All Chapters of Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir: Chapter 101 - Chapter 110

216 Chapters

BAB 100: RAHASIA KELAM KERAJAAN

Malam itu, udara di istana Gilingwesi terasa lebih dingin dari biasanya. Raka berjalan menyusuri lorong-lorong bawah tanah yang lembap dan gelap, hanya ditemani cahaya lilin kecil yang ia pegang erat-erat. Rakai Wisesa telah memberinya izin untuk menelusuri ruang bawah tanah istana setelah mendengar laporan bahwa ada dokumen kuno yang belum pernah dibuka sejak berabad-abad lalu. Raka merasa ada sesuatu yang penting tersembunyi di sini—sesuatu yang mungkin bisa menjawab banyak pertanyaan tentang kerajaan ini.Langkahnya berderap pelan di atas lantai batu yang basah oleh lumut. Suara tetesan air terdengar samar-samar dari sudut ruangan, menciptakan atmosfer mistis yang membuat bulu kuduknya merinding. Di ujung lorong, ia menemukan sebuah pintu kayu tua yang tertutup rapat, dengan ukiran simbol-simbol aneh yang tampak seperti mantra kuno. Raka menghela napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu itu perlahan.Di dalam ruangan, ia menemukan rak-rak penuh gulungan lontar kuno, patung-patung kec
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

BAB 101: BANASPATI MEMBERIKAN PERINGATAN

Malam itu, suasana di istana Gilingwesi terasa lebih berat dari biasanya. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun, sementara angin malam berdesir pelan, seolah-olah membawa pesan dari dunia lain. Para prajurit berjaga dengan tegang, mata mereka waspada terhadap setiap gerakan mencurigakan. Namun, tidak ada yang menyangka bahwa malam ini akan menjadi momen penting dalam sejarah kerajaan.Tiba-tiba, cahaya merah menyala muncul di halaman utama istana. Api yang aneh itu melingkar-lingkar, membentuk sosok besar yang bersinar seperti matahari terbenam. Itu adalah Banaspati, roh api pelindung kerajaan, yang jarang muncul kecuali dalam situasi mendesak. Sosoknya yang megah dan misterius memancarkan aura kekuatan gaib yang membuat semua orang yang melihatnya gemetar takut.Para penduduk istana berlutut hormat, termasuk Rakai Wisesa dan para pemimpin spiritual. Raka, Dyah Sulastri, Arya Kertajaya, dan beberapa tokoh penting lainnya berkumpul di halaman utama, men
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

BAB 102: DYAH SULASTRI MENGUNGKAP RAHASIA BARU

Malam itu, suasana di istana Gilingwesi terasa lebih berat dari biasanya. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun, sementara angin malam berdesir pelan, seolah-olah membawa pesan dari dunia lain. Setelah peringatan Banaspati tentang ancaman besar yang mendekat, ketegangan di istana semakin memuncak. Para prajurit berjaga dengan waspada, sementara para pemimpin kerajaan berkumpul untuk merencanakan langkah selanjutnya.Namun, di tengah kekacauan tersebut, Dyah Sulastri meminta Raka untuk bertemu dengannya di tepi sungai suci. Tempat itu adalah salah satu lokasi paling sakral di kerajaan, tempat Naga Niskala—penjaga sungai suci—sering muncul dalam legenda. Raka mengikuti Dyah dengan rasa penasaran, meskipun ia tahu bahwa sesuatu yang penting akan terungkap malam ini.Saat mereka tiba di tepi sungai, cahaya bulan memantul di permukaan air yang tenang, menciptakan atmosfer magis yang mendalam. Suara gemericik air dan desiran angin menambah nuansa mistis yang
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

BAB 103: PENYIHIR GELAP KEMBALI

Malam itu, langit di atas Kerajaan Gilingwesi tampak gelap dan tertutup awan kelabu yang tebal. Tidak ada bintang yang bersinar, hanya petir sesekali menyambar jauh di cakrawala, menciptakan kilatan cahaya yang menerangi bayangan-bayangan di hutan lebat sekitar kerajaan. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun, sementara angin malam berdesir pelan, seolah-olah membawa pesan dari dunia lain. Suasana di istana semakin tegang setelah peringatan Banaspati dan pengungkapan rahasia Dyah Sulastri. Namun, ancaman baru datang lebih cepat dari yang diperkirakan.Di tepi hutan, sebuah portal hitam muncul secara tiba-tiba, mengeluarkan asap pekat yang berputar-putar seperti pusaran angin. Dari dalam portal itu, sosok penyihir gelap yang pernah dikalahkan Raka muncul kembali—tetapi kali ini ia terlihat lebih kuat, lebih menyeramkan. Tubuhnya diliputi oleh kabut hitam yang berdenyut seperti denyut nadi, matanya menyala merah menyala penuh kebencian, dan suaranya berge
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

BAB 104: PERSIAPAN PERTEMPURAN BARU

Pagi itu, suasana di istana Gilingwesi dipenuhi dengan ketegangan yang terasa hingga ke sudut-sudut terjauh. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun, sementara angin pagi berdesir pelan, seolah-olah membawa bisikan dari dunia gaib. Setelah kemunculan penyihir gelap yang mengancam kerajaan, Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya berkumpul di ruang perang untuk mempersiapkan strategi melawan ancaman besar ini.Raka duduk di ujung meja, matanya penuh tekad saat ia menatap peta besar Kerajaan Gilingwesi yang terbentang di depannya. "Kita tidak punya banyak waktu," katanya dengan nada serius. "Penyihir gelap itu sudah memiliki kekuatan baru, dan pasukan bayangan Ki Jagabaya pasti akan menyerang lebih agresif."Dyah Sulastri berdiri di sampingnya, wajahnya penuh keteguhan meskipun matanya menunjukkan rasa khawatir. "Kita harus menggunakan semua sumber daya yang kita miliki. Tidak hanya kekuatan manusia, tetapi juga bantuan dari makhluk gaib."Arya Kertajaya m
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

BAB 105: KONFRONTASI AWAL

Malam itu, suasana di desa-desa pinggiran Kerajaan Gilingwesi tiba-tiba berubah menjadi kekacauan. Pasukan bayangan Ki Jagabaya muncul tanpa peringatan, membawa teror dan kehancuran. Mereka menyerang dengan cepat, membakar rumah-rumah penduduk, merampas persediaan makanan, dan menciptakan kepanikan yang meluas. Udara malam dipenuhi oleh jeritan ketakutan, aroma asap yang menyengat, dan suara pedang yang beradu. Angin malam berdesir kencang, membawa bisikan gaib yang seolah-olah mencoba memberi peringatan kepada mereka yang masih tersadar.Raka, yang sedang memimpin pasukan loyalis untuk menjaga wilayah tersebut, segera menyadari bahwa serangan ini bukan sekadar aksi sporadis—ini adalah bagian dari strategi besar untuk melemahkan pertahanan kerajaan. Ia mengumpulkan para prajuritnya di tengah desa yang kini penuh api dan kehancuran."Kita tidak bisa mundur!" teriak Raka, suaranya penuh tekad meskipun wajahnya tertutup jelaga dari kobaran api. "Jika kita kehilangan desa-desa ini, maka pi
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

BAB 106: SEJARAH TERSEMBUNYI

Di tengah malam yang sunyi, Raka duduk di ruang bawah tanah istana, dikelilingi oleh gulungan-gulungan naskah kuno yang berdebu. Cahaya lilin yang redup memantul pada wajahnya yang penuh rasa penasaran, sementara angin malam berdesir pelan melalui celah-celah dinding, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun. Suara gemericik air dari sungai suci di kejauhan terdengar samar-samar, seolah-olah alam itu sendiri sedang menyaksikan momen penting ini.Sejak pertempuran melawan pasukan bayangan Ki Jagabaya, ia merasa ada sesuatu yang lebih besar—sebuah rahasia yang belum terungkap sepenuhnya tentang lenyapnya Kerajaan Gilingwesi. Tangannya bergetar saat ia membuka salah satu gulungan tua yang hampir rapuh. Tinta hitam yang memudar masih menyisakan jejak-jejak tulisan kuno dalam aksara Jawa kuno. Matanya menyipit untuk membaca dengan lebih jelas. Saat ia mulai memahami isi dokumen itu, ekspresinya berubah dari rasa ingin tahu menjadi keheranan mendalam."Gilingwesi tidak hany
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

BAB 107: KONFLIK BATIN RAKA

Malam itu, Raka duduk sendirian di tepi sungai suci, tempat di mana Naga Niskala sering muncul. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun, sementara angin malam berdesir pelan, seolah-olah mencoba memberi jawaban atas pertanyaannya yang tak terucap. Cahaya bulan pucat memantul di permukaan air yang tenang, menciptakan bayangan-bayangan halus yang terlihat seperti wajah-wajah dari masa lalu.Raka menundukkan kepala, tangannya memegang erat cermin perunggu yang telah membawanya ke masa ini. Ia merasa terjebak antara dua dunia: masa depan yang ia tinggalkan—dunia modern dengan teknologi canggih, logika, dan pengetahuan ilmiah—dan masa lalu yang kini menjadi tanggung jawabnya. Dunia Gilingwesi yang penuh mistis, ritual gaib, dan makhluk mitologi membuatnya merasa seperti seorang asing yang dipaksa untuk mengambil peran penting dalam konflik besar."Apa aku benar-benar bisa mengubah takdir kerajaan ini?" gumam Raka pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam gemeris
last updateLast Updated : 2025-03-04
Read more

BAB 108: HUBUNGAN RAKA-DYAH SULASTRI MEMANAS

Pagi itu, suasana di istana terasa berbeda. Udara segar membawa aroma bunga kenanga yang mekar di taman kerajaan, tetapi ketegangan tampak jelas di wajah para penghuni istana. Dyah Sulastri duduk di tepi kolam suci di halaman belakang istana, tangannya menyentuh permukaan air yang tenang. Wajahnya murung, matanya penuh dengan kekhawatiran. Ia merasa beban takdir semakin berat, terutama setelah mengetahui bahwa hubungannya dengan Raka mulai mendapat sorotan dari banyak pihak.Raka muncul dari balik pintu kayu ukir, langkahnya ragu-ragu saat melihat Dyah duduk sendirian. Ia ingin mendekat, tetapi sesuatu dalam dirinya membuatnya berhenti sejenak. Ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Dyah—dan ia khawatir itu adalah dirinya."Dyah," panggilnya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam gemericik air kolam.Dyah menoleh, wajahnya mencoba tersenyum meskipun rautnya masih penuh kecemasan. "Raka... aku tahu kau pasti akan datang."Raka duduk di sampingnya, matanya mencari ja
last updateLast Updated : 2025-03-04
Read more

BAB 109: ARYA KERTAJAYA MENYELIDIKI

Malam itu, angin dingin berhembus pelan melewati lorong-lorong istana Gilingwesi. Di bawah cahaya lampu minyak yang redup, Arya Kertajaya melangkah dengan langkah tertutup, hatinya penuh kecurigaan dan ketegangan. Sejak peringatan dari Banaspati beberapa hari lalu, ia tidak bisa mengenyahkan firasat buruk tentang Ki Jagabaya—pemimpin pasukan bayangan yang selama ini dipercaya oleh Rakai Wisesa.Arya telah memperhatikan sesuatu yang mencurigakan. Beberapa kali ia melihat Ki Jagabaya berbicara diam-diam dengan para pengikutnya di sudut-sudut tersembunyi istana, atau bahkan meninggalkan wilayah kerajaan pada malam hari tanpa alasan yang jelas. Ada sesuatu yang tidak beres, dan Arya bertekad untuk menemukan jawabannya.Angin malam berdesir lebih kencang, membawa aroma belerang yang menusuk hidung. Suara gemericik air dari sungai suci terdengar samar-samar, seolah-olah alam itu sendiri sedang menanggapi ketegangan yang sedang terjadi.Arya menyelinap keluar dari istana menuju hutan lebat ya
last updateLast Updated : 2025-03-04
Read more
PREV
1
...
910111213
...
22
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status