Semua Bab Pelukan Bos Cantik, Membuatku Kembali Menjadi Raja Mafia: Bab 371 - Bab 380

388 Bab

Bocah Misterius

Nero menatap dua pria di hadapannya. Keduanya masih menyeringai, seperti kucing yang bermain dengan tikus sebelum mencabik-cabiknya."Aku ulangi lagi," kata Nero, suaranya tetap santai. "siapa duluan?"Pria pertama tak sabar. Dia maju dengan cepat, melemparkan tinju ke wajah Nero.Nero menunduk sedikit, menghindari serangan itu dengan tipis.Terlalu terburu-buru.Dia melangkah ke samping dan menghantam rusuk pria itu dengan siku.Bugh!Pria itu mengerang, tapi dia masih bertahan. Dia mencoba membalas dengan ayunan siku ke rahang Nero, tapi Nero mundur satu langkah, menghindar dengan presisi.Saat itulah pria kedua melompat masuk, mengayunkan tendangan ke kepala Nero.Nero mengangkat lengannya, menangkis tendangan itu, tapi dampaknya cukup kuat hingga dia sedikit terdorong ke belakang.Lumayan. Mereka bukan amatir.Pria pertama kembali menyerang, kali ini dengan serangkaian pukulan cepat ke arah dada dan perut Nero.Nero menghindari sebagian besar pukulan itu, tapi satu tinju mendarat
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-20
Baca selengkapnya

Kegundahan Hati

Kai melangkah mundur, matanya bergerak liar ke sekeliling. Ia bisa merasakan bulu kuduknya meremang."Kak, kita harus pergi," kata Kai dengan cepat. "kita tidak bisa berlama-lama di sini."Nero tetap berdiri di tempatnya, menatap Kai dengan dahi berkerut. "Kenapa? Aku masih ada urusan dengan mereka."Kai menelan ludah. Lalu dia bercerita, "Aku pernah melihat ini sebelumnya. Saat aku kecil ... ada seorang pria, seperti kita, yang menang dalam perkelahian. Dia menghajar lawannya habis-habisan. Tapi yang terjadi setelahnya..."Kai menggelengkan kepala, matanya dipenuhi bayangan kelam dari masa lalunya. "Mereka menelepon teman-temannya. Puluhan orang datang. Dan mereka membunuh pria itu di tempat."Nero menyipitkan mata, memandangi dua pria yang masih tergeletak di tanah. "Jadi menurutmu mereka bagian dari mafia?"Nero juga sebenarnya sudah mengira kalau mereka berdua adalah orang bayaran."Bukan cuma menurutku. Aku yakin."Belum sempat Nero merespons, sebuah suara keras memecah malam.La
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-20
Baca selengkapnya

Remaja Yang Hebat

Lucas kini tiba di kantor polisi kota Verdansk.“Lucas?” Polisi itu menatapnya dengan kaget.Lucas melangkah masuk ke kantor polisi dengan tenang, auranya begitu kuat hingga ruangan terasa lebih sempit dari sebelumnya.Polisi yang berjaga segera berdiri lebih tegak. Mereka mengenalnya. Bukan sebagai mafia, tapi sebagai pengusaha besar yang memiliki jaringan luas.Lucas melangkah mendekat ke meja resepsionis. “Di mana Nero?”Polisi itu tampak ragu. “Nero?” dia melirik daftar tahanan sebelum mengangkat kepala, ekspresinya berubah curiga. “Apa dia membuat masalah dengan Anda, Tuan Lucas?”Lucas tidak menjawab langsung. Matanya yang tajam hanya menatapnya, menunggu.Detik berikutnya, pintu kantor utama terbuka. Seorang pria paruh baya dengan seragam polisi masuk ke ruangan. Kepala polisi.“Tuan Lucas,” ucap kepala polisi dengan nada penuh rasa hormat. “tidak menyangka Anda datang ke sini. Ada yang bisa saya bantu?”Lucas tetap tenang. “Aku ingin bertemu seseorang. Namanya Nero.”Kepala po
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-21
Baca selengkapnya

Akan Menguntungkan

Lucas duduk diam di ruangannya, cahaya lampu gantung menyinari wajahnya dengan temaram. Di tangannya, secangkir kopi masih mengepulkan uap, tetapi ia tak berniat meminumnya.Kai.Nama itu terus berputar di kepalanya.Seorang remaja yang muncul tiba-tiba, cukup kuat untuk membantu Nero dalam pertarungan melawan preman bayaran. Itu bukan sesuatu yang bisa dianggap kebetulan.Lucas mengingat dirinya sendiri di usia yang hampir sama. Saat remaja, ia sudah memiliki kemampuan bertarung di atas rata-rata. Lebih dari sekadar bakat alami, tubuhnya sudah terlatih untuk menghadapi kekerasan. Keunggulannya itu membuat banyak organisasi mafia menginginkannya. Mereka mengincarnya, berusaha menariknya ke dalam jaringan mereka.Namun hanya Veleno yang berhasil mendapatkan dirinya.Dan sekarang, ia melihat kemungkinan yang sama pada pemuda bernama Kai.Lucas menatap Julian, yang berdiri di hadapannya.“Temukan dia,” perintahnya singkat.Julian mengangguk. “Akan kuurus.”Tanpa banyak bicara, ia berbali
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-21
Baca selengkapnya

Alasan Untuk Mendekati Ibunya Kai

Kai menatap dua pria di hadapannya. Kata-kata Morris terus bergaung di kepalanya."Karena ini akan menguntungkanmu."Keuntungan?Hidupnya saat ini jauh dari kata nyaman. Rumah kecil yang ia tinggali bersama ibu dan adiknya nyaris tak cukup untuk menampung mereka bertiga. Ibunya, Liana, hanya seorang pedagang kecil di pasar, berjuang setiap hari untuk mencukupi kebutuhan mereka. Sementara adik perempuannya, Mila, masih berusia sepuluh tahun dan terlalu muda untuk memahami kerasnya hidup.Ayah mereka? Sudah lama menghilang, lenyap tanpa kabar sejak Mila masih bayi.Kai menelan ludah. Jika bertemu dengan bos mereka bisa membuka peluang, mungkin ia harus mencobanya."Aku akan datang besok," kata Kai akhirnya.Hugo mengangkat alis, sementara Morris tersenyum puas."Pilihan yang tepat," ujar Morris.Hugo pun memberikan secarik kertas, alamat sasana Brotherhood.Belum sempat Kai berkata lagi, suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Pintu terbuka, dan ibunya muncul sambil membawa dua c
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-22
Baca selengkapnya

Langsung Habisi!

Adriano melempar dokumen itu ke lantai. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam ke arah dua anak buahnya yang tertunduk ketakutan."Kalian dua orang dewasa, berlatih bertahun-tahun, dan masih bisa kalah dari satu anak ingusan?! Apa gunanya aku membayar kalian?!"Salah satu anak buahnya mencoba berbicara, suaranya gemetar. "Bos, Nero … dia lebih kuat dari yang kita kira. Gerakannya cepat, pukulannya keras. Kami tidak sempat bereaksi.”Brak!Adriano menghantam meja di depannya. "Omong kosong! Kalian cuma cari alasan!"Langkah santai terdengar dari pintu.Seorang pria tinggi dengan jas hitam masuk ke ruangan tanpa terburu-buru. Wajahnya tenang, seolah tidak peduli pada kekacauan yang sedang terjadi.Marchetti.Tatapannya menyapu ruangan sebelum berhenti pada Adriano. "Ada apa?"Adriano mengepalkan tangannya, mencoba meredam amarah. "Nero mengalahkan dua orangku."Marchetti mengangkat alis. "Nero?""Ya.""Siapa yang kau kirim?"Adriano menyebutkan dua nama.Mar
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-22
Baca selengkapnya

Bermain-main

Hugo berdiri di tengah halaman sasana, matanya tajam menyapu sekeliling. Matahari terik menggantung di atas kepala, tapi tidak ada yang merasa nyaman di bawah sinarnya."Kita harus menemukan mereka," kata Hugo dengan suara tegas. "Morris, kau pimpin tim ke arah utara. Aku akan ke barat. Yang lain, sebarkan diri kalian. Jangan sampai ada satu sudut pun yang terlewat.""Dimengerti!" seru para anggota Brotherhood serempak sebelum bergegas menyebar.Morris melangkah cepat ke arah jalanan di utara, matanya tak henti-henti mengamati trotoar, gang sempit, dan wajah-wajah asing yang mungkin mencurigakan. Ia melihat beberapa pria bertato bersandar di dinding gang, merokok sambil bercakap santai. Tapi setelah diamati lebih jauh, mereka hanyalah pemabuk biasa.Sementara itu, Hugo berjalan ke barat, melewati deretan toko kecil dan gudang tua. Ia memperlambat langkahnya saat melihat beberapa pria dengan postur tinggi besar berdiri di depan toko kelontong. Hugo menajamkan tatapannya, tetapi mereka
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-23
Baca selengkapnya

Menunjukkan Kemampuan

Lucas berdiri dan berjalan menuju arena latihan, langkahnya mantap dan penuh wibawa. "Ikut aku," katanya tanpa menoleh.Kai ragu sejenak, tapi ia tidak bertanya. Ia mengikuti Lucas keluar dari ruangan, melewati lorong sempit yang berbau keringat dan debu, lalu tiba di sebuah arena latihan yang luas. Matras tebal melapisi lantai, sementara beberapa samsak bergelantungan di sudut. Sejumlah anggota Brotherhood sedang berlatih, tinju mereka menghantam samsak dengan kecepatan dan kekuatan yang mengintimidasi.Lucas berhenti di tepi arena. Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan, lalu menatap seorang pria bertubuh kekar yang sedang mengangkat barbel di sudut."Armand," panggil Lucas.Pria itu menoleh, meletakkan barbelnya, lalu berjalan mendekat. Dengan tubuh berotot dan lengan penuh urat, ia tampak seperti seseorang yang lahir untuk bertarung."Apa, Bos?"Lucas mengangguk ke arah Kai. "Masuk ke arena."Armand melirik Kai dan mendengus. "Serius?"Lucas hanya menatapnya tanpa ekspresi.Arman
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-23
Baca selengkapnya

Ingin Berlatih

Kai menatap Lucas dengan ragu. Tawaran itu menggiurkan, tapi ia tahu ibunya tidak akan mudah memberikan izin."Aku sebenarnya sangat ingin bergabung. Tapi aku harus meminta izin ibuku dulu," katanya akhirnya.Lucas menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. Dia paham.“Itu bisa dimengerti." Lucas menyilangkan tangan. "tapi kamu tahu, kebanyakan orang tidak punya pandangan baik tentang tempat seperti ini. Mereka melihatnya sebagai dunia bawah tanah yang penuh kekerasan dan risiko tinggi."Kai mengangguk pelan. Ia tahu ibunya adalah orang yang konservatif. Bahkan jika hanya sekadar latihan, ibunya mungkin tetap tidak setuju.Lucas tampak berpikir sejenak. Lalu dia berkata, "Kalau begitu, aku akan menemui ibumu sendiri. Aku akan menjelaskan bahwa kau hanya akan berlatih, tidak bertarung. Dan aku akan memastikan tidak ada yang membahayakanmu."Kai menatapnya, terkejut. "Kamu serius, Bos?"Lucas tersenyum tipis. "Aku tidak main-main, Kai. Aku ingin kamu bergabung."Senyum lebar muncul di
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-24
Baca selengkapnya

Dikepung

“Kendalikan dirimu.”Nero menatap Hugo dengan tajam. Suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi ada ketegasan yang tak bisa diabaikan.Hugo tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, matanya terus menatap Randy dan Matias yang kini duduk santai di sudut restoran, berbincang seolah dunia sedang berpihak pada mereka.“Kita tidak bisa menyerang mereka sekarang,” lanjut Nero. “itu bukan perintah.”Hugo mengembuskan napas kasar. “Kalau bukan karena perintah dari The Obsidian Blade, mereka sudah mati di tempat ini.”“Dan itulah sebabnya kau harus menahan diri.” Nero mengaduk kopinya perlahan. “kita tunggu.”Hugo mengepalkan tangannya di bawah meja. “Tunggu apa? Sampai mereka menghancurkan semuanya?”Nero tidak menjawab. Matanya masih memperhatikan Randy dan Matias yang kini tidak lagi sendirian. Dua pria bertubuh besar masuk ke restoran, tubuh mereka dipenuhi tato, dari tangan, leher, hingga wajah. Salah satunya bahkan memiliki luka panjang di pipi kanan, memberi kesan bahwa ia bukan orang ya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-26
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
343536373839
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status