Portal waktu masih aktif, memancarkan cahaya biru keperakan yang menyilaukan. Getarannya menggema di seluruh ruang bawah tanah istana, menciptakan atmosfer yang penuh ketegangan. Udara di ruangan itu dipenuhi aroma dupa dan lilin, menciptakan suasana mistis yang mendukung pembicaraan spiritual. Lilin-lilin di sudut ruangan berkedip lebih cepat, seolah-olah energi spiritual mulai mengalir di udara.Raka berdiri di depan cermin perunggu kuno, tubuhnya gemetar bukan hanya karena energi spiritual yang kuat, tetapi juga karena beban emosional yang ia rasakan. Ia menatap refleksi dirinya sendiri di permukaan cermin—wajahnya penuh dilema, matanya kosong namun dipenuhi konflik internal. Di satu sisi, ia bisa melihat bayangan dunia modern yang ia tinggalkan: laboratorium arkeologi, buku-buku sejarah, dan kehidupan yang ia kenal. Namun, di sisi lain, ada Dyah Sulastri—wanita yang telah mengorbankan segalanya untuknya, wanita yang membuatnya merasa memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekada
Cahaya biru keperakan dari portal waktu masih menyelimuti ruang bawah tanah istana, memancarkan aura magis yang tak terhindarkan. Udara di ruangan itu dingin, namun aroma dupa dan lilin memberikan kesan mistis yang mendalam. Suara angin malam berdesir pelan, seolah-olah dunia gaib sedang berbicara langsung kepadanya. Lilin-lilin di sudut ruangan berkedip lebih cepat, mencerminkan ketegangan emosional yang ia rasakan.Raka berdiri di depan cermin perunggu kuno, tubuhnya diam namun pikirannya dipenuhi oleh ribuan pertanyaan dan kenangan yang bergulat dalam benaknya. Ia menatap refleksinya di permukaan cermin—wajahnya penuh dilema, matanya kosong namun dipenuhi konflik internal. Ia tidak hanya melihat dirinya sendiri, tetapi juga bayangan masa lalu dan masa depan yang saling bertabrakan."Bagaimana aku bisa sampai di sini?" gumam Raka pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah desiran energi spiritual. "Aku hanya seorang arkeolog biasa... tapi sekarang... apa yang harus kulakukan?"Pi
Langkah kaki pelan namun berwibawa terdengar dari pintu masuk ruang bawah tanah. Raka, yang masih berdiri di depan portal waktu, menoleh untuk melihat siapa yang datang. Cahaya biru keperakan dari cermin perunggu memantul di wajah Resi Agung Darmaja, memberikan kesan misterius pada sosoknya yang bijaksana.Resi Agung Darmaja mengenakan jubah putih panjang dengan bordiran simbol-simbol spiritual kuno. Matanya yang tajam dan penuh kebijaksanaan menatap Raka dengan intens, seolah-olah ia bisa membaca pikiran pemuda itu. Ia mendekati Raka dengan langkah tenang, lalu berhenti beberapa langkah di belakangnya."Kau telah sampai pada titik ini, Nak," kata Resi Agung Darmaja pelan, suaranya dalam dan berat, seperti gema dari masa lalu. "Keputusanmu tidak hanya akan menentukan nasibmu sendiri, tetapi juga takdir seluruh kerajaan."Raka menoleh sepenuhnya, matanya dipenuhi oleh rasa ingin tahu dan ketegangan. "Apa maksudmu, Guru? Aku... aku hanya seorang pendatang dari masa depan. Bagaimana mungk
Setelah kepergian Resi Agung Darmaja, suasana di ruang bawah tanah istana kembali hening. Hanya ada Raka dan portal waktu yang masih aktif, memancarkan cahaya biru keperakan yang lembut namun penuh tekanan. Udara di ruangan itu dingin, dipenuhi aroma dupa dan lilin yang semakin kuat, menciptakan suasana mistis yang mendalam. Suara angin malam terus berdesir pelan, membawa aura misterius yang membuat Raka semakin tenggelam dalam pikiran-pikiran beratnya.Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari pintu masuk ruangan. Arya Kertajaya muncul dengan wajah tegang, tubuhnya yang tegap tampak lebih lelah daripada biasanya. Ia mengenakan jubah perang yang sedikit kotor akibat pertempuran sebelumnya, dan matanya dipenuhi oleh rasa khawatir serta keteguhan."Aku tahu aku tidak punya hak untuk meminta ini," kata Arya langsung tanpa basa-basi, suaranya parau namun penuh emosi. "Namun, aku harus bicara."Raka menoleh, menatap Arya dengan ekspresi campuran antara kebingungan dan rasa hormat. "Apa y
Setelah kepergian Arya Kertajaya, suasana di ruang bawah tanah istana kembali hening. Hanya ada Raka dan portal waktu yang masih aktif, memancarkan cahaya biru keperakan yang lembut namun penuh tekanan. Udara di ruangan itu dingin, dipenuhi aroma dupa dan lilin yang semakin kuat, menciptakan suasana mistis yang mendalam. Suara angin malam terus berdesir pelan, membawa aura misterius yang membuat Raka semakin tenggelam dalam pikiran-pikiran beratnya.Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari pintu masuk ruangan. Rakai Wisesa muncul dengan wajah tegang, tubuhnya yang tegap tampak lebih lelah daripada biasanya. Ia mengenakan jubah kerajaan yang sedikit kotor akibat pertempuran sebelumnya, dan matanya dipenuhi oleh rasa khawatir serta keteguhan."Raka," kata Rakai Wisesa langsung tanpa basa-basi, suaranya tegas namun penuh emosi. "Aku tahu kau sedang menghadapi dilema besar. Namun, aku harus bicara."Raka menoleh, menatap Rakai Wisesa dengan ekspresi campuran antara kebingungan dan rasa
Raka berdiri di depan portal waktu yang masih aktif, cahaya biru keperakan dari cermin perunggu memancarkan aura mistis yang mendalam. Udara dingin menyelimuti ruangan, dipenuhi aroma dupa dan lilin yang semakin kuat, menciptakan suasana magis yang menekan. Suara angin malam terus berdesir pelan, membawa bisikan-bisikan gaib seolah mencoba memberinya jawaban atas dilema yang menghantui pikirannya.Matanya tertuju pada portal waktu, tetapi pikirannya melayang jauh. Ia memikirkan semua yang telah terjadi sejak ia tiba di Kerajaan Gilingwesi—pertemuannya dengan Dyah Sulastri, pertempuran besar melawan penyihir gelap, intrik politik di istana, hingga nasihat Resi Agung Darmaja dan permohonan Arya Kertajaya serta Rakai Wisesa. Semua momen itu berputar dalam benaknya seperti roda takdir yang tidak bisa dihentikan."Apa yang harus kulakukan?" gumam Raka pelan, suaranya penuh keraguan. "Aku ingin kembali ke masa depan... tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Dyah... atau kerajaan ini."Ia menu
Raka berdiri di depan portal waktu yang masih aktif, cahaya biru keperakan dari cermin perunggu terus memancar dengan intensitas yang tak tergoyahkan. Udara di ruangan itu semakin dingin, dipenuhi aroma dupa dan lilin yang menyengat, menciptakan suasana mistis yang menekan. Suara angin malam berdesir pelan, membawa bisikan-bisikan gaib yang seolah-olah mencoba memberinya jawaban atas dilema yang menghantui pikirannya.Ia menutup mata sejenak, merasakan aliran energi spiritual yang telah tumbuh dalam dirinya sejak pertempuran besar melawan penyihir gelap. Kekuatan ini bukan hanya miliknya—ia menyadari bahwa itu adalah bagian dari warisan kerajaan Gilingwesi, hadiah dari para leluhur yang telah lama menjaga tanah ini. Dengan napas dalam-dalam, ia mulai mengulurkan tangannya ke arah portal, merasakan getaran magis yang bergemuruh di ujung jari-jarinya."Maafkan aku," gumam Raka pelan, suaranya penuh rasa hormat namun juga penyesalan. "Aku tidak bisa meninggalkan mereka."Perlahan-lahan, i
Cahaya matahari pagi yang lembut menyusup melalui celah-celah jendela kayu, menciptakan bayangan halus di wajah Dyah Sulastri yang terbaring di ranjang. Udara di ruangan itu dipenuhi aroma dupa wewangian yang menenangkan, menciptakan suasana damai namun penuh harapan. Raka duduk di sisi ranjang dengan ekspresi cemas, tangannya terlipat di lutut, matanya tak pernah lepas dari wajah putri kerajaan yang masih tertidur.Sejak pertempuran besar melawan penyihir gelap, Dyah telah terbaring koma selama beberapa hari. Para tabib istana dan pendeta spiritual telah berusaha keras untuk menyembuhkannya, tetapi semuanya bergantung pada kekuatan vitalnya sendiri—sebuah warisan gaib yang mengalir dalam darahnya sebagai calon ratu suci.Perlahan-lahan, kelopak mata Dyah mulai bergerak. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya membuka matanya sepenuhnya. Pandangannya buram pada awalnya, tetapi saat ia fokus, sosok Raka tampak jelas di sisinya. Wajahnya yang tegang langsung berubah menjadi senyum le
Malam itu, angin dingin berdesir melalui reruntuhan istana Gilingwesi. Raka berdiri di ruang bawah tanah yang gelap, tempat portal waktu kini aktif kembali. Cahaya biru keperakan dari artefak perunggu memancar dengan intensitas yang membuat udara di sekitarnya bergetar seperti gelombang energi kosmik. Ia merasakan tarikan kuat dari portal itu—sebuah panggilan yang sulit diabaikan.Namun, suara lain juga terdengar di kepalanya. Suara-suara halus dari masa lalu dan masa depan bergema bersamaan, membisikkan pilihan-pilihan yang saling bertentangan. "Kembalilah... duniamu menantimu," bisik salah satu suara. "Tetaplah... hanya kau yang bisa menyelamatkannya," balas suara lainnya.Raka menutup matanya erat-erat, mencoba menghalau keraguan yang mulai memenuhi pikirannya. "Apa
Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, suasana di istana Gilingwesi mulai mereda. Namun, ketegangan masih menyelimuti udara. Raka berdiri di tepi sungai suci, artefak perunggu di pinggangnya bergetar lemah. Ia tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi—sesuatu yang melampaui kemenangan sementara atas pasukan asing dan penyihir gelap.Saat ia memandangi artefak itu, cahaya biru keperakan tiba-tiba memancar dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Getarannya semakin kuat, hingga nyaris terlepas dari genggamannya. Suara gemuruh rendah bergema di udara, seperti desiran energi kosmik yang membangunkan seluruh istana."Raka!" seru sebuah suara di belakangnya. Arya Kertajaya berlari mendekat, wajahnya dipenuhi oleh kekhawatiran. "Apa yang terjadi? Apakah itu cerminmu?"
Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, pasukan asing akhirnya mundur. Penyihir gelap telah dikalahkan oleh kekuatan spiritual Raka, dan pasukan loyalis berhasil menekan sisa-sisa pasukan bayangan Ki Jagabaya. Namun, kemenangan ini tidak datang tanpa harga mahal. Kerajaan Gilingwesi terlihat seperti reruntuhan—istana utama hancur sebagian, desa-desa di sekitarnya luluh lantak, dan banyak korban jiwa berjatuhan.Angin dingin berembus di medan perang, membawa aroma darah dan abu yang masih menyelimuti udara. Asap tebal mengepul dari bangunan-bangunan yang terbakar, menciptakan suasana kelabu yang suram. Prajurit loyalis berkumpul di lapangan istana, wajah mereka lelah namun penuh rasa syukur atas kemenangan yang diraih dengan susah payah.Namun, bagi Raka, kemenangan ini terasa kosong. Ia berdiri di tengah-tengah kerumunan prajurit, tetapi pikirannya jauh dari perayaan. Matanya tertuju pada reruntu
Pertempuran besar di luar istana mulai mereda setelah kekalahan penyihir gelap. Pasukan loyalis berhasil menekan pasukan bayangan Ki Jagabaya, yang kini tercerai-berai tanpa pemimpin mereka yang menghilang bersama penyihir gelap. Namun, Arya Kertajaya tidak puas dengan hasil ini. Ia tahu bahwa Ki Jagabaya adalah otak di balik serangan mematikan terhadap kerajaan, dan ia bertekad untuk menangkap pria itu sebelum ia melarikan diri. Di tengah kekacauan medan perang, Arya Kertajaya memimpin pasukan kecil menuju lokasi rahasia di hutan lebat tempat Ki Jagabaya diketahui bersembunyi. Ia telah mendengar desas-desus dari beberapa prajurit bayangan yang tertangkap bahwa Ki Jagabaya sedang mempersiapkan langkah selanjutnya—rencana yang lebih berbahaya daripada serangan pertama. Setelah berjam-jam mencari, Arya Kertajaya dan pasukannya akhirnya menemukan Ki Jagabaya di sebuah gua tersembunyi di tepi sungai suci.
Setelah Dyah Sulastri jatuh ke dalam koma, medan perang terasa semakin sunyi bagi Raka. Tubuhnya masih gemetar karena kelelahan dan emosi yang memuncak. Ia berlutut di tanah, memegang tubuh tak berdaya sang putri dengan erat, air mata mengalir deras di pipinya."Kenapa harus seperti ini?" gumamnya pelan, suaranya penuh rasa bersalah dan kemarahan. "Kenapa aku tidak bisa melindungimu?"Pasukan loyalis mencoba mendekat untuk membawa Dyah Sulastri ke tempat aman, tetapi Raka menolak mereka dengan gerakan tangan yang tegas. Matanya kosong, namun di dalam dirinya, api kemarahan mulai menyala. Ia merasakan sesuatu yang baru—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Angin dingin berdesir, membawa aroma belerang yang semakin kuat. Penyihir gelap muncul kembali, tertawa dingin di tengah kabut hitam yang menyelimuti medan perang. "Lihatlah dirimu, Raka," ejeknya. "Kau
Pertempuran besar di luar istana mencapai puncaknya. Suara senjata yang beradu, teriakan prajurit, dan raungan makhluk gaib menggema di udara malam. Api melahap beberapa sudut benteng, sementara asap hitam membumbung tinggi ke langit, menyelimuti medan perang dalam kabut pekat. Pasukan bayangan Ki Jagabaya dan sekutunya dari dunia gaib terus menyerang tanpa henti, memanfaatkan setiap celah dalam pertahanan kerajaan.Di tengah medan perang yang kacau, Raka berdiri di garis depan, menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Meskipun ia berhasil menahan serangan-serangan awal, kekuatannya mulai terasa melemah. Ia merasakan energinya terkuras habis dengan cepat, membuat tubuhnya semakin goyah.Penyihir gelap muncul di tengah medan perang, dikelilingi oleh kabut hitam yang pekat. Matanya bersinar seperti bara ap
Medan perang yang sudah penuh dengan kekacauan semakin memanas saat penyihir gelap muncul di tengah-tengah pertempuran. Tubuhnya dikelilingi oleh energi hitam pekat yang mengintimidasi, dan matanya berkilat merah seperti bara api. Ia melangkah maju dengan gerakan anggun namun menakutkan, seolah-olah seluruh dunia ada dalam kendalinya."Kalian semua telah bermain cukup lama," katanya dengan suara dingin yang menusuk. "Sekarang, saatnya kalian membayar harga atas perlawanan kalian."Penyihir itu mengangkat kedua tangannya, menciptakan pusaran energi hitam besar di udara. Pusaran itu mulai melepaskan serangan sihir yang menghantam barisan pasukan loyalis, menyebabkan banyak prajurit terpental dan jatuh tak bernyawa. Para makhluk gaib yang setia kepada kerajaan pun terlihat kesulitan menghadapi kekuatan gelap ini.
Langit di atas medan perang mulai menghitam, tertutup awan tebal yang menandakan kemarahan alam. Angin dingin berhembus kencang, membawa aroma darah dan belerang yang menebal seiring dengan intensitas pertempuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya terus melancarkan serangan brutal, sementara makhluk gaib dari kedua pihak saling bertarung tanpa ampun.Di tengah kekacauan, Raka masih mencoba mengatur napasnya setelah menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Namun, energinya hampir habis, dan ia merasa dirinya tidak lagi mampu melawan jika serangan baru datang. Dyah Sulastri berdiri di sampingnya, mata hijaunya penuh dengan kekhawatiran."Kau harus istirahat," bisik Dyah pelan. "Kekuatanmu sudah mencapai batasnya."Raka menggeleng lemah. "Aku tidak bisa berhenti sekarang. Jika aku berhenti, kita semua akan mati."Sebelum mereka sempat melanjutkan percakapan, sebuah suara raungan keras memenuhi udara. Sebuah Genderuwo raksasa muncul dari
Pertempuran di luar istana telah berubah menjadi badai kehancuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya yang dipersenjatai dengan senjata mistis dan sihir hitam terus menggempur pertahanan kerajaan. Makhluk-makhluk gaib seperti Banaspati, Buto Ijo, dan Genderuwo juga turut berperang, masing-masing memilih pihak mereka. Di tengah kekacauan itu, Raka berdiri di garis depan, masih mencoba memahami situasi yang semakin tak terkendali. Angin malam membawa aroma belerang yang menusuk, sementara cahaya bulan redup tertutup awan kelabu. Suara gema tombak dan pedang bergesekan dengan energi spiritual memenuhi udara. Raka merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dalam beberapa hari terakhir, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh terjadi padanya. Sejak ritual gaib yang dipimpin Dyah Sulastri di bab sebelumnya, ia merasakan aliran energi aneh di dalam dirinya—seperti gelombang panas yang melingkupi seluruh tubuhnya. Awalnya, ia mengabaikannya sebagai efek sam