Semua Bab Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir: Bab 121 - Bab 130

216 Bab

BAB 120: PERJALANAN KE KUIL TERSEMBUNYI

Matahari pagi mulai memuncak ketika Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya memulai perjalanan mereka menuju kuil tersembunyi di gunung suci. Udara pegunungan yang dingin menyelimuti tubuh mereka, membawa aroma tanah basah dan rerumputan hijau yang masih berembun. Jalan setapak yang mereka lalui semakin sempit dan curam, dikelilingi oleh pepohonan rimbun yang seolah-olah menjaga rahasia alam.Raka melangkah dengan hati-hati, matanya terus mengamati sekeliling. Ia merasakan getaran aneh di udara—energi spiritual yang kuat, seperti bisikan gaib yang tak terdengar oleh telinga manusia biasa. Dyah berjalan di sampingnya dengan langkah teguh, namun wajahnya tampak penuh kekhawatiran. Arya Kertajaya mengikuti di belakang, tangannya selalu siap di gagang pedangnya."Kuil ini adalah tempat suci bagi para leluhur kerajaan," kata Dyah pelan, suaranya hampir tersapu angin pegunungan. "Hanya sedikit orang yang pernah sampai di sana. Bahkan prajurit pun enggan mendekat karena legenda tentang Gender
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-06
Baca selengkapnya

BAB 121: HUBUNGAN RAKA-DYAH SULASTRI MEMBAIK

Setelah meninggalkan kuil tersembunyi, Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak gunung suci. Jalan yang mereka tempuh semakin curam dan berbahaya, dengan tebing-tebing tinggi di satu sisi dan jurang dalam di sisi lainnya. Kabut tebal menyelimuti jalur setapak, membuat pandangan mereka terbatas hanya pada beberapa langkah ke depan.Udara dingin membawa aroma tanah basah dan rerumputan hijau yang masih berembun, menciptakan atmosfer yang damai namun menegangkan. Di sepanjang jalan, suara alam—gemerisik daun, desiran angin, dan gemericik air dari sungai kecil di bawah tebing—mengiringi langkah mereka. Namun, di balik ketenangan itu, ada getaran aneh yang mengalir di udara, seolah-olah alam sedang memperingatkan akan bahaya besar yang mendekat.Raka berjalan di depan, matanya terus mengamati sekeliling dengan waspada. Ia merasakan beban berat di pundaknya—bukan hanya karena artefak penting yang harus mereka selamatkan, tetapi juga karena hubungann
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-06
Baca selengkapnya

BAB 122: ARYA KERTAJAYA MENGUNGKAP RAHASIA KELUARGANYA

Setelah meninggalkan tempat peristirahatan di dataran kecil, Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak gunung suci. Jalan setapak yang mereka lalui semakin curam dan berbahaya, dengan tebing-tebing tinggi di satu sisi dan jurang dalam di sisi lainnya. Kabut tebal menyelimuti jalur mereka, menciptakan atmosfer misterius yang memperkuat ketegangan dalam hati masing-masing tokoh.Angin dingin berhembus kencang, membawa aroma tanah basah dan rerumputan hijau yang masih berembun. Suara alam—gemerisik daun, desiran angin, dan gemericik air dari sungai kecil di bawah tebing—mengiringi langkah mereka. Namun, di balik ketenangan itu, ada getaran aneh yang mengalir di udara, seolah-olah alam sedang memperingatkan akan bahaya besar yang mendekat.Raka berjalan di depan, matanya terus mengamati sekeliling dengan waspada. Ia merasakan beban berat di pundaknya—bukan hanya karena artefak penting yang harus mereka selamatkan, tetapi juga karena hubungan rumit
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

BAB 123: PENYIHIR GELAP MENGIRIM ANCAMAN

Setelah pengungkapan rahasia Arya Kertajaya di dataran kecil, perjalanan menuju puncak gunung suci terasa lebih berat. Udara dingin semakin menusuk tulang, kabut tebal menyelimuti jalur setapak, dan angin malam membawa aroma belerang yang samar. Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya melanjutkan perjalanan mereka dengan hati-hati, namun ketegangan di antara mereka mulai terasa lebih nyata.Di tengah perjalanan, langit malam semakin gelap, tanpa secercah cahaya bulan yang menerangi jalan mereka. Hanya suara alam yang menemani—gemerisik daun, desiran angin, dan gemericik air dari sungai kecil di bawah tebing. Namun, ada sesuatu yang aneh dalam suasana itu, seolah-olah alam sedang memperingatkan akan bahaya besar yang mendekat.Raka merasakan beban berat di pundaknya, bukan hanya karena artefak penting yang harus mereka selamatkan, tetapi juga karena hubungan rumit antara dirinya, Dyah, dan Arya. Ia tahu bahwa waktu mereka semakin sempit, dan setiap langkah yang mereka ambil bisa menjadi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

BAB 124: RITUAL GAIB UNTUK MELINDUNGI KERAJAAN

Setelah perjalanan panjang dan penuh ketegangan menuju puncak gunung suci, Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya tiba di kuil kuno yang tersembunyi di balik pepohonan rimbun. Kuil ini tampak megah namun misterius, dengan dinding-dindingnya yang ditumbuhi lumut hijau tua dan ukiran-ukiran relief kuno yang menggambarkan cerita-cerita gaib dari masa lalu.Dyah Sulastri, sebagai putri kerajaan yang memiliki hubungan mendalam dengan dunia spiritual, memimpin persiapan ritual. Ia berdiri di tengah halaman kuil, di bawah sinar bulan purnama yang temaram, dengan wajah penuh tekad. Di sekitarnya, para pendeta kerajaan mulai menyalakan api unggun kecil dalam lingkaran, menciptakan pola simbolis yang melambangkan perlindungan bagi kerajaan.Raka dan Arya Kertajaya berdiri agak jauh, mengamati prosesi dengan campuran rasa hormat dan ketegangan. Udara dingin malam itu membawa aroma kayu bakar, rempah-rempah, dan sedikit belerang yang samar, menciptakan atmosfer mistis yang sulit dilupakan."Kita
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

BAB 125: LOKASI KI JAGABAYA TERUNGKAP

Setelah ritual gaib yang memperkuat pertahanan kerajaan, Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya melanjutkan perjalanan mereka menuju lokasi markas Ki Jagabaya. Informasi tentang keberadaannya diperoleh dari Genderuwo di kuil suci—sebuah gua tersembunyi di puncak pegunungan yang dikelilingi hutan lebat dan kabut tebal.Perjalanan kali ini lebih sulit daripada sebelumnya. Jalur setapak semakin curam, dengan tebing tinggi di satu sisi dan jurang dalam di sisi lainnya. Kabut tebal menyelimuti jalur mereka, menciptakan atmosfer misterius yang memperkuat ketegangan dalam hati masing-masing tokoh. Angin dingin berhembus kencang, membawa aroma belerang yang samar, seolah-olah alam sedang memberikan peringatan akan bahaya besar yang mendekat.Raka memimpin tim kecil ini, matanya terus mengamati sekeliling dengan waspada. Ia merasakan beban berat di pundaknya—bukan hanya karena artefak penting yang harus mereka selamatkan, tetapi juga karena hubungan rumit antara dirinya, Dyah, dan Arya. Di bel
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

BAB 126: PENYUSUPAN KE MARKAS KI JAGABAYA

Setelah menemukan lokasi markas Ki Jagabaya di gua tersembunyi, Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk menyusup tanpa terdeteksi. Mereka memutuskan untuk mencari bantuan dari salah satu makhluk mitologi yang paling kuat di sekitar wilayah tersebut—Buto Ijo, penjaga candi kuno yang dikenal sebagai pelindung kerajaan.Mereka menemui Buto Ijo di dekat sungai suci yang mengalir di kaki gunung. Makhluk raksasa itu tampak mengerikan dengan tubuhnya yang besar berwarna hijau kebiruan dan mata merah menyala. Namun, meskipun wujudnya menyeramkan, Buto Ijo memiliki sisi bijaksana yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang memiliki niat tulus."Buto Ijo," kata Dyah dengan hormat, "kami membutuhkan bantuanmu. Ki Jagabaya sedang mempersiapkan ritual besar untuk membuka portal ke dunia gaib. Jika ia berhasil, seluruh kerajaan akan hancur."Buto Ijo mendengus keras, suaranya seperti guntur yang bergema di udara. "Ki Jagabaya telah melanggar kesepakatan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

BAB 127: PENGKHIANATAN ARYA KERTAJAYA

Setelah pertempuran sengit melawan prajurit bayangan, Raka dan Dyah Sulastri akhirnya berhasil mendekati altar batu tempat artefak cermin perunggu kuno ditempatkan. Api kecil yang mengelilingi altar menciptakan penghalang energi spiritual yang sulit ditembus. Namun, mereka tahu bahwa mereka tidak punya banyak waktu—Ki Jagabaya terus mengucapkan mantra-mantra kuno, semakin dekat dengan pembukaan portal ke dunia gaib.Arya Kertajaya, yang sebelumnya berperan sebagai pelindung tim ini, tampak berdiri agak jauh dari altar. Wajahnya dipenuhi oleh ekspresi konflik internal yang dalam. Matanya tertuju pada artefak itu dengan intensitas yang tak pernah ditunjukkannya sebelumnya. Tangannya erat memegang pedangnya, tetapi bukan untuk bertarung—melainkan seperti ia sedang merencanakan sesuatu."Kita harus cepat!" teriak Dyah, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh mantra Ki Jagabaya. "Raka, kau bisa melewati penghalang ini!"Raka mengangguk, matanya tertuju pada artefak. Ia mulai merasakan getara
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya

BAB 128: PERTEMPURAN DI MARKAS

Saat Arya Kertajaya terus mencoba menguasai artefak, energi spiritual yang dipancarkan oleh cermin perunggu kuno semakin tidak terkendali. Cahaya menyilaukan memenuhi ruangan, dan angin kencang mulai berhembus liar, membawa aroma belerang yang menusuk hidung. Suara gemuruh mantra-mantra kuno bergema di seluruh gua, menciptakan getaran aneh yang dirasakan oleh setiap orang.Ki Jagabaya, yang sebelumnya sibuk dengan ritualnya sendiri, akhirnya sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi. Ia berbalik dengan cepat, matanya yang tajam menembus kegelapan."Kau bodoh, Arya!" teriak Ki Jagabaya dengan suara penuh kemarahan. "Kekuatan ini bukan untuk manusia biasa! Kau hanya akan menghancurkan dirimu dan semua orang di sini!"Namun, Arya tidak mendengarkannya. Ia terus mengucapkan mantra-mantra kuno, menciptakan ledakan energi yang semakin kuat. Raka dan Dyah Sulastri segera menyadari bahwa mereka harus bertindak cepat jika ingin mencegah bencana yang lebih besar."Arya, lepaskan artefak itu!"
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya

BAB 129: ARYA KERTAJAYA MENYESAL

Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang berguguran di sekitar reruntuhan gua tempat pertempuran besar baru saja berakhir. Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya duduk dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Tubuh Arya terbaring lemah di atas tanah dingin, darah segar masih merembes dari lukanya yang parah. Napasnya tersengal-sengal, tetapi matanya terbuka—penuh penyesalan.Raka berlutut di dekat Arya, wajahnya menunjukkan campuran antara kemarahan, kekecewaan, dan rasa iba. Di belakangnya, Dyah Sulastri berdiri dengan mata berkaca-kaca, tangannya erat memegang pedang yang masih bernoda darah prajurit bayangan. Suasana tegang, namun ada juga rasa haru yang mendalam."Arya," suara Raka akhirnya memecah keheningan, nadanya tajam namun terkendali. "Kenapa kau lakukan ini? Kita semua berjuang demi kerajaan, tapi kau... kau malah mencoba merebut artefak untuk dirimu sendiri."Arya menundukkan kepala, tak sanggup menatap mata Raka at
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
1112131415
...
22
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status