Home / Young Adult / Ratu Indigo VS Bad Boy / Chapter 191 - Chapter 200

All Chapters of Ratu Indigo VS Bad Boy: Chapter 191 - Chapter 200

235 Chapters

Bab 191. Tiba-tiba Kampanye

"Akhirnya kalian datang juga!” Michelle berseru sambil melambai pada Amira dan Raga yang baru masuk ke dalam kelas. “Ada apa?” Amira mendapati suasana kelas yang tampak berbeda. Beberapa siswa sibuk mengobrol. Amira mendengar sebagian topiknya, pemilihan.“Kita diminta buat kampanye.” Ucapan Evan membuat Amira memandang cowok itu bingung. Amira sampai harus terdiam sebentar untuk mencernanya. Evan tadi bilang apa?"Kampanye?" Amira mengerutkan kening. Rasanya Amira dan Raga baru pergi sebentar. Dalam waktu sesingkat itu, mereka tiba-tiba saja diminta untuk kampanye. “Kampanye apa?” Amira masih tidak mengerti. Pemilihan apa yang akan dilakukan oleh Laveire? Ding!Nada untuk pengumuman terdengar lewat speaker di dalam kelas. Suara Reynald bergema setelahnya. “Kepada siswa kelas XI bernama Evan, Amira, Raga, dan Michelle, segera datang ke ruang kepala sekolah. Sekarang.”Raga yang pertama berdecak keras. Padahal baru hari pertama, tapi Laveire sudah merepotkan begini. “Yuk!” Evan
last updateLast Updated : 2025-02-22
Read more

Bab 192. Jangan Pilih Gue

“Kalian bisa mulai sekarang,” ucap Reynald tanpa beban. “Sekarang juga?” Amira pikir dia masih memiliki waktu tersisa, tapi sepertinya tidak ada. Pintu ruangan Reynald kembali diketuk. Saat Reynald memberikan izin masuk, terlihat Sonya yang muncul dari balik pintu. “Kelasnya sudah saya siapkan, Pak Reynald.” Sonya memberikan tanda jika mereka bisa memulai kampanye ini. Reynald pun bangkit dari kursinya. Dia melirik ke arah empat murid yang sejak tadi sudah berada di dalam ruangan. “Ayo,” ajak Reynald. Tangannya membawa kotak suara, sementara kertas yang sudah disiapkan, diberikan pada Sonya. Evan mengangkat bahu. Dia terlihat senang di balik senyum samarnya. “Yah, mau gimana lagi? Lebih cepat lebih baik, kan?” Mereka berjalan menyusuri lorong Laveire. Langkah mereka kemudian berhenti di kelas pertama. Kelas X. Harusnya adik kelas tidak membuat mereka tegang. Namun, ternyata tidak demikian. Amira berulang kali menarik napas untuk menyiapkan diri. Sonya mendahului. Dia masuk
last updateLast Updated : 2025-02-23
Read more

Bab 193. Hasil Pemungutan Suara

"Tenang dulu!" Sonya meminta perhatian seisi kelas. Dia menunggu suasana kondusif sebelum menjelaskan cara memberikan suara. "Ibu akan memberikan kertas ini. Silakan tulis nama calon yang kalian pilih, lalu lipat kertasnya." Tangan Sonya menunjuk ke arah kotak suara yang sudah diletakkan Reynald di atas meja guru di depan kelas. "Setelah itu, masukkan kertasnya ke kotak ini." Para siswa mengangguk mengerti. Setelah yakin tidak ada yang bertanya, Sonya membagikan kertas yang sejak tadi ada di tangannya. Semua siswa kelas X menuliskan pilihan mereka di kertas yang dibagikan lalu memasukkannya ke dalam kotak suara. “Kalian bisa melanjutkan pelajaran.” Sonya mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan kelas. Sekarang, mereka menuju ke kelas berikutnya. Di kelas XI, tidak ada hal yang jauh berbeda. Hanya saja, ada satu orang yang membuat suasana persaingan menjadi panas. "Aku akan pilih Amira," ucap Dina dengan suara lantang. Saat itu, Amira hanya bisa memberikan sebuah
last updateLast Updated : 2025-02-24
Read more

Bab 194. Pemimpin Baru

“Maksudnya, Pak?” Amira melirik Reynald dengan ekspresi penuh tanya. Michelle juga tidak percaya. Reynald tersenyum. "Dari hasil penghitungan suara, yang terpilih sebagai ketua OSIS Laveire adalah Raga." “Benar. Raga mendapatkan suara terbanyak.” Sonya menunjukkan hasil penghitungan di tangannya. Raga memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan. Sementara itu, Amira dan Evan hanya terpaut satu suara, menempatkan Amira sebagai wakil ketua OSIS. Evan, yang berada di posisi ketiga, akan menjabat sebagai sekretaris. Michelle sendiri akan mengisi posisi bendahara dengan jumlah suara paling sedikit. Evan langsung memprotes. "Bapak yakin nggak salah hitung?" Reynald mengerutkan dahi. "Kamu mau saya hitung ulang?" Evan membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia tahu Reynald pasti menghitung dengan benar. Evan menyaksikannya sendiri sejak tadi. Michelle menoleh ke Raga. "Raga ... lo jadi ketua OSIS." Raga memandang Michelle dengan wajah kesal. Decak keras keluar dari mulutnya berkali-k
last updateLast Updated : 2025-02-25
Read more

Bab 195. Masa Depan: Tebakan atau Kenyataan?

“Gue nggak mau,” kata Raga, bersedekap.Tubuhnya bersandar pada kursi. Matanya memandang penuh penolakan. Amira sudah menduganya, tapi tetap saja dia menghela napas. “Tapi lo kan ketua OSIS,” sahut Amira. Evan memukul meja di depan mereka. Dia menunjuk Raga tidak sabaran. “Amira bener! Lo ketua OSIS. Wajah OSIS. Harusnya lo yang jadi model, mewakili semua siswa Laveire.”Raga hanya mendengus mendengar protes dari Evan. Dia balas menantang. “Ketua OSIS bukan berarti gue harus jadi model,” sahut Raga, sinis. “Malah harusnya gue yang pilih siapa modelnya.”Suasana di ruang OSIS berubah tidak nyaman. Mereka saling pandang dalam diam, seolah menunggu seseorang angkat bicara. Evan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja dengan gelisah, sementara Amira melipat tangan, berpikir keras. Di sisi lain, Michelle hanya menunduk, berharap dirinya tidak tiba-tiba terseret dalam keputusan ini.Akhirnya, Evan menepuk dadanya sendiri. “Ya udah! Gue aja!”Evan angkat suara. Dia tidak bisa terus menunggu, t
last updateLast Updated : 2025-02-26
Read more

Bab 196. Ujian Tanpa Peringatan

"Lo masih kepikiran soal Dina?" Raga tak bisa terus diam melihat raut wajah Amira yang gelisah. Sejak tadi, Amira hanya menyandarkan kepalanya ke jendela mobil, menatap pemandangan kota yang bergerak cepat. “Masih,” sahut Amira jujur. Rasa bersalah merayapi dada Amira. Dia menyesal, menyadari betapa mudahnya dia dulu mengambil kesimpulan hanya dari potongan masa depan.Amira menghela napas panjang. "Bukan cuma Dina. Gue jadi kepikiran, selama ini ... berapa banyak hal yang gue salah artikan?"Amira terlalu yakin pada apa yang dilihatnya, tanpa mempertimbangkan bahwa kenyataan selalu lebih rumit dari sekadar bayangan sesaat.Raga mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Amira erat. "Lo yang bisa ngeliat masa depan itu emang anugerah, tapi bukan berarti lo harus nyalahin diri sendiri buat semua hal yang lo nggak pahamin dulu." Amira masih terus menghela. Dia tidak merasa lebih nyaman meski Raga sudah berusaha menghiburnya. Rasanya, pundak Amira masih berat dengan beban rasa bersal
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

Bab 197. Perhatian Kecil

“Setidaknya kamu menunjukkan kalau Laveire adalah sekolah yang bagus.” Sindiran Heri membuat Raga menatap tidak senang. Namun, Amira melarang Raga untuk mengajukan protes dengan sebuah gelengan. Jelas Amira tahu jika Raga kesal. Amira sendiri sama. Dia berusaha menjawab sebaik mungkin pertanyaan Heri, tapi tetap saja, kakek sang pacar malah memuji sekolahnya, bukan dia. “Terima kasih. Saya beruntung bisa masuk ke sekolah sebaik Laveire,” jawab Amira sopan. “Kamu juga beruntung bisa bertemu cucuku!” sahut Heri, dengan tatapan tajam. Heri berusaha mengintimidasi Amira. Namun, Amira hanya menanggapi dengan senyuman. Sikapnya tenang, seolah sindiran Heri tidak mengiris hatinya. Saat Heri akhirnya berbalik untuk pergi, Amira dengan refleks mengulurkan tangannya. “Hati-hati, Kek.” Namun, begitu tangannya menyentuh kulit Heri, sekejap pandangan Amira berubah menjadi kilasan bayangan masa depan. Dalam penglihatan Amira, Heri tampak memegang kepalanya sambil meringis. Tubuhnya sedi
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 198. Chaos Mode: Rencana Kacau

"Lanjutkan saja pekerjaanmu.” Heri kembali ke kursinya, membuat Raga dan Amira tak memiliki pilihan lain kecuali mengiyakan. Mereka berjalan bersisian kembali ke ruangan Raga. “Sorry,” ucap Raga pada Amira. Raga merasa tidak enak hati karena Heri membalas kebaikan Amira dengan wajah datar, tanpa ekspresi. “Enggak masalah.” Amira tak keberatan sama sekali. “Gue ngelakuin itu bukan mengharap balasan.” Raga tersenyum lebar. Dia mengacak rambut Amira bangga sebelum kembali duduk di kursinya. “Amira,” panggil Raga kemudian. “Gue harus kerjain ini sekarang. Enggak apa-apa?” Raga menunjuk tumpukan kertas yang ada di meja. Amira melirik sekilas pekerjaan Raga yang menggunung. Dia mengangkat bahu santai. “Enggak masalah. Mau gue bantu?” Amira menunggu jawaban, tapi Raga terlihat ragu. Amira sebenarnya tidak boleh membantu, karena Raga melakukannya untuk belajar. Jika Amira yang mengerjakan, jadi tidak ada gunanya dia melakukan semua itu. “Enggak boleh?” Tanya Amira kemudian. Dia
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 199. Chat Misterius

Mereka beruntung karena bisa menemukan banyak barang. Bahkan ada handphone Leon di sana. “Baca semuanya!” Amira meminta Raga bergabung dengannya. Mereka memeriksa cepat, tapi tak ada petunjuk yang benar-benar penting. Handphone milik Leon jelas terkunci. Selain handphone, hanya ada kartu akses apartemen dan kartu pegawai Exscales. Kertas yang mereka temukan juga hanya berisi catatan pekerjaan. “Eh?” Amira melihat layar handphone milik Leon yang menyala. Ada pop up kecil dari notifikasi pesan masuk. [W: Jam 10 malam di tempat biasa.] “Ini!” Amira berseru senang. Dia menarik Raga mendekat. Mereka membaca notifikasi itu sebelum menghilang sedetik kemudian. “Tempat biasanya di mana?” Sialnya, pintu terbuka saat Raga bahkan belum selesai bicara. Tidak! Mereka ketahuan! Tanpa berpikir panjang, Amira menari
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 200. Misi dalam Diam

"Hoahm …." Amira menguap. "Mau pulang?" Tanya Raga. Amira harus menahan ekspresi agar tidak mencurigakan. Ini memang rencana mereka, dan Raga sudah melakukannya sebaik mungkin di depan Leon. Hanya saja, Amira harus berucap jujur, jika akting Raga kaku sekali. Leon sampai menoleh. Dia memandang Amira, tampak menimbang sebelum akhirnya bicara. "Tuan Raga … mau pulang?" Tanya Leon, ragu. Leon tidak akan khawatir jika pekerjaan Raga sudah selesai. Masalahnya, masih ada banyak tugas yang harus Raga lakukan."Sorry, gue agak capek hari ini," keluh Amira.Amira mengecek handphone miliknya. Sudah jam lima sore. "Enggak apa-apa. Ayo, gue anter," sahut Raga. "Jangan! Lo pasti sibuk!" Amira menolak ajakan Raga. "Biar gue pulang sendiri. Sama Pak Alex! Gue enggak mau ganggu."Raga memasang wajah memelas. Kali ini cowok itu melakukannya dengan sangat baik. Seolah dia benar-benar khawatir dan berharap Amira mengurungkan rencananya. "Besok kan kita ketemu lagi di sekolah," ucap Amira sebelum
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more
PREV
1
...
1819202122
...
24
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status