Lahat ng Kabanata ng Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir: Kabanata 41 - Kabanata 50

206 Kabanata

BAB 41: HUBUNGAN RAKA-DYAH SULASTRI MEMANAS

Setelah pengalaman meditasi yang mendalam di puncak Gunung Suci, rombongan mulai menuruni gunung. Udara yang sebelumnya dipenuhi energi gaib kini terasa lebih ringan, meskipun beban pikiran mereka masih berat. Kabut tipis mulai menyelimuti jalur mereka, menciptakan suasana misterius dan sedikit mencekam. Suara langkah kaki bergema di antara pepohonan, sementara angin dingin sesekali membawa bisikan halus yang sulit dimengerti.Raka dan Dyah Sulastri berjalan berdampingan di barisan depan, sementara para prajurit mengikuti di belakang dengan waspada. Raka masih mencoba memproses apa yang ia lihat dalam penglihatannya—pendiri kerajaan yang mirip dengannya, kegagalan spiritual, dan kutukan cinta antara dirinya dan Dyah. Ia merasakan beban tanggung jawab semakin berat di pundaknya. Di sisi lain, Dyah tampak cemas, matanya sering kali tertuju pada Raka seolah mencari jawaban atas ketakutannya."Kau baik-baik saja?" tanya Raka pelan, suaranya nyaris tersapu angin. Ia menatap Dyah dengan penu
last updateHuling Na-update : 2025-02-18
Magbasa pa

BAB 42: SERANGAN DI GUNUNG SUCI

Setelah momen emosional yang mendalam antara Raka dan Dyah, rombongan mulai melanjutkan perjalanan menuruni Gunung Suci. Kabut tebal masih menyelimuti jalur mereka, membuat pandangan terbatas hanya beberapa meter ke depan. Suara gemerisik dedaunan yang tidak disebabkan oleh angin menciptakan suasana mencekam bagi seluruh rombongan. Para prajurit tampak semakin waspada, tangan mereka erat memegang senjata, sementara mata mereka terus memindai sekitar untuk mencari tanda-tanda bahaya.Raka berjalan di samping Dyah, matanya sesekali tertuju pada bayangan hitam yang bergerak-gerak di pepohonan. Ia merasakan firasat aneh, seolah ada sesuatu yang mengamati mereka dari balik kabut. "Apa kau juga merasakannya?" bisiknya pelan kepada Dyah.Dyah mengangguk pelan, matanya penuh ketegangan. "Ada sesuatu yang tidak beres," katanya. "Seperti... kita sedang diikuti."Sebelum Raka bisa menjawab, salah satu prajurit di belakang mereka tiba-tiba berteriak keras, "Waspada! Ada gerakan di pepohonan!"Tida
last updateHuling Na-update : 2025-02-18
Magbasa pa

BAB 43: ARYA KERTAJAYA MENYELAMATKAN MEREKA

Setelah pertempuran sengit melawan pasukan bayangan, Raka, Dyah, dan para prajurit yang tersisa akhirnya berhasil mencapai dasar gunung. Namun, mereka masih dalam kondisi genting. Beberapa prajurit terluka parah, dan energi mereka hampir habis setelah berjam-jam bertarung. Suara gemerisik dedaunan yang tidak disebabkan angin menciptakan suasana mencekam bagi seluruh rombongan. Dyah tampak cemas, matanya terus memindai sekitar untuk memastikan tidak ada serangan lanjutan dari pasukan bayangan.Tiba-tiba, suara derap kuda terdengar dari kejauhan. Sebuah pasukan kecil muncul dari balik kabut, dipimpin oleh Arya Kertajaya. Wajah Arya penuh ketegangan, tetapi juga menunjukkan kelegaan saat ia melihat rombongan itu selamat. "Syukurlah kalian masih hidup!" katanya, suaranya keras namun penuh emosi.Raka mengangguk pelan, napasnya masih tersengal-sengal setelah pertempuran panjang. "Kami... kami berhasil melarikan diri," katanya, suaranya terdengar lemah. "Tapi beberapa prajurit terluka parah.
last updateHuling Na-update : 2025-02-19
Magbasa pa

BAB 44: KEMBALI KE ISTANA

Setelah diselamatkan oleh Arya Kertajaya dan pasukannya, rombongan akhirnya melanjutkan perjalanan kembali ke istana. Suasana di sepanjang jalan masih tegang, meskipun mereka telah meninggalkan medan pertempuran di Gunung Suci. Kabut tebal yang menyelimuti jalur mereka tampak semakin pekat, seolah mencerminkan ketegangan yang dirasakan setiap orang dalam rombongan. Suara gemerisik dedaunan yang tidak disebabkan angin menciptakan suasana mencekam bagi seluruh rombongan.Raka berjalan di samping Dyah Sulastri, matanya sesekali tertuju pada luka-luka yang diderita para prajurit. Ia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi, meskipun ia tahu bahwa serangan itu tidak bisa dihindari. "Kita hampir sampai," katanya pelan kepada Dyah, suaranya penuh rasa bersalah.Dyah menatapnya dengan mata penuh pengertian. "Ini bukan salahmu, Raka," katanya, suaranya lembut namun tegas. "Kita semua tahu risiko dari perjalanan ini. Yang penting adalah kita berhasil mendapatkan jawaban."Namun, ada sesuat
last updateHuling Na-update : 2025-02-19
Magbasa pa

BAB 45: RAKAI WISESA MENGAMBIL KEPUTUSAN

Ruang singgasana istana dipenuhi suasana tegang. Rakai Wisesa duduk di singgasananya, wajahnya penuh kerutan kekhawatiran dan rasa bersalah. Ia menatap Dyah Sulastri dengan mata berkaca-kaca, seolah berusaha mencari kekuatan untuk mengambil keputusan yang paling sulit dalam hidupnya. Para prajurit, Arya Kertajaya, Resi Agung Darmaja, dan Raka hadir di ruangan itu, masing-masing dengan ekspresi yang berbeda—ada yang marah, ada yang cemas, dan ada yang tampak pasrah."Kita tidak punya pilihan lain," kata Rakai Wisesa akhirnya, suaranya bergetar namun tegas. "Ritual korban harus dilakukan lebih cepat demi meredakan kemarahan roh-roh. Jika kita menunda lagi, seluruh kerajaan akan hancur."Dyah menundukkan kepala, matanya tertutup rapat untuk menahan air mata. Ia tahu bahwa ini adalah takdirnya sejak lahir, tetapi mendengar ayahnya mengatakannya begitu langsung membuat hatinya terasa hancur. "Aku siap, Ayah," katanya pelan, suaranya nyaris tak terdengar."Tidak!" bentak Raka, melangkah maju
last updateHuling Na-update : 2025-02-19
Magbasa pa

BAB 46: KI JAGABAYA MENYUSUN RENCANA

Malam itu, angin dingin berhembus melalui celah-celah gua tersembunyi di lereng gunung. Udara lembap bercampur dengan aroma tanah basah, sementara suara angin membawa bisikan-bisikan samar yang sulit dipahami. Di dalam gua kecil yang tersembunyi di balik semak belukar rapat, dua sosok bertemu dalam bayang-bayang gelap.Ki Jagabaya, pemimpin pasukan rahasia kerajaan, tampak tegang namun penuh percaya diri. Ia mengenakan jubah hitam panjang dengan bordir simbol matahari tenggelam di bagian dada—simbol rahasia dari kelompoknya. Wajahnya tertutup topeng perunggu yang memantulkan cahaya lilin kecil di dekatnya, memberikan kesan misterius sekaligus menakutkan.Di hadapannya berdiri Kyai Tundung Wesi, penyihir gelap yang dikirim oleh pasukan asing untuk membantu rencana Ki Jagabaya. Tubuhnya diselimuti kabut hitam pekat, dan tongkatnya yang berhiaskan tengkorak kecil di ujungnya mengeluarkan aura suram. Matanya merah menyala seperti bara api, mencerminkan ambisi dan haus kekuasaan."Kau yakin
last updateHuling Na-update : 2025-02-19
Magbasa pa

BAB 47: ARYA KERTAJAYA MULAI CURIGA

Malam semakin larut, dan istana Gilingwesi tampak tenang dari luar. Namun, di bawah tanah, Arya Kertajaya bergerak diam-diam melalui lorong-lorong sempit yang jarang diketahui orang lain. Udara lembap dan dingin menyelimuti ruang bawah tanah ini, sementara cahaya lampu minyak kecil di tangannya memantulkan bayangan panjang di dinding batu kasar.Sebagai panglima perang kerajaan, Arya memiliki akses ke seluruh sudut istana, termasuk ruang-ruang rahasia yang biasanya hanya digunakan oleh para pemimpin tertinggi. Namun, malam ini ia tidak sedang menjalankan tugas resmi. Ia tengah mengikuti firasat buruk yang terus menghantuinya sejak beberapa hari terakhir—firasat tentang pengkhianatan yang mungkin sudah merasuki istana.Setelah menemukan jejak-jejak mencurigakan di salah satu ruangan bawah tanah, Arya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia menemukan gulungan kertas tua dengan simbol-simbol aneh yang tidak dikenalnya, serta catatan singkat yang menyebutkan rencana untuk "m
last updateHuling Na-update : 2025-02-19
Magbasa pa

BAB 48: RITUAL KORBAN DIMULAI

Langit pagi di Kerajaan Gilingwesi tampak kelabu, seolah menangkap suasana muram yang menyelimuti seluruh istana. Udara dingin berhembus lembut, membawa aroma dupa dan bunga melati yang tersebar di alun-alun utama. Penduduk desa berbondong-bondong menuju tempat ritual, wajah mereka penuh dengan campuran ketakutan, harapan, dan keraguan.Raka berdiri di tepi kerumunan, matanya memandang altar batu besar yang telah dipersiapkan untuk ritual. Altar itu dikelilingi oleh patung-patung kuno yang menggambarkan roh-roh pelindung kerajaan, termasuk Banaspati dan Naga Niskala. Udara di sekitar altar terasa lebih dingin daripada biasanya, seolah-olah dunia gaib sedang mengamati dengan penuh ketegangan.Dyah Sulastri berjalan perlahan menuju altar, didampingi oleh para pendeta kerajaan yang mengenakan jubah putih panjang. Wajahnya tenang, namun matanya mencerminkan rasa takut yang mendalam. Ia tahu bahwa ini adalah takdirnya—tapi apakah ia benar-benar siap untuk menerimanya?Di sisi lain, Rakai Wi
last updateHuling Na-update : 2025-02-20
Magbasa pa

BAB 49: BANASPATI MARAH

Malam semakin larut, dan udara di Kerajaan Gilingwesi terasa semakin dingin. Namun, kegelapan malam itu tidak mampu menutupi cahaya api kecil yang mulai muncul di sekitar istana. Api-api tersebut bukan berasal dari lilin atau obor—mereka tiba-tiba menyala tanpa sumber yang jelas, membakar beberapa bangunan penting seperti gudang senjata, ruang arsip kuno, dan bahkan salah satu menara pengawas.Prajurit-prajurit kerajaan berlarian dengan panik, mencoba memadamkan api menggunakan air dari sungai suci. Namun, upaya mereka sia-sia. Api itu seolah memiliki kehidupan sendiri, menolak untuk padam meskipun disiram berkali-kali. Beberapa prajurit melihat bayangan merah menyala di antara nyala api, seolah-olah ada sosok gaib yang mengamati mereka dengan penuh kemarahan.Di tengah kekacauan, Arya Kertajaya berdiri di halaman utama istana, matanya tertuju pada api-api kecil yang membakar bangunan-bangunan penting. Ia tahu bahwa ini bukan kebakaran biasa—ini adalah pertanda kemarahan Banaspati, roh
last updateHuling Na-update : 2025-02-20
Magbasa pa

BAB 50: RAKA MELAWAN TAKDIR

Matahari mulai tenggelam, dan bayang-bayang panjang menutupi alun-alun istana. Udara dingin berhembus lembut, membawa aroma dupa dan bunga melati yang tersebar di sekitar altar batu besar. Api-api kecil yang ditinggalkan oleh Banaspati masih menyala di beberapa sudut istana, menciptakan suasana mencekam yang semakin tebal. Penduduk desa berkumpul di sekitar altar, wajah mereka penuh dengan campuran harapan dan ketakutan.Raka berdiri di tepi kerumunan, matanya memandang altar dengan penuh kemarahan. Ia tahu bahwa ritual korban ini adalah kesalahan besar—tapi bagaimana cara meyakinkan orang-orang yang sudah terlanjur percaya pada takhayul? Di sisi lain, Rakai Wisesa duduk di singgasana sementara, wajahnya tegang namun tetap teguh pada keputusannya.Dyah Sulastri berdiri di dekat altar, tubuhnya gemetar meskipun ia berusaha untuk tetap tenang. Matanya bertemu dengan mata Raka, dan dalam pandangan itu, ada pesan yang tidak perlu diucapkan: "Tolong aku."Angin dingin berhembus pelan, memba
last updateHuling Na-update : 2025-02-20
Magbasa pa
PREV
1
...
34567
...
21
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status