Semua Bab Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan: Bab 1 - Bab 10

27 Bab

01. Ayesha

Kawasan Tanjong Pagar diserbu hujan deras malam itu, genangan-genangan air terbentuk yang memantulkan cahaya lampu neon dari gedung-gedung tinggi berkilauan. Tetesan air yang jatuh dengan cepat dan deras menciptakan suara gemuruh yang konstan, seperti ribuan drum kecil yang dipukul secara bersamaan. Bunyi klakson kendaraan dan deru kereta MRT (Mass Rapid Transit) yang melintas di atas viaduk menciptakan irama kota yang tak pernah tidur. Di antara hiruk-pikuk ini, ada bagian kota yang tampak sedikit lebih sunyi, jauh dari pusat keramaian. Sebuah gedung tua teguh berdiri dengan pintu masuk yang disembunyikan oleh bayangan gedung-gedung modern di sekitar. Tepatnya ada di lantai dasar gedung itu, cahaya kuning redup memancar dari sebuah jendela kecil, menandakan aktivitas di dalamnya.Di sana, Ayesha berdiri di depan meja kerjanya, mengenakan jas lab putih yang tampak kebesaran, seolah dia terlalu sibuk untuk peduli pada detail penampilannya. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-20
Baca selengkapnya

02. Masa Lalu

Gemerlap cahaya dari lampu-lampu malam terpantul ke permukaan Singapore River yang tak sepenuhnya tenang. Sungai ini mengalir melalui pusat kota dengan melewati Jembatan Kim Seng sampai menuju ke Marina Bay. Bertahun-tahun sebelumnya, di tempat yang sama, di sebuah kafe kecil di tepian sungai, Ayesha duduk menunggu seorang pria yang telah merampas perhatiannya. Malam itu, tubuhnya berbalut gaun biru tua sederhana, rambut hitam terurai dengan sedikit gelombang, dan senyum gugup melukis wajah. Dia ingat betapa gugupnya dia, menanti pria bernama Daren itu. Daren, dengan pesona dan ambisi besarnya, menyusup ke kehidupan Ayesha seperti badai, meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini dia kokohkan.Mereka pertama kali berjumpa di sebuah seminar ilmiah yang diadakan NTU – tempat Ayesha menjadi pembicara tamu. Daren yang saat itu masih seorang mahasiswa pascasarjana dengan fokus pada politik dan hubun
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-21
Baca selengkapnya

03. Laboratorium

Sebuah laboratorium kecil yang bertempat di lantai dasar gedung tua itu ibarat tempat perlindungan bagi Ayesha dari dunia luar. Di sana, dia merasa bisa mengontrol semuanya, sebuah kontras tajam dari perasaan tidak berdaya yang menghantuinya sejak pengkhianatan Daren. Akan tetapi suara hujan yang mengetuk jendela menyadarkan bayangan masa lalu tentang Daren yang belum benar-benar meninggalkannya. Daren masih hadir, bukan sebagai kenangan manis, melainkan sebagai luka terbuka yang senantiasa mengganggu pikirannya.Ayesha berdiri di depan kandang kaca, tawon-tawon raksasa hasil eksperimennya terkurung di dalam. Vespa mandarinia, dengan tubuh besar hitam-oranye berkilauan terkena pantulan cahaya lampu, terlihat layaknya simbol kekuatan dan ketangguhan yang ia inginkan. Dia melihat mereka dengan perasaan campur aduk, antara
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-22
Baca selengkapnya

04. Ketukan Pintu

Tok tok tokSuara ketukan pintu terdengar malam itu, menggema dan menyebar di dalam laboratorium yang sunyi. Ayesha saat itu tengah memeriksa kembali data hasil eksperimen pada layar komputer ketika ketukan dari arah pintu menginterupsi konsentrasinya. Mulanya, dia berpikir bahwa itu adalah ilusi semata, tetapi terbantah sudah ketika ketukan itu terdengar lagi, lebih keras dan semakin jelas. Berangkat dari separuh keraguan, Ayesha melepaskan diri dari kursi, langkah-langkah pelan dituntun menuju sumber suara. Pertanyaannya cuma satu. Siapa gerangan yang akan mencarinya di tempat terpencil seperti ini?Dan faktanya hanya segelintir orang saja Ayesha yakin mengetahui keberadaan laboratorium independen kecil barunya ini.Saat kenop pintu diputar dan pintu tertarik ke
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-23
Baca selengkapnya

05. Kemunculan Alexei

Langit malam kian larut saat Ayesha menangkap suara langkah kaki yang berat dengan telinganya mendekat ke pintu laboratorium. Pintu yang seharusnya tidak mudah ditemukan, terlebih oleh orang luar. Rasa curiga langsung menjalari tubuhnya, memicu degup jantung lebih cepat. Tatapannya tertuju ke pintu dengan kening berkerut, layar komputer berisi data eksperimen tawon yang menjadi fokusnya sedari tadi terabaikan.Ketukan semakin keras terdengar, tidak seperti ketukan biasa. Terdapat irama tertentu yang berkesan, seperti seseorang yang ingin menunjukkan kehadirannya tanpa ragu. Ayesha memilih berjalan pelan ke arah pintu, terhenti sejenak sebelum membukanya. Dengan nafas tertahan, dia memberanikan diri untuk membuka pintu sedikit, sekilas untuk melihat wajah yang belum pernah dikenalnya. Sosok itu tinggi, tegap, dengan jas hitam yang terkesan mahal. Mata dengan iris birunya tajam dan menusuk, menatap langsung
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-25
Baca selengkapnya

06. Kecurigaan

Cahaya pagi menyusup masuk ke apartemen mereka yang minimalis, memantulkan kemewahan sederhana dari lantai kayu yang mengkilap. Ayesha tengah duduk di kursi dekat dapur, mengenakan piyama sutra berwarna sage, memegang secangkir teh hangat di tangannya. Di atas meja, vas bunga mawar merah yang sudah mulai layu tetap berdiri layaknya hubungan mereka yang kian terasa rapuh. Pikirannya sedang terbang, tersangkut pada jaring kekosongan yang sulit diuraikan, sementara suara langkah Daren mencatut jarak kian mendekat dari arah kamar tidur.Daren muncul seperti biasanya dengan jas formal yang kali ini berwarna abu-abu, dasinya sudah tergantung rapi di leher tanpa bantuan Ayesha. Rambut hitam pendeknya disisir sempurna menonjolkan wajah karismatik. Namun, kali ini, ada sedikit perbedaan dalam gerak-geriknya. Langkah Daren terlihat tergesa-gesa, tatapannya enggan menyapa mata Ayesha saat dia melangkah ke dapur untuk
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-25
Baca selengkapnya

07. Pesan Cassandra

Malam itu, hujan deras kembali mengguyur seisi kota. Ayesha duduk tenang di ruang tamu, mengerjakan laporan hasil penelitiannya sambil sesekali melirik ponsel yang tergeletak di meja. Daren masih belum menapakkan kaki di apartemen, meski sudah pukul sepuluh malam. Perasaan yang awalnya tenang berubah menjadi gelisah. Pikirannya tak berhenti berputar, menerka-nerka apa sekiranya yang menjadi penyebab keterlambatan Daren, tetapi malah kecurigaan yang semakin mencuat ke permukaan. Padahal sudah beberapa kali Ayesha mengubur perasaan itu.KlekkKetika akhirnya Daren masuk kembali pulang, jasnya basah kuyup diterjang hujan, tetapi senyumnya tetap tenang dan biasa saja,"Aku terlambat lagi, maaf ya Ayesha," katanya sambil melepas dasi dan menggantungkan jaket di dekat pintu.A
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-26
Baca selengkapnya

08. Ketegangan

Ketegangan begitu mewarnai suasana apartemen malam itu. Meski lampu ruangan menyala terang, tetapi tidak cukup agaknya mengusir kegelapan. Bukan kegelapan dalam artian sejati, tapi kegelapan yang menggantung di antara Ayesha dan Daren. Ayesha berdiri di ruang tamu, tubuhnya tegang dan nafas yang tersengal-sengal. Di tangannya, dia menggenggam ponsel saksi bisu perselingkuhan Daren. Tatapannya berubah tajam, menusuk langsung ke arah pria yang selama ini dia cintai. Daren, di sisi yang berlawanan, berdiri beberapa langkah, mencoba terlihat tenang, tetapi tangan yang perlahan bergerak ke arah dasi menunjukkan kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan.“Kita perlu bicara, sekarang juga,” suara Ayesha memecah keheningan. Suaranya meskipun tidak keras, tetapi penuh tekanan yang menggambarkan amarah yang dia coba tahan.Daren menatapnya dengan alis berkeru
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-28
Baca selengkapnya

09. Keterpurukan

Hari-hari setelah perdebatan dengan Daren itu berlalu dengan lambat, waktu seolah-olah sengaja mempermainkan Ayesha. Dia merasa bayangan dirinya terjebak dalam lingkaran pikiran infinity. Apartemen yang biasanya menjadi tempat perlindungan yang nyaman kini terasa seperti penjara. Dindingnya tampak lebih sempit, udara terasa berat dan setiap sudut ruangan seakan menyimpan kenangan berhantu.Ayesha menjadi lebih sering duduk sendirian di ruang tamu, menatap kosong ke arah jendela. Meskipun di luar, seisi kota sibuk bergerak dengan ritmenya yang normal, tetapi bagi Ayesha, bumi terasa berhenti berotasi. Kumpulan catatan dan data eksperimen di meja kerjanya sama sekali tak tersentuh selama berhari-hari. Bahkan tawon-tawon Vespa mandarinia
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-28
Baca selengkapnya

10. Titik Balik

Pagi datang menyapa lewat sinar matahari masuk melalui celah-celah tirai apartemen Ayesha. Dalam beberapa minggu terakhir, dia tidak menutup tirai sepenuhnya. Yang dia lakukan hanya duduk di meja kerja, dikelilingi oleh barang-barang hasil eksperimennya yang telah lama dia abaikan. Sebuah dorongan kecil perlahan membuat tangannya mengambil sebuah buku catatan yang penuh dengan diagram dan data tentang proyek yang sedang dia kerjakan. Halaman-halaman itu seperti membuka kembali ingatannya pada seseorang yang dulu dia kenal — dirinya sendiri dengan versi  penuh ambisi dan mimpi.Ayesha mulai membuka dari halaman pertama, membaca ulang kajiannya tentang Vespa mandarinia. Di sana tertuang hipotesis awalnya mengenai potensi tawon raksasa ini untuk bertahan dalam kondisi lingkungan ekstrim. Memorinya terulang kembal
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-29
Baca selengkapnya
Sebelumnya
123
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status