"Lanjutkan saja pekerjaanmu.” Heri kembali ke kursinya, membuat Raga dan Amira tak memiliki pilihan lain kecuali mengiyakan. Mereka berjalan bersisian kembali ke ruangan Raga. “Sorry,” ucap Raga pada Amira. Raga merasa tidak enak hati karena Heri membalas kebaikan Amira dengan wajah datar, tanpa ekspresi. “Enggak masalah.” Amira tak keberatan sama sekali. “Gue ngelakuin itu bukan mengharap balasan.” Raga tersenyum lebar. Dia mengacak rambut Amira bangga sebelum kembali duduk di kursinya. “Amira,” panggil Raga kemudian. “Gue harus kerjain ini sekarang. Enggak apa-apa?” Raga menunjuk tumpukan kertas yang ada di meja. Amira melirik sekilas pekerjaan Raga yang menggunung. Dia mengangkat bahu santai. “Enggak masalah. Mau gue bantu?” Amira menunggu jawaban, tapi Raga terlihat ragu. Amira sebenarnya tidak boleh membantu, karena Raga melakukannya untuk belajar. Jika Amira yang mengerjakan, jadi tidak ada gunanya dia melakukan semua itu. “Enggak boleh?” Tanya Amira kemudian. Dia
Mereka beruntung karena bisa menemukan banyak barang. Bahkan ada handphone Leon di sana. “Baca semuanya!” Amira meminta Raga bergabung dengannya. Mereka memeriksa cepat, tapi tak ada petunjuk yang benar-benar penting. Handphone milik Leon jelas terkunci. Selain handphone, hanya ada kartu akses apartemen dan kartu pegawai Exscales. Kertas yang mereka temukan juga hanya berisi catatan pekerjaan. “Eh?” Amira melihat layar handphone milik Leon yang menyala. Ada pop up kecil dari notifikasi pesan masuk. [W: Jam 10 malam di tempat biasa.] “Ini!” Amira berseru senang. Dia menarik Raga mendekat. Mereka membaca notifikasi itu sebelum menghilang sedetik kemudian. “Tempat biasanya di mana?” Sialnya, pintu terbuka saat Raga bahkan belum selesai bicara. Tidak! Mereka ketahuan! Tanpa berpikir panjang, Amira menari
"Hoahm …." Amira menguap. "Mau pulang?" Tanya Raga. Amira harus menahan ekspresi agar tidak mencurigakan. Ini memang rencana mereka, dan Raga sudah melakukannya sebaik mungkin di depan Leon. Hanya saja, Amira harus berucap jujur, jika akting Raga kaku sekali. Leon sampai menoleh. Dia memandang Amira, tampak menimbang sebelum akhirnya bicara. "Tuan Raga … mau pulang?" Tanya Leon, ragu. Leon tidak akan khawatir jika pekerjaan Raga sudah selesai. Masalahnya, masih ada banyak tugas yang harus Raga lakukan."Sorry, gue agak capek hari ini," keluh Amira.Amira mengecek handphone miliknya. Sudah jam lima sore. "Enggak apa-apa. Ayo, gue anter," sahut Raga. "Jangan! Lo pasti sibuk!" Amira menolak ajakan Raga. "Biar gue pulang sendiri. Sama Pak Alex! Gue enggak mau ganggu."Raga memasang wajah memelas. Kali ini cowok itu melakukannya dengan sangat baik. Seolah dia benar-benar khawatir dan berharap Amira mengurungkan rencananya. "Besok kan kita ketemu lagi di sekolah," ucap Amira sebelum
“Ikutin, Pak.” Amira menunjuk arah taksi Leon pergi. Mereka mengikuti dalam jarak aman. Karena mobil pribadi Alex yang digunakan, harusnya Leon tidak curiga. “Ini kita mau ke mana, ya?” Amira mulai merasa tidak nyaman saat mereka menjauh dari pusat kota. Amira yakin jika Leon tidak pulang. Jelas dia melihat kartu akses apartemen milik Leon, dan mereka sudah melewati apartemen itu sejak tadi. “Tenang, Nona Amira. Ini masih siang,” sahut Alex, pelan. Matahari sudah lama tenggelam, tapi Amira mengerti maksud Alex. Jam sembilan malam, bagi para petualang, belumlah larut. Bzzttt. Amira melirik handphone miliknya sesaat. Handphone mini Amira menyala.Panggilan masuk dari Cinta. “Halo?”“Lo di mana?” Raga langsung bertanya tanpa basa-basi.“Masih di jalan,” jawab Amira. Sudut matanya mengawasi taksi yang mereka ikuti. Taksi itu tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat. “Nanti gue kabarin lagi,” ucap Amira. Dia berniat memutuskan panggilan, tapi Raga berteriak dari sebe
“Pulang sekarang,” ucap Raga dari panggilan telepon yang masih terhubung.Baru saja, Amira meminta Alex kembali mengikuti Leon. Dia ingin tahu, apa Leon pergi ke tempat lain lagi atau tidak. Namun, Raga melarangnya. “Kenapa?” Tanya Amira tak rela. “Seenggaknya kita harus ikutin Pak Leon, atau orang yang tadi katanya Pak William itu!”Amira bersikap keras kepala. Dia hanya tidak mau perjalanannya yang sejauh ini sia-sia. Mereka cuma berhasil mengambil foto. Tanpa tahu pembicaraan keduanya. “Bahaya, Amira!” Raga memberi peringatan dengan suara keras. Kali ini, dia bahkan berteriak memanggil Alex. “Antar Amira pulang sekarang!” Titah dari Raga tak mungkin dibantah oleh Alex. Pengawal itu gegas memutar arah. Mereka tak lagi mengejar. Alex akan mengantar Amira pulang. “Kenapa, sih?!” Amira berteriak kesal. “Padahal bisa aja kita dapat petunjuk penting!” Jari Amira menekan tombol untuk memutuskan panggilan. Dia mengabaikan Raga setelahnya. *** “Amira! Buka pintunya!” Ketukan pintu
“Sebelah sini, Amira.” Michelle mengantar Amira ke dalam ruang rias yang sudah disiapkan. Amira menyipitkan mata. Dia tidak menyangka persiapannya akan serius begini. “Gue tunggu di luar, ya!” Michelle pamit pergi, membuat Amira tak bisa bertanya lebih banyak. Penata rias itu pun menuntunnya duduk, lalu mulai mengeluarkan berbagai macam alat rias dari dalam tasnya. “Sebanyak itu?” Amira memandang takut. Dia tidak siap. “Tolong jangan terlalu tebal,” pinta Amira. Amira tidak pernah memakai riasan berlebihan sebelumnya. Selama ini dia hanya memakai sunscreen dan lipbalm. Penata rias itu terkekeh kecil. “Tenang saja. Aku akan merias sesuai umurmu. Tidak akan tebal karena aku juga suka aliran natural.” Amira mengangguk meski tak yakin. Dua puluh menit Amira lalui tanpa berani melihat cermin. Dia hanya diam, menunduk sambil berharap wajahnya tidak akan membuat malu Laveire saat tampil di depan kamera nanti. “Selesai!” Penata rias itu mengangguk puas. Dia mendorong Amira ke pint
"Jadi itu yang kita lihat kemarin," ucap Amira pada Raga.Sekolah sudah selesai sejak tadi. Mereka sedang duduk di kantin, sementara Alex berdiri tak jauh dari mereka. Pengawal pribadi itu bisa masuk ke Laveire karena jam pelajaran telah berakhir."Mereka bisa aja cuma makan," sahut Raga, menanggapi dengan tenang.Satu foto di restoran tidak cukup untuk membuktikan segalanya."Makanya kemarin gue mau kejar, malah lo bilang enggak boleh!" gerutu Amira.Dia mengambil gelas minuman di depannya, lalu meneguk habis isinya untuk meredam kekesalan."Lo suruh gue percaya sama lo, tapi nyatanya lo sendiri yang enggak percaya sama gue!" suara Amira meninggi."Masalah ini enggak bakal kelar kalau kita gerak lambat kayak siput begini!"Raga hanya diam, menerima semua amukan Amira."Gue kayak gini karena gue takut," lirih Amira, nadanya melemah tiba-tiba.Amira menatap Raga lama sebelum akhirnya menghela napas berat. Wajahnya menunduk, tampak frustrasi."Gue… gue kadang enggak bisa ngelihat masa d
Raga menegang di tempat. Tatapannya langsung teralih pada Amira, seolah ingin memastikan bahwa dia tidak salah dengar."Tumor?" suaranya pelan, tapi terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.Jantung Raga berdebar keras. Ia segera menatap Heri. "Kakek harus istirahat cukup. Kita bisa tunda dulu proyek terbaru perusahaan!""Itu tidak perlu," jawab Heri cepat. "Aku masih bisa mengatur semuanya.""Kakek! Ini bukan masalah sepele!" Raga mendesak.Sementara itu, Amira diam di tempatnya, merasa sedikit bersalah karena telah mengatakan ini di depan Raga. Namun, jika dia tidak mengatakannya, Heri tidak akan percaya pada kemampuannya.Tiba-tiba, suara notifikasi berbunyi dari handphone Heri.Heri melirik ponselnya, lalu membuka pesan yang baru masuk. Matanya sedikit menyipit saat membacanya.Dokter: Hasil pemeriksaan kesehatan Bapak sudah keluar. Heri membeku di tempat.Amira tetap diam, membiarkan pria itu memproses semuanya sendiri.Heri menutup ponselnya, lalu mendongak menatap Amira. "Bai
“Bisa,” balas Amira menantang. “Apa sih yang enggak buat lo?” Karena sudah terlanjur basah, sekalian saja berendam.“Nanti, siap-siap aja.” Raga mengedipkan sebelah mata.Amira hanya bisa tertawa melihat pacarnya itu menjadi genit sekarang. Tiba-tiba saja ponsel Amira bergetar. Ada panggilan masuk dari Evan.Amira mendengarkan suara dari seberang sebelum akhirnya mengangguk. “Gue ke sana sekarang.”Raga tahu arti ucapan Amira. Dia ikut bersiap bersama sang pacar. “Evan mau tampil,” ucap Amira menjelaskan. “Gue juga diminta siap-siap, soalnya gue tampil habis dia.”Raga mengangguk mengerti. Dia menyempatkan diri untuk menghapus sisa air mata di pipi Amira sebelum menggandeng Amira kembali. Saat itu, Amira bukan hanya merasa senang, tapi lega. Setidaknya, Raga ada di sisinya. Keduanya berjalan menyusuri lorong sambil bergandengan, mengabaikan tatapan orang yang memicing pada mereka.“Kalian sudah baikan?” Tanya Evan setibanya Amira dan Raga di belakang panggung. Cowok itu menunjuk
“Bagus!” Amira bisa merasakan pelukan erat Raga. Cowok itu membuatnya hampir tidak bisa bernapas. “Berhenti! Gue bisa mati!” Keluh Amira.“Sorry!” Raga mengurai pelukannya. “Gue cuma seneng banget. Akhirnya lo mau terima gue dengan jawaban yang jelas. Jadi sekarang gue bisa susun rencana selanjutnya.”Amira tersentak sesaat. “Rencana … apa?”Raga tidak menjawab. Dia malah menarik Amira kembali ke pelukan. “Nikahin lo. Secepatnya.” Raga dengan sengaja membungkam mulut Amira dengan memberikan sebuah kecupan. “Nanti gue jelasin,” sambungnya. Raga menarik tangan Amira, hendak membawa gadis itu keluar dari lorong. Namun, Amira menggeleng. “Bilang sekarang, atau enggak usah sama sekali.”Amira tak bersedia menunggu. Dia sudah mengorbankan masa depannya, hanya demi seorang Raga. Mungkin Amira memang sudah gila. Tapi setelah semua yang dia pertaruhkan, setidaknya Amira ingin tahu apa yang terjadi. “Apalagi yang perlu gue kasih biar lo ngomong sekarang?” Desak Amira. Rasanya Amira sud
“Kamu enggak apa-apa?” Tanya Dina. Dia mengajak Amira untuk duduk dan bicara, tapi Amira terlalu malu untuk melakukannya.“Enggak apa-apa,” jawab Amira cepat. “Gue … lagi malas ngomong aja.”Dina cuma angkat bahu. “Oh ….” Dia menarik Amira mendekat. “Ya udah duduk aja, enggak usah ngomong.”Amira jadi tak memiliki alasan untuk menolak. Dia mengambil tempat di sebelah Dina, menghela keras di sana. “Udah lama ya, kita enggak duduk bareng kayak gini,” ucap Dina sambil memasang senyum.“Aku senang kedatangan aku enggak sia-sia.”Dina memandang jauh ke depan, seolah sedang mengingat masa lalu di antara mereka sebelum ini. “Padahal awalnya aku mau nyerah,” sambung Dina. “Apalagi saat tahu kamu punya teman-teman yang ternyata sangat baik, lebih daripada aku.”Kali ini Dina menoleh, menatap Amira. “Mereka–”“Amira!” Raga menangkap tangan Amira, tidak membiarkan gadis itu hilang dari pandangannya lagi. “Kenapa kabur dari gue?!” serunya, dengan tatapan tajam. Amira beringsut sedikit. Baru
“Ini penampilan apa?” Perhatian para tamu undangan langsung tertuju ke arah panggung. Musik tradisional yang mengalun, membuat mereka tertarik. “Apa ini … tarian?”Suasana berubah hening saat Dika dan Dina masuk ke tengah panggung. Kostum mereka, riasan mereka, begitu memukau sampai-sampai tak ada satu pun penonton yang membuka mulutnya. “Ini bagus sekali ….” “Aku baru melihat penampilan seperti ini.”“Ternyata Laveire adalah sekolah yang sangat menarik.”Amira tersenyum puas. Nyatanya, keputusan yang dia ambil sangat tepat. Memilih penampilan Dina dan Dika sebagai yang pertama adalah yang terbaik. Sorakan meriah bergema di aula saat Dika dan Dina mulai menari. Gerakan mereka lincah dan penuh energi, selaras dengan irama musik jaipong yang menggelegar memenuhi ruangan. ‘Udah lama, gue enggak ngeliat yang seperti ini,’ ucap Amira dalam hati. Penampilan Dina dan Dika menarik Amira ke masa lalu. Kehidupan yang damai di desa di saat kedua orang tua Amira masih lengkap. ‘Masa lalu
“Amira?” Raga memicing. “Lo kenapa?”Amira tidak peduli dengan tatapan bingung Raga. Dia sibuk menarik pacarnya itu ke sisinya. “Jangan deket-deket pacar gue!” Bentak Amira kasar. Kedua matanya melotot, dan kakinya menghentak kesal.Luntur semua image yang Amira jaga sampai saat ini. Biasanya, dia selalu bersikap tenang dan tidak peduli di depan Raga, tapi sekarang Amira tidak bisa. “Lo siapa?” Rasanya emosi Amira sudah naik sampai ke ubun-ubun. Tangannya mendorong perempuan itu menjauh. Amira sungguh tidak menyukainya.Perempuan yang datang bersama Raga, sekali lihat saja Amira langsung tahu, jika perempuan itu setara dengan Raga. Keduanya serasi, meski Amira tak ingin mengakui. Amira tidak bisa mengelak dari rasa rendah diri saat ini. Meski begitu, dia tak mau mengalah. Raga adalah pacarnya. “Aku?” Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Celine. Aku pacar Raga.”Tangan Amira terulur sempurna. Dia meraih kerah seragam yang dipakai perempuan itu. Celine memekik, membua
“Enggak,” ucap Amira pelan. Ini bukannya Amira yang terlalu banyak berpikir. Raga memang menjauh darinya. Di kantin, Amira duduk bersebelahan dengan Raga, tapi cowok itu tidak perhatian seperti sebelumnya.“Mau makan apa?” Biasanya Raga bertanya seperti itu, tapi kali ini Evan yang bersuara. “Gue pesen sendiri aja,” jawab Amira. Amira memilih untuk beranjak dari kursi. Rasanya sudah lama dia tidak memesan sendiri seperti sekarang. “Enggak apa-apa, kan gue yang minta,” ucap Amira pada dirinya sendiri. “Lebih baik begini, kan. Sewajarnya.” Amira mencoba menghibur diri.Di meja mereka, Amira menatap piringnya, menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. Dia sungguh tidak bersemangat. Amira teringat akan sikap Raga sebelum dia memintanya menjauh. Kalau itu dulu, Raga pasti akan menatapnya lekat-lekat, bertanya kenapa Amira tidak nafsu makan, juga menanyakan apa yang Amira mau.
“Enggak,” jawab Raga. Tentu saja Amira bisa menebak jika itu adalah jawaban yang akan Raga berikan. “Kalau begitu … kasih tau gue batasnya.” Raga mencoba mengalah. Di saat kesabaran Amira hampir habis, akhirnya cowok itu sadar dan peka. Amira menjawab dengan sebuah tatapan lekat. “Sewajarnya, Raga. Mungkin kayak dulu ke mantan-mantan lo sebelumnya?”Pastinya Raga lebih tahu, karena cowok itu pernah punya pacar. Tidak seperti Amira. “Jangan terlalu deket pokoknya. Gue risih!” Tukas Amira. Amira memilih untuk menyudahi pembicaraan dan mulai menyiapkan makanan dari Raga. “Ayo makan dulu.” Dia mengucapkan terima kasih, lalu mulai melahap. Keduanya tidak bicara lagi setelahnya.Raga hanya menunggu Amira bersiap. Mereka kemudian berjalan ke kelas bersama-sama, sementara Alex menunggu di luar gedung utama.Peraturan Laveire tetap sama. Supir dan pengantar menunggu di tempat yang dite
“Bantu apa?” Tanya Dina penasaran. Dika pun ikut menyimak. “Isi acara. Gue yakin kalian pasti bisa ngelakuin itu.”Amira duduk mendekat. Dia membisikkan permintaannya pada kakak beradik itu. “Mulai besok bisa, kan?” Tanya Amira dengan kedua mata penuh pengharapan. Dika dan Dina saling pandang. Mereka tampak ragu. “Memangnya enggak apa-apa? Orang-orang kan enggak suka sama kita.” Dina tidak mau mempermalukan Amira, juga dirinya sendiri.“Ngomong apa sih? Gue minta karena gue suka,” sahut Amira. “Lagian juga beda bukan berarti benci, kan?”Amira mencoba meyakinkan keduanya, sampai mereka mengucapkan kata iya. Dika yang mengangguk pertama. “Kalau Kak Amira yang nyuruh, aku mau.”Amira tersenyum senang. “Bagus! Besok kalian ikut sama gue.”Ketiganya berbincang tentang kegiatan esok sampai akhirnya Amira berpamitan. Camilan mereka sudah habis, dan hari sudah malam.
“Mau apa?” Amira bertanya bingung. Dilihatnya Raga mengambil handphone dan malah sibuk sendiri. Tak lama, Amira merasakan getaran dari ponselnya. Dia mengeluarkan handphone dari saku dan melihat kontak yang menghubungi. “Ngapain lo nelpon gue?!” Amira menunjukkan layar handphone miliknya yang menyala. Tertulis kontak Raga di sana.Amira tak mengerti. Untuk apa Raga menghubungi dia? Mereka kan saling berhadapan begini. “Jangan tutup telepon dari gue,” ancam Raga saat cowok itu berpamitan. “Pokoknya jangan matiin sampai lo tidur.”“Hah?” Amira mengernyit bingung. Dia tidak mengerti. “Hari pertama lo di tempat baru. Gue enggak mau sampai terjadi apa-apa sama pacar gue.”Amira menilik wajah Raga. Dia menarik tangan cowok itu penasaran. Seketika, sekelebat bayangan masa depan terlihat dalam benaknya. “Lo cemburu?” Amira menghela. “Mau tau gue ngapain aja?” Raga cuma menunjukkan satu jari. “Ha