetapi pikirannya melayang jauh. Ia memikirkan semua yang telah terjadi sejak ia tiba di Kerajaan Gilingwesi—pertemuannya dengan Dyah Sulastri, pertempuran besar melawan penyihir gelap, intrik politik di istana, hingga nasihat Resi Agung Darmaja dan permohonan Arya Kertajaya serta Rakai Wisesa. Semua momen itu berputar dalam benaknya seperti roda takdir yang tidak bisa dihentikan."Apa yang harus kulakukan?" gumam Raka pelan, suaranya penuh keraguan. "Aku ingin kembali ke masa depan... tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Dyah... atau kerajaan ini."Ia menu
Raka berdiri di depan portal waktu yang masih aktif, cahaya biru keperakan dari cermin perunggu terus memancar dengan intensitas yang tak tergoyahkan. Udara di ruangan itu semakin dingin, dipenuhi aroma dupa dan lilin yang menyengat, menciptakan suasana mistis yang menekan. Suara angin malam berdesir pelan, membawa bisikan-bisikan gaib yang seolah-olah mencoba memberinya jawaban atas dilema yang menghantui pikirannya.Ia menutup mata sejenak, merasakan aliran energi spiritual yang telah tumbuh dalam dirinya sejak pertempuran besar melawan penyihir gelap. Kekuatan ini bukan hanya miliknya—ia menyadari bahwa itu adalah bagian dari warisan kerajaan Gilingwesi, hadiah dari para leluhur yang telah lama menjaga tanah ini. Dengan napas dalam-dalam, ia mulai mengulurkan tangannya ke arah portal, merasakan getaran magis yang bergemuruh di ujung jari-jarinya."Maafkan aku," gumam Raka pelan, suaranya penuh rasa hormat namun juga penyesalan. "Aku tidak bisa meninggalkan mereka."Perlahan-lahan, i
Cahaya matahari pagi yang lembut menyusup melalui celah-celah jendela kayu, menciptakan bayangan halus di wajah Dyah Sulastri yang terbaring di ranjang. Udara di ruangan itu dipenuhi aroma dupa wewangian yang menenangkan, menciptakan suasana damai namun penuh harapan. Raka duduk di sisi ranjang dengan ekspresi cemas, tangannya terlipat di lutut, matanya tak pernah lepas dari wajah putri kerajaan yang masih tertidur.Sejak pertempuran besar melawan penyihir gelap, Dyah telah terbaring koma selama beberapa hari. Para tabib istana dan pendeta spiritual telah berusaha keras untuk menyembuhkannya, tetapi semuanya bergantung pada kekuatan vitalnya sendiri—sebuah warisan gaib yang mengalir dalam darahnya sebagai calon ratu suci.Perlahan-lahan, kelopak mata Dyah mulai bergerak. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya membuka matanya sepenuhnya. Pandangannya buram pada awalnya, tetapi saat ia fokus, sosok Raka tampak jelas di sisinya. Wajahnya yang tegang langsung berubah menjadi senyum le
Matahari pagi yang cerah menyinari reruntuhan istana Kerajaan Gilingwesi, memberikan cahaya baru pada puing-puing yang hancur akibat pertempuran besar. Udara dipenuhi oleh suara palu yang memukul kayu, derap langkah penduduk lokal yang sibuk bekerja, dan nyanyian doa-doa spiritual yang dilantunkan oleh para pendeta untuk memohon berkah dari para dewa. Meskipun bekas luka pertempuran masih terlihat jelas di setiap sudut kerajaan, semangat kebersamaan dan harapan mulai tumbuh kembali.Raka berdiri di tengah-tengah aktivitas itu, mengenakan pakaian sederhana yang biasa dikenakan oleh para pemimpin spiritual di kerajaan. Ia tampak tidak seperti dirinya yang skeptis dan modern lagi—kini ia adalah bagian integral dari masyarakat Gilingwesi. Di sisinya, Rakai Wisesa mengamati pekerjaan rekonstruksi dengan ekspresi campuran antara lega dan tegang. Meskipun kemenangan atas penyihir gelap telah membawa kedamaian sementara, raja tahu bahwa stabilitas kerajaan masih rapuh."Kita harus mempercepat
Malam itu, langit Kerajaan Gilingwesi dipenuhi bintang-bintang yang bersinar redup, seolah-olah mereka juga merasakan beban takdir yang menggantung di atas kerajaan. Udara dingin menyelimuti istana, membawa aroma tanah basah dan dedaunan jatuh dari pepohonan tua. Suara angin malam berdesir pelan, menciptakan atmosfer mistis yang mendalam. Raka berjalan menyusuri koridor batu menuju ruang meditasi di menara tertinggi istana—tempat ia sering mencari jawaban dalam keheningan.Sejak pertempuran besar melawan penyihir gelap, Raka merasa ada sesuatu yang belum terselesaikan. Meskipun portal waktu telah ditutup dan Dyah Sulastri mulai pulih, hatinya masih dipenuhi oleh rasa tidak pasti. Ia tahu bahwa keputusannya untuk tetap tinggal di masa lalu bukanlah akhir dari perjalanan ini—melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar.Di ruang meditasi, lilin-lilin kecil dinyalakan di sekeliling cermin perunggu kuno yang kini mati—tidak lagi memancarkan cahaya biru keperakan seperti sebelumnya. Raka du
Langit pagi mulai terang, mengusir kegelapan malam yang telah menyelimuti Kerajaan Gilingwesi selama berhari-hari. Cahaya matahari pertama muncul dari balik pegunungan, memancarkan sinar keemasan yang lembut dan menyentuh setiap sudut istana. Udara segar pagi hari membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang masih berembun. Di puncak istana, Raka dan Dyah Sulastri berdiri berdampingan, menatap cakrawala dengan perasaan campur aduk antara harapan dan keteguhan.Angin pagi berdesir pelan, membawa bisikan gaib yang seolah-olah mencoba memberi mereka jawaban. Namun, Raka dan Dyah hanya bisa menduga-duga. Yang mereka tahu adalah bahwa konflik ini belum sepenuhnya berakhir—dan ancaman baru sedang mengendap-endap di balik bayang-bayang."Mereka tidak hanya melihat matahari terbit sebagai tanda awal hari baru—tetapi juga sebagai simbol awal dari babak baru dalam hidup mereka," gumam Raka pelan, suaranya hampir tersapu oleh angin pagi.Dyah menoleh padanya, matanya penuh rasa ingin tahu. "
Malam itu, angin dingin berdesir melalui reruntuhan istana Gilingwesi. Raka berdiri di ruang bawah tanah yang gelap, tempat portal waktu kini aktif kembali. Cahaya biru keperakan dari artefak perunggu memancar dengan intensitas yang membuat udara di sekitarnya bergetar seperti gelombang energi kosmik. Ia merasakan tarikan kuat dari portal itu—sebuah panggilan yang sulit diabaikan.Namun, suara lain juga terdengar di kepalanya. Suara-suara halus dari masa lalu dan masa depan bergema bersamaan, membisikkan pilihan-pilihan yang saling bertentangan. "Kembalilah... duniamu menantimu," bisik salah satu suara. "Tetaplah... hanya kau yang bisa menyelamatkannya," balas suara lainnya.Raka menutup matanya erat-erat, mencoba menghalau keraguan yang mulai memenuhi pikirannya. "Apa
Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, suasana di istana Gilingwesi mulai mereda. Namun, ketegangan masih menyelimuti udara. Raka berdiri di tepi sungai suci, artefak perunggu di pinggangnya bergetar lemah. Ia tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi—sesuatu yang melampaui kemenangan sementara atas pasukan asing dan penyihir gelap.Saat ia memandangi artefak itu, cahaya biru keperakan tiba-tiba memancar dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Getarannya semakin kuat, hingga nyaris terlepas dari genggamannya. Suara gemuruh rendah bergema di udara, seperti desiran energi kosmik yang membangunkan seluruh istana."Raka!" seru sebuah suara di belakangnya. Arya Kertajaya berlari mendekat, wajahnya dipenuhi oleh kekhawatiran. "Apa yang terjadi? Apakah itu cerminmu?"
Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, pasukan asing akhirnya mundur. Penyihir gelap telah dikalahkan oleh kekuatan spiritual Raka, dan pasukan loyalis berhasil menekan sisa-sisa pasukan bayangan Ki Jagabaya. Namun, kemenangan ini tidak datang tanpa harga mahal. Kerajaan Gilingwesi terlihat seperti reruntuhan—istana utama hancur sebagian, desa-desa di sekitarnya luluh lantak, dan banyak korban jiwa berjatuhan.Angin dingin berembus di medan perang, membawa aroma darah dan abu yang masih menyelimuti udara. Asap tebal mengepul dari bangunan-bangunan yang terbakar, menciptakan suasana kelabu yang suram. Prajurit loyalis berkumpul di lapangan istana, wajah mereka lelah namun penuh rasa syukur atas kemenangan yang diraih dengan susah payah.Namun, bagi Raka, kemenangan ini terasa kosong. Ia berdiri di tengah-tengah kerumunan prajurit, tetapi pikirannya jauh dari perayaan. Matanya tertuju pada reruntu
Pertempuran besar di luar istana mulai mereda setelah kekalahan penyihir gelap. Pasukan loyalis berhasil menekan pasukan bayangan Ki Jagabaya, yang kini tercerai-berai tanpa pemimpin mereka yang menghilang bersama penyihir gelap. Namun, Arya Kertajaya tidak puas dengan hasil ini. Ia tahu bahwa Ki Jagabaya adalah otak di balik serangan mematikan terhadap kerajaan, dan ia bertekad untuk menangkap pria itu sebelum ia melarikan diri. Di tengah kekacauan medan perang, Arya Kertajaya memimpin pasukan kecil menuju lokasi rahasia di hutan lebat tempat Ki Jagabaya diketahui bersembunyi. Ia telah mendengar desas-desus dari beberapa prajurit bayangan yang tertangkap bahwa Ki Jagabaya sedang mempersiapkan langkah selanjutnya—rencana yang lebih berbahaya daripada serangan pertama. Setelah berjam-jam mencari, Arya Kertajaya dan pasukannya akhirnya menemukan Ki Jagabaya di sebuah gua tersembunyi di tepi sungai suci.
Setelah Dyah Sulastri jatuh ke dalam koma, medan perang terasa semakin sunyi bagi Raka. Tubuhnya masih gemetar karena kelelahan dan emosi yang memuncak. Ia berlutut di tanah, memegang tubuh tak berdaya sang putri dengan erat, air mata mengalir deras di pipinya."Kenapa harus seperti ini?" gumamnya pelan, suaranya penuh rasa bersalah dan kemarahan. "Kenapa aku tidak bisa melindungimu?"Pasukan loyalis mencoba mendekat untuk membawa Dyah Sulastri ke tempat aman, tetapi Raka menolak mereka dengan gerakan tangan yang tegas. Matanya kosong, namun di dalam dirinya, api kemarahan mulai menyala. Ia merasakan sesuatu yang baru—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Angin dingin berdesir, membawa aroma belerang yang semakin kuat. Penyihir gelap muncul kembali, tertawa dingin di tengah kabut hitam yang menyelimuti medan perang. "Lihatlah dirimu, Raka," ejeknya. "Kau
Pertempuran besar di luar istana mencapai puncaknya. Suara senjata yang beradu, teriakan prajurit, dan raungan makhluk gaib menggema di udara malam. Api melahap beberapa sudut benteng, sementara asap hitam membumbung tinggi ke langit, menyelimuti medan perang dalam kabut pekat. Pasukan bayangan Ki Jagabaya dan sekutunya dari dunia gaib terus menyerang tanpa henti, memanfaatkan setiap celah dalam pertahanan kerajaan.Di tengah medan perang yang kacau, Raka berdiri di garis depan, menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Meskipun ia berhasil menahan serangan-serangan awal, kekuatannya mulai terasa melemah. Ia merasakan energinya terkuras habis dengan cepat, membuat tubuhnya semakin goyah.Penyihir gelap muncul di tengah medan perang, dikelilingi oleh kabut hitam yang pekat. Matanya bersinar seperti bara ap
Medan perang yang sudah penuh dengan kekacauan semakin memanas saat penyihir gelap muncul di tengah-tengah pertempuran. Tubuhnya dikelilingi oleh energi hitam pekat yang mengintimidasi, dan matanya berkilat merah seperti bara api. Ia melangkah maju dengan gerakan anggun namun menakutkan, seolah-olah seluruh dunia ada dalam kendalinya."Kalian semua telah bermain cukup lama," katanya dengan suara dingin yang menusuk. "Sekarang, saatnya kalian membayar harga atas perlawanan kalian."Penyihir itu mengangkat kedua tangannya, menciptakan pusaran energi hitam besar di udara. Pusaran itu mulai melepaskan serangan sihir yang menghantam barisan pasukan loyalis, menyebabkan banyak prajurit terpental dan jatuh tak bernyawa. Para makhluk gaib yang setia kepada kerajaan pun terlihat kesulitan menghadapi kekuatan gelap ini.
Langit di atas medan perang mulai menghitam, tertutup awan tebal yang menandakan kemarahan alam. Angin dingin berhembus kencang, membawa aroma darah dan belerang yang menebal seiring dengan intensitas pertempuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya terus melancarkan serangan brutal, sementara makhluk gaib dari kedua pihak saling bertarung tanpa ampun.Di tengah kekacauan, Raka masih mencoba mengatur napasnya setelah menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Namun, energinya hampir habis, dan ia merasa dirinya tidak lagi mampu melawan jika serangan baru datang. Dyah Sulastri berdiri di sampingnya, mata hijaunya penuh dengan kekhawatiran."Kau harus istirahat," bisik Dyah pelan. "Kekuatanmu sudah mencapai batasnya."Raka menggeleng lemah. "Aku tidak bisa berhenti sekarang. Jika aku berhenti, kita semua akan mati."Sebelum mereka sempat melanjutkan percakapan, sebuah suara raungan keras memenuhi udara. Sebuah Genderuwo raksasa muncul dari
Pertempuran di luar istana telah berubah menjadi badai kehancuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya yang dipersenjatai dengan senjata mistis dan sihir hitam terus menggempur pertahanan kerajaan. Makhluk-makhluk gaib seperti Banaspati, Buto Ijo, dan Genderuwo juga turut berperang, masing-masing memilih pihak mereka. Di tengah kekacauan itu, Raka berdiri di garis depan, masih mencoba memahami situasi yang semakin tak terkendali. Angin malam membawa aroma belerang yang menusuk, sementara cahaya bulan redup tertutup awan kelabu. Suara gema tombak dan pedang bergesekan dengan energi spiritual memenuhi udara. Raka merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dalam beberapa hari terakhir, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh terjadi padanya. Sejak ritual gaib yang dipimpin Dyah Sulastri di bab sebelumnya, ia merasakan aliran energi aneh di dalam dirinya—seperti gelombang panas yang melingkupi seluruh tubuhnya. Awalnya, ia mengabaikannya sebagai efek sam