"Oh, itu ... itu tadi yang nyuci Mbak Susi, Sagara." Tantri menjawab dengan tangan yang sibuk mengoleskan minyak kayu putih di pelipisnya. Sagara yang masih berdiri di ambang pintu ruang tamu melipat dahi. Alis tebalnya bertaut, memandangi sapu tangan yang kini berada di genggamannya. "Mbak Susi? Siapa lagi itu, Ma?" tanyanya heran. Ia sengaja menekan suaranya agar tak terdengar kesal sebab sapu tangannya sudah diambil tanpa izin. Tantri mendengus pelan. Ia meletakkan botol minyak kayu putih di meja, lalu menatap anaknya. "Mama terpaksa cari asisten, Sagara. Umur Mama nggak muda lagi. Akhir-akhir ini gampang capek ngurus rumah sendirian." Sagara mengangguk paham. Sorot matanya kembali tertuju pada sapu tangan di tangannya. Ia meneliti dengan meraba tekstur kain lembut itu menggunakan ujung jari. Bordir tulip di sudutnya masih tampak jelas, meskipun sudah sedikit kusam. "Makanya, kamu tuh cepat nikah sama Sherly biar Mama ada yang bantuin," sindir Tantri kemudian. Sagara
Jantung Ranaya berdegup lebih cepat. Jemarinya yang memegang ponsel sedikit gemetar. Nomor asing itu kembali mengirim pesan, sama seperti sebelumnya yang selalu menggantung tanpa maksud jelas. Siapa sebenarnya pemilik nomor ini? Apa maunya?! Matanya menelusuri layar, lalu dengan tekad bulat ia membalas pesan itu walau tahu jika pesannya nanti akan diabaikan. [Siapa ini? Apa kita pernah kenal? Tolong jawab jujur.] Ranaya mendesah panjang, berusaha mengabaikan kegelisahan yang mulai mengendap di dadanya. Namun, tanpa ia duga pesan berikutnya muncul. Pesannya dibalas oleh sosok asing tersebut! [Kamu nanti akan tahu sendiri, Ranaya. Tidak akan lama lagi.] Sepasang alis Ranaya saling bertautan. Ia sendiri sejujurnya tak sabar mengetahui siapa dalang di balik nomor tersebut. Meski begitu, ia juga tak yakin akan bagaimana merespons orang ini. *** Pagi ini Ranaya sedang bercermin setelah mengenakan setelan blus merah dan rok hitam miliknya. Untuk sejenak ia terkesima dengan waj
Kenapa ... jantungnya tiba-tiba berdebar? Tunggu dulu, wangi ini bukankah parfum milik …. Menuruti apa kata hatinya, Sagara ingin mengejar perempuan itu. Kakinya lekas bergerak, tetapi tangan Sherly segera mencegahnya. “Sayang, mau ke mana? Kok malah bengong?!” Sherly mengerucutkan bibir merasa kesal karena diabaikan. Padahal hari ini ia begitu antusias sebab Sagara akhirnya menuruti keinginannya. Masalahnya Sagara berubah entah sejak kapan sehingga Sherly harus mengemis perhatian pada pria tersebut. Sagara tersadar dan terpaksa mengalihkan pandangan pada perempuan di sampingnya. “Nggak,” sahutnya dingin, lalu melanjutkan langkah. Sejujurnya, pikirannya tetap tertinggal pada sosok perempuan tadi. Namun ia merasa tak terlalu yakin karena penampilan perempuan tersebut berbeda dengan Ranaya biasanya yang hanya mengenakan kaos oblong kedombrangan dan celana panjang, juga rambut yang seringkali diikat satu. Saat keduanya berjalan berdampingan, mata Sherly sudah berbinar sebab
“Berlian-berlian yang datang itu tolong sementara disimpan di gudang saja dan beri tulisan keterangan khusus tentang grade, tanggal pesan, dan tanggal datang. Kali ini saya yang akan memesan berliannya sendiri,” tukas Ranaya.Beberapa karyawannya saling melempar pandang dalam diam. Sebagian dari mereka dapat bernapas lega sebab masalah ini akhirnya menemukan solusinya.Sesudah itu mereka kompak menyahut, “Baik, Bu.”Ranaya langsung menghubungi pemasok berlian andalannya, sementara timnya mulai bekerja lagi. Setelah selesai, ia mengatupkan bibir sambil berpikir sejenak.Ranaya lalu menekan ponselnya erat, menatap layar dengan tatapan tajam sebelum akhirnya menelepon tim HRD.“Saya ingin kalian membuka lowongan baru sesuai dengan kualifikasi yang saya kirimkan nanti,” ucapnya tegas sesudah teleponnya tersambung.Tanpa menunggu lebih lama, Ranaya menutup panggilan itu dan bangkit dari tempat duduknya. Matanya menyapu seluruh ruangan meeting tempat timnya berkumpul sekilas sebelum pergi.
Tangan Ranaya langsung berkeringat. Dengan cepat, ia kembali menekan nomor itu demi memastikan bahwa matanya tidak salah lihat.Tetapi, foto yang menampilkan seorang pria tampan sedang tersenyum di sebuat tempat makan yang memiliki panorama indah tak berubah. Wajah itu … membuat napas Ranaya tersendat di tenggorokan.Nomor yang diberikan seorang ibu agar dirinya bisa mengucapkan terima kasih langsung kepada Om Baik yang telah menyelamatkan anaknya, ternyata milik suaminya sendiri!Tubuh Ranaya membeku.Jadi … selama ini, orang yang begitu baik kepada Radeva, yang membuat bocah itu tersenyum lebar dan bahagia … adalah Sagara?!Ia menggigit bibir bawahnya, pikirannya kacau. Kenapa harus dia?!Dan yang lebih membuat hatinya sesak, kenapa perasaan aneh ini muncul lagi? Seketika ada banyak pertanyaan berputar di kepalanya.Apa maksud semua ini? Kenapa Sagara dekat dengan Radeva? Apakah dia tahu sesuatu?Apakah Sagara sudah tahu jika Radeva adalah anaknya?!Ranaya mengusap wajahnya frustasi
Seorang pria tampan dengan mata sipit dan bibir tipis yang menawan sedang menatapnya juga.Refleks mulut Ranaya bergerak menggumamkan sebuah nama.“Rio?” Matanya membelalak tak percaya.Pria itu mengulas senyum tipis. Masih memandang Ranaya, ia segera berdiri dan berderap ke arah perempuan tersebut."Loh, Ranaya … kita ketemu lagi." Senyumnya terkembang hingga mata yang serupa buah badam itu semakin hilang dan hanya meninggalkan dua garis horizontal lurus.Rio mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Ranaya. Mereka tergelak secara bersamaan.“Ya ampun, kebetulan sekali, ya! Ini bakso favoritmu juga?” Ranaya secara antusias mengguncangkan jabat tangan mereka.Rio sempat memindai sekilas sebelum menjawab, “Hmm, ini bakso baru, kan? Kemarin waktu pulang aku ke sini dan langsung suka. Kamu sering makan di sini juga?”“Iya, ini bakso langgananku, Rio.” Ranaya mengatakannya dengan penuh percaya diri.“Kalau begitu, tempat ini bakal jadi favoritku juga!”Mata Rio sempat melirik bocah l
Ranaya terperangah. Darah di wajahnya seakan terkuras habis. Ia merasakan mati rasa dari kepala hingga ujung jari sampai sepasang kakinya membatu dan tak bisa digerakkan. Sekujur tubuhnya lemas bagai tak bertulang lagi.Kini mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Dan, seolah ada daya tarik magnet yang kuat, Ranaya tak mampu mengalihkan pandangannya.Anehnya, pria itu pun tampak mengalami hal yang sama.Ranaya buru-buru menundukkan wajah, merapatkan genggaman pada kantong belanjaan, dan melangkah hendak pergi. Ia tak ingin berlama-lama di sini, apalagi di dekat pria yang selama ini telah membuatnya terpuruk.Namun, tangan kuat itu mencekal pergelangannya."Ranaya, tolong jangan pergi dulu." Suara Sagara rendah, serak, dan memohon. "Aku ingin bicara sama kamu."Tubuh Ranaya menegang. Secepat mungkin ia menepis tangan pria tersebut, seolah sentuhan itu adalah duri yang menancap di kulitnya."Maaf, Mas. Aku nggak bisa,” ucapnya cepat.Ia kembali hendak melangkah, tapi Sagara menahan bah
Ranaya terpegun. Air muka pria itu benar-benar serius. “Kamu ingin bilang apa?” tanyanya. Tatapan Ranaya tetap tertuju pada Rio yang baru saja hendak membuka mulutnya seolah ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Namun, sebelum kata-kata itu bisa keluar, suara langkah kaki kecil berlari dari dalam rumah membuat mereka berdua menoleh. "Ma! Kok nggak bilang kalau Mama udah pulang?" rengek Radeva. Bocah kecil berusia lima tahun itu langsung menubruk tubuh Ranaya, melingkarkan kedua tangannya ke pinggang sang ibu. Bibir mungilnya mengerucut. Wajahnya terlipat kesal. Sontak hal itu membuat Ranaya tertawa. Ranaya menarik tangan Radeva dan menempatkan putranya tersebut di pangkuannya. "Kamu sih sibuk main sendiri. Kan di sini ada Om, kenapa nggak kamu ajak main tadi?" tanyanya seraya mengusap puncak kepala sang putra. Radeva melempar tatapannya pada Rio. Tubuh kecilnya semakin mengerut dan tenggelam dalam lengan Ranaya. Ia tak menjawab, hanya sepasang matanya yang jernih terus
Ranaya melangkah dengan anggun. Sesekali ia mengamati sekeliling dengan tatapan tenang namun penuh pengawasan. Begitu berbelok ke salah satu ruangan, seorang pegawainya segera berdiri menyambutnya dengan sikap hormat."Ada yang bisa kami bantu, Bu Ranaya?" tanya pegawai itu dengan nada sopan.Ranaya tersenyum tipis. "Aku hanya ingin memastikan apakah desain yang kemarin sudah dikirim ke tim produksi? Karena produksi harus dilakukan hari ini juga."Pegawai itu langsung mengangguk cepat merespons ucapan pimpinannya. "Benar, Bu. Semua sudah kami proses sesuai instruksi Anda.""Bagus," ujar Ranaya mengangguk puas. "Terima kasih."“Baik, Bu, sama-sama.”Ranaya lalu melanjutkan langkahnya keluar dan berjalan dengan tenang di sepanjang koridor. Namun, tanpa sengaja, ia justru berpapasan dengan Acel. Perempuan berambut pendek itu juga tengah melangkah penuh percaya diri sembari sibuk berbicara di telepon.Pandangan mereka sempat bertemu sekilas, tapi hanya sebatas itu. Keduanya melangkah mele
“Ranaya?”“Kamu sedang apa?”Ranaya buru-buru melirik ponselnya yang masih memanggil nomor misterius itu dan langsung mematikannya."Oh, nggak, ini aku lagi barusan nonton video." Ia mencoba mencari alasan. Dengan gerakan canggung ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. "Kenapa, Rio?""Nggak apa-apa. Kamu masih lama di sini, kan? Seumpama aku pulang dulu nggak apa-apa? Soalnya aku harus menemui rekan kerja dulu di dekat sini.""Nggak papa banget, kok. Kamu duluan aja. Ini Deva juga masih makan,” sanggah Ranaya menggeleng seraya melambaikan kedua tangannya dan mengusung senyum.Ia sama sekali tidak merasa keberatan. Lagian, sepertinya Radeva juga masih betah berada di sini. Sesekali anaknya itu melenguh keenakan karena ayam goreng yang ia santap terasa sangat gurih di lidahnya."Oke, Ran. Sekali lagi aku minta maaf, ya."Rio memasukkan barang-barangnya dengan tergesa―termasuk dua ponselnya, meraih jaket, kemudian keluar dari tempat makan dengan langkah cepat.Usai Ranaya mengangk
Angin yang berembus lembut di dermaga kecil tepi danau kala sore itu tak mampu menenangkan gejolak yang membara di dada Sagara. Rahangnya mengeras begitu telinganya menangkap dengan jelas nama yang keluar dari bibir Ranaya saat menjawab telepon.Pria itu lagi, pria itu lagi! Kenapa Rio selalu merusak momen yang tengah ia bangun bersama Ranaya?!Padahal sempat ada kelegaan dalam diri Sagara saat ia tahu bahwa Ranaya bukanlah istri pria tersebut. Namun, kedekatan mereka, cara Rio selalu ada di sekitar Ranaya, membuat bara cemburu di hatinya kian membesar.Ranaya menutup teleponnya dengan cepat. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan mengangkat wajah ke arah Sagara. Tatapan pria itu sudah berubah. Dingin, tajam, penuh emosi yang tak bisa ia definisikan."Aku minta maaf, Mas. Aku harus pergi dulu," ujarnya sedikit merasa bersalah.Sagara menatapnya tanpa berkedip. "Ke mana? Menemui Rio?" tembaknya langsung.Untuk sejenak Ranaya mengerutkan kening samar. Nada suara Sagara berubah
"Kamu serius?"Ranaya meliriknya sekilas, lantas kembali sibuk pada dokumen-dokumennya. Alisnya masih saling tertaut saking tak percayanya.Sagara menghela napas, lalu menyandarkan satu tangan ke meja. Kini tubuhnya sedikit condong ke arah Ranaya hingga kepala perempuan itu mendongak dan mundur secara refleks dalam sisi waspada."Apa aku terlihat bercanda sekarang?" tanya Sagara seraya menunjuk wajahnya sendiri.Ranaya susah payah menelan saliva. Dari jarak sedekat ini, apalagi kini hanya mereka berdua yang tinggal di ruang rapat, Ranaya takut jika degup jantungnya yang mulai menggila terdengar sampai telinga Sagara.Ranaya berdeham pelan. Ia menggeser tubuhnya untuk memberi jarak aman. Perempuan itu berusaha menjaga ekspresinya agar tetap netral."Kalau begitu, aku yang tentukan tempatnya,” tukasnya, ingin mempercepat perbincangan di antara mereka.Lagian, apa kata orang-orang kalau sampai mereka tahu Ranaya dan Sagara berduaan di sini?!Sagara mengangkat bahu. Seutas senyum simpul t
Malam itu, restoran fine dining dihiasi cahaya temaram, memantulkan kilau lembut di atas meja marmer. Sebuah buket bunga lili putih tergeletak di tengah meja.Acel menatap bunga itu dengan alis sedikit mengernyit, tetapi kini bibirnya mengembang dalam senyum kecil."Lili?" Acel mengangkat bunga tersebut. "Ini serius untukku?”Rio yang kala itu sudah berpakaian rapi dari ujung rambut hingga kaki mengangguk. Matanya masih terpana pada sosok perempuan cantik berambut pendek di hadapannya.“Of course, pretty lilies for a pretty someone,” ucapnya dengan merekahkan senyum.Acel sontak tergelak. Dahinya muncul garis-garis halus lagi. “Kupikir kamu lebih suka memberi mawar merah untuk wanita yang kamu kencani."Rio menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai. Senyum tipis itu masih menghiasi wajahnya."Mawar merah terlalu klise. Aku memilih lili karena melambangkan kecerdasan dan ambisi. Sama sepertimu."Acel terkekeh kecil, lantas menyibak rambut pendeknya yang berkilau."Hmm … gombalanmu b
"Apa ini, Ma?”Sagara bertanya dengan nada keheranan. Matanya mulai melucuti setiap bagian amplop tersebut hingga membolak-balikkannya secara teliti.Tantri dengan wajah kaku karena efek masker wajah yang tengah dipakainya perlahan melangkah mendekati Sagara. Matanya mulai berbinar tatkala mendapati tulisan yang merupakan tempat tujuannya tadi."Oh, itu. Ini promo treatment di klinik depan," sahutnya santai, sebelum akhirnya dengan cepat menyambar amplop itu dari tangan Sagara.Sagara menatap ibunya dengan alis bertaut. Pandangannya tak lepas dari Tantri yang tengah sibuk melepas segel amplop tersebut."Treatment? Mama mau treatment?"Tantri tersenyum tipis, membuka amplop itu dan mengeluarkan selebaran berwarna pastel yang berisi daftar perawatan kecantikan. Matanya menelusuri tulisan di dalamnya dengan tenang, seolah mengabaikan ekspresi bingung anaknya."Kan sekarang Mama sudah tua, Sagara," ujarnya pelan. Dua ujung bibirnya tertarik ke bawah sehingga membentuk lengkungan yang dala
“Om Papa!”Tiba-tiba Radeva muncul dari pintu dan berhambur menuju Sagara.Pria itu sontak tertawa menyaksikan bocah mungil yang menggemaskan tersebut berlari kepadanya. Ia kemudian sedikit membungkukkan badan dan menyambut Radeva ke dalam gendongannya. Rupanya hal tersebut sedikit mengganggu pemandangan Ranaya. Ia menyaksikan adegan itu dengan tatapan kecewa. Bukannya berlari ke arahnya, tetapi Radeva malah memilih memeluk Sagara langsung.“Deva, kok kamu ke sini, Sayang? Kan Mama belum jemput?” tanya Ranaya sembari mengerutkan kening.Radeva yang masih berada di gendongan Sagara menyahut, “Sekolah Depa bebas, Ma. Tadi aku minta jemput Mbak Yanti bial bisa sulplise-in Mama!”Bocah itu mengatakannya sambil berpegangan erat pada bahu Sagara, serta menempelkan pipinya yang chubby sehingga terlihat seperti mochi yang penuh dan menyembul keluar.Setelahnya Ranaya dan Sagara sama-sama menatap pintu di mana ada seorang perempuan yang bergerak mengintip-intip dengan ragu. Ranaya menghela na
"Untuk kerja sama yang kamu minta kapan hari, aku acc hari ini." Ranaya berucap dengan tegas.Ruangan itu hening sejenak setelah Ranaya mengucapkan kata-kata itu.Hati Sagara terasa bersemi mendengar angin segar tersebut. Ia menghela napas panjang, lega karena Ranaya sudah sudi membantunya. Menyelamatkan nasib Wiratama Group, perusahaan keluarganya dari ancaman bangkrut. Tanpa sadar ia mengangguk dan mengulum senyum."Tapi jangan senang dulu."Nada suara Ranaya tegas dan dingin. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya, lalu menggesernya ke arah Sagara di atas meja kaca."Aku punya aturan dan batasan soal kerja sama kita. Silakan kamu baca dulu."Sagara mengernyitkan dahi, menatap dokumen itu dengan penuh selidik. Ia jadi merasa jika Ranaya yang sekarang tidak akan pernah membuat sesuatu menjadi mudah. Ada harga yang harus ia bayar, meski kali ini bukan dengan uang.Perlahan, Sagara mengambil dokumen itu dengan enggan dan mulai membacanya.Sementara itu, Ranaya melipat tangan
Tantri mengangguk-angguk, membenarkan keputusan Sagara. Sebagai seorang ibu, ia juga bisa merasakan firasat yang kuat bahwa anak kecil itu—Radeva—mungkin adalah cucunya. Wajahnya terlalu mirip dengan Sagara saat kecil, bahkan sorot matanya mengingatkannya pada putranya dulu."Aku harap kamu bisa membujuk Ranaya untuk melakukan tes DNA, Sagara," ujar Tantri pelan, seolah berbicara demi meyakinkan dirinya sendiri. Ia berharap rencana itu akan berhasil.Sagara menatap ibunya dengan sorot mata penuh tekad. "Iya, aku pasti akan melakukannya, Ma. Masalahnya aku memang merasa seperti sudah terikat dengan Radeva bahkan tanpa harus membuktikan apa pun."Tantri mengulas senyum tipis, seakan senyum itu mengambang di udara. Matanya menerawang jauh."Hmm … naluri seorang ayah, ya, mungkin …." gumamnya.Sagara diam. Pikirannya tengah menebak-nebak. Ia membayangkan bagaimana kalau anak itu memang anak kandungnya. Ada sesuatu yang terasa aneh menyelinap diam-diam di hatinya setiap kali mengingat boca