Malam itu, hujan deras kembali mengguyur seisi kota. Ayesha duduk tenang di ruang tamu, mengerjakan laporan hasil penelitiannya sambil sesekali melirik ponsel yang tergeletak di meja. Daren masih belum menapakkan kaki di apartemen, meski sudah pukul sepuluh malam. Perasaan yang awalnya tenang berubah menjadi gelisah. Pikirannya tak berhenti berputar, menerka-nerka apa sekiranya yang menjadi penyebab keterlambatan Daren, tetapi malah kecurigaan yang semakin mencuat ke permukaan. Padahal sudah beberapa kali Ayesha mengubur perasaan itu.
Klekk
Ketika akhirnya Daren masuk kembali pulang, jasnya basah kuyup diterjang hujan, tetapi senyumnya tetap tenang dan biasa saja,
"Aku terlambat lagi, maaf ya Ayesha," katanya sambil melepas dasi dan menggantungkan jaket di dekat pintu.
A
Ketegangan begitu mewarnai suasana apartemen malam itu. Meski lampu ruangan menyala terang, tetapi tidak cukup agaknya mengusir kegelapan. Bukan kegelapan dalam artian sejati, tapi kegelapan yang menggantung di antara Ayesha dan Daren. Ayesha berdiri di ruang tamu, tubuhnya tegang dan nafas yang tersengal-sengal. Di tangannya, dia menggenggam ponsel saksi bisu perselingkuhan Daren. Tatapannya berubah tajam, menusuk langsung ke arah pria yang selama ini dia cintai. Daren, di sisi yang berlawanan, berdiri beberapa langkah, mencoba terlihat tenang, tetapi tangan yang perlahan bergerak ke arah dasi menunjukkan kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan.“Kita perlu bicara, sekarang juga,” suara Ayesha memecah keheningan. Suaranya meskipun tidak keras, tetapi penuh tekanan yang menggambarkan amarah yang dia coba tahan.Daren menatapnya dengan alis berkeru
Hari-hari setelah perdebatan dengan Daren itu berlalu dengan lambat, waktu seolah-olah sengaja mempermainkan Ayesha. Dia merasa bayangan dirinya terjebak dalam lingkaran pikiran infinity. Apartemen yang biasanya menjadi tempat perlindungan yang nyaman kini terasa seperti penjara. Dindingnya tampak lebih sempit, udara terasa berat dan setiap sudut ruangan seakan menyimpan kenangan berhantu.Ayesha menjadi lebih sering duduk sendirian di ruang tamu, menatap kosong ke arah jendela. Meskipun di luar, seisi kota sibuk bergerak dengan ritmenya yang normal, tetapi bagi Ayesha, bumi terasa berhenti berotasi. Kumpulan catatan dan data eksperimen di meja kerjanya sama sekali tak tersentuh selama berhari-hari. Bahkan tawon-tawon Vespa mandarinia
Pagi datang menyapa lewat sinar matahari masuk melalui celah-celah tirai apartemen Ayesha. Dalam beberapa minggu terakhir, dia tidak menutup tirai sepenuhnya. Yang dia lakukan hanya duduk di meja kerja, dikelilingi oleh barang-barang hasil eksperimennya yang telah lama dia abaikan. Sebuah dorongan kecil perlahan membuat tangannya mengambil sebuah buku catatan yang penuh dengan diagram dan data tentang proyek yang sedang dia kerjakan. Halaman-halaman itu seperti membuka kembali ingatannya pada seseorang yang dulu dia kenal — dirinya sendiri dengan versi penuh ambisi dan mimpi.Ayesha mulai membuka dari halaman pertama, membaca ulang kajiannya tentang Vespa mandarinia. Di sana tertuang hipotesis awalnya mengenai potensi tawon raksasa ini untuk bertahan dalam kondisi lingkungan ekstrim. Memorinya terulang kembal
Hujan lagi-lagi mengguyur deras Singapura malam itu, suara gemuruh yang memantul tercipta di jendela apartemen Ayesha. Dia duduk di meja kerjanya, tangannya terus bergerak memegangi pena di atas selembar kertas kosong. Wajahnya mengeras, meskipun dari manik matanya masih menyiratkan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Di depannya, tumpukan dokumen dan laptop menjadi saksi dari malam-malam tanpa tidur yang telah dia lewati.“Aku harus melakukannya,” bisiknya pelan.Layar laptopnya menampilkan foto Daren di sebuah acara sosial. Pria itu berdiri tegak dengan senyum karismatik, para pendukung dan kolega politiknya mengelilinginya. Mungkin bagi orang lain, Daren merupakan gambaran sempurna dari seorang pemimpin masa depan, tetapi bagi Ayesha, dia tak ubah dari ambisi yang membutakan dan bayangan dari pengkhianatan.
Pagi itu, di ruang konferensi pusat organisasi nirlaba Daren dipenuhi kilau cahaya terang lampu neon. Di meja berbentuk oval besar, duduk para anggota timnya yang memasang ekspresi serius, sementara Daren berdiri di depan layar presentasi berpadu dengan setelan jasnya yang rapi, rambut tersisir sempurna, dan senyum kharismatik yang tak pernah pudar. Tetapi dibalik fasad itu, muncul ketegangan yang coba dia sembunyikan.“Angka survei di distrik selatan harus kita tingkatkan, mereka jelas-jelas mulai condong ke tokoh lain,” kata Daren sambil menunjuk histogram ungu di layar, suaranya tegas bersamaan dengan nada frustrasi yang samar, “jika tidak bertindak cepat, mereka bisa mengambil hati mayoritas sana,”Salah seorang anggota tim di meja oval, Victor, pria muda itu mengangguk. “Kami sedang merencanakan edukasi program sosial terbaru
Malam itu, hujan deras kembali singgah, gemericik air yang tercipta di jalan-jalan berkilauan disentuh cahaya lampu neon. Ayesha mengatur langkahnya masuk ke dalam sebuah bar eksklusif ‘The Secret Mermaid’ di Raffles Place, tempat yang jarang dia kunjungi. Suasana di dalam bar terasa kontras dengan hujan di luar — hangat, tenang, romantis dan penuh dengan percakapan berbisik. Rambutnya yang biasanya terikat kini dibiarkan tergerai berpadu dengan gaun hitam sederhana, sehingga memberikan kesan santai namun tetap tegas.Kedatangan Ayesha telah ditunggu oleh seorang pria yang bersembunyi di kegelapan sudut ruangan. Pakaiannya rapi dengan rambut gelap tersisir ke belakang dan setelan jas hitamnya tampak seperti dirancang khusus untuk memberikan kesan aura yang berwibawa. Alexei Romanov, nama yang belum lama ini sering muncul dalam pencarian Ayesha, kini sosoknya nyata duduk di depan seg
Keesokan paginya, Ayesha berdiam diri di apartemennya yang sunyi, jauh dari keramaian hiruk pikuk Singapura sesungguhnya.Rasanya pagi itu agak berbeda dari biasanya, lebih kelam meskipun matahari sudah eksis dan bergaya di luar jendela. Kartu nama Alexei Romanov tergeletak di meja depannya seperti sebuah undangan sekaligus hasutan untuk menyeberangi batas. Nama bos mafia itu tercetak dengan tinta hitam tebal di atas nomor telepon tanpa embel-embel lain, maksudnya seperti bachelor, master, doktor, profesor, Phd dan lain sebagainya. Sederhana, tetapi penuh kekuatan.Ayesha cukup memandangi kartu itu untuk dipenuhi perasaan bimbang. Hatinya tak pernah sepi berkonflik — persaingan antara rasa takut terhadap pria yang jelas-jelas tidak bersih dan dorongan untuk memanfaatkan kekuatannya demi menjatuhkan Daren. Dia tahu bahwa tidak bisa menganggap enteng keputusan ini. Menerima tawaran Alexei dan bekerja bersamanya berarti memasuki dunia yang berbahaya, penuh dengan risiko yang hampir mustah
Langit Singapura malam itu gelap pekat, tiada bintang ataupun rembulan yang bertuah, hanya diterangi oleh gemerlap lampu kota yang memantul dari jendela gedung pencakar langit. Ayesha kembali ke ruangan di lantai paling atas tempat Alexei menunggu, kali ini dengan keputusan yang sudah bulat. Dia tahu bahwa langkah ini akan membawa risiko besar, tetapi juga merupakan satu-satunya jalan untuk menjatuhkan Daren dan menghancurkan ambisi pria itu.Alexei berdiri di depan jendela besar, memandang ke luar dengan tangan terlipat di belakang punggungnya. Jas hitamnya terlihat sempurna, mencerminkan auranya yang dingin dan penuh kendali. Ketika Ayesha masuk, dia berbalik perlahan, senyum kecil yang hampir tidak terlihat bermain di sudut bibirnya.“Dr. Al-Farisi,” sapanya dengan nada rendah yang tegas, “senang melihat Anda kembali, saya menganggap ini be
Ayesha duduk di tepi ranjang medis kecil di sudut laboratorium itu, tubuhnya dilingkupi bayang-bayang lampu neon yang suram. Cahaya redup lampu seperti mengungkap setiap garis kelelahan di wajahnya, sementara napasnya berhembus pelan, terputus-putus seperti angin lemah yang berusaha menembus celah pintu yang rapat. Matanya menatap dinding putih di hadapannya, kosong, tak peduli pada retakan kecil di sudut atas yang biasanya menarik perhatiannya. Sekarang, dunia serasa melambat, penuh dengan gema sunyi dari rasa sakit dan bayang-bayang kejadian beberapa jam lalu.Bahunya yang terluka masih terasa menyengat, seperti api yang tak kunjung padam, membakar setiap saraf yang dilaluinya. Kulit di sekitar luka itu memerah, membengkak dengan brutal, meski sedikit demi sedikit efek dari serum penawar racun—buah kerja kerasnya selama berbulan-bulan—mulai mengurangi penderitaannya. Namun, bukan luka di bahu
Laboratorium bawah tanah itu dipenuhi suara dengungan rendah yang semakin lama semakin intens. Cahaya dari layar komputer memantulkan serangkaian data yang terus diperbarui, memperlihatkan grafik perubahan respons Vespa mandarinia terhadap sinyal feromon terbaru yang dikembangkan Ayesha. Dengan napas tertahan, Ayesha berdiri di depan kandang kaca, menatap tajam puluhan tawon yang diam di dalamnya, seolah menunggu aba-aba.Dia menggeser kursor pada layar sentuh dan menekan tombol aktivasi. Gas feromon baru mulai menyebar di dalam kandang, tidak berwarna, tidak berbau bagi manusia, tetapi memiliki dampak luar biasa bagi makhluk-makhluk kecil itu. Awalnya, mereka tetap diam. Lalu, dalam hitungan detik, tubuh mereka mulai bergerak, sayap mereka bergetar lebih cepat, dan antena mereka bergoyang seolah-olah merespons sesuatu yang tidak kasatmata.Ayesha mengamati dengan saksama sambil bergumam, “Sempurna!”Namun, sebelum dia bisa menarik kesimpulan lebih jauh, sesuatu yang tidak terduga te
Ruang pertemuan di markas Alexei dipenuhi oleh atmosfer yang tegang, seolah-olah setiap molekul udara membawa beban dari rencana besar yang akan segera dieksekusi. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni gelap terlihat kokoh dan berwibawa, di atasnya terbentang peta kota Singapura dengan detail yang luar biasa. Peta tersebut tidak hanya menampilkan jalan-jalan utama dan kawasan penting, tetapi juga ditandai dengan titik-titik merah yang menandakan area potensial untuk eksekusi Operasi Vespa—sebuah proyek rahasia yang akan mengubah keseimbangan kekuasaan di kota ini.Ayesha berdiri di salah satu sisi meja, mengenakan setelan formal yang rapi namun sederhana. Matanya yang tajam dan penuh konsentrasi mengamati setiap titik merah di peta, memetakan setiap langkah yang harus diambil. Wajahnya yang cantik namun tegas menunjukkan determinasi yang tidak goyah, mencerminkan beban
Malam semakin larut di laboratorium bawah tanah, suasana sunyi terasa mencekam. Lampu neon yang bersinar redup memantulkan bayangan-bayangan aneh di dinding, memberikan kesan suram pada ruangan tersebut. Di sudut ruangan, Ayesha duduk di depan layar komputer yang berkedip-kedip dengan cepat, matanya meneliti data yang terus berganti. Mata tajamnya memindai setiap informasi yang muncul, mencari jawaban dari anomali yang mulai terjadi. Jari-jarinya bergerak dengan kecepatan tinggi, mengetik sederet kode dan perintah, mencoba menemukan pola dalam data yang tidak biasa ini.Di meja di depannya, ada beberapa kandang kaca berisi tawon Vespa mandarinia, yang bergerak dengan gelisah. Perilaku mereka aneh, tidak seperti biasanya. Tawon-tawon itu tidak hanya merespons perintah feromon dengan lebih lambat, tetapi beberapa di antara
Malam itu, di sebuah gudang tua yang terletak jauh di perbatasan kota, Ayesha berdiri dengan tenang, matanya meneliti kandang kaca besar yang berada di tengah ruangan. Di dalamnya, puluhan Vespa mandarinia hasil modifikasi berkerumun, sesekali menggetarkan sayap mereka dengan suara mendengung yang nyaris menggetarkan dinding-dinding logam di sekitar mereka. Lampu di langit-langit hanya memberikan pencahayaan redup, menciptakan bayangan panjang di wajah Ayesha yang tampak lebih tajam dari biasanya.Di sudut lain ruangan, Alexei hanya duduk di kursi logam, satu kaki bertumpu pada lututnya sementara jemarinya memainkan pemantik api dengan santai. Di belakangnya, dua anak buahnya berdiri dengan ekspresi waspada. Mereka telah melihat banyak hal mengerikan dalam pekerjaan mereka, tetapi apa yang Ayesha bawa ke hadapan mereka m
Laboratorium rahasia yang disediakan Alexei terletak di sebuah bunker bawah tanah, tersembunyi di pinggiran kota Singapura. Dinding-dinding baja dingin memantulkan cahaya putih dari lampu-lampu neon di langit-langit, menciptakan suasana yang steril dan penuh ketegangan. Di tengah ruangan, berbagai alat laboratorium berteknologi tinggi memenuhi meja-meja panjang. Tabung-tabung reaksi berisi cairan berpendar hijau dan biru, serta inkubator yang menyimpan spesimen Vespa mandarinia yang telah dimodifikasi, berdengung dengan suara mesin yang stabil.Ayesha berdiri di depan layar komputer, tangannya bergerak cepat di atas keyboard. Di layar, tampak serangkaian kode genetik yang sedang dia sesuaikan. “Kita harus meningkatkan produksi neurotoksin alami mereka agar sengatan mereka menjadi lebih mematikan,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun.Di sampingnya, seorang asisten laboratorium yang direkrut Alexei, seorang ahli bioteknologi muda bernama Marcus, menatap lay
Jauh di bawah tanah yang tersembunyi di jantung Singapura, sebuah laboratorium rahasia berdiri kokoh dengan suasana yang misterius dan berkelas. Di dalam ruang yang penuh dengan alat-alat canggih dan teknologi mutakhir, Ayesha berdiri di depan meja laboratorium yang dipenuhi berbagai peralatan seperti tabung reaksi yang berwarna-warni, mikroskop elektron yang mencermati objek dengan presisi tinggi, dan kandang-kandang kecil yang berisi koloni Vespa mandarinia hasil modifikasi awalnya. Cahaya redup dari lampu overhead memantulkan bayangan tajam di wajahnya, menciptakan kesan dingin dan penuh determinasi. Wajahnya yang cantik tetapi tegas menunjukkan fokus yang tinggi pada pekerjaannya.Di sisi lain ruangan, duduklah Alexei di kursi kulit hitam yang elegan, menyesap anggurnya dengan elegan. Tatapannya sulit ditebak, mencerminkan kecerdasan dan ketenangan yang menakutkan. Dia memandang Ayesha dengan ketertarikan yang tidak sepenuhnya disembunyikan, seolah-olah melihat lebih dalam ke dala
Sebuah ruangan tampak gelap, hanya diterangi oleh cahaya redup dari lampu meja, dimana Ayesha berdiri dengan nafas dalam, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tak jauh di depannya, Alexei duduk dengan santainya di kursi yang terbungkus kulit hitam. Sebuah amplop berisi dokumen terselip di tangannya. Mata biru yang dingin menatap Ayesha penuh perhitungan.“Waktunya untuk langkah pertama,” ujar Alexei, suaranya terdengar tenang tetapi mengandung otoritas yang tidak terpecahkan.Dia melempar amplop itu ke atas meja, mendorongnya ke arah Ayesha,“Di dalam terdapat informasi tentang target pertama kita, bukan orang besar, tapi cukup penting sebagai pengirim pesan,”Ayesha menatap amplop itu tanpa bergerak. Tangannya sedikit berkeringat, meski
Malam itu, Ayesha duduk di balkon apartemen Alexei, gemerlap lampu kota Singapura yang bersinar di bawah langit malam menjadi pemandangan sehari-hari. Angin berhembus pelan, membawa aroma hujan yang baru saja reda. Dia menggenggam secangkir kopi di tangannya, menikmati kehangatan yang menyebar di jemarinya. Tak jauh darinya, Alexei berdiri bersandar di pagar balkon, sebuah gelas anggur merah di tangan kanan.“Jadi, Anda benar-benar tidak merasa takut setelah apa yang terjadi tadi malam?” suara Alexei memecah keheningan.Ayesha menoleh, matanya yang tajam namun tenang terpancar,“Jika saya takut, saya tidak akan ada disini,” jawabnya datar.Alexei berbalik mengamati ekspresinya selama beberapa detik sebelum mengangguk kecil.