Share

23. Keluarga Besar Hadiwijanto

Author: Glory Bella
last update Last Updated: 2025-02-19 20:06:14
Mobil hitam yang ditumpangi Ranaya akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar nan megah. Gerbang besi yang tinggi perlahan terbuka, memperlihatkan halaman luas dengan taman yang tertata rapi dan bangunan utama yang menjulang gagah.

Namun, bagi Ranaya, ini bukanlah pemandangan yang indah. Melainkan jeruji yang menambah kecamuk di pikirannya.

Mau dibawa ke mana ia sekarang? Lebih tepatnya, siapa yang menangkapnya?

Tempat apa juga ini?!

Detak jantungnya berpacu, tubuhnya bergetar. Ia menatap pria-pria berjas yang kini turun dari mobil. Wajah mereka tetap datar tanpa ekspresi. Tak ada jawaban untuk segala kebingungannya.

Seorang pria menariknya keluar, mendorongnya ke halaman belakang rumah tanpa memberi kesempatan untuk bertanya. Langkah kaki Ranaya terpaksa ikut terburu-buru, sampai hampir terseret karena cengkeraman erat di lengannya. Ranaya mencoba meronta, tapi sia-sia.

"Tolong, lepaskan aku!"

Tidak ada yang menjawab. Ia dibawa melewati lorong panjang di sekitar taman
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   24. Bagaimana Kalau Bertunangan Dulu?

    Semua orang membisu setelah mendengar kalimat yang baru saja Sherly lontarkan. Kini sorot mata mereka tertuju kepada Sagara. Hening dan ketegangan lantas menyelimuti atmosfer di ruang tamu keluarga Wiratama. “Apa benar itu, Sagara?” Suara bariton yang sarat amarah lantas keluar dari mulut Harto. Tampak rahang pria tersebut sudah mengeras. Sagara hanya menarik napas panjang. Ia tidak akan mungkin membantah. Memang itulah kebenarannya. Nasi sudah menjadi bubur karena Sherly sudah lancang mengatakannya di depan kedua orang tuanya. Sejujurnya, tentu ia akan berani menjawabnya secara lantang. Toh, dirinya sudah lama ingin punya istri seimut dan sepolos Sherly. Namun, entah kenapa kini rasanya begitu berat. Seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. “Ya, benar,” sahut Sagara akhirnya. Tantri yang duduk di samping Harto sontak mengusap wajahnya. Perasaan malu dan kecewa bercampur menjadi satu. Sekilas ia menoleh ke arah Mayang dengan sungkan. Bagaimanapun ia dan Mayang sudah

    Last Updated : 2025-02-20
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   25. Hari Pertama sebagai Penerus

    Ranaya duduk dengan tenang di meja makan yang luas dan mewah. Sejujurnya dari awal ia berusaha menyesuaikan diri dengan suasana sekitar. Sejak tadi ia lebih banyak diam sambil menyimak obrolan para kerabat yang masih asing baginya. Sesekali matanya melirik ke arah ibunya yang tampak sudah akrab dengan beberapa orang. Ida dan Ranaya memang berbeda. Jika ibunya itu mudah bergaul, berbeda dengan Ranaya yang memiliki sikap pengamat dan hati-hati yang sifatnya diturunkan dari Sugik. "Kamu tuh kebanyakan diam, Ran. Dari dulu kalau ketemu orang baru selalu begitu." Demikian yang diucapkan Ida jika Ranaya menyatakan ketakjuban pada ibunya yang cepat mengenal banyak orang dalam waktu singkat. Ranaya tersenyum samar seraya menyesap pelan minuman dingin yang baru saja terhidang saat membayangkan momen tersebut. Di sela lamunannya, seorang perempuan dengan senyum lebar menyodorkan piring ke arah Ranaya. "Mbak, cobain ayam ingkungnya juga, deh. Enak lo! Ini selalu jadi andalan tukang masak

    Last Updated : 2025-02-21
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   26. Saya Tahu Di Mana Ranaya

    “Ya, bagus, Bu Ranaya! Ini kesempatan kita untuk mencari lebih banyak keuntungan lagi!” Beberapa pemegang saham menyuarakan pendapatnya. Sebagian besar memang berambisi untuk mengeruk pembagian hasil usaha yang lebih besar lagi. Acel yang duduk di seberangnya menganga lebar. Ia menggenggam pulpen dengan erat dan menggeram samar. Kekesalan jelas terpatri di wajahnya. ‘Baru pertama kali di kantor aja udah belagu!’ batinnya. Sejujurnya Acel tak menyukai Ranaya dari awal bertemu. Ranaya yang menurutnya cantik, menjadi tanda bahaya baginya. Sejak saat itu ia menganggap Ranaya sebagai saingan. Apalagi keluarganya memang mengincar bisnis berlian ini. Tentu saja kedatangan Ranaya sekarang merupakan gangguan terbesar bagi Acel dan keluarganya! Bagaimanapun Acel juga sudah bekerja keras agar mendapatkan pujian dari ibunya. Ia sudah bersusah payah mendapatkannya sejak kakek masih hidup. Ranaya memperbaiki letak kacamatanya, mengamati orang-orang di depannya, lantas mengulas senyum. Pa

    Last Updated : 2025-02-22
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   27. Anak Tanpa Ayah

    Sagara menatap layar ponselnya cukup lama. Pesan dari Sarah Nabila itu membuatnya tertegun. Ada sedikit debaran aneh di dadanya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya ada titik terang mengenai Ranaya. Tak ingin membuang waktu, ia langsung mengucapkan terima kasih kepada petugas tadi, lalu melangkah menjauh sambil mengetik balasan dengan cepat. [Kamu teman dekatnya Ranaya, ya? Bisa kamu beri tahu di mana dia sekarang?] Sagara menunggu balasannya dengan harap-harap cemas. Karena ia tak ingin terlihat begitu resah, maka ia segera masuk ke dalam mobilnya lagi. Begitu ia menutup pintu mobil, bunyi dengung singkat ponselnya kembali terdengar. Cahaya di matanya langsung meredup. [Maaf, saya belum bisa memberitahu kamu. Tapi, sebenarnya kalau kamu mau, kamu akan menemukannya.] Dada Sagara mendadak sesak. Kecewa. Ia sudah berharap lebih. Harusnya ia bisa langsung mendapat jawaban, bukan teka-teki seperti ini. Sagara menggeram pelan. Jemarinya meremas setir mobil, sementara matanya m

    Last Updated : 2025-02-23
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   28. Si Kecil Radeva

    "Alhamdulillah, ternyata kamu di sini!" Alis tebal Sagara tertaut sewaktu menangkap seorang wanita bertubuh tambun yang berseru sambil setengah berlari mendekati bocah kecil yang tadi bersamanya. Sagara memperkirakan jika wanita tersebut berusia 30-an. “Terima kasih ya, Pak, sudah menjaga anak ini.” Sepasang mata itu menatap Sagara penuh syukur. Sekilas Sagara menelisik penampilan orang yang sekarang ada di hadapannya. Wanita itu dikuncir sekenanya dan mengenakan kaos putih polos yang lumayan kedombrangan bersama celana kain hitam. Tas selempang sederhana melilit sebagian tubuhnya. "Maaf, Anda siapanya?" tanya Sagara. Tentu ia harus memastikan bahwa wanita tersebut bukan berniat menculik bocah lelaki ini. "Saya Yanti, asisten yang mengurus anak ini," sahut wanita tersebut tergesa-gesa. "Sekali lagi terima kasih, lo, Pak, sudah menjaga Radeva. Kalau nggak, saya bisa dimarahin nanti." Sagara melirik anak kecil yang kini mengerucutkan bibir tampak kesal, lantas merajuk dengan

    Last Updated : 2025-02-26
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   29. Kencan Lagi?

    Peka terhadap perubahan gestur tubuh ibunya, Radeva kecil ikut menghentikan langkah kakinya, lalu mendongak. “Ada apa, Ma?” tanyanya memastikan. Ranaya terpaksa menerbitkan senyum di bibir. “Ah, nggak apa-apa, Sayang. Kita duduk di kursi sebelah sana, yuk.” Ranaya mengajak Radeva berjalan lagi sembari menuding meja yang sekarang sudah ditempati oleh seorang pria pemilik rahang tegas dan bercambang. Pria itu belum menyadari kehadiran Ranaya maupun Radeva. Tablet yang tengah ia pegang menutupi hampir sebagian wajahnya. Pandangan Radeva turut berlabuh pada pria tersebut. Ia memperhatikan dengan kening yang berkerut. “Apa Mama menyukainya?” Lagi-lagi Radeva memastikan kebahagiaan ibunya. Apakah anak ini bisa menangkap gerak-gerik tak nyamannya? Ranaya mengulum senyum. Sementara mereka masih melangkah melewati sejumlah meja. “Mama suka pria baik, Sayang. Dan mungkin pria itu juga baik,” tukasnya. Walau ia sendiri sebenarnya tak yakin. Restoran itu tak begitu ramai, tapi cukup

    Last Updated : 2025-02-27
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   30. Sebuah Trauma

    “Terus kenapa Mama sembunyi?" Pertanyaan dari bibir polos Radeva itu menusuk Ranaya lebih dalam daripada yang ia kira. Seketika dadanya terasa sesak. Kenapa, ya? Apakah ia masih takut? Masih terluka? Atau sebenarnya, ia hanya belum siap berhadapan dengan kenyataan bahwa dunia yang dulu pernah mengecewakannya kini mulai merayap lagi ke kehidupan barunya? Ranaya berpikir cepat. Kebohongan yang akan ia ucapkan hanya akan melukai Radeva nanti. Tentu saja ia tak tega. Jadi tak ada pilihan lain bagi Ranaya selain …. “Aduh!” Tiba-tiba Ranaya mencengkeram perutnya. Ia meringis kesakitan sampai tubuhnya melengkung seperti busur yang ditarik. Seketika Radeva panik menyaksikan ibunya kesakitan begitu. Bocah cilik itu langsung berhambur dan memeluk ibunya sambil bertanya, “Ma … Mama kenapa? Ada yang bisa Depa bantu, nggak?” “Mama sakit perut, Sayang. Kita masuk mobil dulu saja, yuk. Mama ingin istirahat dulu,” ungkapnya. Radeva sontak mengangguk dan mengiyakan secara polos. Tanga

    Last Updated : 2025-02-27
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   31. Menyingkirkan Anak Itu

    Siang itu, di sebuah restoran yang menyajikan makanan Italia, Acel berjalan dengan langkah setengah mengendap. Pandangannya was-was, sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tak ada yang mengenalinya. Langkahnya kemudian membawanya ke sebuah meja di sudut ruang dan berhenti di sana, di mana seorang pria bercambang sudah duduk menunggu. Tanpa banyak basa-basi, Acel langsung menjatuhkan diri di kursi, meraih buku menu, mengangkat tinggi-tinggi, dan menempelkan di wajahnya. "Sialan, kamu ngagetin saja!" Yusuf mendesis kesal ketika Acel tiba-tiba sudah duduk di hadapannya selagi ia masih menggulir tabletnya. “Lagian, ngapain sih kamu fokus banget?! Lihatin apa?” kukuh Acel tak kalah sewot. Ia menyibakkan rambutnya yang hanya sebatas dagu. “Nih, aku lihat saham propertiku yang lagi bagus-bagusnya!” Yusuf mencondongkan layar ke arah Acel dengan raut wajah bangga. Acel hanya meresponsnya dengan memutar bola mata. Sejujurnya malas meladeni sikap sombong Yusuf. Sontak Yusuf meren

    Last Updated : 2025-02-28

Latest chapter

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   90. Membeli Kepercayaan

    “Ranaya?”“Kamu sedang apa?”Ranaya buru-buru melirik ponselnya yang masih memanggil nomor misterius itu dan langsung mematikannya."Oh, nggak, ini aku lagi barusan nonton video." Ia mencoba mencari alasan. Dengan gerakan canggung ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. "Kenapa, Rio?""Nggak apa-apa. Kamu masih lama di sini, kan? Seumpama aku pulang dulu nggak apa-apa? Soalnya aku harus menemui rekan kerja dulu di dekat sini.""Nggak papa banget, kok. Kamu duluan aja. Ini Deva juga masih makan,” sanggah Ranaya menggeleng seraya melambaikan kedua tangannya dan mengusung senyum.Ia sama sekali tidak merasa keberatan. Lagian, sepertinya Radeva juga masih betah berada di sini. Sesekali anaknya itu melenguh keenakan karena ayam goreng yang ia santap terasa sangat gurih di lidahnya."Oke, Ran. Sekali lagi aku minta maaf, ya."Rio memasukkan barang-barangnya dengan tergesa―termasuk dua ponselnya, meraih jaket, kemudian keluar dari tempat makan dengan langkah cepat.Usai Ranaya mengangk

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   89. Siapa Pengirim Pesan Misterius?

    Angin yang berembus lembut di dermaga kecil tepi danau kala sore itu tak mampu menenangkan gejolak yang membara di dada Sagara. Rahangnya mengeras begitu telinganya menangkap dengan jelas nama yang keluar dari bibir Ranaya saat menjawab telepon.Pria itu lagi, pria itu lagi! Kenapa Rio selalu merusak momen yang tengah ia bangun bersama Ranaya?!Padahal sempat ada kelegaan dalam diri Sagara saat ia tahu bahwa Ranaya bukanlah istri pria tersebut. Namun, kedekatan mereka, cara Rio selalu ada di sekitar Ranaya, membuat bara cemburu di hatinya kian membesar.Ranaya menutup teleponnya dengan cepat. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan mengangkat wajah ke arah Sagara. Tatapan pria itu sudah berubah. Dingin, tajam, penuh emosi yang tak bisa ia definisikan."Aku minta maaf, Mas. Aku harus pergi dulu," ujarnya sedikit merasa bersalah.Sagara menatapnya tanpa berkedip. "Ke mana? Menemui Rio?" tembaknya langsung.Untuk sejenak Ranaya mengerutkan kening samar. Nada suara Sagara berubah

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   88. Resor Tepi Danau

    "Kamu serius?"Ranaya meliriknya sekilas, lantas kembali sibuk pada dokumen-dokumennya. Alisnya masih saling tertaut saking tak percayanya.Sagara menghela napas, lalu menyandarkan satu tangan ke meja. Kini tubuhnya sedikit condong ke arah Ranaya hingga kepala perempuan itu mendongak dan mundur secara refleks dalam sisi waspada."Apa aku terlihat bercanda sekarang?" tanya Sagara seraya menunjuk wajahnya sendiri.Ranaya susah payah menelan saliva. Dari jarak sedekat ini, apalagi kini hanya mereka berdua yang tinggal di ruang rapat, Ranaya takut jika degup jantungnya yang mulai menggila terdengar sampai telinga Sagara.Ranaya berdeham pelan. Ia menggeser tubuhnya untuk memberi jarak aman. Perempuan itu berusaha menjaga ekspresinya agar tetap netral."Kalau begitu, aku yang tentukan tempatnya,” tukasnya, ingin mempercepat perbincangan di antara mereka.Lagian, apa kata orang-orang kalau sampai mereka tahu Ranaya dan Sagara berduaan di sini?!Sagara mengangkat bahu. Seutas senyum simpul t

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   87. Pretty Lilies for a Pretty Someone

    Malam itu, restoran fine dining dihiasi cahaya temaram, memantulkan kilau lembut di atas meja marmer. Sebuah buket bunga lili putih tergeletak di tengah meja.Acel menatap bunga itu dengan alis sedikit mengernyit, tetapi kini bibirnya mengembang dalam senyum kecil."Lili?" Acel mengangkat bunga tersebut. "Ini serius untukku?”Rio yang kala itu sudah berpakaian rapi dari ujung rambut hingga kaki mengangguk. Matanya masih terpana pada sosok perempuan cantik berambut pendek di hadapannya.“Of course, pretty lilies for a pretty someone,” ucapnya dengan merekahkan senyum.Acel sontak tergelak. Dahinya muncul garis-garis halus lagi. “Kupikir kamu lebih suka memberi mawar merah untuk wanita yang kamu kencani."Rio menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai. Senyum tipis itu masih menghiasi wajahnya."Mawar merah terlalu klise. Aku memilih lili karena melambangkan kecerdasan dan ambisi. Sama sepertimu."Acel terkekeh kecil, lantas menyibak rambut pendeknya yang berkilau."Hmm … gombalanmu b

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   86. Pergolakan Tantri

    "Apa ini, Ma?”Sagara bertanya dengan nada keheranan. Matanya mulai melucuti setiap bagian amplop tersebut hingga membolak-balikkannya secara teliti.Tantri dengan wajah kaku karena efek masker wajah yang tengah dipakainya perlahan melangkah mendekati Sagara. Matanya mulai berbinar tatkala mendapati tulisan yang merupakan tempat tujuannya tadi."Oh, itu. Ini promo treatment di klinik depan," sahutnya santai, sebelum akhirnya dengan cepat menyambar amplop itu dari tangan Sagara.Sagara menatap ibunya dengan alis bertaut. Pandangannya tak lepas dari Tantri yang tengah sibuk melepas segel amplop tersebut."Treatment? Mama mau treatment?"Tantri tersenyum tipis, membuka amplop itu dan mengeluarkan selebaran berwarna pastel yang berisi daftar perawatan kecantikan. Matanya menelusuri tulisan di dalamnya dengan tenang, seolah mengabaikan ekspresi bingung anaknya."Kan sekarang Mama sudah tua, Sagara," ujarnya pelan. Dua ujung bibirnya tertarik ke bawah sehingga membentuk lengkungan yang dala

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   85. Adegan Pijat-Memijat

    “Om Papa!”Tiba-tiba Radeva muncul dari pintu dan berhambur menuju Sagara.Pria itu sontak tertawa menyaksikan bocah mungil yang menggemaskan tersebut berlari kepadanya. Ia kemudian sedikit membungkukkan badan dan menyambut Radeva ke dalam gendongannya. Rupanya hal tersebut sedikit mengganggu pemandangan Ranaya. Ia menyaksikan adegan itu dengan tatapan kecewa. Bukannya berlari ke arahnya, tetapi Radeva malah memilih memeluk Sagara langsung.“Deva, kok kamu ke sini, Sayang? Kan Mama belum jemput?” tanya Ranaya sembari mengerutkan kening.Radeva yang masih berada di gendongan Sagara menyahut, “Sekolah Depa bebas, Ma. Tadi aku minta jemput Mbak Yanti bial bisa sulplise-in Mama!”Bocah itu mengatakannya sambil berpegangan erat pada bahu Sagara, serta menempelkan pipinya yang chubby sehingga terlihat seperti mochi yang penuh dan menyembul keluar.Setelahnya Ranaya dan Sagara sama-sama menatap pintu di mana ada seorang perempuan yang bergerak mengintip-intip dengan ragu. Ranaya menghela na

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   84. Hal Menarik di Flare & Co

    "Untuk kerja sama yang kamu minta kapan hari, aku acc hari ini." Ranaya berucap dengan tegas.Ruangan itu hening sejenak setelah Ranaya mengucapkan kata-kata itu.Hati Sagara terasa bersemi mendengar angin segar tersebut. Ia menghela napas panjang, lega karena Ranaya sudah sudi membantunya. Menyelamatkan nasib Wiratama Group, perusahaan keluarganya dari ancaman bangkrut. Tanpa sadar ia mengangguk dan mengulum senyum."Tapi jangan senang dulu."Nada suara Ranaya tegas dan dingin. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya, lalu menggesernya ke arah Sagara di atas meja kaca."Aku punya aturan dan batasan soal kerja sama kita. Silakan kamu baca dulu."Sagara mengernyitkan dahi, menatap dokumen itu dengan penuh selidik. Ia jadi merasa jika Ranaya yang sekarang tidak akan pernah membuat sesuatu menjadi mudah. Ada harga yang harus ia bayar, meski kali ini bukan dengan uang.Perlahan, Sagara mengambil dokumen itu dengan enggan dan mulai membacanya.Sementara itu, Ranaya melipat tangan

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   83. Tanda Merah di Leher

    Tantri mengangguk-angguk, membenarkan keputusan Sagara. Sebagai seorang ibu, ia juga bisa merasakan firasat yang kuat bahwa anak kecil itu—Radeva—mungkin adalah cucunya. Wajahnya terlalu mirip dengan Sagara saat kecil, bahkan sorot matanya mengingatkannya pada putranya dulu."Aku harap kamu bisa membujuk Ranaya untuk melakukan tes DNA, Sagara," ujar Tantri pelan, seolah berbicara demi meyakinkan dirinya sendiri. Ia berharap rencana itu akan berhasil.Sagara menatap ibunya dengan sorot mata penuh tekad. "Iya, aku pasti akan melakukannya, Ma. Masalahnya aku memang merasa seperti sudah terikat dengan Radeva bahkan tanpa harus membuktikan apa pun."Tantri mengulas senyum tipis, seakan senyum itu mengambang di udara. Matanya menerawang jauh."Hmm … naluri seorang ayah, ya, mungkin …." gumamnya.Sagara diam. Pikirannya tengah menebak-nebak. Ia membayangkan bagaimana kalau anak itu memang anak kandungnya. Ada sesuatu yang terasa aneh menyelinap diam-diam di hatinya setiap kali mengingat boca

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   82. Demi Radeva

    Ruangan itu seketika hening. Hanya suara gesekan kain yang terdengar saat Radeva sibuk kembali melipat baju kecilnya. Tapi, kepala Ranaya masih dipenuhi kalimat barusan.Setelah mengatakannya, Radeva memang sibuk sendiri lagi dalam merapikan baju-baju di depannya. Namun, ungkapan anak itu rupanya berdampak cukup dalam pada Ranaya. Tanpa sadar, bibirnya jadi tertekuk murung."Jadi Deva nggak bahagia kalau sama Mama?" tanyanya berusaha tetap tenang.Radeva menoleh cepat. Wajah imutnya terlihat bingung. "Bukan gitu, Ma. Depa bahagia kok hidup dan punya mama sepelti Mama.""Tapi setelah beltemu Om Papa, Depa jadi ingin selalu dekat dengan Om Papa."Jantung Ranaya mencelos. Selama ini, ia berusaha membangun dunia yang cukup untuk anaknya. Namun, hanya dalam sekali pertemuan dengan Sagara, dunia yang ia bangun itu terasa goyah.Ranaya lantas tersenyum tipis, tapi perih di hatinya tidak bisa diabaikan."Om Papa itu baik banget, Ma. Aku melasa nyaman dan cocok. Mungkin sepelti itu ya yang dil

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status