Lahat ng Kabanata ng Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir: Kabanata 51 - Kabanata 60

206 Kabanata

BAB 51: RESI AGUNG DARMAJA MENGGUNGKAP AGENDA TERSEMBUNYI

Malam semakin larut, dan udara di istana terasa semakin dingin. Api-api kecil yang ditinggalkan oleh Banaspati masih menyala di beberapa sudut istana, menciptakan suasana mencekam yang semakin tebal. Penduduk desa mulai membubarkan diri setelah ritual korban Dyah Sulastri ditunda sementara karena kemarahan Banaspati.Raka berdiri di halaman utama istana, matanya memandang altar batu besar dengan penuh kemarahan. Ia merasakan sensasi aneh di tubuhnya—seolah-olah ada kekuatan gaib yang mencoba masuk ke dalam dirinya. Cermin perunggu yang ia bawa mulai bersinar redup, seolah memberikan peringatan.Tiba-tiba, langkah kaki pelan terdengar di belakangnya. Raka menoleh dan melihat Resi Agung Darmaja berjalan mendekat. Pria tua itu mengenakan jubah putih panjang, wajahnya tertutup bayangan malam, namun matanya bersinar dengan kekuatan spiritual yang kuat."Anak muda," kata Resi Agung Darmaja dengan suara tenang namun mengandung otoritas. "Kau telah melihat banyak hal yang tidak kau pahami. Sek
last updateHuling Na-update : 2025-02-20
Magbasa pa

BAB 52: DYAH SULASTRI MEMBERONTAK

Malam semakin larut, dan udara di istana terasa semakin dingin. Api-api kecil yang ditinggalkan oleh Banaspati masih menyala di beberapa sudut istana, menciptakan suasana mencekam yang semakin tebal. Penduduk desa mulai membubarkan diri setelah ritual korban Dyah Sulastri ditunda sementara karena kemarahan Banaspati.Dyah Sulastri berdiri di kamarnya, matanya penuh air mata. Ia tahu bahwa ritual ini adalah takdirnya—tapi ia juga tahu bahwa ia tidak bisa melanjutkannya. Hatinya dipenuhi oleh rasa takut, harapan, dan keberanian. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin perunggu kuno yang diberikan Raka padanya sebagai hadiah simbolis."Aku tidak bisa melakukannya," gumam Dyah pelan, suaranya penuh keteguhan. "Aku harus melawan takdir ini."Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka dengan pelan. Raka masuk, wajahnya penuh kekhawatiran. "Dyah, apa yang sedang kau pikirkan?""Aku akan melarikan diri," jawab Dyah dengan nada mantap. "Aku tidak akan membiarkan mereka mengorbankanku. Aku ingin hidup,
last updateHuling Na-update : 2025-02-20
Magbasa pa

BAB 53: ARYA KERTAJAYA MENYELAMATKAN MEREKA LAGI

Malam semakin larut, dan udara di hutan terasa semakin dingin. Raka dan Dyah Sulastri berlari sekuat tenaga, napas mereka tersengal-sengal, sementara suara langkah kaki prajurit loyalis terdengar semakin dekat. Pohon-pohon tinggi yang menjulang di sekitar mereka menciptakan bayang-bayang gelap yang menyeramkan, dan angin malam membawa bisikan-bisikan gaib yang samar."Kita harus berhenti sebentar," kata Raka dengan suara bergetar, tangannya erat mencengkeram cermin perunggu. "Aku tidak tahu ke mana kita harus pergi."Dyah menggeleng pelan, matanya penuh ketakutan. "Tidak, Raka. Jika kita berhenti, mereka akan menangkap kita. Kita harus terus bergerak."Namun, sebelum mereka bisa melanjutkan lari, suara gemerisik daun terdengar dari arah belakang. Seorang prajurit loyalis muncul dari balik pepohonan, pedangnya terhunus, wajahnya dipenuhi kemarahan."Berhenti!" seru prajurit itu dengan suara keras. "Kalian tidak bisa melarikan diri!"Raka melangkah maju, matanya penuh kemarahan. "Kami ti
last updateHuling Na-update : 2025-02-21
Magbasa pa

BAB 54: PENGKHIANATAN KI JAGABAYA TERUNGKAP

Matahari mulai terbit di balik pegunungan, menyelimuti hutan mistis dengan cahaya keemasan yang lembut. Namun, suasana di dalam kelompok Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya tetap tegang. Setelah berlari semalaman, mereka akhirnya mencapai tempat perlindungan rahasia yang ditunjukkan oleh peta Arya—sebuah gua kecil yang tersembunyi di antara tebing curam dan pepohonan rimbun.Raka duduk di sudut gua, tangannya erat mencengkeram cermin perunggu kuno. Matanya menatap api kecil yang mereka nyalakan untuk menghangatkan tubuh. "Aku merasa ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi," gumamnya pelan.Dyah mendekatinya, wajahnya penuh kekhawatiran. "Apa maksudmu, Raka?""Aku tidak tahu," jawab Raka, suaranya bergetar. "Tapi aku merasakan bahwa kita belum benar-benar aman."Arya, yang sedang berdiri di mulut gua, memandang ke arah hutan yang masih gelap. Ia bergumam pelan, "Ada sesuatu yang harus kalian ketahui."Angin dingin berhembus pelan, membawa bisikan-bisikan gaib yang samar. Api lil
last updateHuling Na-update : 2025-02-21
Magbasa pa

BAB 55: HUTAN MISTIS

Matahari mulai tenggelam di balik pegunungan, menyelimuti hutan mistis dengan cahaya oranye yang redup. Udara di sekitar terasa lebih dingin dan berat, seolah membawa beban misteri yang tak terucapkan. Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya melangkah hati-hati melewati pepohonan raksasa yang menjulang tinggi, cabang-cabangnya saling bertautan membentuk kanopi alami yang menutupi langit."Tempat ini... penuh dengan energi aneh," gumam Raka pelan, tangannya erat mencengkeram cermin perunggu kuno yang selalu ia bawa. Cermin itu mulai bersinar redup, seolah merespons kekuatan gaib di sekitarnya.Dyah mengangguk, matanya waspada. "Ini adalah wilayah makhluk gaib. Kita harus berhati-hati."Arya, yang berjalan di depan, menoleh dengan ekspresi serius. "Aku pernah mendengar tentang hutan ini dari para prajurit tua. Mereka mengatakan bahwa hanya mereka yang memiliki kekuatan spiritual tinggi yang bisa bertahan di sini."Angin dingin berhembus pelan, membawa bisikan-bisikan gaib yang samar. Sua
last updateHuling Na-update : 2025-02-21
Magbasa pa

BAB 56: SYARAT BUTO IJO

Matahari mulai terbit, menyinari hutan mistis dengan cahaya keemasan yang lembut. Udara pagi terasa dingin dan segar, namun ketegangan masih membayangi setiap langkah Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya saat mereka mendekati tepi sungai suci. Air sungai itu tampak jernih seperti kristal, memantulkan sinar matahari dengan kilauan aneh, seolah menyimpan rahasia besar di dalamnya."Apakah ini sungai yang dimaksud Buto Ijo?" tanya Arya pelan, matanya menyipit mencermati lingkungan sekitar.Dyah mengangguk, tangannya meraba permukaan air yang dingin. "Ya, aku bisa merasakan energi spiritual yang kuat di sini. Ini pasti tempatnya."Raka berdiri agak jauh dari sungai, matanya tertuju pada cermin perunggu di tangannya yang mulai bersinar redup. "Ada sesuatu yang tidak biasa di sini," gumamnya pelan, suaranya penuh rasa waspada.Tiba-tiba, air sungai mulai bergolak meskipun tidak ada angin atau aliran deras. Dari dalam air muncul sosok besar dan megah—Naga Niskala. Tubuhnya yang bersisik bi
last updateHuling Na-update : 2025-02-21
Magbasa pa

BAB 57: KUTUKAN BUTO IJO

Matahari mulai tenggelam, menyelimuti hutan mistis dengan cahaya jingga yang lembut. Udara semakin dingin, dan kabut tipis mulai merayap di antara pepohonan raksasa. Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya berdiri di depan sebuah altar batu kuno yang tersembunyi di dalam hutan. Di atas altar itu, ada relief tua yang menggambarkan seorang ksatria bersenjata lengkap dikelilingi oleh simbol-simbol dewa."Buto Ijo pernah menjadi manusia?" tanya Arya, suaranya penuh ketidakpercayaan saat ia menatap relief tersebut. "Aku selalu menganggapnya hanya makhluk mitologi."Dyah mengangguk pelan, matanya memindai relief dengan penuh konsentrasi. "Ini lebih dari sekadar legenda. Relief ini menceritakan kisah tentang seorang ksatria bernama Ksatria Wibawa , yang dikutuk oleh para dewa karena melanggar aturan mereka."Raka mendekati altar, tangannya menyentuh permukaan relief yang dingin. Saat ia menyentuhnya, kekuatan spiritual aneh mengalir melalui tubuhnya, membuatnya gemetar. "Apa yang dia lakukan
last updateHuling Na-update : 2025-02-21
Magbasa pa

BAB 58: RITUAL PEMBEBASAN

Malam semakin larut, dan hutan mistis yang biasanya tenang kini dipenuhi dengan energi spiritual yang luar biasa. Udara dingin menyelimuti setiap sudut, sementara kabut tebal mulai merayap di antara pepohonan raksasa. Di tengah hutan, sebuah altar batu kuno telah disiapkan untuk ritual pembebasan Buto Ijo. Api unggun kecil berkedip-kedip di sekitar altar, memberikan cahaya lembut yang memantulkan bayangan-bayangan aneh di dinding pepohonan.Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya berdiri di sekitar altar, masing-masing dengan perasaan tegang dan penuh harap. Di belakang mereka, sosok besar Buto Ijo—masih dalam wujud makhluk mitologi—menatap altar dengan mata penuh kerinduan. Ia tampak seperti makhluk yang sudah lama menunggu momen ini."Apakah kalian yakin ini akan berhasil?" tanya Arya, suaranya terdengar khawatir namun penuh tekad.Dyah mengangguk pelan, matanya tertuju pada relief-relief kuno yang mengelilingi altar. "Ini adalah satu-satunya cara. Aku telah mempelajari simbol-simbol
last updateHuling Na-update : 2025-02-22
Magbasa pa

BAB 59: BUTO IJO BEBAS

Cahaya biru keperakan dari Kristal Niskala perlahan memudar, meninggalkan jejak-jejak energi spiritual yang masih berdenyut di udara. Tubuh besar dan hijau Buto Ijo mulai berubah, menghilang seperti kabut yang tersapu angin. Dalam sekejap, sosok itu bertransformasi menjadi seorang ksatria kuno dengan senjata lengkap—pedang panjang yang bersinar redup di bawah cahaya api unggun.Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya terdiam, menatap sosok baru ini dengan campuran rasa takjub dan waspada. Wajah ksatria itu tampak gagah namun penuh kesedihan, matanya mencerminkan beban berat yang telah ia tanggung selama berabad-abad."Terima kasih," kata Ksatria Wibawa—mantan Buto Ijo—dengan suara dalam yang bergema lembut. "Kalian telah membebaskanku dari kutukan yang mengikat jiwaku selama ratusan tahun."Dyah melangkah maju, wajahnya penuh empati. "Namun, ingatlah bahwa kutukan itu tidak sepenuhnya hilang. Ia hanya dipindahkan ke salah satu dari kami."Api-api kecil yang ditinggalkan oleh Banaspati
last updateHuling Na-update : 2025-02-22
Magbasa pa

BAB 60: NAGA NISKALA MENGIRIM PESAN

Setelah kepergian Genderuwo dan redupnya api unggun, suasana hutan mistis menjadi semakin tenang. Namun, ketenangan ini tidak berlangsung lama. Dari arah sungai suci yang mengalir di tepi hutan, muncul cahaya biru kehijauan yang lembut. Air sungai mulai bergolak meskipun tidak ada angin atau aliran deras, dan dari kedalaman air itu, sosok besar Naga Niskala muncul.Tubuhnya yang bersisik biru keperakan memantulkan cahaya bulan yang samar, sementara matanya yang bersinar tajam menatap langsung ke arah Raka. Suara gemuruh halus terdengar dari sungai, seolah-olah alam itu sendiri sedang menyambut kemunculan makhluk gaib ini."Kalian telah melakukan hal yang luar biasa," kata Naga Niskala dengan suara dalam yang bergema lembut. "Namun, perjalanan kalian masih jauh dari selesai."Raka melangkah maju, tangannya erat memegang cermin perunggu. "Ada apa, Naga Niskala? Apakah ada sesuatu yang harus kami ketahui?"Naga Niskala mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, tatapannya tertuju pada Dyah Sulas
last updateHuling Na-update : 2025-02-22
Magbasa pa
PREV
1
...
45678
...
21
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status