บททั้งหมดของ Gairah di Balik Tirai Kehidupan: บทที่ 101 - บทที่ 108

108

Bab 101: Retak di Tengah Badai

Alena duduk di tepi tempat tidur, tangannya gemetar saat ia meraih ponselnya. Ia ingin menghubungi seseorang—Sofia, mungkin—tetapi apa yang akan ia katakan? Bahwa hubungannya dengan Adrian yang selama ini ia banggakan sebagai 'berbeda' ternyata sama saja dengan yang lain? Bahwa ketika dihadapkan pada pilihan antara pekerjaan dan hubungan, Adrian memilih pekerjaan?Pintu kamar terbuka perlahan. Adrian berdiri di ambang pintu, ragu untuk masuk."Boleh aku masuk?" tanyanya pelan.Alena hanya mengangguk, tidak mempercayai suaranya untuk berbicara tanpa pecah.Adrian duduk di sampingnya, menjaga jarak yang cukup untuk menunjukkan bahwa ia menghormati ruang pribadi Alena. "Aku tidak bermaksud menyakitimu," ujarnya setelah beberapa saat."Aku tahu," jawab Alena, menatap keluar jendela. "Tapi itu tidak membuat kata-katamu kurang menyakitkan.""Apa yang harus kulakukan, Alena? Aku bertanggung jawab atas ratusan karyawan, atas legasi keluargaku. Aku tidak bisa melepaskan tanggung jawab itu begi
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-31
อ่านเพิ่มเติม

Bab 102: Tepian Badai

Hujan yang turun di luar jendela apartemen seolah menggemakan keheningan di dalam ruangan tempat Alena duduk sendiri. Sudah dua jam ia menunggu Adrian pulang. Ponselnya tergeletak di atas meja, layarnya gelap—tidak ada pesan, tidak ada panggilan yang terlewat. Jam dinding terus berdetak, setiap detiknya seolah menggetarkan keheningan yang kian mencekam.Dengan tatapan kosong, Alena memandang keluar jendela, melihat tetesan air hujan yang menari-nari di permukaan kaca. Tiga bulan yang lalu, mereka masih tertawa dan berbincang hingga larut malam di balkon apartemen ini. Tiga bulan yang lalu, Adrian masih pulang dengan wajah berbinar dan cerita-cerita tentang pencapaian di kantornya. Tiga bulan yang lalu, mereka masih memiliki mereka."Di mana kita salah?" bisiknya pada diri sendiri.Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Alena. Adrian melangkah masuk dengan wajah lelah. Jasnya kusut, dasinya dilonggarkan, dan rambutnya berantakan—pertanda hari yang berat di kantor."Kau masih ba
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-04-01
อ่านเพิ่มเติม

Bab 103

Alena meremas tangan Adrian. "Dengar, apa pun yang terjadi di masa lalu, apa pun yang dilakukan ayahmu, itu bukan kau. Kau adalah orang yang kukenal dan kucintai—orang yang bekerja keras, jujur, dan memiliki integritas.""Bagaimana jika ternyata semua kesuksesanku dibangun di atas kebohongan? Bagaimana jika perusahaan yang kuwarisi dari ayah sebenarnya berasal dari kegiatan yang tidak bersih?" Suara Adrian terdengar hampa."Maka kau akan menghadapinya," Alena menyentuh pipi Adrian, memaksa pria itu menatap matanya. "Kita akan menghadapinya bersama. Tapi kau harus mulai mempercayaiku, Adrian. Mempercayai kita."Adrian menutup matanya, menikmati kehangatan tangan Alena di pipinya. "Aku mencoba. Tapi setiap kali aku memikirkan tentang kehilangan segalanya—perusahaanku, reputasiku—aku juga takut kehilanganmu.""Kau tidak akan kehilanganku karena masalah ini," Alena meyakinkan. "Tapi kau mungkin akan kehilanganku jika terus menutup diri seperti ini."Kata-kata itu menohok Adrian. Ia membuk
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-04-01
อ่านเพิ่มเติม

Bab 104: Garis Batas yang Memudar

Langit Jakarta yang kelabu menyambut Alena saat ia memasuki gedung pencakar langit tempat ia bekerja. Sudah hampir seminggu berlalu sejak pertemuannya dengan Manuel Rivera, dan dokumen-dokumen itu masih tersimpan rapat dalam laci meja kerjanya—seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.Lift berdenting pelan saat mencapai lantai 24. Alena menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya tersenyum sopan, namun Alena tidak bisa mengabaikan tatapan penuh arti dan bisik-bisik yang mengikutinya."Selamat pagi, Alena," sapa Dina, resepsionis yang selalu ceria. "Pak Adrian sudah menunggu di ruang konferensi. Rapat pagi dimulai sepuluh menit lagi.""Terima kasih, Dina," Alena memaksakan senyum. Nama Adrian membuat jantungnya berdegup lebih cepat—campuran antara antisipasi dan kecemasan yang tak bisa ia jelaskan.Alena bergegas ke mejanya, meletakkan tasnya, dan membuka laptop. Email yang masuk semalam membutuhkan perhatian segera, tetapi piki
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-04-01
อ่านเพิ่มเติม

Bab 105

"Terima kasih, Alena," Adrian mengangguk puas saat Alena menyelesaikan presentasinya. Ada kilatan bangga di matanya yang tidak luput dari perhatian peserta rapat lainnya.Rapat berlanjut dengan diskusi strategi. Beberapa kali, Alena merasakan tatapan Adrian padanya—tatapan yang terlalu intens, terlalu personal. Dan setiap kali itu terjadi, ia juga merasakan tatapan lain dari rekan-rekan kerjanya. Gosip itu semakin nyata setiap detiknya."Baiklah, terima kasih atas partisipasi kalian semua," Adrian akhirnya menutup rapat. "Kita akan bertemu lagi besok untuk finalisasi rencana. Alena, bisa kita bicara sebentar di ruanganku?"Dan di situlah, tepat di hadapan seluruh tim, Adrian mengucapkan kalimat yang hanya memperkeruh situasi. Beberapa orang tersenyum penuh arti, sementara yang lain berbisik pelan."Tentu," Alena menjawab singkat, berusaha tetap profesional meski jantungnya berdegup kencang.Saat mengikuti Adrian ke ruangannya, Alena bisa merasakan puluhan pasang mata mengikuti. Begitu
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-04-01
อ่านเพิ่มเติม

Bab 107

"Aku tahu itu. Kau tahu itu. Tapi mereka tidak," Alena mengusap wajahnya frustasi. "Dengar, aku menghargai kepercayaanmu padaku, tapi tolong tarik rekomendasimu. Aku tidak ingin dipromosikan dengan cara seperti ini.""Alena, jangan biarkan gosip mempengaruhimu," Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau telah bekerja keras untuk ini.""Ya, aku telah bekerja keras," Alena menegaskan, suaranya sedikit meninggi. "Dan aku tidak ingin semua kerja kerasku dipertanyakan hanya karena orang-orang berpikir aku tidur dengan bosku untuk mendapatkan promosi!"Kata-kata itu keluar lebih keras dari yang ia inginkan. Alena langsung menyadari kesalahannya ketika melihat beberapa kepala menoleh ke arah ruangan Adrian dari luar. Sial.Adrian tampak terpukul. Ia berdiri dari kursinya, berjalan untuk menutup pintu—yang langsung ditahan oleh Alena."Jangan," Alena memohon. "Itu hanya akan memperburuk keadaan."Adrian menatapnya intens, matanya m
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-04-02
อ่านเพิ่มเติม

Bab 106: Di Balik Bisikan dan Tatapan

Suasana ruang kerja pagi itu terasa lebih mencekam dari biasanya. Alena bisa merasakannya begitu ia melangkahkan kaki melewati pintu kaca besar bertuliskan "Artha Nusantara Group". Pandangan-pandangan yang sekilas beralih saat ia menatap balik, bisikan-bisikan yang terhenti ketika ia mendekat, dan senyuman penuh arti yang ditujukan padanya—semua ini bukanlah imajinasi belaka."Selamat pagi, Alena," sapa Dina dari meja resepsionis dengan senyum yang sedikit berbeda dari biasanya. "Pak Adrian sudah mencarimu sejak setengah jam lalu.""Oh?" Alena berusaha terdengar biasa. "Ada masalah?""Entahlah," Dina mengangkat bahu, matanya berkilat penuh arti. "Tapi sepertinya cukup penting. Dia memintamu langsung ke ruangannya begitu tiba."Alena mengangguk kaku, merasakan tatapan Dina yang mengikutinya saat ia berjalan menuju mejanya untuk meletakkan tas. Dalam perjalanan singkat itu, ia bisa merasakan atmosfer kantor yang berubah—seperti semua orang tahu
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-04-02
อ่านเพิ่มเติม

Bab 108: Pilihan di Bawah Tekanan

Alena membuka matanya dengan tersentak. Jam digital di samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 03:42 pagi. Ini adalah kelima kalinya ia terbangun malam itu. Setiap kali kelopak matanya terasa berat dan pikirannya mulai hanyut ke alam mimpi, bayangan yang sama kembali menghantui—wajah-wajah rekan kerjanya yang berbisik dan memandangnya dengan penuh penilaian saat ia melewati koridor kantor.Ponselnya berkedip di kegelapan. Notifikasi email yang belum dibaca dari Vanessa, rekan kerja sekaligus teman dekatnya di departemen pemasaran, masih terpampang di layar. Alena telah membaca email itu berkali-kali sejak diterimanya kemarin sore, tetapi setiap kata masih terasa menusuk seperti saat pertama ia membacanya.Alena, maaf harus memberitahumu seperti ini, tapi sebagai teman yang peduli, kurasa kau perlu tahu. Orang-orang mulai membicarakanmu dan Adrian. Kemarin aku tak sengaja mendengar pembicaraan di pantry antara tim keuangan. Mereka mempertanyakan profesionalitasmu karena terlalu 'terl
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-04-02
อ่านเพิ่มเติม
ก่อนหน้า
1
...
67891011
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status