Ranaya terperangah. Darah di wajahnya seakan terkuras habis. Ia merasakan mati rasa dari kepala hingga ujung jari sampai sepasang kakinya membatu dan tak bisa digerakkan. Sekujur tubuhnya lemas bagai tak bertulang lagi.Kini mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Dan, seolah ada daya tarik magnet yang kuat, Ranaya tak mampu mengalihkan pandangannya.Anehnya, pria itu pun tampak mengalami hal yang sama.Ranaya buru-buru menundukkan wajah, merapatkan genggaman pada kantong belanjaan, dan melangkah hendak pergi. Ia tak ingin berlama-lama di sini, apalagi di dekat pria yang selama ini telah membuatnya terpuruk.Namun, tangan kuat itu mencekal pergelangannya."Ranaya, tolong jangan pergi dulu." Suara Sagara rendah, serak, dan memohon. "Aku ingin bicara sama kamu."Tubuh Ranaya menegang. Secepat mungkin ia menepis tangan pria tersebut, seolah sentuhan itu adalah duri yang menancap di kulitnya."Maaf, Mas. Aku nggak bisa,” ucapnya cepat.Ia kembali hendak melangkah, tapi Sagara menahan bah
Last Updated : 2025-03-08 Read more