Tebak siapa yang menang?
“Maksudnya, Pak?” Amira melirik Reynald dengan ekspresi penuh tanya. Michelle juga tidak percaya. Reynald tersenyum. "Dari hasil penghitungan suara, yang terpilih sebagai ketua OSIS Laveire adalah Raga." “Benar. Raga mendapatkan suara terbanyak.” Sonya menunjukkan hasil penghitungan di tangannya. Raga memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan. Sementara itu, Amira dan Evan hanya terpaut satu suara, menempatkan Amira sebagai wakil ketua OSIS. Evan, yang berada di posisi ketiga, akan menjabat sebagai sekretaris. Michelle sendiri akan mengisi posisi bendahara dengan jumlah suara paling sedikit. Evan langsung memprotes. "Bapak yakin nggak salah hitung?" Reynald mengerutkan dahi. "Kamu mau saya hitung ulang?" Evan membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia tahu Reynald pasti menghitung dengan benar. Evan menyaksikannya sendiri sejak tadi. Michelle menoleh ke Raga. "Raga ... lo jadi ketua OSIS." Raga memandang Michelle dengan wajah kesal. Decak keras keluar dari mulutnya berkali-k
“Gue nggak mau,” kata Raga, bersedekap.Tubuhnya bersandar pada kursi. Matanya memandang penuh penolakan. Amira sudah menduganya, tapi tetap saja dia menghela napas. “Tapi lo kan ketua OSIS,” sahut Amira. Evan memukul meja di depan mereka. Dia menunjuk Raga tidak sabaran. “Amira bener! Lo ketua OSIS. Wajah OSIS. Harusnya lo yang jadi model, mewakili semua siswa Laveire.”Raga hanya mendengus mendengar protes dari Evan. Dia balas menantang. “Ketua OSIS bukan berarti gue harus jadi model,” sahut Raga, sinis. “Malah harusnya gue yang pilih siapa modelnya.”Suasana di ruang OSIS berubah tidak nyaman. Mereka saling pandang dalam diam, seolah menunggu seseorang angkat bicara. Evan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja dengan gelisah, sementara Amira melipat tangan, berpikir keras. Di sisi lain, Michelle hanya menunduk, berharap dirinya tidak tiba-tiba terseret dalam keputusan ini.Akhirnya, Evan menepuk dadanya sendiri. “Ya udah! Gue aja!”Evan angkat suara. Dia tidak bisa terus menunggu, t
"Lo masih kepikiran soal Dina?" Raga tak bisa terus diam melihat raut wajah Amira yang gelisah. Sejak tadi, Amira hanya menyandarkan kepalanya ke jendela mobil, menatap pemandangan kota yang bergerak cepat. “Masih,” sahut Amira jujur. Rasa bersalah merayapi dada Amira. Dia menyesal, menyadari betapa mudahnya dia dulu mengambil kesimpulan hanya dari potongan masa depan.Amira menghela napas panjang. "Bukan cuma Dina. Gue jadi kepikiran, selama ini ... berapa banyak hal yang gue salah artikan?"Amira terlalu yakin pada apa yang dilihatnya, tanpa mempertimbangkan bahwa kenyataan selalu lebih rumit dari sekadar bayangan sesaat.Raga mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Amira erat. "Lo yang bisa ngeliat masa depan itu emang anugerah, tapi bukan berarti lo harus nyalahin diri sendiri buat semua hal yang lo nggak pahamin dulu." Amira masih terus menghela. Dia tidak merasa lebih nyaman meski Raga sudah berusaha menghiburnya. Rasanya, pundak Amira masih berat dengan beban rasa bersal
“Setidaknya kamu menunjukkan kalau Laveire adalah sekolah yang bagus.” Sindiran Heri membuat Raga menatap tidak senang. Namun, Amira melarang Raga untuk mengajukan protes dengan sebuah gelengan. Jelas Amira tahu jika Raga kesal. Amira sendiri sama. Dia berusaha menjawab sebaik mungkin pertanyaan Heri, tapi tetap saja, kakek sang pacar malah memuji sekolahnya, bukan dia. “Terima kasih. Saya beruntung bisa masuk ke sekolah sebaik Laveire,” jawab Amira sopan. “Kamu juga beruntung bisa bertemu cucuku!” sahut Heri, dengan tatapan tajam. Heri berusaha mengintimidasi Amira. Namun, Amira hanya menanggapi dengan senyuman. Sikapnya tenang, seolah sindiran Heri tidak mengiris hatinya. Saat Heri akhirnya berbalik untuk pergi, Amira dengan refleks mengulurkan tangannya. “Hati-hati, Kek.” Namun, begitu tangannya menyentuh kulit Heri, sekejap pandangan Amira berubah menjadi kilasan bayangan masa depan. Dalam penglihatan Amira, Heri tampak memegang kepalanya sambil meringis. Tubuhnya sedi
"Lanjutkan saja pekerjaanmu.” Heri kembali ke kursinya, membuat Raga dan Amira tak memiliki pilihan lain kecuali mengiyakan. Mereka berjalan bersisian kembali ke ruangan Raga. “Sorry,” ucap Raga pada Amira. Raga merasa tidak enak hati karena Heri membalas kebaikan Amira dengan wajah datar, tanpa ekspresi. “Enggak masalah.” Amira tak keberatan sama sekali. “Gue ngelakuin itu bukan mengharap balasan.” Raga tersenyum lebar. Dia mengacak rambut Amira bangga sebelum kembali duduk di kursinya. “Amira,” panggil Raga kemudian. “Gue harus kerjain ini sekarang. Enggak apa-apa?” Raga menunjuk tumpukan kertas yang ada di meja. Amira melirik sekilas pekerjaan Raga yang menggunung. Dia mengangkat bahu santai. “Enggak masalah. Mau gue bantu?” Amira menunggu jawaban, tapi Raga terlihat ragu. Amira sebenarnya tidak boleh membantu, karena Raga melakukannya untuk belajar. Jika Amira yang mengerjakan, jadi tidak ada gunanya dia melakukan semua itu. “Enggak boleh?” Tanya Amira kemudian. Dia
Mereka beruntung karena bisa menemukan banyak barang. Bahkan ada handphone Leon di sana. “Baca semuanya!” Amira meminta Raga bergabung dengannya. Mereka memeriksa cepat, tapi tak ada petunjuk yang benar-benar penting. Handphone milik Leon jelas terkunci. Selain handphone, hanya ada kartu akses apartemen dan kartu pegawai Exscales. Kertas yang mereka temukan juga hanya berisi catatan pekerjaan. “Eh?” Amira melihat layar handphone milik Leon yang menyala. Ada pop up kecil dari notifikasi pesan masuk. [W: Jam 10 malam di tempat biasa.] “Ini!” Amira berseru senang. Dia menarik Raga mendekat. Mereka membaca notifikasi itu sebelum menghilang sedetik kemudian. “Tempat biasanya di mana?” Sialnya, pintu terbuka saat Raga bahkan belum selesai bicara. Tidak! Mereka ketahuan! Tanpa berpikir panjang, Amira menari
"Hoahm …." Amira menguap. "Mau pulang?" Tanya Raga. Amira harus menahan ekspresi agar tidak mencurigakan. Ini memang rencana mereka, dan Raga sudah melakukannya sebaik mungkin di depan Leon. Hanya saja, Amira harus berucap jujur, jika akting Raga kaku sekali. Leon sampai menoleh. Dia memandang Amira, tampak menimbang sebelum akhirnya bicara. "Tuan Raga … mau pulang?" Tanya Leon, ragu. Leon tidak akan khawatir jika pekerjaan Raga sudah selesai. Masalahnya, masih ada banyak tugas yang harus Raga lakukan."Sorry, gue agak capek hari ini," keluh Amira.Amira mengecek handphone miliknya. Sudah jam lima sore. "Enggak apa-apa. Ayo, gue anter," sahut Raga. "Jangan! Lo pasti sibuk!" Amira menolak ajakan Raga. "Biar gue pulang sendiri. Sama Pak Alex! Gue enggak mau ganggu."Raga memasang wajah memelas. Kali ini cowok itu melakukannya dengan sangat baik. Seolah dia benar-benar khawatir dan berharap Amira mengurungkan rencananya. "Besok kan kita ketemu lagi di sekolah," ucap Amira sebelum
“Ikutin, Pak.” Amira menunjuk arah taksi Leon pergi. Mereka mengikuti dalam jarak aman. Karena mobil pribadi Alex yang digunakan, harusnya Leon tidak curiga. “Ini kita mau ke mana, ya?” Amira mulai merasa tidak nyaman saat mereka menjauh dari pusat kota. Amira yakin jika Leon tidak pulang. Jelas dia melihat kartu akses apartemen milik Leon, dan mereka sudah melewati apartemen itu sejak tadi. “Tenang, Nona Amira. Ini masih siang,” sahut Alex, pelan. Matahari sudah lama tenggelam, tapi Amira mengerti maksud Alex. Jam sembilan malam, bagi para petualang, belumlah larut. Bzzttt. Amira melirik handphone miliknya sesaat. Handphone mini Amira menyala.Panggilan masuk dari Cinta. “Halo?”“Lo di mana?” Raga langsung bertanya tanpa basa-basi.“Masih di jalan,” jawab Amira. Sudut matanya mengawasi taksi yang mereka ikuti. Taksi itu tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat. “Nanti gue kabarin lagi,” ucap Amira. Dia berniat memutuskan panggilan, tapi Raga berteriak dari sebe
“Bisa,” balas Amira menantang. “Apa sih yang enggak buat lo?” Karena sudah terlanjur basah, sekalian saja berendam.“Nanti, siap-siap aja.” Raga mengedipkan sebelah mata.Amira hanya bisa tertawa melihat pacarnya itu menjadi genit sekarang. Tiba-tiba saja ponsel Amira bergetar. Ada panggilan masuk dari Evan.Amira mendengarkan suara dari seberang sebelum akhirnya mengangguk. “Gue ke sana sekarang.”Raga tahu arti ucapan Amira. Dia ikut bersiap bersama sang pacar. “Evan mau tampil,” ucap Amira menjelaskan. “Gue juga diminta siap-siap, soalnya gue tampil habis dia.”Raga mengangguk mengerti. Dia menyempatkan diri untuk menghapus sisa air mata di pipi Amira sebelum menggandeng Amira kembali. Saat itu, Amira bukan hanya merasa senang, tapi lega. Setidaknya, Raga ada di sisinya. Keduanya berjalan menyusuri lorong sambil bergandengan, mengabaikan tatapan orang yang memicing pada mereka.“Kalian sudah baikan?” Tanya Evan setibanya Amira dan Raga di belakang panggung. Cowok itu menunjuk
“Bagus!” Amira bisa merasakan pelukan erat Raga. Cowok itu membuatnya hampir tidak bisa bernapas. “Berhenti! Gue bisa mati!” Keluh Amira.“Sorry!” Raga mengurai pelukannya. “Gue cuma seneng banget. Akhirnya lo mau terima gue dengan jawaban yang jelas. Jadi sekarang gue bisa susun rencana selanjutnya.”Amira tersentak sesaat. “Rencana … apa?”Raga tidak menjawab. Dia malah menarik Amira kembali ke pelukan. “Nikahin lo. Secepatnya.” Raga dengan sengaja membungkam mulut Amira dengan memberikan sebuah kecupan. “Nanti gue jelasin,” sambungnya. Raga menarik tangan Amira, hendak membawa gadis itu keluar dari lorong. Namun, Amira menggeleng. “Bilang sekarang, atau enggak usah sama sekali.”Amira tak bersedia menunggu. Dia sudah mengorbankan masa depannya, hanya demi seorang Raga. Mungkin Amira memang sudah gila. Tapi setelah semua yang dia pertaruhkan, setidaknya Amira ingin tahu apa yang terjadi. “Apalagi yang perlu gue kasih biar lo ngomong sekarang?” Desak Amira. Rasanya Amira sud
“Kamu enggak apa-apa?” Tanya Dina. Dia mengajak Amira untuk duduk dan bicara, tapi Amira terlalu malu untuk melakukannya.“Enggak apa-apa,” jawab Amira cepat. “Gue … lagi malas ngomong aja.”Dina cuma angkat bahu. “Oh ….” Dia menarik Amira mendekat. “Ya udah duduk aja, enggak usah ngomong.”Amira jadi tak memiliki alasan untuk menolak. Dia mengambil tempat di sebelah Dina, menghela keras di sana. “Udah lama ya, kita enggak duduk bareng kayak gini,” ucap Dina sambil memasang senyum.“Aku senang kedatangan aku enggak sia-sia.”Dina memandang jauh ke depan, seolah sedang mengingat masa lalu di antara mereka sebelum ini. “Padahal awalnya aku mau nyerah,” sambung Dina. “Apalagi saat tahu kamu punya teman-teman yang ternyata sangat baik, lebih daripada aku.”Kali ini Dina menoleh, menatap Amira. “Mereka–”“Amira!” Raga menangkap tangan Amira, tidak membiarkan gadis itu hilang dari pandangannya lagi. “Kenapa kabur dari gue?!” serunya, dengan tatapan tajam. Amira beringsut sedikit. Baru
“Ini penampilan apa?” Perhatian para tamu undangan langsung tertuju ke arah panggung. Musik tradisional yang mengalun, membuat mereka tertarik. “Apa ini … tarian?”Suasana berubah hening saat Dika dan Dina masuk ke tengah panggung. Kostum mereka, riasan mereka, begitu memukau sampai-sampai tak ada satu pun penonton yang membuka mulutnya. “Ini bagus sekali ….” “Aku baru melihat penampilan seperti ini.”“Ternyata Laveire adalah sekolah yang sangat menarik.”Amira tersenyum puas. Nyatanya, keputusan yang dia ambil sangat tepat. Memilih penampilan Dina dan Dika sebagai yang pertama adalah yang terbaik. Sorakan meriah bergema di aula saat Dika dan Dina mulai menari. Gerakan mereka lincah dan penuh energi, selaras dengan irama musik jaipong yang menggelegar memenuhi ruangan. ‘Udah lama, gue enggak ngeliat yang seperti ini,’ ucap Amira dalam hati. Penampilan Dina dan Dika menarik Amira ke masa lalu. Kehidupan yang damai di desa di saat kedua orang tua Amira masih lengkap. ‘Masa lalu
“Amira?” Raga memicing. “Lo kenapa?”Amira tidak peduli dengan tatapan bingung Raga. Dia sibuk menarik pacarnya itu ke sisinya. “Jangan deket-deket pacar gue!” Bentak Amira kasar. Kedua matanya melotot, dan kakinya menghentak kesal.Luntur semua image yang Amira jaga sampai saat ini. Biasanya, dia selalu bersikap tenang dan tidak peduli di depan Raga, tapi sekarang Amira tidak bisa. “Lo siapa?” Rasanya emosi Amira sudah naik sampai ke ubun-ubun. Tangannya mendorong perempuan itu menjauh. Amira sungguh tidak menyukainya.Perempuan yang datang bersama Raga, sekali lihat saja Amira langsung tahu, jika perempuan itu setara dengan Raga. Keduanya serasi, meski Amira tak ingin mengakui. Amira tidak bisa mengelak dari rasa rendah diri saat ini. Meski begitu, dia tak mau mengalah. Raga adalah pacarnya. “Aku?” Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Celine. Aku pacar Raga.”Tangan Amira terulur sempurna. Dia meraih kerah seragam yang dipakai perempuan itu. Celine memekik, membua
“Enggak,” ucap Amira pelan. Ini bukannya Amira yang terlalu banyak berpikir. Raga memang menjauh darinya. Di kantin, Amira duduk bersebelahan dengan Raga, tapi cowok itu tidak perhatian seperti sebelumnya.“Mau makan apa?” Biasanya Raga bertanya seperti itu, tapi kali ini Evan yang bersuara. “Gue pesen sendiri aja,” jawab Amira. Amira memilih untuk beranjak dari kursi. Rasanya sudah lama dia tidak memesan sendiri seperti sekarang. “Enggak apa-apa, kan gue yang minta,” ucap Amira pada dirinya sendiri. “Lebih baik begini, kan. Sewajarnya.” Amira mencoba menghibur diri.Di meja mereka, Amira menatap piringnya, menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. Dia sungguh tidak bersemangat. Amira teringat akan sikap Raga sebelum dia memintanya menjauh. Kalau itu dulu, Raga pasti akan menatapnya lekat-lekat, bertanya kenapa Amira tidak nafsu makan, juga menanyakan apa yang Amira mau.
“Enggak,” jawab Raga. Tentu saja Amira bisa menebak jika itu adalah jawaban yang akan Raga berikan. “Kalau begitu … kasih tau gue batasnya.” Raga mencoba mengalah. Di saat kesabaran Amira hampir habis, akhirnya cowok itu sadar dan peka. Amira menjawab dengan sebuah tatapan lekat. “Sewajarnya, Raga. Mungkin kayak dulu ke mantan-mantan lo sebelumnya?”Pastinya Raga lebih tahu, karena cowok itu pernah punya pacar. Tidak seperti Amira. “Jangan terlalu deket pokoknya. Gue risih!” Tukas Amira. Amira memilih untuk menyudahi pembicaraan dan mulai menyiapkan makanan dari Raga. “Ayo makan dulu.” Dia mengucapkan terima kasih, lalu mulai melahap. Keduanya tidak bicara lagi setelahnya.Raga hanya menunggu Amira bersiap. Mereka kemudian berjalan ke kelas bersama-sama, sementara Alex menunggu di luar gedung utama.Peraturan Laveire tetap sama. Supir dan pengantar menunggu di tempat yang dite
“Bantu apa?” Tanya Dina penasaran. Dika pun ikut menyimak. “Isi acara. Gue yakin kalian pasti bisa ngelakuin itu.”Amira duduk mendekat. Dia membisikkan permintaannya pada kakak beradik itu. “Mulai besok bisa, kan?” Tanya Amira dengan kedua mata penuh pengharapan. Dika dan Dina saling pandang. Mereka tampak ragu. “Memangnya enggak apa-apa? Orang-orang kan enggak suka sama kita.” Dina tidak mau mempermalukan Amira, juga dirinya sendiri.“Ngomong apa sih? Gue minta karena gue suka,” sahut Amira. “Lagian juga beda bukan berarti benci, kan?”Amira mencoba meyakinkan keduanya, sampai mereka mengucapkan kata iya. Dika yang mengangguk pertama. “Kalau Kak Amira yang nyuruh, aku mau.”Amira tersenyum senang. “Bagus! Besok kalian ikut sama gue.”Ketiganya berbincang tentang kegiatan esok sampai akhirnya Amira berpamitan. Camilan mereka sudah habis, dan hari sudah malam.
“Mau apa?” Amira bertanya bingung. Dilihatnya Raga mengambil handphone dan malah sibuk sendiri. Tak lama, Amira merasakan getaran dari ponselnya. Dia mengeluarkan handphone dari saku dan melihat kontak yang menghubungi. “Ngapain lo nelpon gue?!” Amira menunjukkan layar handphone miliknya yang menyala. Tertulis kontak Raga di sana.Amira tak mengerti. Untuk apa Raga menghubungi dia? Mereka kan saling berhadapan begini. “Jangan tutup telepon dari gue,” ancam Raga saat cowok itu berpamitan. “Pokoknya jangan matiin sampai lo tidur.”“Hah?” Amira mengernyit bingung. Dia tidak mengerti. “Hari pertama lo di tempat baru. Gue enggak mau sampai terjadi apa-apa sama pacar gue.”Amira menilik wajah Raga. Dia menarik tangan cowok itu penasaran. Seketika, sekelebat bayangan masa depan terlihat dalam benaknya. “Lo cemburu?” Amira menghela. “Mau tau gue ngapain aja?” Raga cuma menunjukkan satu jari. “Ha