“Ini apa, Mbak?” Ranaya terheran-heran sewaktu menatap ponselnya. Ia baru sempat membaca chat susulan Yanti ketika asisten dan anaknya sudah tiba di rumah. “Itu lokasi kami tadi, Bu. Seumpama Bu Ranaya mau mengirim hadiah ke pria yang nyelametin Dek Radeva, nah di situ tinggalnya, hehehe ….” Ranaya menghela napas panjang, menatap Yanti yang berdiri di hadapannya dengan wajah menyesal. “Jadi, sampai sekarang kamu nggak tahu nama pria yang nyelametin Radeva kemarin?” Tatapan Yanti meredup dan merunduk. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lantas tersenyum kikuk sambil mencuri pandang ke arah majikannya. “Hehe, iya. Maaf, Bu. Saya lupa nanya.” Ranaya menutup wajah dengan satu tangan. Merasa amat frustrasi. “Mbak Yanti, Mbak Yanti … penyakit lupamu itu kapan sembuhnya, sih?! Aku mau kirim bingkisan buat orangnya, tapi gimana kalau nama aja nggak tahu. Masa aku harus tulis ‘Untuk Om Baik’ gitu? Bisa-bisa nyasar dong ah!” “Eh, iya juga, ya.” “Ya, makanya ….” Ranaya ber
Last Updated : 2025-03-03 Read more