Pagi itu, Lia berdiri di depan pintu rumah Raka. Udara dingin menusuk kulitnya, tapi bukan itu yang membuat jantungnya berdegup kencang. Dia memandangi kertas di tangannya—salinan surat yang dia temukan di kotak kayu. Surat itu memuat janji yang samar namun mendalam, sesuatu yang membuatnya terus bertanya-tanya. Dia mengetuk pintu pelan. Beberapa detik berlalu sebelum Raka muncul, wajahnya terlihat lebih lesu dari biasanya. “Kamu nggak bilang mau ke sini,” ujarnya. Namun, nada suaranya tidak terdengar keberatan. “Aku perlu ngomong sama kamu,” jawab Lia, mencoba terdengar tegas meskipun keraguan masih melingkupinya. Raka membukakan pintu lebih lebar, mengisyaratkan Lia untuk masuk. Di ruang tamu, Lia menyerahkan surat itu kepada Raka. Dia membaca dengan seksama, alisnya berkerut semakin dalam. “Jadi, kamu pikir ini bukti kalau ada sesuatu yang lebih besar di balik semuanya?” tanyanya. Lia mengangguk. “Aku nggak tahu pasti, tapi rasanya ada sesuatu yang... salah. Terutam
Last Updated : 2024-12-22 Read more