"Aku tahu itu. Kau tahu itu. Tapi mereka tidak," Alena mengusap wajahnya frustasi. "Dengar, aku menghargai kepercayaanmu padaku, tapi tolong tarik rekomendasimu. Aku tidak ingin dipromosikan dengan cara seperti ini."
"Alena, jangan biarkan gosip mempengaruhimu," Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau telah bekerja keras untuk ini."
"Ya, aku telah bekerja keras," Alena menegaskan, suaranya sedikit meninggi. "Dan aku tidak ingin semua kerja kerasku dipertanyakan hanya karena orang-orang berpikir aku tidur dengan bosku untuk mendapatkan promosi!"
Kata-kata itu keluar lebih keras dari yang ia inginkan. Alena langsung menyadari kesalahannya ketika melihat beberapa kepala menoleh ke arah ruangan Adrian dari luar. Sial.
Adrian tampak terpukul. Ia berdiri dari kursinya, berjalan untuk menutup pintu—yang langsung ditahan oleh Alena.
"Jangan," Alena memohon. "Itu hanya akan memperburuk keadaan."
Adrian menatapnya intens, matanya m
Suasana ruang kerja pagi itu terasa lebih mencekam dari biasanya. Alena bisa merasakannya begitu ia melangkahkan kaki melewati pintu kaca besar bertuliskan "Artha Nusantara Group". Pandangan-pandangan yang sekilas beralih saat ia menatap balik, bisikan-bisikan yang terhenti ketika ia mendekat, dan senyuman penuh arti yang ditujukan padanya—semua ini bukanlah imajinasi belaka."Selamat pagi, Alena," sapa Dina dari meja resepsionis dengan senyum yang sedikit berbeda dari biasanya. "Pak Adrian sudah mencarimu sejak setengah jam lalu.""Oh?" Alena berusaha terdengar biasa. "Ada masalah?""Entahlah," Dina mengangkat bahu, matanya berkilat penuh arti. "Tapi sepertinya cukup penting. Dia memintamu langsung ke ruangannya begitu tiba."Alena mengangguk kaku, merasakan tatapan Dina yang mengikutinya saat ia berjalan menuju mejanya untuk meletakkan tas. Dalam perjalanan singkat itu, ia bisa merasakan atmosfer kantor yang berubah—seperti semua orang tahu
Alena membuka matanya dengan tersentak. Jam digital di samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 03:42 pagi. Ini adalah kelima kalinya ia terbangun malam itu. Setiap kali kelopak matanya terasa berat dan pikirannya mulai hanyut ke alam mimpi, bayangan yang sama kembali menghantui—wajah-wajah rekan kerjanya yang berbisik dan memandangnya dengan penuh penilaian saat ia melewati koridor kantor.Ponselnya berkedip di kegelapan. Notifikasi email yang belum dibaca dari Vanessa, rekan kerja sekaligus teman dekatnya di departemen pemasaran, masih terpampang di layar. Alena telah membaca email itu berkali-kali sejak diterimanya kemarin sore, tetapi setiap kata masih terasa menusuk seperti saat pertama ia membacanya.Alena, maaf harus memberitahumu seperti ini, tapi sebagai teman yang peduli, kurasa kau perlu tahu. Orang-orang mulai membicarakanmu dan Adrian. Kemarin aku tak sengaja mendengar pembicaraan di pantry antara tim keuangan. Mereka mempertanyakan profesionalitasmu karena terlalu 'terl
Saat hari kerja berakhir, Alena segera berkemas untuk pulang. Biasanya ia akan tinggal lebih lama, menyelesaikan beberapa pekerjaan tambahan atau bahkan bertemu Adrian untuk membahas strategi bisnis keluarganya. Tetapi hari ini, ia ingin segera meninggalkan gedung kantor yang terasa mencekik.Di lobi, ia melihat Adrian sedang berbicara dengan beberapa eksekutif senior. Alena berpura-pura sibuk dengan ponselnya dan bergegas menuju pintu keluar. Namun, tepat sebelum ia mencapai pintu, ia mendengar suara Adrian memanggilnya."Alena! Tunggu sebentar."Alena menghentikan langkahnya dan berbalik perlahan. Adrian berjalan menghampirinya, meninggalkan rekan-rekannya di belakang."Hei, kau baik-baik saja?" tanya Adrian dengan suara rendah ketika mereka berhadapan. "Kau terlihat... berbeda hari ini."Alena menelan ludah. "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah."Adrian menatapnya dengan seksama, jelas tidak mempercayai jawaban singkat itu. "Apa ada s
Langit Jakarta masih kelabu ketika Adrian melangkah masuk ke gedung kantor PT Mentari Global. Wajahnya tampak kusut meski kemeja putihnya rapi tersetrika. Sudah dua hari ia tidak mendapat cukup tidur—proposal untuk Bank Nusantara masih perlu disempurnakan, dan belum lagi tekanan dari pihak manufaktur furnitur keluarganya yang kini berada di ambang kebangkrutan.Begitu sampai di mejanya, Adrian segera membuka email dan menemukan balasan dari Alena. Ia mengirimkan proposal yang telah direvisi lengkap dengan catatan-catatan perbaikan yang mendetail dan beberapa saran untuk memperkuat argumen di bagian proyeksi finansial. Adrian merasakan sebersit kelegaan. Meski singkat, komentar Alena menunjukkan bahwa ia masih mau membantu, meskipun seharian kemarin jelas sekali Alena menghindarinya.Adrian menyadari ada yang tidak beres sejak Alena mulai menghindari kontak mata dengannya di rapat departemen. Ia awalnya berpikir mungkin Alena hanya lelah atau sedang memiliki masal
Adrian menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Itu absurd.""Begitulah gosip kantor," Alena tersenyum kecut. "Tidak perlu fakta untuk berkembang."Adrian terdiam sejenak, memikirkan situasi yang mereka hadapi. Ia merasa bersalah. Sangat bersalah. Selama ini ia hanya fokus pada masalahnya sendiri, tanpa benar-benar mempertimbangkan dampak keterlibatan Alena bagi wanita itu."Aku tidak ingin kau terjebak dalam semua ini, Alena," kata Adrian akhirnya, meski ia sendiri menyadari betapa lemahnya kalimat itu terdengar.Alena menatapnya lama, seolah mencari sesuatu di wajahnya. "Tapi kenyataannya, aku sudah terjebak, bukan?""Mungkin sebaiknya kita... mengurangi interaksi kita untuk sementara waktu?" Adrian menyarankan, meskipun ia tidak yakin dengan solusi ini. "Sampai rumor ini mereda.""Apa itu akan membantu?" tanya Alena. "Atau justru akan semakin menguatkan dugaan orang-orang bahwa memang ada sesuatu yang kita sembunyikan?"Adrian tidak
Di pagi yang cerah, sinar matahari menyelinap melalui tirai tipis di dapur kecil mereka. Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan, berpadu dengan suara gesekan spatula Alena yang sibuk memasak telur dadar untuk sarapan mereka. Reno, dengan rambut acak-acakan, duduk di meja makan sambil membaca koran usang yang ia dapatkan dari tetangga.“Makanannya hampir siap, ya,” kata Alena sambil menoleh ke arah Reno. Wajahnya yang berseri-seri adalah hal pertama yang membuat Reno merasa harinya akan baik-baik saja.“Kalau kamu yang masak, apa pun bakal terasa enak,” balas Reno sambil menyeringai, mencoba mencairkan suasana.Mereka duduk bersama di meja makan kecil itu, menikmati sarapan sambil berbicara tentang rencana sehari-hari. Reno berbagi tentang tugasnya di kantor, yang mulai terasa berat akibat tekanan dari atasannya. Alena mendengarkan dengan penuh perhatian, menggenggam tangan Reno untuk menenangkan kegelisahannya.Namun, ada sesuatu yang tak diucapkan Reno. Perusahaan tempat ia be
Pagi yang lain datang dengan ritme yang sama di rumah kecil Reno dan Alena. Reno, dengan kemeja biru pudar yang menjadi seragam kerjanya, bersiap untuk menghadapi hari yang penuh tantangan di pabrik. Sementara itu, Alena berdiri di ambang pintu, mengawasinya pergi sambil membawa bekal sederhana yang ia siapkan dengan cinta.“Semangat, ya. Jangan lupa makan siang,” ucap Alena sebelum Reno melangkah keluar.“Pasti. Kamu juga jangan terlalu capek,” jawab Reno sambil tersenyum tipis.Setelah Reno pergi, Alena kembali ke dalam rumah dan mulai mengatur jadwal harinya. Meski statusnya sebagai ibu rumah tangga sering kali dianggap sederhana, hari-hari Alena diisi dengan pekerjaan yang tak kalah melelahkan. Ia harus memastikan rumah mereka tetap rapi, makanan selalu tersedia, dan juga menyelesaikan kerajinan tangan yang menjadi sumber tambahan penghasilan mereka.Reno di PabrikDi pabr
Pagi itu, matahari menyinari rumah kecil Reno dan Alena, seolah mengingatkan mereka bahwa hari baru adalah kesempatan lain untuk saling mencintai. Suara burung berkicau di luar jendela menjadi latar belakang yang indah untuk kebiasaan pagi mereka. Reno, yang biasanya berangkat lebih awal, memutuskan untuk mengambil waktu ekstra bersama Alena sebelum memulai harinya.“Lena, hari ini aku pikir kita harus sarapan di luar, bagaimana kalau di taman belakang?” usul Reno sambil memegang dua cangkir kopi.Alena mengangguk sambil tersenyum. Mereka membawa sarapan sederhana ke meja kecil di taman belakang. Duduk berdampingan, mereka menikmati pemandangan kebun kecil yang dirawat Alena dengan penuh cinta. Kehijauan tanaman dan bunga yang bermekaran menjadi simbol perjuangan mereka, betapa usaha kecil yang konsisten dapat menghasilkan keindahan.“Aku suka pagi-pagi seperti ini,” ujar Alena sambil menyeruput kopinya. “Tidak banyak, tapi cukup membuatku merasa beruntung.”Reno tersenyum dan menjawa
Adrian menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Itu absurd.""Begitulah gosip kantor," Alena tersenyum kecut. "Tidak perlu fakta untuk berkembang."Adrian terdiam sejenak, memikirkan situasi yang mereka hadapi. Ia merasa bersalah. Sangat bersalah. Selama ini ia hanya fokus pada masalahnya sendiri, tanpa benar-benar mempertimbangkan dampak keterlibatan Alena bagi wanita itu."Aku tidak ingin kau terjebak dalam semua ini, Alena," kata Adrian akhirnya, meski ia sendiri menyadari betapa lemahnya kalimat itu terdengar.Alena menatapnya lama, seolah mencari sesuatu di wajahnya. "Tapi kenyataannya, aku sudah terjebak, bukan?""Mungkin sebaiknya kita... mengurangi interaksi kita untuk sementara waktu?" Adrian menyarankan, meskipun ia tidak yakin dengan solusi ini. "Sampai rumor ini mereda.""Apa itu akan membantu?" tanya Alena. "Atau justru akan semakin menguatkan dugaan orang-orang bahwa memang ada sesuatu yang kita sembunyikan?"Adrian tidak
Langit Jakarta masih kelabu ketika Adrian melangkah masuk ke gedung kantor PT Mentari Global. Wajahnya tampak kusut meski kemeja putihnya rapi tersetrika. Sudah dua hari ia tidak mendapat cukup tidur—proposal untuk Bank Nusantara masih perlu disempurnakan, dan belum lagi tekanan dari pihak manufaktur furnitur keluarganya yang kini berada di ambang kebangkrutan.Begitu sampai di mejanya, Adrian segera membuka email dan menemukan balasan dari Alena. Ia mengirimkan proposal yang telah direvisi lengkap dengan catatan-catatan perbaikan yang mendetail dan beberapa saran untuk memperkuat argumen di bagian proyeksi finansial. Adrian merasakan sebersit kelegaan. Meski singkat, komentar Alena menunjukkan bahwa ia masih mau membantu, meskipun seharian kemarin jelas sekali Alena menghindarinya.Adrian menyadari ada yang tidak beres sejak Alena mulai menghindari kontak mata dengannya di rapat departemen. Ia awalnya berpikir mungkin Alena hanya lelah atau sedang memiliki masal
Saat hari kerja berakhir, Alena segera berkemas untuk pulang. Biasanya ia akan tinggal lebih lama, menyelesaikan beberapa pekerjaan tambahan atau bahkan bertemu Adrian untuk membahas strategi bisnis keluarganya. Tetapi hari ini, ia ingin segera meninggalkan gedung kantor yang terasa mencekik.Di lobi, ia melihat Adrian sedang berbicara dengan beberapa eksekutif senior. Alena berpura-pura sibuk dengan ponselnya dan bergegas menuju pintu keluar. Namun, tepat sebelum ia mencapai pintu, ia mendengar suara Adrian memanggilnya."Alena! Tunggu sebentar."Alena menghentikan langkahnya dan berbalik perlahan. Adrian berjalan menghampirinya, meninggalkan rekan-rekannya di belakang."Hei, kau baik-baik saja?" tanya Adrian dengan suara rendah ketika mereka berhadapan. "Kau terlihat... berbeda hari ini."Alena menelan ludah. "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah."Adrian menatapnya dengan seksama, jelas tidak mempercayai jawaban singkat itu. "Apa ada s
Alena membuka matanya dengan tersentak. Jam digital di samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 03:42 pagi. Ini adalah kelima kalinya ia terbangun malam itu. Setiap kali kelopak matanya terasa berat dan pikirannya mulai hanyut ke alam mimpi, bayangan yang sama kembali menghantui—wajah-wajah rekan kerjanya yang berbisik dan memandangnya dengan penuh penilaian saat ia melewati koridor kantor.Ponselnya berkedip di kegelapan. Notifikasi email yang belum dibaca dari Vanessa, rekan kerja sekaligus teman dekatnya di departemen pemasaran, masih terpampang di layar. Alena telah membaca email itu berkali-kali sejak diterimanya kemarin sore, tetapi setiap kata masih terasa menusuk seperti saat pertama ia membacanya.Alena, maaf harus memberitahumu seperti ini, tapi sebagai teman yang peduli, kurasa kau perlu tahu. Orang-orang mulai membicarakanmu dan Adrian. Kemarin aku tak sengaja mendengar pembicaraan di pantry antara tim keuangan. Mereka mempertanyakan profesionalitasmu karena terlalu 'terl
Suasana ruang kerja pagi itu terasa lebih mencekam dari biasanya. Alena bisa merasakannya begitu ia melangkahkan kaki melewati pintu kaca besar bertuliskan "Artha Nusantara Group". Pandangan-pandangan yang sekilas beralih saat ia menatap balik, bisikan-bisikan yang terhenti ketika ia mendekat, dan senyuman penuh arti yang ditujukan padanya—semua ini bukanlah imajinasi belaka."Selamat pagi, Alena," sapa Dina dari meja resepsionis dengan senyum yang sedikit berbeda dari biasanya. "Pak Adrian sudah mencarimu sejak setengah jam lalu.""Oh?" Alena berusaha terdengar biasa. "Ada masalah?""Entahlah," Dina mengangkat bahu, matanya berkilat penuh arti. "Tapi sepertinya cukup penting. Dia memintamu langsung ke ruangannya begitu tiba."Alena mengangguk kaku, merasakan tatapan Dina yang mengikutinya saat ia berjalan menuju mejanya untuk meletakkan tas. Dalam perjalanan singkat itu, ia bisa merasakan atmosfer kantor yang berubah—seperti semua orang tahu
"Aku tahu itu. Kau tahu itu. Tapi mereka tidak," Alena mengusap wajahnya frustasi. "Dengar, aku menghargai kepercayaanmu padaku, tapi tolong tarik rekomendasimu. Aku tidak ingin dipromosikan dengan cara seperti ini.""Alena, jangan biarkan gosip mempengaruhimu," Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau telah bekerja keras untuk ini.""Ya, aku telah bekerja keras," Alena menegaskan, suaranya sedikit meninggi. "Dan aku tidak ingin semua kerja kerasku dipertanyakan hanya karena orang-orang berpikir aku tidur dengan bosku untuk mendapatkan promosi!"Kata-kata itu keluar lebih keras dari yang ia inginkan. Alena langsung menyadari kesalahannya ketika melihat beberapa kepala menoleh ke arah ruangan Adrian dari luar. Sial.Adrian tampak terpukul. Ia berdiri dari kursinya, berjalan untuk menutup pintu—yang langsung ditahan oleh Alena."Jangan," Alena memohon. "Itu hanya akan memperburuk keadaan."Adrian menatapnya intens, matanya m
"Terima kasih, Alena," Adrian mengangguk puas saat Alena menyelesaikan presentasinya. Ada kilatan bangga di matanya yang tidak luput dari perhatian peserta rapat lainnya.Rapat berlanjut dengan diskusi strategi. Beberapa kali, Alena merasakan tatapan Adrian padanya—tatapan yang terlalu intens, terlalu personal. Dan setiap kali itu terjadi, ia juga merasakan tatapan lain dari rekan-rekan kerjanya. Gosip itu semakin nyata setiap detiknya."Baiklah, terima kasih atas partisipasi kalian semua," Adrian akhirnya menutup rapat. "Kita akan bertemu lagi besok untuk finalisasi rencana. Alena, bisa kita bicara sebentar di ruanganku?"Dan di situlah, tepat di hadapan seluruh tim, Adrian mengucapkan kalimat yang hanya memperkeruh situasi. Beberapa orang tersenyum penuh arti, sementara yang lain berbisik pelan."Tentu," Alena menjawab singkat, berusaha tetap profesional meski jantungnya berdegup kencang.Saat mengikuti Adrian ke ruangannya, Alena bisa merasakan puluhan pasang mata mengikuti. Begitu
Langit Jakarta yang kelabu menyambut Alena saat ia memasuki gedung pencakar langit tempat ia bekerja. Sudah hampir seminggu berlalu sejak pertemuannya dengan Manuel Rivera, dan dokumen-dokumen itu masih tersimpan rapat dalam laci meja kerjanya—seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.Lift berdenting pelan saat mencapai lantai 24. Alena menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya tersenyum sopan, namun Alena tidak bisa mengabaikan tatapan penuh arti dan bisik-bisik yang mengikutinya."Selamat pagi, Alena," sapa Dina, resepsionis yang selalu ceria. "Pak Adrian sudah menunggu di ruang konferensi. Rapat pagi dimulai sepuluh menit lagi.""Terima kasih, Dina," Alena memaksakan senyum. Nama Adrian membuat jantungnya berdegup lebih cepat—campuran antara antisipasi dan kecemasan yang tak bisa ia jelaskan.Alena bergegas ke mejanya, meletakkan tasnya, dan membuka laptop. Email yang masuk semalam membutuhkan perhatian segera, tetapi piki
Alena meremas tangan Adrian. "Dengar, apa pun yang terjadi di masa lalu, apa pun yang dilakukan ayahmu, itu bukan kau. Kau adalah orang yang kukenal dan kucintai—orang yang bekerja keras, jujur, dan memiliki integritas.""Bagaimana jika ternyata semua kesuksesanku dibangun di atas kebohongan? Bagaimana jika perusahaan yang kuwarisi dari ayah sebenarnya berasal dari kegiatan yang tidak bersih?" Suara Adrian terdengar hampa."Maka kau akan menghadapinya," Alena menyentuh pipi Adrian, memaksa pria itu menatap matanya. "Kita akan menghadapinya bersama. Tapi kau harus mulai mempercayaiku, Adrian. Mempercayai kita."Adrian menutup matanya, menikmati kehangatan tangan Alena di pipinya. "Aku mencoba. Tapi setiap kali aku memikirkan tentang kehilangan segalanya—perusahaanku, reputasiku—aku juga takut kehilanganmu.""Kau tidak akan kehilanganku karena masalah ini," Alena meyakinkan. "Tapi kau mungkin akan kehilanganku jika terus menutup diri seperti ini."Kata-kata itu menohok Adrian. Ia membuk