Inara berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Alma, lalu meraih tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Dia mengusap punggung putrinya dengan lembut, mencoba menenangkannya. “Sabar, ya, Sayang ...,” bisiknya, mencoba menjaga agar nada suaranya tak bergetar. “Papa pasti akan punya waktu buat Alma nanti.”Untungnya, gadis kecil itu cukup mudah ditenangkan. Dalam pelukan Inara, ia mengangguk pelan, meskipun wajahnya masih terlihat murung. Sementara itu, Inara merasakan sesak yang makin dalam, hingga tanpa suara, air matanya kembali menggenang di pelupuknya. Seketika ia berpikir, apakah keputusannya untuk berpisah dengan Damian sudah benar?Hatinya terus mempertanyakan. Takut salah mengambil keputusan.nNamun, jika terus bertahan, dia hanya akan tersakiti melihat sang suami yang lebih memedulikan mantan kekasihnya dibanding dirinya. Inara menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan hati dan tekadnya. Setelah beberapa s
Last Updated : 2025-02-13 Read more