All Chapters of Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali: Chapter 21 - Chapter 30

92 Chapters

21. Pengakuan Sherly

"Sagara, ayo cari Ranaya sekali lagi!" Alih-alih memperhatikan Sherly yang sedang berbicara kepadanya, pikiran Tantri justru tersulut oleh kecemasannya sendiri. Hal itu membuat kecewa Sherly yang ucapannya justru terpotong. “Gawat, Sagara, pokoknya kita harus cepat menemukan Ranaya apa pun yang terjadi!” tambahnya lagi. Sagara menatap ibunya dengan napas yang tersendat. Ia sendiri sudah kehabisan akal sebenarnya. Kemarin ia menyusuri hampir seluruh sudut kota, tetapi tetap tidak ada jejak perempuan itu. "Ma, mau ke mana lagi kita cari dia? Kita sudah cari kemana-mana," ungkapnya pelan sambil berusaha menahan frustrasi. Mungkin saja Ranaya memang tidak mau ditemukan, batinnya. “Pasti ada cara.” Mata Tantri melebar saat mengucapkannya. Pandangannya tidak terlepas dari satu titik. “Mungkin Ranaya belum pergi jauh. Dia kan lagi sakit.” Tantri manggut-manggut tanpa sadar. Ia yakin akan pendapatnya barusan. Mana mungkin seseorang yang sedang sakit mampu melakukan perjalanan jau
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

22. Sapu Tangan dengan Bordir Tulip

Sebuah sapu tangan putih dengan bordir bunga tulip di salah sudutnya masih menjadi pusat perhatian Sagara. Jemarinya mengusap lembut kain itu, seakan mencoba merasakan jejak pemiliknya yang telah pergi. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela kantornya membuat sapu tangan itu tampak berkilau. Di sela-sela pekerjaannya, Sagara lebih memilih memperhatikan sapu tangan yang kini masih berada di tangannya. Benarkah ini milik Ranaya? Tapi, kalau tidak, kenapa bisa ada di kamarnya? Sagara tentu saja pernah mencari sapu tangan serupa di toko-toko maupun platform online. Namun, tak ada sapu tangan yang dijual sama persis seperti sapu tangan yang ada di hadapannya. Sebenarnya ini cukup mengganggunya sejak saat itu. Ia belum sempat mendapat jawaban yang benar dari bibir wanita yang kini telah pergi dari kehidupannya. Sementara ia sendiri tak ingat apakah Ranaya memang pernah satu sekolah dengannya. Rasa-rasanya tidak, sekuat apa pun dirinya menguras ingatan. Tak terasa kerutan hal
last updateLast Updated : 2025-02-16
Read more

23. Keluarga Besar Hadiwijanto

Mobil hitam yang ditumpangi Ranaya akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar nan megah. Gerbang besi yang tinggi perlahan terbuka, memperlihatkan halaman luas dengan taman yang tertata rapi dan bangunan utama yang menjulang gagah. Namun, bagi Ranaya, ini bukanlah pemandangan yang indah. Melainkan jeruji yang menambah kecamuk di pikirannya. Mau dibawa ke mana ia sekarang? Lebih tepatnya, siapa yang menangkapnya? Tempat apa juga ini?! Detak jantungnya berpacu, tubuhnya bergetar. Ia menatap pria-pria berjas yang kini turun dari mobil. Wajah mereka tetap datar tanpa ekspresi. Tak ada jawaban untuk segala kebingungannya. Seorang pria menariknya keluar, mendorongnya ke halaman belakang rumah tanpa memberi kesempatan untuk bertanya. Langkah kaki Ranaya terpaksa ikut terburu-buru, sampai hampir terseret karena cengkeraman erat di lengannya. Ranaya mencoba meronta, tapi sia-sia. "Tolong, lepaskan aku!" Tidak ada yang menjawab. Ia dibawa melewati lorong panjang di sekitar taman
last updateLast Updated : 2025-02-19
Read more

24. Bagaimana Kalau Bertunangan Dulu?

Semua orang membisu setelah mendengar kalimat yang baru saja Sherly lontarkan. Kini sorot mata mereka tertuju kepada Sagara. Hening dan ketegangan lantas menyelimuti atmosfer di ruang tamu keluarga Wiratama. “Apa benar itu, Sagara?” Suara bariton yang sarat amarah lantas keluar dari mulut Harto. Tampak rahang pria tersebut sudah mengeras. Sagara hanya menarik napas panjang. Ia tidak akan mungkin membantah. Memang itulah kebenarannya. Nasi sudah menjadi bubur karena Sherly sudah lancang mengatakannya di depan kedua orang tuanya. Sejujurnya, tentu ia akan berani menjawabnya secara lantang. Toh, dirinya sudah lama ingin punya istri seimut dan sepolos Sherly. Namun, entah kenapa kini rasanya begitu berat. Seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. “Ya, benar,” sahut Sagara akhirnya. Tantri yang duduk di samping Harto sontak mengusap wajahnya. Perasaan malu dan kecewa bercampur menjadi satu. Sekilas ia menoleh ke arah Mayang dengan sungkan. Bagaimanapun ia dan Mayang sudah
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more

25. Hari Pertama sebagai Penerus

Ranaya duduk dengan tenang di meja makan yang luas dan mewah. Sejujurnya dari awal ia berusaha menyesuaikan diri dengan suasana sekitar. Sejak tadi ia lebih banyak diam sambil menyimak obrolan para kerabat yang masih asing baginya. Sesekali matanya melirik ke arah ibunya yang tampak sudah akrab dengan beberapa orang. Ida dan Ranaya memang berbeda. Jika ibunya itu mudah bergaul, berbeda dengan Ranaya yang memiliki sikap pengamat dan hati-hati yang sifatnya diturunkan dari Sugik. "Kamu tuh kebanyakan diam, Ran. Dari dulu kalau ketemu orang baru selalu begitu." Demikian yang diucapkan Ida jika Ranaya menyatakan ketakjuban pada ibunya yang cepat mengenal banyak orang dalam waktu singkat. Ranaya tersenyum samar seraya menyesap pelan minuman dingin yang baru saja terhidang saat membayangkan momen tersebut. Di sela lamunannya, seorang perempuan dengan senyum lebar menyodorkan piring ke arah Ranaya. "Mbak, cobain ayam ingkungnya juga, deh. Enak lo! Ini selalu jadi andalan tukang masak
last updateLast Updated : 2025-02-21
Read more

26. Saya Tahu Di Mana Ranaya

“Ya, bagus, Bu Ranaya! Ini kesempatan kita untuk mencari lebih banyak keuntungan lagi!” Beberapa pemegang saham menyuarakan pendapatnya. Sebagian besar memang berambisi untuk mengeruk pembagian hasil usaha yang lebih besar lagi. Acel yang duduk di seberangnya menganga lebar. Ia menggenggam pulpen dengan erat dan menggeram samar. Kekesalan jelas terpatri di wajahnya. ‘Baru pertama kali di kantor aja udah belagu!’ batinnya. Sejujurnya Acel tak menyukai Ranaya dari awal bertemu. Ranaya yang menurutnya cantik, menjadi tanda bahaya baginya. Sejak saat itu ia menganggap Ranaya sebagai saingan. Apalagi keluarganya memang mengincar bisnis berlian ini. Tentu saja kedatangan Ranaya sekarang merupakan gangguan terbesar bagi Acel dan keluarganya! Bagaimanapun Acel juga sudah bekerja keras agar mendapatkan pujian dari ibunya. Ia sudah bersusah payah mendapatkannya sejak kakek masih hidup. Ranaya memperbaiki letak kacamatanya, mengamati orang-orang di depannya, lantas mengulas senyum. Pa
last updateLast Updated : 2025-02-22
Read more

27. Anak Tanpa Ayah

Sagara menatap layar ponselnya cukup lama. Pesan dari Sarah Nabila itu membuatnya tertegun. Ada sedikit debaran aneh di dadanya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya ada titik terang mengenai Ranaya. Tak ingin membuang waktu, ia langsung mengucapkan terima kasih kepada petugas tadi, lalu melangkah menjauh sambil mengetik balasan dengan cepat. [Kamu teman dekatnya Ranaya, ya? Bisa kamu beri tahu di mana dia sekarang?] Sagara menunggu balasannya dengan harap-harap cemas. Karena ia tak ingin terlihat begitu resah, maka ia segera masuk ke dalam mobilnya lagi. Begitu ia menutup pintu mobil, bunyi dengung singkat ponselnya kembali terdengar. Cahaya di matanya langsung meredup. [Maaf, saya belum bisa memberitahu kamu. Tapi, sebenarnya kalau kamu mau, kamu akan menemukannya.] Dada Sagara mendadak sesak. Kecewa. Ia sudah berharap lebih. Harusnya ia bisa langsung mendapat jawaban, bukan teka-teki seperti ini. Sagara menggeram pelan. Jemarinya meremas setir mobil, sementara matanya m
last updateLast Updated : 2025-02-23
Read more

28. Si Kecil Radeva

"Alhamdulillah, ternyata kamu di sini!" Alis tebal Sagara tertaut sewaktu menangkap seorang wanita bertubuh tambun yang berseru sambil setengah berlari mendekati bocah kecil yang tadi bersamanya. Sagara memperkirakan jika wanita tersebut berusia 30-an. “Terima kasih ya, Pak, sudah menjaga anak ini.” Sepasang mata itu menatap Sagara penuh syukur. Sekilas Sagara menelisik penampilan orang yang sekarang ada di hadapannya. Wanita itu dikuncir sekenanya dan mengenakan kaos putih polos yang lumayan kedombrangan bersama celana kain hitam. Tas selempang sederhana melilit sebagian tubuhnya. "Maaf, Anda siapanya?" tanya Sagara. Tentu ia harus memastikan bahwa wanita tersebut bukan berniat menculik bocah lelaki ini. "Saya Yanti, asisten yang mengurus anak ini," sahut wanita tersebut tergesa-gesa. "Sekali lagi terima kasih, lo, Pak, sudah menjaga Radeva. Kalau nggak, saya bisa dimarahin nanti." Sagara melirik anak kecil yang kini mengerucutkan bibir tampak kesal, lantas merajuk dengan
last updateLast Updated : 2025-02-26
Read more

29. Kencan Lagi?

Peka terhadap perubahan gestur tubuh ibunya, Radeva kecil ikut menghentikan langkah kakinya, lalu mendongak. “Ada apa, Ma?” tanyanya memastikan. Ranaya terpaksa menerbitkan senyum di bibir. “Ah, nggak apa-apa, Sayang. Kita duduk di kursi sebelah sana, yuk.” Ranaya mengajak Radeva berjalan lagi sembari menuding meja yang sekarang sudah ditempati oleh seorang pria pemilik rahang tegas dan bercambang. Pria itu belum menyadari kehadiran Ranaya maupun Radeva. Tablet yang tengah ia pegang menutupi hampir sebagian wajahnya. Pandangan Radeva turut berlabuh pada pria tersebut. Ia memperhatikan dengan kening yang berkerut. “Apa Mama menyukainya?” Lagi-lagi Radeva memastikan kebahagiaan ibunya. Apakah anak ini bisa menangkap gerak-gerik tak nyamannya? Ranaya mengulum senyum. Sementara mereka masih melangkah melewati sejumlah meja. “Mama suka pria baik, Sayang. Dan mungkin pria itu juga baik,” tukasnya. Walau ia sendiri sebenarnya tak yakin. Restoran itu tak begitu ramai, tapi cukup
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

30. Sebuah Trauma

“Terus kenapa Mama sembunyi?" Pertanyaan dari bibir polos Radeva itu menusuk Ranaya lebih dalam daripada yang ia kira. Seketika dadanya terasa sesak. Kenapa, ya? Apakah ia masih takut? Masih terluka? Atau sebenarnya, ia hanya belum siap berhadapan dengan kenyataan bahwa dunia yang dulu pernah mengecewakannya kini mulai merayap lagi ke kehidupan barunya? Ranaya berpikir cepat. Kebohongan yang akan ia ucapkan hanya akan melukai Radeva nanti. Tentu saja ia tak tega. Jadi tak ada pilihan lain bagi Ranaya selain …. “Aduh!” Tiba-tiba Ranaya mencengkeram perutnya. Ia meringis kesakitan sampai tubuhnya melengkung seperti busur yang ditarik. Seketika Radeva panik menyaksikan ibunya kesakitan begitu. Bocah cilik itu langsung berhambur dan memeluk ibunya sambil bertanya, “Ma … Mama kenapa? Ada yang bisa Depa bantu, nggak?” “Mama sakit perut, Sayang. Kita masuk mobil dulu saja, yuk. Mama ingin istirahat dulu,” ungkapnya. Radeva sontak mengangguk dan mengiyakan secara polos. Tanga
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more
PREV
123456
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status