“Gue nggak mau,” kata Raga, bersedekap.Tubuhnya bersandar pada kursi. Matanya memandang penuh penolakan. Amira sudah menduganya, tapi tetap saja dia menghela napas. “Tapi lo kan ketua OSIS,” sahut Amira. Evan memukul meja di depan mereka. Dia menunjuk Raga tidak sabaran. “Amira bener! Lo ketua OSIS. Wajah OSIS. Harusnya lo yang jadi model, mewakili semua siswa Laveire.”Raga hanya mendengus mendengar protes dari Evan. Dia balas menantang. “Ketua OSIS bukan berarti gue harus jadi model,” sahut Raga, sinis. “Malah harusnya gue yang pilih siapa modelnya.”Suasana di ruang OSIS berubah tidak nyaman. Mereka saling pandang dalam diam, seolah menunggu seseorang angkat bicara. Evan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja dengan gelisah, sementara Amira melipat tangan, berpikir keras. Di sisi lain, Michelle hanya menunduk, berharap dirinya tidak tiba-tiba terseret dalam keputusan ini.Akhirnya, Evan menepuk dadanya sendiri. “Ya udah! Gue aja!”Evan angkat suara. Dia tidak bisa terus menunggu, t
Last Updated : 2025-02-26 Read more