Pagi itu, matahari terbit perlahan di balik pegunungan yang mengelilingi istana Gilingwesi. Cahayanya yang lembut menyapu reruntuhan pertempuran malam sebelumnya—lantai marmer yang ternoda darah, senjata-senjata yang berserakan, dan jejak-jejak kacau dari serangan pasukan bayangan Ki Jagabaya. Udara pagi masih membawa aroma belerang, sisa-sisa kehadiran makhluk gaib yang turut ambil bagian dalam konflik tersebut. Suara angin berdesir pelan melewati dedaunan, menciptakan atmosfer yang mencekam.Di ruang bawah tanah istana, Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya duduk dalam diam. Lilin-lilin kecil yang mereka nyalakan untuk penerangan mulai melemah, api mereka berkedip-kedip seperti nyala harapan yang hampir padam. Wajah mereka semua tampak lelah, tetapi ada keteguhan baru yang muncul di mata Arya Kertajaya."Aku sudah memutuskan," kata Arya dengan suara tegas, memecah keheningan. "Aku akan mendukungmu sepenuhnya, Raka."Raka menatap Arya dengan ekspresi terkejut. Ia tahu betapa sulitny
Last Updated : 2025-03-05 Read more