Di tengah malam yang sunyi, Raka duduk di ruang bawah tanah istana, dikelilingi oleh gulungan-gulungan naskah kuno yang berdebu. Cahaya lilin yang redup memantul pada wajahnya yang penuh rasa penasaran, sementara angin malam berdesir pelan melalui celah-celah dinding, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun. Suara gemericik air dari sungai suci di kejauhan terdengar samar-samar, seolah-olah alam itu sendiri sedang menyaksikan momen penting ini.Sejak pertempuran melawan pasukan bayangan Ki Jagabaya, ia merasa ada sesuatu yang lebih besar—sebuah rahasia yang belum terungkap sepenuhnya tentang lenyapnya Kerajaan Gilingwesi. Tangannya bergetar saat ia membuka salah satu gulungan tua yang hampir rapuh. Tinta hitam yang memudar masih menyisakan jejak-jejak tulisan kuno dalam aksara Jawa kuno. Matanya menyipit untuk membaca dengan lebih jelas. Saat ia mulai memahami isi dokumen itu, ekspresinya berubah dari rasa ingin tahu menjadi keheranan mendalam."Gilingwesi tidak hany
Malam itu, Raka duduk sendirian di tepi sungai suci, tempat di mana Naga Niskala sering muncul. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun, sementara angin malam berdesir pelan, seolah-olah mencoba memberi jawaban atas pertanyaannya yang tak terucap. Cahaya bulan pucat memantul di permukaan air yang tenang, menciptakan bayangan-bayangan halus yang terlihat seperti wajah-wajah dari masa lalu.Raka menundukkan kepala, tangannya memegang erat cermin perunggu yang telah membawanya ke masa ini. Ia merasa terjebak antara dua dunia: masa depan yang ia tinggalkan—dunia modern dengan teknologi canggih, logika, dan pengetahuan ilmiah—dan masa lalu yang kini menjadi tanggung jawabnya. Dunia Gilingwesi yang penuh mistis, ritual gaib, dan makhluk mitologi membuatnya merasa seperti seorang asing yang dipaksa untuk mengambil peran penting dalam konflik besar."Apa aku benar-benar bisa mengubah takdir kerajaan ini?" gumam Raka pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam gemeris
Pagi itu, suasana di istana terasa berbeda. Udara segar membawa aroma bunga kenanga yang mekar di taman kerajaan, tetapi ketegangan tampak jelas di wajah para penghuni istana. Dyah Sulastri duduk di tepi kolam suci di halaman belakang istana, tangannya menyentuh permukaan air yang tenang. Wajahnya murung, matanya penuh dengan kekhawatiran. Ia merasa beban takdir semakin berat, terutama setelah mengetahui bahwa hubungannya dengan Raka mulai mendapat sorotan dari banyak pihak.Raka muncul dari balik pintu kayu ukir, langkahnya ragu-ragu saat melihat Dyah duduk sendirian. Ia ingin mendekat, tetapi sesuatu dalam dirinya membuatnya berhenti sejenak. Ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Dyah—dan ia khawatir itu adalah dirinya."Dyah," panggilnya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam gemericik air kolam.Dyah menoleh, wajahnya mencoba tersenyum meskipun rautnya masih penuh kecemasan. "Raka... aku tahu kau pasti akan datang."Raka duduk di sampingnya, matanya mencari ja
Malam itu, angin dingin berhembus pelan melewati lorong-lorong istana Gilingwesi. Di bawah cahaya lampu minyak yang redup, Arya Kertajaya melangkah dengan langkah tertutup, hatinya penuh kecurigaan dan ketegangan. Sejak peringatan dari Banaspati beberapa hari lalu, ia tidak bisa mengenyahkan firasat buruk tentang Ki Jagabaya—pemimpin pasukan bayangan yang selama ini dipercaya oleh Rakai Wisesa.Arya telah memperhatikan sesuatu yang mencurigakan. Beberapa kali ia melihat Ki Jagabaya berbicara diam-diam dengan para pengikutnya di sudut-sudut tersembunyi istana, atau bahkan meninggalkan wilayah kerajaan pada malam hari tanpa alasan yang jelas. Ada sesuatu yang tidak beres, dan Arya bertekad untuk menemukan jawabannya.Angin malam berdesir lebih kencang, membawa aroma belerang yang menusuk hidung. Suara gemericik air dari sungai suci terdengar samar-samar, seolah-olah alam itu sendiri sedang menanggapi ketegangan yang sedang terjadi.Arya menyelinap keluar dari istana menuju hutan lebat ya
Matahari mulai tenggelam di balik pegunungan, memancarkan cahaya jingga yang lembut namun misterius. Udara di istana terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah alam sedang menahan napas. Di ruang singgasana, Rakai Wisesa duduk dengan wajah muram, sementara para penasehat dan panglima perang berkumpul dalam suasana tegang.Tiba-tiba, pintu besar ruang singgasana terbuka dengan suara berderit pelan. Semua mata tertuju pada sosok tua yang melangkah masuk—Resi Agung Darmaja. Ia tampak lebih rapuh daripada biasanya, tetapi matanya bersinar dengan kekuatan spiritual yang luar biasa. Jubah putihnya bergoyang lembut, seakan angin gaib mengiringi setiap langkahnya."Yang Mulia," kata Resi Agung Darmaja dengan suara rendah namun penuh otoritas. "Aku membawa kabar penting yang tidak bisa ditunda lagi."Rakai Wisesa menegakkan tubuhnya, matanya menyipit. "Apa yang kau maksud, Resi?"Resi Agung Darmaja maju beberapa langkah, lalu berhenti di depan takhta. "Kita membutuhkan perlindungan lebih kua
Matahari mulai tenggelam di balik pepohonan rindang, memancarkan cahaya jingga yang lembut namun misterius. Udara di sekitar sungai suci terasa lebih dingin dari biasanya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun. Raka dan Dyah Sulastri melangkah perlahan menuju tepi sungai, di mana airnya mengalir dengan tenang, memantulkan kilauan sinar matahari yang tersisa.Dyah tampak tegang, tangannya erat menggenggam selendangnya. "Aku tidak tahu apakah kita akan mendapatkan jawaban yang kita cari," katanya pelan, suaranya penuh keraguan.Raka menatapnya dengan ekspresi tenang, meskipun matanya menyiratkan kecemasan. "Kita harus mencoba, Dyah. Naga Niskala adalah satu-satunya yang bisa memberikan petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kerajaan ini."Angin malam berdesir pelan, membawa bisikan gaib yang samar-samar. Suara gemericik air dari sungai suci terdengar seperti lagu kuno, seolah-olah alam itu sendiri sedang menunggu pertemuan mereka dengan Naga Niskala. Aroma
Malam itu, langit di atas istana Gilingwesi terlihat gelap tanpa bintang. Hanya suara angin yang berbisik lembut melewati dedaunan dan gemericik air dari sungai suci yang memecah keheningan. Namun, ada sesuatu yang menggelisahkan dalam udara—seolah-olah alam sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang besar akan terjadi. Aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun menambah nuansa mistis yang mendalam.Raka sedang duduk di dekat jendela kamarnya, matanya tertuju pada cermin perunggu kuno yang ia temukan di gua. Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tentang takdir, masa lalu, dan bagaimana ia bisa menjadi bagian dari sejarah kerajaan ini. Ia merasa seperti ada dua dunia yang saling tarik-menarik—masa depan yang ia tinggalkan dan masa lalu yang kini menjadi tanggung jawabnya.Namun, ketenangan malam itu tiba-tiba pecah oleh jeritan keras dari halaman istana."Serangan! Pasukan bayangan menyerang!" teriak salah satu prajurit penjaga istana dengan nada panik.Suara logam ber
Pagi itu, matahari terbit perlahan di balik pegunungan yang mengelilingi istana Gilingwesi. Cahayanya yang lembut menyapu reruntuhan pertempuran malam sebelumnya—lantai marmer yang ternoda darah, senjata-senjata yang berserakan, dan jejak-jejak kacau dari serangan pasukan bayangan Ki Jagabaya. Udara pagi masih membawa aroma belerang, sisa-sisa kehadiran makhluk gaib yang turut ambil bagian dalam konflik tersebut. Suara angin berdesir pelan melewati dedaunan, menciptakan atmosfer yang mencekam.Di ruang bawah tanah istana, Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya duduk dalam diam. Lilin-lilin kecil yang mereka nyalakan untuk penerangan mulai melemah, api mereka berkedip-kedip seperti nyala harapan yang hampir padam. Wajah mereka semua tampak lelah, tetapi ada keteguhan baru yang muncul di mata Arya Kertajaya."Aku sudah memutuskan," kata Arya dengan suara tegas, memecah keheningan. "Aku akan mendukungmu sepenuhnya, Raka."Raka menatap Arya dengan ekspresi terkejut. Ia tahu betapa sulitny
Malam itu, angin dingin berdesir melalui reruntuhan istana Gilingwesi. Raka berdiri di ruang bawah tanah yang gelap, tempat portal waktu kini aktif kembali. Cahaya biru keperakan dari artefak perunggu memancar dengan intensitas yang membuat udara di sekitarnya bergetar seperti gelombang energi kosmik. Ia merasakan tarikan kuat dari portal itu—sebuah panggilan yang sulit diabaikan.Namun, suara lain juga terdengar di kepalanya. Suara-suara halus dari masa lalu dan masa depan bergema bersamaan, membisikkan pilihan-pilihan yang saling bertentangan. "Kembalilah... duniamu menantimu," bisik salah satu suara. "Tetaplah... hanya kau yang bisa menyelamatkannya," balas suara lainnya.Raka menutup matanya erat-erat, mencoba menghalau keraguan yang mulai memenuhi pikirannya. "Apa
Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, suasana di istana Gilingwesi mulai mereda. Namun, ketegangan masih menyelimuti udara. Raka berdiri di tepi sungai suci, artefak perunggu di pinggangnya bergetar lemah. Ia tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi—sesuatu yang melampaui kemenangan sementara atas pasukan asing dan penyihir gelap.Saat ia memandangi artefak itu, cahaya biru keperakan tiba-tiba memancar dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Getarannya semakin kuat, hingga nyaris terlepas dari genggamannya. Suara gemuruh rendah bergema di udara, seperti desiran energi kosmik yang membangunkan seluruh istana."Raka!" seru sebuah suara di belakangnya. Arya Kertajaya berlari mendekat, wajahnya dipenuhi oleh kekhawatiran. "Apa yang terjadi? Apakah itu cerminmu?"
Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, pasukan asing akhirnya mundur. Penyihir gelap telah dikalahkan oleh kekuatan spiritual Raka, dan pasukan loyalis berhasil menekan sisa-sisa pasukan bayangan Ki Jagabaya. Namun, kemenangan ini tidak datang tanpa harga mahal. Kerajaan Gilingwesi terlihat seperti reruntuhan—istana utama hancur sebagian, desa-desa di sekitarnya luluh lantak, dan banyak korban jiwa berjatuhan.Angin dingin berembus di medan perang, membawa aroma darah dan abu yang masih menyelimuti udara. Asap tebal mengepul dari bangunan-bangunan yang terbakar, menciptakan suasana kelabu yang suram. Prajurit loyalis berkumpul di lapangan istana, wajah mereka lelah namun penuh rasa syukur atas kemenangan yang diraih dengan susah payah.Namun, bagi Raka, kemenangan ini terasa kosong. Ia berdiri di tengah-tengah kerumunan prajurit, tetapi pikirannya jauh dari perayaan. Matanya tertuju pada reruntu
Pertempuran besar di luar istana mulai mereda setelah kekalahan penyihir gelap. Pasukan loyalis berhasil menekan pasukan bayangan Ki Jagabaya, yang kini tercerai-berai tanpa pemimpin mereka yang menghilang bersama penyihir gelap. Namun, Arya Kertajaya tidak puas dengan hasil ini. Ia tahu bahwa Ki Jagabaya adalah otak di balik serangan mematikan terhadap kerajaan, dan ia bertekad untuk menangkap pria itu sebelum ia melarikan diri. Di tengah kekacauan medan perang, Arya Kertajaya memimpin pasukan kecil menuju lokasi rahasia di hutan lebat tempat Ki Jagabaya diketahui bersembunyi. Ia telah mendengar desas-desus dari beberapa prajurit bayangan yang tertangkap bahwa Ki Jagabaya sedang mempersiapkan langkah selanjutnya—rencana yang lebih berbahaya daripada serangan pertama. Setelah berjam-jam mencari, Arya Kertajaya dan pasukannya akhirnya menemukan Ki Jagabaya di sebuah gua tersembunyi di tepi sungai suci.
Setelah Dyah Sulastri jatuh ke dalam koma, medan perang terasa semakin sunyi bagi Raka. Tubuhnya masih gemetar karena kelelahan dan emosi yang memuncak. Ia berlutut di tanah, memegang tubuh tak berdaya sang putri dengan erat, air mata mengalir deras di pipinya."Kenapa harus seperti ini?" gumamnya pelan, suaranya penuh rasa bersalah dan kemarahan. "Kenapa aku tidak bisa melindungimu?"Pasukan loyalis mencoba mendekat untuk membawa Dyah Sulastri ke tempat aman, tetapi Raka menolak mereka dengan gerakan tangan yang tegas. Matanya kosong, namun di dalam dirinya, api kemarahan mulai menyala. Ia merasakan sesuatu yang baru—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Angin dingin berdesir, membawa aroma belerang yang semakin kuat. Penyihir gelap muncul kembali, tertawa dingin di tengah kabut hitam yang menyelimuti medan perang. "Lihatlah dirimu, Raka," ejeknya. "Kau
Pertempuran besar di luar istana mencapai puncaknya. Suara senjata yang beradu, teriakan prajurit, dan raungan makhluk gaib menggema di udara malam. Api melahap beberapa sudut benteng, sementara asap hitam membumbung tinggi ke langit, menyelimuti medan perang dalam kabut pekat. Pasukan bayangan Ki Jagabaya dan sekutunya dari dunia gaib terus menyerang tanpa henti, memanfaatkan setiap celah dalam pertahanan kerajaan.Di tengah medan perang yang kacau, Raka berdiri di garis depan, menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Meskipun ia berhasil menahan serangan-serangan awal, kekuatannya mulai terasa melemah. Ia merasakan energinya terkuras habis dengan cepat, membuat tubuhnya semakin goyah.Penyihir gelap muncul di tengah medan perang, dikelilingi oleh kabut hitam yang pekat. Matanya bersinar seperti bara ap
Medan perang yang sudah penuh dengan kekacauan semakin memanas saat penyihir gelap muncul di tengah-tengah pertempuran. Tubuhnya dikelilingi oleh energi hitam pekat yang mengintimidasi, dan matanya berkilat merah seperti bara api. Ia melangkah maju dengan gerakan anggun namun menakutkan, seolah-olah seluruh dunia ada dalam kendalinya."Kalian semua telah bermain cukup lama," katanya dengan suara dingin yang menusuk. "Sekarang, saatnya kalian membayar harga atas perlawanan kalian."Penyihir itu mengangkat kedua tangannya, menciptakan pusaran energi hitam besar di udara. Pusaran itu mulai melepaskan serangan sihir yang menghantam barisan pasukan loyalis, menyebabkan banyak prajurit terpental dan jatuh tak bernyawa. Para makhluk gaib yang setia kepada kerajaan pun terlihat kesulitan menghadapi kekuatan gelap ini.
Langit di atas medan perang mulai menghitam, tertutup awan tebal yang menandakan kemarahan alam. Angin dingin berhembus kencang, membawa aroma darah dan belerang yang menebal seiring dengan intensitas pertempuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya terus melancarkan serangan brutal, sementara makhluk gaib dari kedua pihak saling bertarung tanpa ampun.Di tengah kekacauan, Raka masih mencoba mengatur napasnya setelah menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Namun, energinya hampir habis, dan ia merasa dirinya tidak lagi mampu melawan jika serangan baru datang. Dyah Sulastri berdiri di sampingnya, mata hijaunya penuh dengan kekhawatiran."Kau harus istirahat," bisik Dyah pelan. "Kekuatanmu sudah mencapai batasnya."Raka menggeleng lemah. "Aku tidak bisa berhenti sekarang. Jika aku berhenti, kita semua akan mati."Sebelum mereka sempat melanjutkan percakapan, sebuah suara raungan keras memenuhi udara. Sebuah Genderuwo raksasa muncul dari
Pertempuran di luar istana telah berubah menjadi badai kehancuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya yang dipersenjatai dengan senjata mistis dan sihir hitam terus menggempur pertahanan kerajaan. Makhluk-makhluk gaib seperti Banaspati, Buto Ijo, dan Genderuwo juga turut berperang, masing-masing memilih pihak mereka. Di tengah kekacauan itu, Raka berdiri di garis depan, masih mencoba memahami situasi yang semakin tak terkendali. Angin malam membawa aroma belerang yang menusuk, sementara cahaya bulan redup tertutup awan kelabu. Suara gema tombak dan pedang bergesekan dengan energi spiritual memenuhi udara. Raka merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dalam beberapa hari terakhir, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh terjadi padanya. Sejak ritual gaib yang dipimpin Dyah Sulastri di bab sebelumnya, ia merasakan aliran energi aneh di dalam dirinya—seperti gelombang panas yang melingkupi seluruh tubuhnya. Awalnya, ia mengabaikannya sebagai efek sam