Home / Fantasi / Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir / BAB 92: DYAH SULASTRI MULAI PULIH

Share

BAB 92: DYAH SULASTRI MULAI PULIH

last update Last Updated: 2025-03-01 02:00:51
Cahaya matahari pagi yang lembut menyusup melalui celah-celah jendela kayu, menciptakan bayangan halus di wajah Dyah Sulastri yang terbaring di ranjang. Udara di ruangan itu dipenuhi aroma dupa wewangian yang menenangkan, menciptakan suasana damai namun penuh harapan. Raka duduk di sisi ranjang dengan ekspresi cemas, tangannya terlipat di lutut, matanya tak pernah lepas dari wajah putri kerajaan yang masih tertidur.

Sejak pertempuran besar melawan penyihir gelap, Dyah telah terbaring koma selama beberapa hari. Para tabib istana dan pendeta spiritual telah berusaha keras untuk menyembuhkannya, tetapi semuanya bergantung pada kekuatan vitalnya sendiri—sebuah warisan gaib yang mengalir dalam darahnya sebagai calon ratu suci.

Perlahan-lahan, kelopak mata Dyah mulai bergerak. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya membuka matanya sepenuhnya. Pandangannya buram pada awalnya, tetapi saat ia fokus, sosok Raka tampak jelas di sisinya. Wajahnya yang tegang langsung berubah menjadi senyum le
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 93: REKONSTRUKSI KERAJAAN

    Matahari pagi yang cerah menyinari reruntuhan istana Kerajaan Gilingwesi, memberikan cahaya baru pada puing-puing yang hancur akibat pertempuran besar. Udara dipenuhi oleh suara palu yang memukul kayu, derap langkah penduduk lokal yang sibuk bekerja, dan nyanyian doa-doa spiritual yang dilantunkan oleh para pendeta untuk memohon berkah dari para dewa. Meskipun bekas luka pertempuran masih terlihat jelas di setiap sudut kerajaan, semangat kebersamaan dan harapan mulai tumbuh kembali.Raka berdiri di tengah-tengah aktivitas itu, mengenakan pakaian sederhana yang biasa dikenakan oleh para pemimpin spiritual di kerajaan. Ia tampak tidak seperti dirinya yang skeptis dan modern lagi—kini ia adalah bagian integral dari masyarakat Gilingwesi. Di sisinya, Rakai Wisesa mengamati pekerjaan rekonstruksi dengan ekspresi campuran antara lega dan tegang. Meskipun kemenangan atas penyihir gelap telah membawa kedamaian sementara, raja tahu bahwa stabilitas kerajaan masih rapuh."Kita harus mempercepat

    Last Updated : 2025-03-01
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 94: VISI MASA DEPAN

    Malam itu, langit Kerajaan Gilingwesi dipenuhi bintang-bintang yang bersinar redup, seolah-olah mereka juga merasakan beban takdir yang menggantung di atas kerajaan. Udara dingin menyelimuti istana, membawa aroma tanah basah dan dedaunan jatuh dari pepohonan tua. Suara angin malam berdesir pelan, menciptakan atmosfer mistis yang mendalam. Raka berjalan menyusuri koridor batu menuju ruang meditasi di menara tertinggi istana—tempat ia sering mencari jawaban dalam keheningan.Sejak pertempuran besar melawan penyihir gelap, Raka merasa ada sesuatu yang belum terselesaikan. Meskipun portal waktu telah ditutup dan Dyah Sulastri mulai pulih, hatinya masih dipenuhi oleh rasa tidak pasti. Ia tahu bahwa keputusannya untuk tetap tinggal di masa lalu bukanlah akhir dari perjalanan ini—melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar.Di ruang meditasi, lilin-lilin kecil dinyalakan di sekeliling cermin perunggu kuno yang kini mati—tidak lagi memancarkan cahaya biru keperakan seperti sebelumnya. Raka du

    Last Updated : 2025-03-01
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 95: AWAL DARI PETUALANGAN BARU

    Langit pagi mulai terang, mengusir kegelapan malam yang telah menyelimuti Kerajaan Gilingwesi selama berhari-hari. Cahaya matahari pertama muncul dari balik pegunungan, memancarkan sinar keemasan yang lembut dan menyentuh setiap sudut istana. Udara segar pagi hari membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang masih berembun. Di puncak istana, Raka dan Dyah Sulastri berdiri berdampingan, menatap cakrawala dengan perasaan campur aduk antara harapan dan keteguhan.Angin pagi berdesir pelan, membawa bisikan gaib yang seolah-olah mencoba memberi mereka jawaban. Namun, Raka dan Dyah hanya bisa menduga-duga. Yang mereka tahu adalah bahwa konflik ini belum sepenuhnya berakhir—dan ancaman baru sedang mengendap-endap di balik bayang-bayang."Mereka tidak hanya melihat matahari terbit sebagai tanda awal hari baru—tetapi juga sebagai simbol awal dari babak baru dalam hidup mereka," gumam Raka pelan, suaranya hampir tersapu oleh angin pagi.Dyah menoleh padanya, matanya penuh rasa ingin tahu. "

    Last Updated : 2025-03-01
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 96: KETEGANGAN DI ISTANA

    Meskipun pertempuran besar melawan penyihir gelap telah berakhir, suasana di istana Kerajaan Gilingwesi masih dipenuhi ketegangan. Udara pagi terasa berat, seolah-olah awan kelabu menggantung rendah di atas halaman istana. Suara bisikan penduduk lokal bergema lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun setelah hujan semalam. Penduduk berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, wajah mereka penuh keraguan dan kecemasan."Bagaimana bisa kita mempercayai seseorang yang bahkan tidak lahir di tanah ini?" gumam seorang petani tua kepada temannya, suaranya cukup keras untuk didengar oleh beberapa orang di sekitarnya. Matanya menyipit dengan ekspresi marah, tangannya gemetar saat ia menunjuk ke arah singgasana. "Ia mungkin membawa kutukan baru ke kerajaan kita."Seorang wanita muda yang sedang menyusun anyaman bambu menoleh dengan ekspresi marah. "Tapi dia sudah menyelamatkan kita! Tanpa dia, Dyah Sulastri mungkin sudah mati, dan kerajaan ini akan hancur!"Pria tua itu hany

    Last Updated : 2025-03-01
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 97: RESI AGUNG DARMADJA MENGHILANG

    Pagi itu, matahari bersinar lembut di atas istana Gilingwesi. Namun, suasana di dalam ruang meditasi utama jauh dari tenang. Rakai Wisesa berdiri di depan pintu kayu besar yang terbuka lebar, matanya menyipit penuh kecurigaan. Di dalam ruangan, tempat Resi Agung Darmaja biasanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdoa dan merenung, hanya ada kekosongan.Tidak ada jejak sedikit pun dari keberadaannya—tidak ada buku kuno, gulungan lontar, atau benda-benda ritual yang biasanya menemani sang resi. Bahkan aroma dupa yang selalu memenuhi ruangan telah lenyap tanpa bekas. Hanya ada sebuah meja batu kosong dengan debu tipis yang seolah-olah sudah lama tidak tersentuh.Rakai Wisesa melangkah masuk, tangannya gemetar saat ia menyentuh permukaan meja batu tersebut. "Di mana dia?" gumamnya pelan, suaranya penuh ketegangan. Ia menoleh kepada prajurit yang berjaga di pintu. "Apa ada yang melihatnya keluar?""Ti-tidak, Yang Mulia," jawab prajurit itu dengan nada gugup. "Kami pikir ia masih bermedi

    Last Updated : 2025-03-02
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 98: KEBANGKITAN KI JAGABAYA

    Malam itu, langit Gilingwesi tertutup awan kelabu tebal yang menyelimuti bumi dengan kegelapan pekat. Di penjara bawah tanah istana, suara rantai berdering samar-samar diikuti oleh langkah-langkah pelan yang hampir tak terdengar. Udara lembap dan dingin membawa aroma tanah basah dan lumut tua yang memenuhi lorong-lorong sempit. Ki Jagabaya, pemimpin pasukan bayangan yang ditangkap setelah pertempuran besar melawan penyihir gelap, duduk diam di sudut selnya. Namun, matanya yang tajam seperti mata elang menunjukkan bahwa ia tidak pernah benar-benar kalah.Dari balik bayang-bayang, muncul sekelompok prajurit berpakaian hitam—pasukan bayangan yang setia padanya. Salah satu dari mereka membawa kunci ajaib yang terbuat dari tulang dan logam tua. Dengan gerakan cepat, pintu sel dibuka tanpa suara. Ki Jagabaya bangkit, tubuhnya yang kurus namun kuat bergerak seperti ular yang baru saja terbebas dari jerat."Kita tidak punya banyak waktu," bisik salah satu pasukan bayangan, suaranya rendah dan

    Last Updated : 2025-03-02
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 99: ARYA KERTAJAYA MULAI RAGU

    Pagi itu, matahari mulai meninggi di langit Gilingwesi, tetapi suasana di istana masih dipenuhi ketegangan. Arya Kertajaya berdiri di halaman istana, mengamati para prajurit yang sedang berlatih dengan pedang dan tombak. Suara logam beradu terdengar tajam di udara pagi, sementara angin dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun. Matanya menyipit, penuh dengan kekhawatiran dan keraguan. Ia memegang gagang pedangnya erat-erat, seolah mencoba menenangkan diri dari gelombang emosi yang terus bergulir di dalam hatinya.Sejak kedatangan Raka, Arya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Awalnya, ia percaya bahwa kehadiran Raka adalah jawaban atas ramalan kuno yang disebutkan oleh Rakai Wisesa. Namun, semakin lama Raka tinggal di kerajaan, semakin besar kecurigaannya. Bagaimana mungkin seorang asing—yang bahkan bukan keturunan Gilingwesi—dapat membawa harapan bagi kerajaan ini? Apalagi setelah Resi Agung Darmaja menghilang tanpa jejak, Arya semakin yakin bahwa ada sesuatu

    Last Updated : 2025-03-02
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 100: RAHASIA KELAM KERAJAAN

    Malam itu, udara di istana Gilingwesi terasa lebih dingin dari biasanya. Raka berjalan menyusuri lorong-lorong bawah tanah yang lembap dan gelap, hanya ditemani cahaya lilin kecil yang ia pegang erat-erat. Rakai Wisesa telah memberinya izin untuk menelusuri ruang bawah tanah istana setelah mendengar laporan bahwa ada dokumen kuno yang belum pernah dibuka sejak berabad-abad lalu. Raka merasa ada sesuatu yang penting tersembunyi di sini—sesuatu yang mungkin bisa menjawab banyak pertanyaan tentang kerajaan ini.Langkahnya berderap pelan di atas lantai batu yang basah oleh lumut. Suara tetesan air terdengar samar-samar dari sudut ruangan, menciptakan atmosfer mistis yang membuat bulu kuduknya merinding. Di ujung lorong, ia menemukan sebuah pintu kayu tua yang tertutup rapat, dengan ukiran simbol-simbol aneh yang tampak seperti mantra kuno. Raka menghela napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu itu perlahan.Di dalam ruangan, ia menemukan rak-rak penuh gulungan lontar kuno, patung-patung kec

    Last Updated : 2025-03-02

Latest chapter

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 215: KEPUTUSAN TERAKHIR

    Malam itu, angin dingin berdesir melalui reruntuhan istana Gilingwesi. Raka berdiri di ruang bawah tanah yang gelap, tempat portal waktu kini aktif kembali. Cahaya biru keperakan dari artefak perunggu memancar dengan intensitas yang membuat udara di sekitarnya bergetar seperti gelombang energi kosmik. Ia merasakan tarikan kuat dari portal itu—sebuah panggilan yang sulit diabaikan.Namun, suara lain juga terdengar di kepalanya. Suara-suara halus dari masa lalu dan masa depan bergema bersamaan, membisikkan pilihan-pilihan yang saling bertentangan. "Kembalilah... duniamu menantimu," bisik salah satu suara. "Tetaplah... hanya kau yang bisa menyelamatkannya," balas suara lainnya.Raka menutup matanya erat-erat, mencoba menghalau keraguan yang mulai memenuhi pikirannya. "Apa

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 214: PORTAL WAKTU AKTIF KEMBALI

    Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, suasana di istana Gilingwesi mulai mereda. Namun, ketegangan masih menyelimuti udara. Raka berdiri di tepi sungai suci, artefak perunggu di pinggangnya bergetar lemah. Ia tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi—sesuatu yang melampaui kemenangan sementara atas pasukan asing dan penyihir gelap.Saat ia memandangi artefak itu, cahaya biru keperakan tiba-tiba memancar dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Getarannya semakin kuat, hingga nyaris terlepas dari genggamannya. Suara gemuruh rendah bergema di udara, seperti desiran energi kosmik yang membangunkan seluruh istana."Raka!" seru sebuah suara di belakangnya. Arya Kertajaya berlari mendekat, wajahnya dipenuhi oleh kekhawatiran. "Apa yang terjadi? Apakah itu cerminmu?"

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 213: KEMENANGAN SEMENTARA

    Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, pasukan asing akhirnya mundur. Penyihir gelap telah dikalahkan oleh kekuatan spiritual Raka, dan pasukan loyalis berhasil menekan sisa-sisa pasukan bayangan Ki Jagabaya. Namun, kemenangan ini tidak datang tanpa harga mahal. Kerajaan Gilingwesi terlihat seperti reruntuhan—istana utama hancur sebagian, desa-desa di sekitarnya luluh lantak, dan banyak korban jiwa berjatuhan.Angin dingin berembus di medan perang, membawa aroma darah dan abu yang masih menyelimuti udara. Asap tebal mengepul dari bangunan-bangunan yang terbakar, menciptakan suasana kelabu yang suram. Prajurit loyalis berkumpul di lapangan istana, wajah mereka lelah namun penuh rasa syukur atas kemenangan yang diraih dengan susah payah.Namun, bagi Raka, kemenangan ini terasa kosong. Ia berdiri di tengah-tengah kerumunan prajurit, tetapi pikirannya jauh dari perayaan. Matanya tertuju pada reruntu

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 212: KI JAGABAYA DITANGKAP

    Pertempuran besar di luar istana mulai mereda setelah kekalahan penyihir gelap. Pasukan loyalis berhasil menekan pasukan bayangan Ki Jagabaya, yang kini tercerai-berai tanpa pemimpin mereka yang menghilang bersama penyihir gelap. Namun, Arya Kertajaya tidak puas dengan hasil ini. Ia tahu bahwa Ki Jagabaya adalah otak di balik serangan mematikan terhadap kerajaan, dan ia bertekad untuk menangkap pria itu sebelum ia melarikan diri. Di tengah kekacauan medan perang, Arya Kertajaya memimpin pasukan kecil menuju lokasi rahasia di hutan lebat tempat Ki Jagabaya diketahui bersembunyi. Ia telah mendengar desas-desus dari beberapa prajurit bayangan yang tertangkap bahwa Ki Jagabaya sedang mempersiapkan langkah selanjutnya—rencana yang lebih berbahaya daripada serangan pertama. Setelah berjam-jam mencari, Arya Kertajaya dan pasukannya akhirnya menemukan Ki Jagabaya di sebuah gua tersembunyi di tepi sungai suci.

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 211: KEKUATAN BARU RAKA

    Setelah Dyah Sulastri jatuh ke dalam koma, medan perang terasa semakin sunyi bagi Raka. Tubuhnya masih gemetar karena kelelahan dan emosi yang memuncak. Ia berlutut di tanah, memegang tubuh tak berdaya sang putri dengan erat, air mata mengalir deras di pipinya."Kenapa harus seperti ini?" gumamnya pelan, suaranya penuh rasa bersalah dan kemarahan. "Kenapa aku tidak bisa melindungimu?"Pasukan loyalis mencoba mendekat untuk membawa Dyah Sulastri ke tempat aman, tetapi Raka menolak mereka dengan gerakan tangan yang tegas. Matanya kosong, namun di dalam dirinya, api kemarahan mulai menyala. Ia merasakan sesuatu yang baru—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Angin dingin berdesir, membawa aroma belerang yang semakin kuat. Penyihir gelap muncul kembali, tertawa dingin di tengah kabut hitam yang menyelimuti medan perang. "Lihatlah dirimu, Raka," ejeknya. "Kau

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 210: DYAH SULASTRI MENGORBANKAN DIRI LAGI

    Pertempuran besar di luar istana mencapai puncaknya. Suara senjata yang beradu, teriakan prajurit, dan raungan makhluk gaib menggema di udara malam. Api melahap beberapa sudut benteng, sementara asap hitam membumbung tinggi ke langit, menyelimuti medan perang dalam kabut pekat. Pasukan bayangan Ki Jagabaya dan sekutunya dari dunia gaib terus menyerang tanpa henti, memanfaatkan setiap celah dalam pertahanan kerajaan.Di tengah medan perang yang kacau, Raka berdiri di garis depan, menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Meskipun ia berhasil menahan serangan-serangan awal, kekuatannya mulai terasa melemah. Ia merasakan energinya terkuras habis dengan cepat, membuat tubuhnya semakin goyah.Penyihir gelap muncul di tengah medan perang, dikelilingi oleh kabut hitam yang pekat. Matanya bersinar seperti bara ap

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 209: PENYIHIR GELAP MENGAMUK

    Medan perang yang sudah penuh dengan kekacauan semakin memanas saat penyihir gelap muncul di tengah-tengah pertempuran. Tubuhnya dikelilingi oleh energi hitam pekat yang mengintimidasi, dan matanya berkilat merah seperti bara api. Ia melangkah maju dengan gerakan anggun namun menakutkan, seolah-olah seluruh dunia ada dalam kendalinya."Kalian semua telah bermain cukup lama," katanya dengan suara dingin yang menusuk. "Sekarang, saatnya kalian membayar harga atas perlawanan kalian."Penyihir itu mengangkat kedua tangannya, menciptakan pusaran energi hitam besar di udara. Pusaran itu mulai melepaskan serangan sihir yang menghantam barisan pasukan loyalis, menyebabkan banyak prajurit terpental dan jatuh tak bernyawa. Para makhluk gaib yang setia kepada kerajaan pun terlihat kesulitan menghadapi kekuatan gelap ini.

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 208: ARYA KERTAJAYA MENYELAMATKAN MEREKA

    Langit di atas medan perang mulai menghitam, tertutup awan tebal yang menandakan kemarahan alam. Angin dingin berhembus kencang, membawa aroma darah dan belerang yang menebal seiring dengan intensitas pertempuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya terus melancarkan serangan brutal, sementara makhluk gaib dari kedua pihak saling bertarung tanpa ampun.Di tengah kekacauan, Raka masih mencoba mengatur napasnya setelah menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Namun, energinya hampir habis, dan ia merasa dirinya tidak lagi mampu melawan jika serangan baru datang. Dyah Sulastri berdiri di sampingnya, mata hijaunya penuh dengan kekhawatiran."Kau harus istirahat," bisik Dyah pelan. "Kekuatanmu sudah mencapai batasnya."Raka menggeleng lemah. "Aku tidak bisa berhenti sekarang. Jika aku berhenti, kita semua akan mati."Sebelum mereka sempat melanjutkan percakapan, sebuah suara raungan keras memenuhi udara. Sebuah Genderuwo raksasa muncul dari

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 207: RAKA MENGGUNAKAN KEKUATANNYA

    Pertempuran di luar istana telah berubah menjadi badai kehancuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya yang dipersenjatai dengan senjata mistis dan sihir hitam terus menggempur pertahanan kerajaan. Makhluk-makhluk gaib seperti Banaspati, Buto Ijo, dan Genderuwo juga turut berperang, masing-masing memilih pihak mereka. Di tengah kekacauan itu, Raka berdiri di garis depan, masih mencoba memahami situasi yang semakin tak terkendali. Angin malam membawa aroma belerang yang menusuk, sementara cahaya bulan redup tertutup awan kelabu. Suara gema tombak dan pedang bergesekan dengan energi spiritual memenuhi udara. Raka merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dalam beberapa hari terakhir, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh terjadi padanya. Sejak ritual gaib yang dipimpin Dyah Sulastri di bab sebelumnya, ia merasakan aliran energi aneh di dalam dirinya—seperti gelombang panas yang melingkupi seluruh tubuhnya. Awalnya, ia mengabaikannya sebagai efek sam

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status