All Chapters of Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir: Chapter 111 - Chapter 120

216 Chapters

BAB 110: RITUAL GAIB BARU

Matahari mulai tenggelam di balik pegunungan, memancarkan cahaya jingga yang lembut namun misterius. Udara di istana terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah alam sedang menahan napas. Di ruang singgasana, Rakai Wisesa duduk dengan wajah muram, sementara para penasehat dan panglima perang berkumpul dalam suasana tegang.Tiba-tiba, pintu besar ruang singgasana terbuka dengan suara berderit pelan. Semua mata tertuju pada sosok tua yang melangkah masuk—Resi Agung Darmaja. Ia tampak lebih rapuh daripada biasanya, tetapi matanya bersinar dengan kekuatan spiritual yang luar biasa. Jubah putihnya bergoyang lembut, seakan angin gaib mengiringi setiap langkahnya."Yang Mulia," kata Resi Agung Darmaja dengan suara rendah namun penuh otoritas. "Aku membawa kabar penting yang tidak bisa ditunda lagi."Rakai Wisesa menegakkan tubuhnya, matanya menyipit. "Apa yang kau maksud, Resi?"Resi Agung Darmaja maju beberapa langkah, lalu berhenti di depan takhta. "Kita membutuhkan perlindungan lebih kua
last updateLast Updated : 2025-03-04
Read more

BAB 111: NAGA NISKALA MEMBERIKAN JAWABAN

Matahari mulai tenggelam di balik pepohonan rindang, memancarkan cahaya jingga yang lembut namun misterius. Udara di sekitar sungai suci terasa lebih dingin dari biasanya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun. Raka dan Dyah Sulastri melangkah perlahan menuju tepi sungai, di mana airnya mengalir dengan tenang, memantulkan kilauan sinar matahari yang tersisa.Dyah tampak tegang, tangannya erat menggenggam selendangnya. "Aku tidak tahu apakah kita akan mendapatkan jawaban yang kita cari," katanya pelan, suaranya penuh keraguan.Raka menatapnya dengan ekspresi tenang, meskipun matanya menyiratkan kecemasan. "Kita harus mencoba, Dyah. Naga Niskala adalah satu-satunya yang bisa memberikan petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kerajaan ini."Angin malam berdesir pelan, membawa bisikan gaib yang samar-samar. Suara gemericik air dari sungai suci terdengar seperti lagu kuno, seolah-olah alam itu sendiri sedang menunggu pertemuan mereka dengan Naga Niskala. Aroma
last updateLast Updated : 2025-03-04
Read more

BAB 112: SERANGAN DI MALAM HARI

Malam itu, langit di atas istana Gilingwesi terlihat gelap tanpa bintang. Hanya suara angin yang berbisik lembut melewati dedaunan dan gemericik air dari sungai suci yang memecah keheningan. Namun, ada sesuatu yang menggelisahkan dalam udara—seolah-olah alam sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang besar akan terjadi. Aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berembun menambah nuansa mistis yang mendalam.Raka sedang duduk di dekat jendela kamarnya, matanya tertuju pada cermin perunggu kuno yang ia temukan di gua. Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tentang takdir, masa lalu, dan bagaimana ia bisa menjadi bagian dari sejarah kerajaan ini. Ia merasa seperti ada dua dunia yang saling tarik-menarik—masa depan yang ia tinggalkan dan masa lalu yang kini menjadi tanggung jawabnya.Namun, ketenangan malam itu tiba-tiba pecah oleh jeritan keras dari halaman istana."Serangan! Pasukan bayangan menyerang!" teriak salah satu prajurit penjaga istana dengan nada panik.Suara logam ber
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

BAB 113: ARYA KERTAJAYA MENGAMBIL KEPUTUSAN

Pagi itu, matahari terbit perlahan di balik pegunungan yang mengelilingi istana Gilingwesi. Cahayanya yang lembut menyapu reruntuhan pertempuran malam sebelumnya—lantai marmer yang ternoda darah, senjata-senjata yang berserakan, dan jejak-jejak kacau dari serangan pasukan bayangan Ki Jagabaya. Udara pagi masih membawa aroma belerang, sisa-sisa kehadiran makhluk gaib yang turut ambil bagian dalam konflik tersebut. Suara angin berdesir pelan melewati dedaunan, menciptakan atmosfer yang mencekam.Di ruang bawah tanah istana, Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya duduk dalam diam. Lilin-lilin kecil yang mereka nyalakan untuk penerangan mulai melemah, api mereka berkedip-kedip seperti nyala harapan yang hampir padam. Wajah mereka semua tampak lelah, tetapi ada keteguhan baru yang muncul di mata Arya Kertajaya."Aku sudah memutuskan," kata Arya dengan suara tegas, memecah keheningan. "Aku akan mendukungmu sepenuhnya, Raka."Raka menatap Arya dengan ekspresi terkejut. Ia tahu betapa sulitny
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

BAB 114: KI JAGABAYA MENYUSUN RENCANA BESAR

Malam itu, hutan lebat yang mengelilingi istana Gilingwesi tampak lebih gelap dari biasanya. Di bawah naungan pepohonan raksasa, api unggun kecil berkedip-kedip, memancarkan cahaya redup yang hanya cukup untuk menerangi wajah-wajah dingin para prajurit bayangan. Udara malam dipenuhi aroma belerang dan desiran angin yang membawa bisikan-bisikan tak terdengar oleh telinga manusia biasa.Ki Jagabaya duduk di atas batu besar, matanya menyipit saat ia menatap peta kuno yang terbentang di pangkuannya. Peta itu bukan sekadar gambaran wilayah kerajaan—ia adalah cetak biru untuk membuka portal waktu permanen. Tangannya meraba permukaan peta dengan hati-hati, seolah-olah mencoba merasakan energi gaib yang tersimpan di dalamnya."Kita sudah berhasil mencuri artefak pertama," kata Ki Jagabaya dengan suara rendah, tetapi tajam seperti mata pedang. "Tapi ini baru permulaan."Penyihir gelap tertawa pelan, suaranya bergema seperti gema di gua kosong. "Dan apa rencanamu selanjutnya, tuanku? Apakah kita
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

BAB 115: HILANGNYA ARTEFAK

Malam itu, angin berdesir lebih kencang dari biasanya di sekitar istana Gilingwesi. Pepohonan bergoyang liar, dedaunan berjatuhan, dan suara gemuruh terdengar dari kejauhan, seolah-olah alam sedang memperingatkan akan datangnya bahaya besar. Udara malam dipenuhi aroma belerang yang menusuk hidung, menciptakan atmosfer yang mencekam. Di dalam istana, suasana tegang menyelimuti setiap sudut. Api lilin-lilin kecil yang menerangi ruangan mulai melemah, api mereka berkedip-kedip seperti nyala harapan yang hampir padam.Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya berkumpul di ruang strategi, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Beberapa saat lalu, Ki Jagabaya dan pasukan bayangannya berhasil menembus pertahanan istana, mencuri artefak penting yang diyakini sebagai kunci untuk membuka portal waktu permanen. Artefak itu adalah sebuah kristal biru keperakan yang telah disimpan di ruang bawah tanah istana selama ratusan tahun, dijaga oleh mantra-mantra gaib yang kuat."Bagaimana ini bisa ter
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

BAB 116: MENCARI ARTEFAK YANG DICURI

Pagi itu, udara di sekitar istana Gilingwesi terasa lebih berat dari biasanya. Awan kelabu menutupi langit, dan angin dingin berdesir pelan melewati reruntuhan bekas serangan pasukan bayangan malam sebelumnya. Raka memimpin tim kecil yang terdiri dari Arya Kertajaya, Dyah Sulastri, dan beberapa prajurit pilihan untuk menyelidiki lokasi pencurian artefak penting oleh Ki Jagabaya.Di ruang bawah tanah istana, tempat artefak disimpan selama ratusan tahun, suasana masih dipenuhi aura gaib yang tidak nyaman. Lilin-lilin kecil yang mereka nyalakan untuk penerangan mulai berkedip-kedip, api mereka bergetar seperti merespons energi negatif yang tersisa di sana. Lantai marmer yang rusak akibat pertempuran malam sebelumnya dipenuhi jejak-jejak aneh—seperti bekas cakaran tangan besar yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa."Ada sesuatu yang tidak wajar di sini," gumam Raka pelan, tangannya menyentuh lantai marmer yang retak. Ia bisa merasakan getaran halus yang mengalir melalui permukaan
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

BAB 117: ARYA KERTAJAYA MENYUSUP

Malam itu, langit tertutup awan kelabu yang tebal, memadamkan cahaya bulan dan bintang. Hutan di sekitar istana terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya sesekali terdengar suara angin berdesir di antara dedaunan kering. Udara dingin membawa aroma belerang yang menusuk hidung, menciptakan atmosfer mencekam yang membuat setiap langkah terasa lebih berat. Arya Kertajaya bergerak diam-diam melewati pepohonan lebat, tubuhnya tertutup jubah hitam untuk menyamarkan keberadaannya. Ia tahu bahwa misi ini adalah salah satu yang paling berbahaya dalam hidupnya—tetapi ia juga tahu bahwa informasi tentang rencana Ki Jagabaya bisa menjadi kunci untuk menyelamatkan kerajaan.Setelah meninggalkan tim Raka dan Dyah Sulastri, Arya memutuskan untuk bertindak sendiri. Ia tidak ingin membahayakan orang lain, terutama Dyah Sulastri, yang masih menjadi target utama Ki Jagabaya. Dengan pedangnya tersembunyi di balik jubah, ia melangkah menuju lokasi markas pasukan bayangan yang telah ia selidiki sebelumnya.Ma
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

BAB 118: DYAH SULASTRI MENGHADAPI KETAKUTAN

Malam itu, angin dingin berdesir pelan melewati halaman istana. Di bawah cahaya rembulan yang redup, Dyah Sulastri duduk sendirian di tepi kolam suci, airnya yang tenang memantulkan bayangan wajahnya yang penuh kegelisahan. Ia memandangi permukaan air dengan tatapan kosong, seolah-olah mencoba menemukan jawaban dari kedalaman kolam itu. Hatinya dipenuhi oleh ketakutan yang tak terungkapkan—ketakutan bahwa ia adalah penyebab utama lenyapnya kerajaan Gilingwesi.Sejak Naga Niskala memberikan petunjuk tentang siklus alam yang tidak bisa dihindari, Dyah merasa beban itu semakin berat. Ia tahu bahwa dirinya adalah calon ratu suci yang harus dikorbankan dalam ritual untuk menjaga kestabilan kerajaan. Namun, ada sesuatu yang lebih dalam—sebuah rahasia besar yang selama ini ia simpan di dalam hati. Ia mulai menyadari bahwa keberadaannya mungkin bukan hanya bagian dari ritual, tetapi juga bagian dari rencana Ki Jagabaya untuk membuka portal waktu permanen.Angin malam membawa aroma belerang yan
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

BAB 119: RESI AGUNG DARMAJA MEMBERIKAN PETUNJUK

Matahari pagi belum sepenuhnya terbit ketika Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya tiba di kaki gunung suci. Udara dingin menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan rerumputan yang masih berembun. Kabut tebal menyelimuti puncak gunung, menciptakan ilusi bahwa mereka sedang memasuki dunia lain—sebuah tempat antara nyata dan gaib.Raka menatap ke arah lereng gunung yang tertutup kabut, merasakan getaran aneh di udara. Ia tidak bisa mengabaikan firasat bahwa sesuatu yang besar menanti di sana. Dyah berjalan di sampingnya dengan langkah pelan namun teguh, matanya tampak waspada sekaligus penuh harapan. Arya Kertajaya mengikuti di belakang, tangannya selalu siap di gagang pedangnya."Kita sudah dekat," kata Dyah pelan, suaranya hampir tersapu angin pagi. "Resi Agung Darmaja biasanya tinggal di sebuah padepokan di balik air terjun suci."Raka mengangguk, tetapi pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Apakah Resi Agung Darmaja benar-benar akan membantu mereka? A
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more
PREV
1
...
1011121314
...
22
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status