All Chapters of Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali: Chapter 41 - Chapter 50

90 Chapters

41. Balas Dendam Terbaik

Sejujurnya Ranaya tak mau menguping pembicaraan orang lain sebab hal itu bukan urusannya. Tetapi, ingatan tentang percakapan Acel di kantor tempo hari kembali melintas di pikirannya. Hal tersebut kemudian mengubah persepsi dari sesuatu yang bukan urusannya menjadi masalah yang perlu ia ketahui dan harus ia urus selanjutnya. "Hah, kok bisa kamu meloloskan anak itu?! Aku nggak mau tahu, habis ini kerjaan kamu dan orang-orangmu harus benar!" Sesuatu terasa janggal. Ranaya kembali mengingat ucapan Acel saat bertelepon di kantor lalu. Apakah ini berarti Acel ada sangkut pautnya dengan penculikan Radeva? Apa Acel dan Yusuf beneran bekerja sama di belakangnya?! Matanya menyipit, telinganya fokus mendengar. Namun, rupanya telepon Acel sudah diputus. Perempuan itu masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki dihentak-hentakkan. Mata Radeva yang jernih diam-diam menatap Ranaya dalam keheningan malam. Bocah itu berdiri di sisi Ranaya dengan mendongakkan kepala, sementara ibunya masih term
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

42. Pesan Misterius

"Oh, itu ... itu tadi yang nyuci Mbak Susi, Sagara." Tantri menjawab dengan tangan yang sibuk mengoleskan minyak kayu putih di pelipisnya. Sagara yang masih berdiri di ambang pintu ruang tamu melipat dahi. Alis tebalnya bertaut, memandangi sapu tangan yang kini berada di genggamannya. "Mbak Susi? Siapa lagi itu, Ma?" tanyanya heran. Ia sengaja menekan suaranya agar tak terdengar kesal sebab sapu tangannya sudah diambil tanpa izin. Tantri mendengus pelan. Ia meletakkan botol minyak kayu putih di meja, lalu menatap anaknya. "Mama terpaksa cari asisten, Sagara. Umur Mama nggak muda lagi. Akhir-akhir ini gampang capek ngurus rumah sendirian." Sagara mengangguk paham. Sorot matanya kembali tertuju pada sapu tangan di tangannya. Ia meneliti dengan meraba tekstur kain lembut itu menggunakan ujung jari. Bordir tulip di sudutnya masih tampak jelas, meskipun sudah sedikit kusam. "Makanya, kamu tuh cepat nikah sama Sherly biar Mama ada yang bantuin," sindir Tantri kemudian. Sagara
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

43. Wanita dengan Aroma Tuberose

Jantung Ranaya berdegup lebih cepat. Jemarinya yang memegang ponsel sedikit gemetar. Nomor asing itu kembali mengirim pesan, sama seperti sebelumnya yang selalu menggantung tanpa maksud jelas. Siapa sebenarnya pemilik nomor ini? Apa maunya?! Matanya menelusuri layar, lalu dengan tekad bulat ia membalas pesan itu walau tahu jika pesannya nanti akan diabaikan. [Siapa ini? Apa kita pernah kenal? Tolong jawab jujur.] Ranaya mendesah panjang, berusaha mengabaikan kegelisahan yang mulai mengendap di dadanya. Namun, tanpa ia duga pesan berikutnya muncul. Pesannya dibalas oleh sosok asing tersebut! [Kamu nanti akan tahu sendiri, Ranaya. Tidak akan lama lagi.] Sepasang alis Ranaya saling bertautan. Ia sendiri sejujurnya tak sabar mengetahui siapa dalang di balik nomor tersebut. Meski begitu, ia juga tak yakin akan bagaimana merespons orang ini. *** Pagi ini Ranaya sedang bercermin setelah mengenakan setelan blus merah dan rok hitam miliknya. Untuk sejenak ia terkesima dengan waj
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

44. Panggil Om Papa

Kenapa ... jantungnya tiba-tiba berdebar? Tunggu dulu, wangi ini bukankah parfum milik …. Menuruti apa kata hatinya, Sagara ingin mengejar perempuan itu. Kakinya lekas bergerak, tetapi tangan Sherly segera mencegahnya. “Sayang, mau ke mana? Kok malah bengong?!” Sherly mengerucutkan bibir merasa kesal karena diabaikan. Padahal hari ini ia begitu antusias sebab Sagara akhirnya menuruti keinginannya. Masalahnya Sagara berubah entah sejak kapan sehingga Sherly harus mengemis perhatian pada pria tersebut. Sagara tersadar dan terpaksa mengalihkan pandangan pada perempuan di sampingnya. “Nggak,” sahutnya dingin, lalu melanjutkan langkah. Sejujurnya, pikirannya tetap tertinggal pada sosok perempuan tadi. Namun ia merasa tak terlalu yakin karena penampilan perempuan tersebut berbeda dengan Ranaya biasanya yang hanya mengenakan kaos oblong kedombrangan dan celana panjang, juga rambut yang seringkali diikat satu. Saat keduanya berjalan berdampingan, mata Sherly sudah berbinar sebab
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

45. Ini Nomor Sagara?!

“Berlian-berlian yang datang itu tolong sementara disimpan di gudang saja dan beri tulisan keterangan khusus tentang grade, tanggal pesan, dan tanggal datang. Kali ini saya yang akan memesan berliannya sendiri,” tukas Ranaya.Beberapa karyawannya saling melempar pandang dalam diam. Sebagian dari mereka dapat bernapas lega sebab masalah ini akhirnya menemukan solusinya.Sesudah itu mereka kompak menyahut, “Baik, Bu.”Ranaya langsung menghubungi pemasok berlian andalannya, sementara timnya mulai bekerja lagi. Setelah selesai, ia mengatupkan bibir sambil berpikir sejenak.Ranaya lalu menekan ponselnya erat, menatap layar dengan tatapan tajam sebelum akhirnya menelepon tim HRD.“Saya ingin kalian membuka lowongan baru sesuai dengan kualifikasi yang saya kirimkan nanti,” ucapnya tegas sesudah teleponnya tersambung.Tanpa menunggu lebih lama, Ranaya menutup panggilan itu dan bangkit dari tempat duduknya. Matanya menyapu seluruh ruangan meeting tempat timnya berkumpul sekilas sebelum pergi.
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

46. Tak Ada yang Kebetulan

Tangan Ranaya langsung berkeringat. Dengan cepat, ia kembali menekan nomor itu demi memastikan bahwa matanya tidak salah lihat.Tetapi, foto yang menampilkan seorang pria tampan sedang tersenyum di sebuat tempat makan yang memiliki panorama indah tak berubah. Wajah itu … membuat napas Ranaya tersendat di tenggorokan.Nomor yang diberikan seorang ibu agar dirinya bisa mengucapkan terima kasih langsung kepada Om Baik yang telah menyelamatkan anaknya, ternyata milik suaminya sendiri!Tubuh Ranaya membeku.Jadi … selama ini, orang yang begitu baik kepada Radeva, yang membuat bocah itu tersenyum lebar dan bahagia … adalah Sagara?!Ia menggigit bibir bawahnya, pikirannya kacau. Kenapa harus dia?!Dan yang lebih membuat hatinya sesak, kenapa perasaan aneh ini muncul lagi? Seketika ada banyak pertanyaan berputar di kepalanya.Apa maksud semua ini? Kenapa Sagara dekat dengan Radeva? Apakah dia tahu sesuatu?Apakah Sagara sudah tahu jika Radeva adalah anaknya?!Ranaya mengusap wajahnya frustasi
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

47. Finally, I Found You

Seorang pria tampan dengan mata sipit dan bibir tipis yang menawan sedang menatapnya juga.Refleks mulut Ranaya bergerak menggumamkan sebuah nama.“Rio?” Matanya membelalak tak percaya.Pria itu mengulas senyum tipis. Masih memandang Ranaya, ia segera berdiri dan berderap ke arah perempuan tersebut."Loh, Ranaya … kita ketemu lagi." Senyumnya terkembang hingga mata yang serupa buah badam itu semakin hilang dan hanya meninggalkan dua garis horizontal lurus.Rio mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Ranaya. Mereka tergelak secara bersamaan.“Ya ampun, kebetulan sekali, ya! Ini bakso favoritmu juga?” Ranaya secara antusias mengguncangkan jabat tangan mereka.Rio sempat memindai sekilas sebelum menjawab, “Hmm, ini bakso baru, kan? Kemarin waktu pulang aku ke sini dan langsung suka. Kamu sering makan di sini juga?”“Iya, ini bakso langgananku, Rio.” Ranaya mengatakannya dengan penuh percaya diri.“Kalau begitu, tempat ini bakal jadi favoritku juga!”Mata Rio sempat melirik bocah l
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

48. Rio Kalvari

Ranaya terperangah. Darah di wajahnya seakan terkuras habis. Ia merasakan mati rasa dari kepala hingga ujung jari sampai sepasang kakinya membatu dan tak bisa digerakkan. Sekujur tubuhnya lemas bagai tak bertulang lagi.Kini mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Dan, seolah ada daya tarik magnet yang kuat, Ranaya tak mampu mengalihkan pandangannya.Anehnya, pria itu pun tampak mengalami hal yang sama.Ranaya buru-buru menundukkan wajah, merapatkan genggaman pada kantong belanjaan, dan melangkah hendak pergi. Ia tak ingin berlama-lama di sini, apalagi di dekat pria yang selama ini telah membuatnya terpuruk.Namun, tangan kuat itu mencekal pergelangannya."Ranaya, tolong jangan pergi dulu." Suara Sagara rendah, serak, dan memohon. "Aku ingin bicara sama kamu."Tubuh Ranaya menegang. Secepat mungkin ia menepis tangan pria tersebut, seolah sentuhan itu adalah duri yang menancap di kulitnya."Maaf, Mas. Aku nggak bisa,” ucapnya cepat.Ia kembali hendak melangkah, tapi Sagara menahan bah
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

49. Jangan-jangan!

Ranaya terpegun. Air muka pria itu benar-benar serius. “Kamu ingin bilang apa?” tanyanya. Tatapan Ranaya tetap tertuju pada Rio yang baru saja hendak membuka mulutnya seolah ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Namun, sebelum kata-kata itu bisa keluar, suara langkah kaki kecil berlari dari dalam rumah membuat mereka berdua menoleh. "Ma! Kok nggak bilang kalau Mama udah pulang?" rengek Radeva. Bocah kecil berusia lima tahun itu langsung menubruk tubuh Ranaya, melingkarkan kedua tangannya ke pinggang sang ibu. Bibir mungilnya mengerucut. Wajahnya terlipat kesal. Sontak hal itu membuat Ranaya tertawa. Ranaya menarik tangan Radeva dan menempatkan putranya tersebut di pangkuannya. "Kamu sih sibuk main sendiri. Kan di sini ada Om, kenapa nggak kamu ajak main tadi?" tanyanya seraya mengusap puncak kepala sang putra. Radeva melempar tatapannya pada Rio. Tubuh kecilnya semakin mengerut dan tenggelam dalam lengan Ranaya. Ia tak menjawab, hanya sepasang matanya yang jernih terus
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

50. Ranaya dan Radeva?

"Nggak." Ranaya menggeleng. Tidak mungkin Rio yang mengirim pesan-pesan itu menggunakan nomor asing. Ia jelas mengenal Rio. Mana mungkin pria itu kurang kerjaan sampai mengurusi rumah tangganya? Apalagi baru kemarin Rio meminta nomor ponselnya secara langsung. Walau begitu, Ranaya sebenarnya ingat jika Rio pernah mendiamkannya satu hari setelah tahu jika dirinya menyukai kakak kelas bernama Sagara Wiratama. Ranaya menghela napas, mengabaikan pikirannya yang terus berputar. Ia sudah cukup sibuk hari ini dan tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Ia memutuskan akan menanyakannya langsung kepada pria tersebut, apakah ia mengenal nomor asing yang mengiriminya foto dan pesan misterius itu. *** Pagi ini, ia langsung turun ke area produksi guna mengecek langsung bagaimana proses pembuatan perhiasan berlian edisi khusus. Matanya teliti mengamati setiap detail, memastikan barang yang telah selesai diproduksi sesuai standar QC-nya. "Bagaimana? Apakah ada kendala dalam produ
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more
PREV
1
...
34567
...
9
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status