Home / Romansa / CINTA DI BALIK BENCI / Chapter 11 - Chapter 20

All Chapters of CINTA DI BALIK BENCI: Chapter 11 - Chapter 20

101 Chapters

Bab 11

Hujan turun perlahan di pagi itu, membasahi jalan-jalan kecil di sekitar taman tempat keputusan Lia diutarakan beberapa hari lalu. Lia duduk di bangku panjang di halaman belakang rumahnya, ditemani secangkir teh hangat yang hampir dingin. Matanya menatap kosong pada bunga mawar yang bergoyang lembut dihembus angin. Ponselnya tergeletak di samping, layar yang menyala hanya menampilkan notifikasi biasa—tidak ada pesan dari Dean, tidak ada kabar dari Raka. Sejak hari itu, keduanya menghilang dari hidup Lia seperti daun yang gugur dihembus badai. Hatinya berusaha menerima keheningan ini sebagai konsekuensi dari keputusannya, tetapi bagian kecil dalam dirinya masih merindukan kehadiran mereka. Kehilangan dua pria yang begitu berarti membuat dunianya terasa kosong. Di sudut lain kota, Raka berdiri di depan rak-rak tinggi di perpustakaan sekolah. Dia memegang buku yang belum ia baca sama sekali, hanya memutar halaman tanpa benar-benar memperhatikan. “Raka,” suara seorang teman meng
last updateLast Updated : 2024-12-16
Read more

Bab 12

Pagi di sekolah terasa berbeda tanpa kehadiran Raka. Tidak ada lagi suara sepatu basketnya yang biasa terdengar di lorong, atau senyumnya yang sering ia lemparkan tanpa alasan jelas. Lia duduk di kursinya dengan tatapan kosong. Buku catatan di mejanya tetap tertutup, sementara teman-teman sekelasnya sibuk berbincang tentang ujian mendatang.“Lia.”Suara Hana, sahabatnya, membuat Lia tersadar. Lia menoleh, mencoba tersenyum meski lemah.“Lo nggak apa-apa?” tanya Hana, duduk di sampingnya dengan raut khawatir.Lia mengangguk kecil. “Aku... cuma nggak konsen.”Hana mendesah, menatap Lia dengan pandangan penuh simpati. “Gue tau ini berat buat lo. Tapi Raka pasti punya alasan kenapa dia pergi.”“Gue ngerti,” jawab Lia, menundukkan kepala. “Tapi kenapa rasanya kayak gue yang salah?”Hana tidak langsung menjawab. Ia hanya meraih tangan Lia, memberikan dukungan dalam diam. Lia tahu Hana mencoba membantu, tetapi perasaan bersalah itu tetap menghantui.Malam itu, Lia mencoba menghubungi Raka. T
last updateLast Updated : 2024-12-18
Read more

Bab 13

Seminggu setelah pertandingan persahabatan itu, hidup Lia kembali terasa seperti berjalan di atas pasir bergerak. Ia mencoba fokus pada pelajaran, tetapi pikirannya selalu terlempar ke momen saat bertemu Raka. Ucapannya masih terngiang: “Kadang, kita harus kehilangan sesuatu buat ngerti apa yang benar-benar penting.”Namun, pagi itu, sesuatu yang tak terduga terjadi. Ketika Lia membuka loker, ia menemukan sebuah surat terlipat rapi di dalamnya. Tidak ada nama pengirim, tetapi tulisan tangan yang familier membuat jantung Lia berdebar.Dengan tangan gemetar, Lia membuka surat itu.*“Lia,Aku nggak tahu apakah aku benar-benar siap menulis ini. Tapi setelah pertandingan kemarin, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan.Aku tahu aku bilang kita butuh waktu untuk masing-masing, dan aku masih percaya itu. Tapi aku juga nggak bisa menyangkal kalau aku kangen. Aku kangen semua obrolan kita, tawa kita, dan cara kamu selalu bikin hari-hari aku terasa lebih berarti.Mungkin aku bodoh karena menul
last updateLast Updated : 2024-12-18
Read more

Bab 14

Pagi itu, Lia duduk di sudut kamar sambil memandangi ponselnya. Percakapan dengan Raka di taman masih terngiang jelas di benaknya. Namun, di sisi lain, Dean terus muncul dalam pikirannya, dengan senyum hangat dan tatapan penuh kepastian.Dia berada di persimpangan yang tak pernah ia bayangkan. Bagaimana ia bisa memilih? Bagaimana ia bisa adil pada keduanya, terutama ketika hatinya sendiri terasa terbelah dua?Pesan masuk mengalihkan perhatian Lia. Itu dari Dean.“Lia, aku tahu kamu mungkin masih bingung. Tapi aku harap kita bisa bicara. Aku di tempat biasa sore ini kalau kamu mau datang.”Lia memandang pesan itu lama. Ia tahu ia tidak bisa terus menghindari Dean, tetapi hatinya belum siap untuk menghadapi kenyataan.Sore itu, Lia akhirnya memutuskan untuk menemui Dean di kafe kecil tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama. Ketika ia masuk, Dean sudah duduk di meja sudut, dengan secangkir kopi di depannya.“Lia,” sapa Dean, berdiri untuk menyambutnya. Wajahnya penuh harap, tetap
last updateLast Updated : 2024-12-19
Read more

Bab 15: Kegelisahan Lia

Langit sore dipenuhi warna oranye keemasan, tapi suasana hati Lia sama sekali tidak secerah itu. Ia duduk di bangku taman sekolah, sendirian. Di tangannya, sebuah buku catatan terbuka, tapi tak satu pun kata tercatat di sana. Lia memandang kosong ke depan. Udara dingin sore itu menusuk kulitnya, tapi pikirannya terlalu penuh untuk peduli. Ia mengingat percakapannya dengan Dean beberapa hari lalu. "Apa aku masih punya tempat di hati kamu?" Kata-kata itu terus menghantuinya, seperti rekaman yang diputar ulang di dalam kepalanya. Ia tahu Dean pantas mendapatkan jawaban, tapi mengucapkannya terasa seperti menarik napas di bawah air—sulit dan menyakitkan. "Kenapa semuanya jadi serumit ini?" gumam Lia, suaranya hampir tak terdengar. Daun-daun berguguran di sekelilingnya, jatuh perlahan seperti waktu yang terus berjalan tanpa ampun. Lia tahu dia harus memilih, tapi bagaimana mungkin ia bisa memutuskan tanpa melukai salah satu dari mereka? Langkah kaki yang berat terdengar mende
last updateLast Updated : 2024-12-20
Read more

Bab 16: Badai di Ujung Senja

Langit mulai mendung ketika Lia melangkah keluar dari rumahnya. Jantungnya berdegup kencang, seperti genderang yang tak henti-henti dipukul. Dia telah mengatur pertemuan dengan Dean dan Raka di taman kota. Kali ini, dia tak bisa lagi menghindar. Saat tiba di taman, angin dingin menyambutnya, membuat rambutnya yang terurai berkibar pelan. Taman itu tampak sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk di bangku. Lia melihat ke sekitar, mencari sosok Dean dan Raka. Dean adalah yang pertama datang. Dia mengenakan jaket denim favoritnya, dengan tangan dimasukkan ke dalam saku. Wajahnya tampak tenang, tapi ada kekhawatiran di matanya yang membuat Lia merasa semakin bersalah. “Hai,” Dean menyapa, suaranya lembut. Lia mencoba tersenyum, meski hatinya terasa berat. “Hai. Terima kasih sudah datang.” Tak lama kemudian, Raka muncul. Dia berjalan dengan langkah tegap, matanya langsung mengarah ke Lia. Tidak ada senyuman di wajahnya, hanya tatapan yang penuh arti. Lia menelan ludah. Kedua
last updateLast Updated : 2024-12-20
Read more

Bab 17: Di Bawah Bayang-Bayang Pilihan

Langit masih berwarna abu-abu ketika Dean memutuskan untuk pergi ke rumah Lia. Pikirannya dipenuhi oleh percakapan mereka terakhir kali. Kata-kata Lia tentang kebingungan dan jarak yang tak terjelaskan terus berputar di kepalanya, seperti angin yang tak berhenti berhembus di malam yang dingin. terkeju Dia berdiri di depan pagar rumah Lia, ragu-ragu. Biasanya, langkahnya tegas saat mengunjungi Lia. Tapi kali ini, ada sesuatu yang menahannya. Dean menghela napas panjang, kemudian mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Dia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Akhirnya, pintu terbuka, dan Lia berdiri di sana, tampak terkejut. “Dean? Pagi-pagi begini kamu ke sini? Ada apa?” tanya Lia, suaranya terdengar bingung namun lembut. Dean mencoba tersenyum, meski senyumnya terasa dipaksakan. “Aku cuma... pengen ngobrol. Nggak apa-apa kalau kamu sibuk.” Lia menggeleng, membukakan pintu lebih lebar. “Masuk aja.” Di ruang tamu, mereka duduk berseberangan. Suasana hening menyelimuti mereka,
last updateLast Updated : 2024-12-20
Read more

Bab 18: Di Antara Dua Dunia

Suasana di aula sekolah terasa ramai, bercampur suara siswa yang bersiap mengikuti latihan untuk acara tahunan sekolah. Lia berdiri di pojok, tangannya memegang daftar peserta sambil sesekali mencoret nama yang sudah hadir. Tapi pikirannya jelas tidak ada di sana.Dia sedang berusaha mengalihkan pikirannya dari percakapan dengan Dean dan Raka. Namun, usahanya gagal total ketika suara yang familiar memanggilnya dari belakang.“Lia, kamu sibuk?”Dia berbalik dan mendapati Dean berdiri di sana, membawa setumpuk kotak kardus berisi peralatan dekorasi. Wajahnya terlihat tenang, tapi ada sedikit ketegangan di matanya.“Enggak, cuma ngecek daftar peserta,” jawab Lia sambil mencoba terdengar biasa saja.Dean mengangguk, meletakkan kardus di meja terdekat. “Aku bantu, ya.”Sebelum Lia sempat menolak, Dean sudah mengambil daftar dari tangannya dan mulai membacanya. Lia hanya bisa berdiri di sampingnya, merasa canggung dengan kehadiran Dean yang tiba-tiba.“Lia,” kata Dean tiba-tiba, tanpa menol
last updateLast Updated : 2024-12-20
Read more

Bab 19

Lia berdiri di ambang pintu ruang tamu, tubuhnya kaku seperti patung. Wajah ibunya terlihat serius, penuh dengan rasa khawatir yang membuat suasana semakin berat.“Duduklah, Lia,” kata ibunya pelan.Lia mengangguk dan melangkah masuk, duduk di sofa yang terasa lebih dingin dari biasanya. “Ada apa, Bu?”Ibunya mengambil napas panjang sebelum berbicara. “Ibu nggak tahu harus mulai dari mana, tapi ini tentang ayahmu.”Jantung Lia berdetak lebih cepat. Sudah lama sekali mereka tidak membicarakan ayah. “Kenapa tiba-tiba bahas Ayah?”Ibu Lia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Sebenarnya, ada sesuatu yang selama ini ibu sembunyikan darimu. Dan mungkin sudah waktunya kamu tahu.”Kata-kata itu membuat perasaan Lia campur aduk. Dia memandang ibunya, mencoba membaca ekspresi wajahnya. “Apa maksud Ibu?”“Ibu tahu ini mungkin nggak ada hubungannya langsung dengan apa yang sedang kamu alami sekarang, tapi Ibu pikir ini bisa membantu kamu memahami sesuatu tentang dirimu sendiri,” ujar ibunya deng
last updateLast Updated : 2024-12-21
Read more

Bab 20

Lia berdiri di depan jendela kamar, menatap hujan yang turun deras. Rintik-rintik air membentuk pola-pola acak di kaca, seolah mewakili kekacauan pikirannya. Dia meremas tepi sweater yang dikenakannya, mencoba meredakan dingin yang entah berasal dari cuaca atau hatinya sendiri. "Kenapa semua harus jadi serumit ini?" gumamnya, suara lirihnya tenggelam dalam suara hujan. Pikirannya berputar pada apa yang baru saja Dean ungkapkan. Hubungan orang tua mereka, rahasia masa lalu, dan bagaimana semua itu seperti simpul yang tak bisa terurai. Tapi lebih dari itu, ada Raka. Kata-katanya terus terngiang di kepala Lia: "Apa aku punya alasan buat tetap tinggal?" Lia memejamkan mata, berharap bisa menemukan jawabannya. Namun, yang datang hanyalah bayangan wajah Raka dan Dean yang terus berkelebat bergantian. Keesokan harinya, Lia mencoba mencari pelarian dari pikirannya dengan membersihkan kamar. Namun, saat dia membuka laci meja belajarnya, dia menemukan amplop tua yang sudah menguning di su
last updateLast Updated : 2024-12-21
Read more
PREV
123456
...
11
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status