Share

35. Jangan Gila, Sagara!

Author: Glory Bella
last update Last Updated: 2025-03-02 19:42:44
“Sayang, kamu jangan gila! Bukannya kamu yang bilang kalau klien juga sudah nunggu kita?!”

Mata Sherly membeliak, tak percaya jika Sagara malah memilih menemui seorang anak kecil yang tidak jelas asal-usulnya ketimbang menemui orang yang jelas-jelas penting!

“Sebentar, aku mau ngomong sama anak itu, Sher. Kamu tunggu di atas dulu, nanti aku nyusul,” ujarnya masih bersikeras.

Bahkan sekarang ia sudah berlari turun, menyingkap sekumpulan orang yang sekiranya menghalangi jalan, lantas berlari meninggalkan Sherly yang kesal dengan sikap mendadak Sagara.

Sagara lantas berusaha mengejar dua orang yang berjalan sembari saling bergandengan tangan di depannya sekarang.

“Radeva!” panggilnya.

Bocah dan wanita yang ada di sisinya menoleh. Sebelum Radeva sempat merespons, Sagara menghampirinya dan langsung mendaratkan kedua tangannya pada bahu kecil Radeva.

“Deva, kamu mau ke mana? Nggak pulang, kan? Bisa tunggu Om bentar?” ungkap Sagara dengan napas masih terengah-engah.

Radeva men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   36. Petaka Anak Mirip Sagara

    “Serius kamu, Sher? Memangnya Sagara bisa ketemu anak itu di mana?” Suara Mayang yang ada di seberang telepon terdengar terkejut. Sherly melirik ke arah Sagara dan bocah yang sedang bermain itu sekilas. Rahangnya mengatup rapat. “Iyaaa, serius, Mi!! Aku nggak tahu dari mana Sagara bisa nemuin anak ini! Tapi umurnya pas banget sama waktu Ranaya pergi! Aneh, kan?!” Sherly menghentakkan kakinya. Kali ini ia benar-benar panik. Suara Mayang terdiam sejenak seperti sedang berpikir. Setelah itu, ia mengatakan dengan lembut. “Tenang, jangan khawatir. Kamu jangan gegabah. Bisa saja ini cuma kebetulan. Sher. Mending kamu cari tahu lebih dulu siapa nama mamanya.” Sherly mendengus kesal. Ia menggigiti kuku telunjuknya sekarang. “Gimana caranya? Emang bakal berhasil, Mi?!” Berikutnya suara helaan napas panjang terdengar dari speaker ponselnya. “Ya kamu pakai cara pendekatan lebih halus, dong. Lebih kalem gitu. Pokoknya kamu harus bisa dekati dia dulu. Kalau benar dia anaknya Ranaya,

    Last Updated : 2025-03-02
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   37. Om Baik

    “Ini apa, Mbak?” Ranaya terheran-heran sewaktu menatap ponselnya. Ia baru sempat membaca chat susulan Yanti ketika asisten dan anaknya sudah tiba di rumah. “Itu lokasi kami tadi, Bu. Seumpama Bu Ranaya mau mengirim hadiah ke pria yang nyelametin Dek Radeva, nah di situ tinggalnya, hehehe ….” Ranaya menghela napas panjang, menatap Yanti yang berdiri di hadapannya dengan wajah menyesal. “Jadi, sampai sekarang kamu nggak tahu nama pria yang nyelametin Radeva kemarin?” Tatapan Yanti meredup dan merunduk. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lantas tersenyum kikuk sambil mencuri pandang ke arah majikannya. “Hehe, iya. Maaf, Bu. Saya lupa nanya.” Ranaya menutup wajah dengan satu tangan. Merasa amat frustrasi. “Mbak Yanti, Mbak Yanti … penyakit lupamu itu kapan sembuhnya, sih?! Aku mau kirim bingkisan buat orangnya, tapi gimana kalau nama aja nggak tahu. Masa aku harus tulis ‘Untuk Om Baik’ gitu? Bisa-bisa nyasar dong ah!” “Eh, iya juga, ya.” “Ya, makanya ….” Ranaya ber

    Last Updated : 2025-03-03
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   38. Itu Ranaya?!

    Setelah beberapa saat berkelahi dengan pikirannya sendiri, Sagara akhirnya mendesah panjang, lantas memutar setir mobilnya. Mobilnya berputar balik dan kemudian melaju kencang demi mengejar mobil tadi. Kali ini Sagara harus memastikan bahwa penglihatannya tak mungkin salah. Itu benar Ranaya, kan? Kepalanya terus berdengung memikirkan nama itu. Suara deru mesin mobil bergema di telinga Sagara, berpadu dengan debar jantungnya yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia mengetatkan genggaman di setir, menatap mobil di depannya dengan tatapan penuh tekad selama di perjalanan. Pandangan Sagara tajam menatap lintas jalan raya yang ramai kendaraan. Sejenak matanya menyipit. Ia yakin perempuan tadi mirip Ranaya. Namun, ada hal ganjil. Kenapa perempuan itu tak mengenakan kacamata? Sagara menggertakkan giginya, lalu memacu mobilnya lebih kencang. Perasaan yang membuncah di dadanya entah apa namanya. Marah? Sama sekali tidak. Bingung? Mungkin. Atau justru lebih dari itu? Sagara ing

    Last Updated : 2025-03-03
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   39. Penculikan Terselubung

    “Yusuf, tolong jangan berbelit-belit.” Ranaya mengatupkan bibirnya. Nada suaranya terdengar menekan lawan bicara. Masalahnya dari tadi Yusuf tak segera to the point dan hanya berputar-putar tentang bagaimana sosok pria yang disukai Ranaya sebab pria itu akan berubah seperti yang Ranaya idamkan. “Aku akan langsung mengatakannya saja. Maaf, aku tidak bisa terima kamu. Sekarang aku hanya ingin fokus pada bisnis dan membesarkan anakku dulu,” desahnya. Akhirnya ia lega dapat mengatakannya secara jujur. Hening sejenak di ujung sana sebelum Yusuf akhirnya menjawab. “Ranaya, aku tahu kamu masih ragu. Tapi, dengar, aku sungguh-sungguh mencintaimu.” Suara lelaki itu terdengar tetap bersikeras merayu. “Aku akan melakukan apa pun untuk kamu dan anakmu. Kalian tidak akan kekurangan apa pun bersamaku. Aku janji.” Ranaya menahan diri untuk tidak mendengus keras. Hatinya tidak tergerak sedikit pun meski pria itu berusaha menyakinkannya dengan segala janji manisnya. Bukannya ia tak butuh sese

    Last Updated : 2025-03-04
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   40. Mengungkap Rahasia

    Radeva membelalak. Tubuh kecilnya menggigil ketakutan saat melihat pria besar di hadapannya memutar-mutar pisau dengan santai. Yusuf menyeringai, tatapannya liar dan dingin. “Toloooong … Mama ….” Radeva terisak. Di benaknya hanya menyisakan ibunya seorang. Sementara ketakutan akan kematian dan ketidakjumpaannya dengan sosok spesial tersebut menghantui bagian sisi lainnya. "Percuma kamu teriak-teriak di sini, Bocah," sentak Yusuf dengan suara baritonnya. "Nggak ada yang bakal dengar!" “Astaga, aku benci bocah ini!” serunya lagi sambil memijat hidung. Radeva meringis. Air mata semakin deras mengalir di pipinya. Bocah itu sebenarnya sedang menggigit bibir demi menahan agar isakannya tak keluar. Ia tak mau terlihat lemah. Tangan Radeva yang terikat lalu meronta berusaha melepaskan diri. "Aku mau pulang sekalang!" raungnya lagi. Suaranya terdengar bergetar, tetapi tetap tegas. Hal tersebut justru membuat tawa Yusuf pecah. Ia terbahak-bahak begitu keras di depan anak itu. "

    Last Updated : 2025-03-04
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   41. Balas Dendam Terbaik

    Sejujurnya Ranaya tak mau menguping pembicaraan orang lain sebab hal itu bukan urusannya. Tetapi, ingatan tentang percakapan Acel di kantor tempo hari kembali melintas di pikirannya. Hal tersebut kemudian mengubah persepsi dari sesuatu yang bukan urusannya menjadi masalah yang perlu ia ketahui dan harus ia urus selanjutnya. "Hah, kok bisa kamu meloloskan anak itu?! Aku nggak mau tahu, habis ini kerjaan kamu dan orang-orangmu harus benar!" Sesuatu terasa janggal. Ranaya kembali mengingat ucapan Acel saat bertelepon di kantor lalu. Apakah ini berarti Acel ada sangkut pautnya dengan penculikan Radeva? Apa Acel dan Yusuf beneran bekerja sama di belakangnya?! Matanya menyipit, telinganya fokus mendengar. Namun, rupanya telepon Acel sudah diputus. Perempuan itu masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki dihentak-hentakkan. Mata Radeva yang jernih diam-diam menatap Ranaya dalam keheningan malam. Bocah itu berdiri di sisi Ranaya dengan mendongakkan kepala, sementara ibunya masih term

    Last Updated : 2025-03-05
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   42. Pesan Misterius

    "Oh, itu ... itu tadi yang nyuci Mbak Susi, Sagara." Tantri menjawab dengan tangan yang sibuk mengoleskan minyak kayu putih di pelipisnya. Sagara yang masih berdiri di ambang pintu ruang tamu melipat dahi. Alis tebalnya bertaut, memandangi sapu tangan yang kini berada di genggamannya. "Mbak Susi? Siapa lagi itu, Ma?" tanyanya heran. Ia sengaja menekan suaranya agar tak terdengar kesal sebab sapu tangannya sudah diambil tanpa izin. Tantri mendengus pelan. Ia meletakkan botol minyak kayu putih di meja, lalu menatap anaknya. "Mama terpaksa cari asisten, Sagara. Umur Mama nggak muda lagi. Akhir-akhir ini gampang capek ngurus rumah sendirian." Sagara mengangguk paham. Sorot matanya kembali tertuju pada sapu tangan di tangannya. Ia meneliti dengan meraba tekstur kain lembut itu menggunakan ujung jari. Bordir tulip di sudutnya masih tampak jelas, meskipun sudah sedikit kusam. "Makanya, kamu tuh cepat nikah sama Sherly biar Mama ada yang bantuin," sindir Tantri kemudian. Sagara

    Last Updated : 2025-03-05
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   43. Wanita dengan Aroma Tuberose

    Jantung Ranaya berdegup lebih cepat. Jemarinya yang memegang ponsel sedikit gemetar. Nomor asing itu kembali mengirim pesan, sama seperti sebelumnya yang selalu menggantung tanpa maksud jelas. Siapa sebenarnya pemilik nomor ini? Apa maunya?! Matanya menelusuri layar, lalu dengan tekad bulat ia membalas pesan itu walau tahu jika pesannya nanti akan diabaikan. [Siapa ini? Apa kita pernah kenal? Tolong jawab jujur.] Ranaya mendesah panjang, berusaha mengabaikan kegelisahan yang mulai mengendap di dadanya. Namun, tanpa ia duga pesan berikutnya muncul. Pesannya dibalas oleh sosok asing tersebut! [Kamu nanti akan tahu sendiri, Ranaya. Tidak akan lama lagi.] Sepasang alis Ranaya saling bertautan. Ia sendiri sejujurnya tak sabar mengetahui siapa dalang di balik nomor tersebut. Meski begitu, ia juga tak yakin akan bagaimana merespons orang ini. *** Pagi ini Ranaya sedang bercermin setelah mengenakan setelan blus merah dan rok hitam miliknya. Untuk sejenak ia terkesima dengan waj

    Last Updated : 2025-03-06

Latest chapter

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   91. Phising

    Ranaya melangkah dengan anggun. Sesekali ia mengamati sekeliling dengan tatapan tenang namun penuh pengawasan. Begitu berbelok ke salah satu ruangan, seorang pegawainya segera berdiri menyambutnya dengan sikap hormat."Ada yang bisa kami bantu, Bu Ranaya?" tanya pegawai itu dengan nada sopan.Ranaya tersenyum tipis. "Aku hanya ingin memastikan apakah desain yang kemarin sudah dikirim ke tim produksi? Karena produksi harus dilakukan hari ini juga."Pegawai itu langsung mengangguk cepat merespons ucapan pimpinannya. "Benar, Bu. Semua sudah kami proses sesuai instruksi Anda.""Bagus," ujar Ranaya mengangguk puas. "Terima kasih."“Baik, Bu, sama-sama.”Ranaya lalu melanjutkan langkahnya keluar dan berjalan dengan tenang di sepanjang koridor. Namun, tanpa sengaja, ia justru berpapasan dengan Acel. Perempuan berambut pendek itu juga tengah melangkah penuh percaya diri sembari sibuk berbicara di telepon.Pandangan mereka sempat bertemu sekilas, tapi hanya sebatas itu. Keduanya melangkah mele

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   90. Membeli Kepercayaan

    “Ranaya?”“Kamu sedang apa?”Ranaya buru-buru melirik ponselnya yang masih memanggil nomor misterius itu dan langsung mematikannya."Oh, nggak, ini aku lagi barusan nonton video." Ia mencoba mencari alasan. Dengan gerakan canggung ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. "Kenapa, Rio?""Nggak apa-apa. Kamu masih lama di sini, kan? Seumpama aku pulang dulu nggak apa-apa? Soalnya aku harus menemui rekan kerja dulu di dekat sini.""Nggak papa banget, kok. Kamu duluan aja. Ini Deva juga masih makan,” sanggah Ranaya menggeleng seraya melambaikan kedua tangannya dan mengusung senyum.Ia sama sekali tidak merasa keberatan. Lagian, sepertinya Radeva juga masih betah berada di sini. Sesekali anaknya itu melenguh keenakan karena ayam goreng yang ia santap terasa sangat gurih di lidahnya."Oke, Ran. Sekali lagi aku minta maaf, ya."Rio memasukkan barang-barangnya dengan tergesa―termasuk dua ponselnya, meraih jaket, kemudian keluar dari tempat makan dengan langkah cepat.Usai Ranaya mengangk

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   89. Siapa Pengirim Pesan Misterius?

    Angin yang berembus lembut di dermaga kecil tepi danau kala sore itu tak mampu menenangkan gejolak yang membara di dada Sagara. Rahangnya mengeras begitu telinganya menangkap dengan jelas nama yang keluar dari bibir Ranaya saat menjawab telepon.Pria itu lagi, pria itu lagi! Kenapa Rio selalu merusak momen yang tengah ia bangun bersama Ranaya?!Padahal sempat ada kelegaan dalam diri Sagara saat ia tahu bahwa Ranaya bukanlah istri pria tersebut. Namun, kedekatan mereka, cara Rio selalu ada di sekitar Ranaya, membuat bara cemburu di hatinya kian membesar.Ranaya menutup teleponnya dengan cepat. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan mengangkat wajah ke arah Sagara. Tatapan pria itu sudah berubah. Dingin, tajam, penuh emosi yang tak bisa ia definisikan."Aku minta maaf, Mas. Aku harus pergi dulu," ujarnya sedikit merasa bersalah.Sagara menatapnya tanpa berkedip. "Ke mana? Menemui Rio?" tembaknya langsung.Untuk sejenak Ranaya mengerutkan kening samar. Nada suara Sagara berubah

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   88. Resor Tepi Danau

    "Kamu serius?"Ranaya meliriknya sekilas, lantas kembali sibuk pada dokumen-dokumennya. Alisnya masih saling tertaut saking tak percayanya.Sagara menghela napas, lalu menyandarkan satu tangan ke meja. Kini tubuhnya sedikit condong ke arah Ranaya hingga kepala perempuan itu mendongak dan mundur secara refleks dalam sisi waspada."Apa aku terlihat bercanda sekarang?" tanya Sagara seraya menunjuk wajahnya sendiri.Ranaya susah payah menelan saliva. Dari jarak sedekat ini, apalagi kini hanya mereka berdua yang tinggal di ruang rapat, Ranaya takut jika degup jantungnya yang mulai menggila terdengar sampai telinga Sagara.Ranaya berdeham pelan. Ia menggeser tubuhnya untuk memberi jarak aman. Perempuan itu berusaha menjaga ekspresinya agar tetap netral."Kalau begitu, aku yang tentukan tempatnya,” tukasnya, ingin mempercepat perbincangan di antara mereka.Lagian, apa kata orang-orang kalau sampai mereka tahu Ranaya dan Sagara berduaan di sini?!Sagara mengangkat bahu. Seutas senyum simpul t

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   87. Pretty Lilies for a Pretty Someone

    Malam itu, restoran fine dining dihiasi cahaya temaram, memantulkan kilau lembut di atas meja marmer. Sebuah buket bunga lili putih tergeletak di tengah meja.Acel menatap bunga itu dengan alis sedikit mengernyit, tetapi kini bibirnya mengembang dalam senyum kecil."Lili?" Acel mengangkat bunga tersebut. "Ini serius untukku?”Rio yang kala itu sudah berpakaian rapi dari ujung rambut hingga kaki mengangguk. Matanya masih terpana pada sosok perempuan cantik berambut pendek di hadapannya.“Of course, pretty lilies for a pretty someone,” ucapnya dengan merekahkan senyum.Acel sontak tergelak. Dahinya muncul garis-garis halus lagi. “Kupikir kamu lebih suka memberi mawar merah untuk wanita yang kamu kencani."Rio menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai. Senyum tipis itu masih menghiasi wajahnya."Mawar merah terlalu klise. Aku memilih lili karena melambangkan kecerdasan dan ambisi. Sama sepertimu."Acel terkekeh kecil, lantas menyibak rambut pendeknya yang berkilau."Hmm … gombalanmu b

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   86. Pergolakan Tantri

    "Apa ini, Ma?”Sagara bertanya dengan nada keheranan. Matanya mulai melucuti setiap bagian amplop tersebut hingga membolak-balikkannya secara teliti.Tantri dengan wajah kaku karena efek masker wajah yang tengah dipakainya perlahan melangkah mendekati Sagara. Matanya mulai berbinar tatkala mendapati tulisan yang merupakan tempat tujuannya tadi."Oh, itu. Ini promo treatment di klinik depan," sahutnya santai, sebelum akhirnya dengan cepat menyambar amplop itu dari tangan Sagara.Sagara menatap ibunya dengan alis bertaut. Pandangannya tak lepas dari Tantri yang tengah sibuk melepas segel amplop tersebut."Treatment? Mama mau treatment?"Tantri tersenyum tipis, membuka amplop itu dan mengeluarkan selebaran berwarna pastel yang berisi daftar perawatan kecantikan. Matanya menelusuri tulisan di dalamnya dengan tenang, seolah mengabaikan ekspresi bingung anaknya."Kan sekarang Mama sudah tua, Sagara," ujarnya pelan. Dua ujung bibirnya tertarik ke bawah sehingga membentuk lengkungan yang dala

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   85. Adegan Pijat-Memijat

    “Om Papa!”Tiba-tiba Radeva muncul dari pintu dan berhambur menuju Sagara.Pria itu sontak tertawa menyaksikan bocah mungil yang menggemaskan tersebut berlari kepadanya. Ia kemudian sedikit membungkukkan badan dan menyambut Radeva ke dalam gendongannya. Rupanya hal tersebut sedikit mengganggu pemandangan Ranaya. Ia menyaksikan adegan itu dengan tatapan kecewa. Bukannya berlari ke arahnya, tetapi Radeva malah memilih memeluk Sagara langsung.“Deva, kok kamu ke sini, Sayang? Kan Mama belum jemput?” tanya Ranaya sembari mengerutkan kening.Radeva yang masih berada di gendongan Sagara menyahut, “Sekolah Depa bebas, Ma. Tadi aku minta jemput Mbak Yanti bial bisa sulplise-in Mama!”Bocah itu mengatakannya sambil berpegangan erat pada bahu Sagara, serta menempelkan pipinya yang chubby sehingga terlihat seperti mochi yang penuh dan menyembul keluar.Setelahnya Ranaya dan Sagara sama-sama menatap pintu di mana ada seorang perempuan yang bergerak mengintip-intip dengan ragu. Ranaya menghela na

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   84. Hal Menarik di Flare & Co

    "Untuk kerja sama yang kamu minta kapan hari, aku acc hari ini." Ranaya berucap dengan tegas.Ruangan itu hening sejenak setelah Ranaya mengucapkan kata-kata itu.Hati Sagara terasa bersemi mendengar angin segar tersebut. Ia menghela napas panjang, lega karena Ranaya sudah sudi membantunya. Menyelamatkan nasib Wiratama Group, perusahaan keluarganya dari ancaman bangkrut. Tanpa sadar ia mengangguk dan mengulum senyum."Tapi jangan senang dulu."Nada suara Ranaya tegas dan dingin. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya, lalu menggesernya ke arah Sagara di atas meja kaca."Aku punya aturan dan batasan soal kerja sama kita. Silakan kamu baca dulu."Sagara mengernyitkan dahi, menatap dokumen itu dengan penuh selidik. Ia jadi merasa jika Ranaya yang sekarang tidak akan pernah membuat sesuatu menjadi mudah. Ada harga yang harus ia bayar, meski kali ini bukan dengan uang.Perlahan, Sagara mengambil dokumen itu dengan enggan dan mulai membacanya.Sementara itu, Ranaya melipat tangan

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   83. Tanda Merah di Leher

    Tantri mengangguk-angguk, membenarkan keputusan Sagara. Sebagai seorang ibu, ia juga bisa merasakan firasat yang kuat bahwa anak kecil itu—Radeva—mungkin adalah cucunya. Wajahnya terlalu mirip dengan Sagara saat kecil, bahkan sorot matanya mengingatkannya pada putranya dulu."Aku harap kamu bisa membujuk Ranaya untuk melakukan tes DNA, Sagara," ujar Tantri pelan, seolah berbicara demi meyakinkan dirinya sendiri. Ia berharap rencana itu akan berhasil.Sagara menatap ibunya dengan sorot mata penuh tekad. "Iya, aku pasti akan melakukannya, Ma. Masalahnya aku memang merasa seperti sudah terikat dengan Radeva bahkan tanpa harus membuktikan apa pun."Tantri mengulas senyum tipis, seakan senyum itu mengambang di udara. Matanya menerawang jauh."Hmm … naluri seorang ayah, ya, mungkin …." gumamnya.Sagara diam. Pikirannya tengah menebak-nebak. Ia membayangkan bagaimana kalau anak itu memang anak kandungnya. Ada sesuatu yang terasa aneh menyelinap diam-diam di hatinya setiap kali mengingat boca

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status