Home / Fantasi / Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir / BAB 97: RESI AGUNG DARMADJA MENGHILANG

Share

BAB 97: RESI AGUNG DARMADJA MENGHILANG

last update Last Updated: 2025-03-02 02:00:37
Pagi itu, matahari bersinar lembut di atas istana Gilingwesi. Namun, suasana di dalam ruang meditasi utama jauh dari tenang. Rakai Wisesa berdiri di depan pintu kayu besar yang terbuka lebar, matanya menyipit penuh kecurigaan. Di dalam ruangan, tempat Resi Agung Darmaja biasanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdoa dan merenung, hanya ada kekosongan.

Tidak ada jejak sedikit pun dari keberadaannya—tidak ada buku kuno, gulungan lontar, atau benda-benda ritual yang biasanya menemani sang resi. Bahkan aroma dupa yang selalu memenuhi ruangan telah lenyap tanpa bekas. Hanya ada sebuah meja batu kosong dengan debu tipis yang seolah-olah sudah lama tidak tersentuh.

Rakai Wisesa melangkah masuk, tangannya gemetar saat ia menyentuh permukaan meja batu tersebut. "Di mana dia?" gumamnya pelan, suaranya penuh ketegangan. Ia menoleh kepada prajurit yang berjaga di pintu. "Apa ada yang melihatnya keluar?"

"Ti-tidak, Yang Mulia," jawab prajurit itu dengan nada gugup. "Kami pikir ia masih bermedi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 98: KEBANGKITAN KI JAGABAYA

    Malam itu, langit Gilingwesi tertutup awan kelabu tebal yang menyelimuti bumi dengan kegelapan pekat. Di penjara bawah tanah istana, suara rantai berdering samar-samar diikuti oleh langkah-langkah pelan yang hampir tak terdengar. Udara lembap dan dingin membawa aroma tanah basah dan lumut tua yang memenuhi lorong-lorong sempit. Ki Jagabaya, pemimpin pasukan bayangan yang ditangkap setelah pertempuran besar melawan penyihir gelap, duduk diam di sudut selnya. Namun, matanya yang tajam seperti mata elang menunjukkan bahwa ia tidak pernah benar-benar kalah.Dari balik bayang-bayang, muncul sekelompok prajurit berpakaian hitam—pasukan bayangan yang setia padanya. Salah satu dari mereka membawa kunci ajaib yang terbuat dari tulang dan logam tua. Dengan gerakan cepat, pintu sel dibuka tanpa suara. Ki Jagabaya bangkit, tubuhnya yang kurus namun kuat bergerak seperti ular yang baru saja terbebas dari jerat."Kita tidak punya banyak waktu," bisik salah satu pasukan bayangan, suaranya rendah dan

    Last Updated : 2025-03-02
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 99: ARYA KERTAJAYA MULAI RAGU

    Pagi itu, matahari mulai meninggi di langit Gilingwesi, tetapi suasana di istana masih dipenuhi ketegangan. Arya Kertajaya berdiri di halaman istana, mengamati para prajurit yang sedang berlatih dengan pedang dan tombak. Suara logam beradu terdengar tajam di udara pagi, sementara angin dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun. Matanya menyipit, penuh dengan kekhawatiran dan keraguan. Ia memegang gagang pedangnya erat-erat, seolah mencoba menenangkan diri dari gelombang emosi yang terus bergulir di dalam hatinya.Sejak kedatangan Raka, Arya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Awalnya, ia percaya bahwa kehadiran Raka adalah jawaban atas ramalan kuno yang disebutkan oleh Rakai Wisesa. Namun, semakin lama Raka tinggal di kerajaan, semakin besar kecurigaannya. Bagaimana mungkin seorang asing—yang bahkan bukan keturunan Gilingwesi—dapat membawa harapan bagi kerajaan ini? Apalagi setelah Resi Agung Darmaja menghilang tanpa jejak, Arya semakin yakin bahwa ada sesuatu

    Last Updated : 2025-03-02
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 100: RAHASIA KELAM KERAJAAN

    Malam itu, udara di istana Gilingwesi terasa lebih dingin dari biasanya. Raka berjalan menyusuri lorong-lorong bawah tanah yang lembap dan gelap, hanya ditemani cahaya lilin kecil yang ia pegang erat-erat. Rakai Wisesa telah memberinya izin untuk menelusuri ruang bawah tanah istana setelah mendengar laporan bahwa ada dokumen kuno yang belum pernah dibuka sejak berabad-abad lalu. Raka merasa ada sesuatu yang penting tersembunyi di sini—sesuatu yang mungkin bisa menjawab banyak pertanyaan tentang kerajaan ini.Langkahnya berderap pelan di atas lantai batu yang basah oleh lumut. Suara tetesan air terdengar samar-samar dari sudut ruangan, menciptakan atmosfer mistis yang membuat bulu kuduknya merinding. Di ujung lorong, ia menemukan sebuah pintu kayu tua yang tertutup rapat, dengan ukiran simbol-simbol aneh yang tampak seperti mantra kuno. Raka menghela napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu itu perlahan.Di dalam ruangan, ia menemukan rak-rak penuh gulungan lontar kuno, patung-patung kec

    Last Updated : 2025-03-02
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 101: BANASPATI MEMBERIKAN PERINGATAN

    Malam itu, suasana di istana Gilingwesi terasa lebih berat dari biasanya. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun, sementara angin malam berdesir pelan, seolah-olah membawa pesan dari dunia lain. Para prajurit berjaga dengan tegang, mata mereka waspada terhadap setiap gerakan mencurigakan. Namun, tidak ada yang menyangka bahwa malam ini akan menjadi momen penting dalam sejarah kerajaan.Tiba-tiba, cahaya merah menyala muncul di halaman utama istana. Api yang aneh itu melingkar-lingkar, membentuk sosok besar yang bersinar seperti matahari terbenam. Itu adalah Banaspati, roh api pelindung kerajaan, yang jarang muncul kecuali dalam situasi mendesak. Sosoknya yang megah dan misterius memancarkan aura kekuatan gaib yang membuat semua orang yang melihatnya gemetar takut.Para penduduk istana berlutut hormat, termasuk Rakai Wisesa dan para pemimpin spiritual. Raka, Dyah Sulastri, Arya Kertajaya, dan beberapa tokoh penting lainnya berkumpul di halaman utama, men

    Last Updated : 2025-03-02
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 102: DYAH SULASTRI MENGUNGKAP RAHASIA BARU

    Malam itu, suasana di istana Gilingwesi terasa lebih berat dari biasanya. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun, sementara angin malam berdesir pelan, seolah-olah membawa pesan dari dunia lain. Setelah peringatan Banaspati tentang ancaman besar yang mendekat, ketegangan di istana semakin memuncak. Para prajurit berjaga dengan waspada, sementara para pemimpin kerajaan berkumpul untuk merencanakan langkah selanjutnya.Namun, di tengah kekacauan tersebut, Dyah Sulastri meminta Raka untuk bertemu dengannya di tepi sungai suci. Tempat itu adalah salah satu lokasi paling sakral di kerajaan, tempat Naga Niskala—penjaga sungai suci—sering muncul dalam legenda. Raka mengikuti Dyah dengan rasa penasaran, meskipun ia tahu bahwa sesuatu yang penting akan terungkap malam ini.Saat mereka tiba di tepi sungai, cahaya bulan memantul di permukaan air yang tenang, menciptakan atmosfer magis yang mendalam. Suara gemericik air dan desiran angin menambah nuansa mistis yang

    Last Updated : 2025-03-03
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 103: PENYIHIR GELAP KEMBALI

    Malam itu, langit di atas Kerajaan Gilingwesi tampak gelap dan tertutup awan kelabu yang tebal. Tidak ada bintang yang bersinar, hanya petir sesekali menyambar jauh di cakrawala, menciptakan kilatan cahaya yang menerangi bayangan-bayangan di hutan lebat sekitar kerajaan. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun, sementara angin malam berdesir pelan, seolah-olah membawa pesan dari dunia lain. Suasana di istana semakin tegang setelah peringatan Banaspati dan pengungkapan rahasia Dyah Sulastri. Namun, ancaman baru datang lebih cepat dari yang diperkirakan.Di tepi hutan, sebuah portal hitam muncul secara tiba-tiba, mengeluarkan asap pekat yang berputar-putar seperti pusaran angin. Dari dalam portal itu, sosok penyihir gelap yang pernah dikalahkan Raka muncul kembali—tetapi kali ini ia terlihat lebih kuat, lebih menyeramkan. Tubuhnya diliputi oleh kabut hitam yang berdenyut seperti denyut nadi, matanya menyala merah menyala penuh kebencian, dan suaranya berge

    Last Updated : 2025-03-03
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 104: PERSIAPAN PERTEMPURAN BARU

    Pagi itu, suasana di istana Gilingwesi dipenuhi dengan ketegangan yang terasa hingga ke sudut-sudut terjauh. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun, sementara angin pagi berdesir pelan, seolah-olah membawa bisikan dari dunia gaib. Setelah kemunculan penyihir gelap yang mengancam kerajaan, Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya berkumpul di ruang perang untuk mempersiapkan strategi melawan ancaman besar ini.Raka duduk di ujung meja, matanya penuh tekad saat ia menatap peta besar Kerajaan Gilingwesi yang terbentang di depannya. "Kita tidak punya banyak waktu," katanya dengan nada serius. "Penyihir gelap itu sudah memiliki kekuatan baru, dan pasukan bayangan Ki Jagabaya pasti akan menyerang lebih agresif."Dyah Sulastri berdiri di sampingnya, wajahnya penuh keteguhan meskipun matanya menunjukkan rasa khawatir. "Kita harus menggunakan semua sumber daya yang kita miliki. Tidak hanya kekuatan manusia, tetapi juga bantuan dari makhluk gaib."Arya Kertajaya m

    Last Updated : 2025-03-03
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 105: KONFRONTASI AWAL

    Malam itu, suasana di desa-desa pinggiran Kerajaan Gilingwesi tiba-tiba berubah menjadi kekacauan. Pasukan bayangan Ki Jagabaya muncul tanpa peringatan, membawa teror dan kehancuran. Mereka menyerang dengan cepat, membakar rumah-rumah penduduk, merampas persediaan makanan, dan menciptakan kepanikan yang meluas. Udara malam dipenuhi oleh jeritan ketakutan, aroma asap yang menyengat, dan suara pedang yang beradu. Angin malam berdesir kencang, membawa bisikan gaib yang seolah-olah mencoba memberi peringatan kepada mereka yang masih tersadar.Raka, yang sedang memimpin pasukan loyalis untuk menjaga wilayah tersebut, segera menyadari bahwa serangan ini bukan sekadar aksi sporadis—ini adalah bagian dari strategi besar untuk melemahkan pertahanan kerajaan. Ia mengumpulkan para prajuritnya di tengah desa yang kini penuh api dan kehancuran."Kita tidak bisa mundur!" teriak Raka, suaranya penuh tekad meskipun wajahnya tertutup jelaga dari kobaran api. "Jika kita kehilangan desa-desa ini, maka pi

    Last Updated : 2025-03-03

Latest chapter

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 215: KEPUTUSAN TERAKHIR

    Malam itu, angin dingin berdesir melalui reruntuhan istana Gilingwesi. Raka berdiri di ruang bawah tanah yang gelap, tempat portal waktu kini aktif kembali. Cahaya biru keperakan dari artefak perunggu memancar dengan intensitas yang membuat udara di sekitarnya bergetar seperti gelombang energi kosmik. Ia merasakan tarikan kuat dari portal itu—sebuah panggilan yang sulit diabaikan.Namun, suara lain juga terdengar di kepalanya. Suara-suara halus dari masa lalu dan masa depan bergema bersamaan, membisikkan pilihan-pilihan yang saling bertentangan. "Kembalilah... duniamu menantimu," bisik salah satu suara. "Tetaplah... hanya kau yang bisa menyelamatkannya," balas suara lainnya.Raka menutup matanya erat-erat, mencoba menghalau keraguan yang mulai memenuhi pikirannya. "Apa

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 214: PORTAL WAKTU AKTIF KEMBALI

    Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, suasana di istana Gilingwesi mulai mereda. Namun, ketegangan masih menyelimuti udara. Raka berdiri di tepi sungai suci, artefak perunggu di pinggangnya bergetar lemah. Ia tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi—sesuatu yang melampaui kemenangan sementara atas pasukan asing dan penyihir gelap.Saat ia memandangi artefak itu, cahaya biru keperakan tiba-tiba memancar dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Getarannya semakin kuat, hingga nyaris terlepas dari genggamannya. Suara gemuruh rendah bergema di udara, seperti desiran energi kosmik yang membangunkan seluruh istana."Raka!" seru sebuah suara di belakangnya. Arya Kertajaya berlari mendekat, wajahnya dipenuhi oleh kekhawatiran. "Apa yang terjadi? Apakah itu cerminmu?"

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 213: KEMENANGAN SEMENTARA

    Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, pasukan asing akhirnya mundur. Penyihir gelap telah dikalahkan oleh kekuatan spiritual Raka, dan pasukan loyalis berhasil menekan sisa-sisa pasukan bayangan Ki Jagabaya. Namun, kemenangan ini tidak datang tanpa harga mahal. Kerajaan Gilingwesi terlihat seperti reruntuhan—istana utama hancur sebagian, desa-desa di sekitarnya luluh lantak, dan banyak korban jiwa berjatuhan.Angin dingin berembus di medan perang, membawa aroma darah dan abu yang masih menyelimuti udara. Asap tebal mengepul dari bangunan-bangunan yang terbakar, menciptakan suasana kelabu yang suram. Prajurit loyalis berkumpul di lapangan istana, wajah mereka lelah namun penuh rasa syukur atas kemenangan yang diraih dengan susah payah.Namun, bagi Raka, kemenangan ini terasa kosong. Ia berdiri di tengah-tengah kerumunan prajurit, tetapi pikirannya jauh dari perayaan. Matanya tertuju pada reruntu

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 212: KI JAGABAYA DITANGKAP

    Pertempuran besar di luar istana mulai mereda setelah kekalahan penyihir gelap. Pasukan loyalis berhasil menekan pasukan bayangan Ki Jagabaya, yang kini tercerai-berai tanpa pemimpin mereka yang menghilang bersama penyihir gelap. Namun, Arya Kertajaya tidak puas dengan hasil ini. Ia tahu bahwa Ki Jagabaya adalah otak di balik serangan mematikan terhadap kerajaan, dan ia bertekad untuk menangkap pria itu sebelum ia melarikan diri. Di tengah kekacauan medan perang, Arya Kertajaya memimpin pasukan kecil menuju lokasi rahasia di hutan lebat tempat Ki Jagabaya diketahui bersembunyi. Ia telah mendengar desas-desus dari beberapa prajurit bayangan yang tertangkap bahwa Ki Jagabaya sedang mempersiapkan langkah selanjutnya—rencana yang lebih berbahaya daripada serangan pertama. Setelah berjam-jam mencari, Arya Kertajaya dan pasukannya akhirnya menemukan Ki Jagabaya di sebuah gua tersembunyi di tepi sungai suci.

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 211: KEKUATAN BARU RAKA

    Setelah Dyah Sulastri jatuh ke dalam koma, medan perang terasa semakin sunyi bagi Raka. Tubuhnya masih gemetar karena kelelahan dan emosi yang memuncak. Ia berlutut di tanah, memegang tubuh tak berdaya sang putri dengan erat, air mata mengalir deras di pipinya."Kenapa harus seperti ini?" gumamnya pelan, suaranya penuh rasa bersalah dan kemarahan. "Kenapa aku tidak bisa melindungimu?"Pasukan loyalis mencoba mendekat untuk membawa Dyah Sulastri ke tempat aman, tetapi Raka menolak mereka dengan gerakan tangan yang tegas. Matanya kosong, namun di dalam dirinya, api kemarahan mulai menyala. Ia merasakan sesuatu yang baru—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Angin dingin berdesir, membawa aroma belerang yang semakin kuat. Penyihir gelap muncul kembali, tertawa dingin di tengah kabut hitam yang menyelimuti medan perang. "Lihatlah dirimu, Raka," ejeknya. "Kau

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 210: DYAH SULASTRI MENGORBANKAN DIRI LAGI

    Pertempuran besar di luar istana mencapai puncaknya. Suara senjata yang beradu, teriakan prajurit, dan raungan makhluk gaib menggema di udara malam. Api melahap beberapa sudut benteng, sementara asap hitam membumbung tinggi ke langit, menyelimuti medan perang dalam kabut pekat. Pasukan bayangan Ki Jagabaya dan sekutunya dari dunia gaib terus menyerang tanpa henti, memanfaatkan setiap celah dalam pertahanan kerajaan.Di tengah medan perang yang kacau, Raka berdiri di garis depan, menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Meskipun ia berhasil menahan serangan-serangan awal, kekuatannya mulai terasa melemah. Ia merasakan energinya terkuras habis dengan cepat, membuat tubuhnya semakin goyah.Penyihir gelap muncul di tengah medan perang, dikelilingi oleh kabut hitam yang pekat. Matanya bersinar seperti bara ap

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 209: PENYIHIR GELAP MENGAMUK

    Medan perang yang sudah penuh dengan kekacauan semakin memanas saat penyihir gelap muncul di tengah-tengah pertempuran. Tubuhnya dikelilingi oleh energi hitam pekat yang mengintimidasi, dan matanya berkilat merah seperti bara api. Ia melangkah maju dengan gerakan anggun namun menakutkan, seolah-olah seluruh dunia ada dalam kendalinya."Kalian semua telah bermain cukup lama," katanya dengan suara dingin yang menusuk. "Sekarang, saatnya kalian membayar harga atas perlawanan kalian."Penyihir itu mengangkat kedua tangannya, menciptakan pusaran energi hitam besar di udara. Pusaran itu mulai melepaskan serangan sihir yang menghantam barisan pasukan loyalis, menyebabkan banyak prajurit terpental dan jatuh tak bernyawa. Para makhluk gaib yang setia kepada kerajaan pun terlihat kesulitan menghadapi kekuatan gelap ini.

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 208: ARYA KERTAJAYA MENYELAMATKAN MEREKA

    Langit di atas medan perang mulai menghitam, tertutup awan tebal yang menandakan kemarahan alam. Angin dingin berhembus kencang, membawa aroma darah dan belerang yang menebal seiring dengan intensitas pertempuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya terus melancarkan serangan brutal, sementara makhluk gaib dari kedua pihak saling bertarung tanpa ampun.Di tengah kekacauan, Raka masih mencoba mengatur napasnya setelah menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Namun, energinya hampir habis, dan ia merasa dirinya tidak lagi mampu melawan jika serangan baru datang. Dyah Sulastri berdiri di sampingnya, mata hijaunya penuh dengan kekhawatiran."Kau harus istirahat," bisik Dyah pelan. "Kekuatanmu sudah mencapai batasnya."Raka menggeleng lemah. "Aku tidak bisa berhenti sekarang. Jika aku berhenti, kita semua akan mati."Sebelum mereka sempat melanjutkan percakapan, sebuah suara raungan keras memenuhi udara. Sebuah Genderuwo raksasa muncul dari

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 207: RAKA MENGGUNAKAN KEKUATANNYA

    Pertempuran di luar istana telah berubah menjadi badai kehancuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya yang dipersenjatai dengan senjata mistis dan sihir hitam terus menggempur pertahanan kerajaan. Makhluk-makhluk gaib seperti Banaspati, Buto Ijo, dan Genderuwo juga turut berperang, masing-masing memilih pihak mereka. Di tengah kekacauan itu, Raka berdiri di garis depan, masih mencoba memahami situasi yang semakin tak terkendali. Angin malam membawa aroma belerang yang menusuk, sementara cahaya bulan redup tertutup awan kelabu. Suara gema tombak dan pedang bergesekan dengan energi spiritual memenuhi udara. Raka merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dalam beberapa hari terakhir, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh terjadi padanya. Sejak ritual gaib yang dipimpin Dyah Sulastri di bab sebelumnya, ia merasakan aliran energi aneh di dalam dirinya—seperti gelombang panas yang melingkupi seluruh tubuhnya. Awalnya, ia mengabaikannya sebagai efek sam

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status