Semua Bab Pelukan Bos Cantik, Membuatku Kembali Menjadi Raja Mafia: Bab 361 - Bab 370

388 Bab

Bukti Baru

Angeline bersandar di kursinya, matanya masih tertuju pada layar komputer yang menampilkan berita tentang Verdansk. Tangannya mengusap dagunya, pikirannya berkecamuk.Siapa Raja Verdansk yang baru?Jika dia mengenalnya, itu akan menjadi keuntungan besar. Verdansk adalah pusat kekuatan yang tidak bisa diabaikan. Memiliki hubungan baik dengan pemimpinnya berarti memiliki akses ke jaringan yang luas dan peluang bisnis yang tak terbatas.Namun, jawaban yang diberikan Jack Will membuatnya semakin penasaran.‘Kamu tidak tahu siapa dia,’ ujar Jack di seberang telepon. ‘Tapi satu hal yang pasti, dia bukan orang biasa.’Angeline mengernyit. ‘Maksudmu?’‘Dia adalah bayangan,’ lanjut Jack. ‘seseorang yang hanya muncul ketika sesuatu yang besar terjadi. Tidak ada catatan tentangnya. Tidak ada jejak.’Keheningan menyelimuti percakapan mereka sejenak.‘Kalau begitu, apakah dia berbahaya?’ tanya Angeline akhirnya.‘Kota Verdansk selalu dipimpin oleh orang-orang berbahaya. Tapi yang ini … mungkin leb
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Pertemuan Petinggi Dominus Noctis

Lucas tidak langsung merasa tenang setelah mendengar laporan dari Julian. Dominus Noctis memang belum menunjukkan tanda-tanda pergerakan, tapi itu bukan berarti mereka tidak sedang merencanakan sesuatu di balik bayangan. Organisasi itu bukan sekadar ancaman bagi dirinya atau Veleno, mereka adalah ancaman bagi negara.Lucas menyilangkan tangan di dadanya, pandangannya tajam mengarah ke Julian."Jangan lengah. Kita tidak tahu apa yang mereka rencanakan," katanya dengan nada dingin.Julian mengangguk. "Aku akan mengawasi mereka lebih dalam. Akan kutambah mata-mata kita di sekitar wilayah mereka.""Bagus," ujar Lucas singkat.Namun sebelum Julian bisa melangkah lebih jauh, Moretti menyela. "Tunggu dulu."Julian menoleh. "Apa?"Moretti mengusap dagunya, ekspresinya serius. "Apa maksudnya? Apakah kita sedang atau akan bertarung melawan Dominus Noctis?"Diego yang sejak tadi diam, menatap Julian dengan tatapan penuh pertimbangan. "Mereka itu sangat kuat. Bahkan lebih kuat dari beberapa organ
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Jangan Macam-macam Dengan Lucas

Angeline keluar dari kamar dengan langkah mantap. Gaun formal berwarna biru tua membalut tubuhnya dengan elegan, dipadukan dengan sepatu hak tinggi yang mengeluarkan suara ritmis di lantai marmer. Rambutnya ditata rapi dalam sanggul sederhana, mempertegas kesan profesional sekaligus berwibawa. Saat dia menutup pintu, suara langkah ringan terdengar dari koridor. Sabrina muncul dari kamarnya, mengenakan dress navy yang memberi kesan lebih santai dibandingkan penampilannya yang biasa. Wajahnya segar, dengan sedikit riasan yang menonjolkan fitur wajahnya yang lembut. "Kamu sudah siap?" tanya Angeline tanpa basa-basi. Sabrina mengangguk sambil merapikan lengan blazernya. "Sudah. Ayo sarapan dulu sebelum berangkat." Keduanya berjalan menuju ruang makan. Aroma kopi segar memenuhi udara, bercampur dengan wangi roti panggang dan telur orak-arik yang baru saja disiapkan oleh asisten rumah tangga. Angeline duduk dengan anggun di kursinya, sementara Sabrina menuangkan kopi ke cangkirnya sebel
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-16
Baca selengkapnya

Posisi Hector

Magdalena terdiam. Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini kehilangan sinarnya. Ia menatap Albin dengan mata membulat, berusaha mencari tanda bahwa kakaknya hanya bercanda.“Kak! Ayo jawab pertanyaanku!” seru Magdalena. “Lucas itu Raja Verdansk yang baru? Kamu serius?”Albin mengangguk tanpa ragu seraya menjawab, “Ya.”Magdalena menggigit bibirnya, menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Itu berarti Lucas bukan sekadar petarung jalanan, bukan sekadar pemilik sasana yang tengah bangkit. Pria itu memegang kekuasaan yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.“Jadi … dia benar-benar tidak bisa disentuh?” Magdalena bertanya, masih berharap ada kesalahan.“Bukan hanya tidak bisa disentuh,” Albin menyandarkan tubuhnya ke dinding, suaranya lebih dalam. “bahkan polisi pun tak bisa berbuat banyak padanya. Orang-orang yang mencoba melawannya, pada akhirnya hanya punya dua pilihan; tunduk … atau menghilang.”Keheningan menye
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-16
Baca selengkapnya

Godaan Stella

Lucas menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Stella dengan ekspresi santai tapi penuh perhitungan. “Aku butuh bantuanmu.”Stella meletakkan cangkir kopinya, alisnya sedikit terangkat. Lalu dia bertanya, “Bantuan apa?”Lucas mencondongkan tubuh ke depan, menurunkan suaranya. “Cari tahu apakah Hector bermain dengan keuangan Dominus Noctis. Jika ada sesuatu yang tidak beres, laporkan padaku.”Stella mengerutkan keningnya, berpikir sejenak. Dia berusaha mengingat percakapan-percakapan yang pernah didengarnya, kejadian-kejadian kecil yang mungkin dianggap tidak penting sebelumnya.Setelah beberapa detik, matanya berbinar tipis. “Hmm … sepertinya aku pernah mendengar sesuatu.”“Apa itu?” tanya Lucas dengan begitu bersemangat.Stella menyandarkan punggungnya, menatap Lucas dengan intens. “Beberapa kali Hector terlambat menyerahkan uang kepada orang-orang tertentu. Bahkan ada yang sampai mengancamnya karena pembayaran yang tertunda.”“Tapi itu tidak berlangsung lama. Dia bisa menyelesaikanny
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Kabar Dari Dario

Stella menatap punggung Lucas yang semakin menjauh. Tatapannya penuh frustrasi, dan jari-jarinya mencengkeram garpu di tangannya dengan kuat, nyaris ingin melemparkannya ke dinding.Pria itu bahkan tidak menoleh. Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada basa-basi. Hanya berjalan pergi begitu saja.Julian sempat berdiri di sana, melirik Stella dan Lucas secara bergantian sebelum akhirnya menghela napas dan berjalan menyusul bosnya.Stella meremas garpu itu lebih keras. Jantungnya berdegup cepat, bukan karena amarah, tapi lebih kepada sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.Ketidakpastian.Apa yang salah denganku?Selama ini, Stella tidak pernah ditolak. Tidak ada pria yang bisa mengabaikannya begitu saja, apalagi dengan sikap sedingin itu. Tapi Lucas berbeda.Sekali lagi, Stella memikirkan setiap gerakan, tatapan, dan kata-kata yang ia ucapkan tadi. Apa dia kurang menarik? Apa dia kehilangan daya tariknya?Tidak. Itu tidak mungkin.Dia hanya perlu mengubah strat
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Kesepakatan Terbentuk

Tentu saja sebuah imbalan adalah penentu apakah Adriano mau membantu atau tidak. Jika imbalannya besar maka dia akan membantu tapi jika kecil, dia tidak mau bergerak.“Jadi, berapa yang bisa kalian tawarkan?” tanya Adriano sambil menatap mereka berdua dengan ekspresi bosan, jari-jarinya mengetuk meja kayu hitam di depannya.Randy dan Matias saling berpandangan.“Ehm … berapa kira-kira yang pantas, ya?” Randy bertanya pelan, suaranya nyaris berbisik.Matias mengangkat bahu. “Aku juga tidak tahu.”Hening.Adriano menutup mata sejenak, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Saat ia membuka matanya lagi, tatapannya berubah tajam.“Jadi kalian datang ke sini tanpa tahu berapa yang kalian mau bayar?” tanya Adriano dengan nada yang tajam.Matias menelan ludah. “Kami … kami kira akan ada tarif.”Adriano tertawa kecil, tetapi tawa itu dingin.“Kalian pikir ini jasa laundry? Pembunuhan bukan sesuatu yang bisa ditarifkan seperti layanan kebersihan,” kata Adriano.Randy buru-buru
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya

Diabaikan

Lucas melangkah keluar dari mobil dengan ekspresi datar. Udara malam terasa dingin, angin berembus pelan di halaman rumahnya yang sepi. Begitu ia mendekati pintu, sebuah mobil lain berhenti di depan gerbang.Ia menoleh. Angeline.Pintu mobil terbuka, dan wanita itu turun dengan anggun. Wajahnya tetap cantik dalam pencahayaan temaram, tetapi ekspresinya dingin. Di sampingnya, Sabrina turun lebih dulu, lalu melirik Lucas dengan pandangan yang sulit diartikan.Lucas tersenyum, mencoba memberi sapaan hangat. "Kebetulan sekali. Aku baru saja pulang."“Bagaimana harimu?” lanjutnya.Angeline tidak berhenti. Tidak melirik. Tidak merespons.Angeline mengabaikan Lucas.Dia berjalan melewatinya seolah-olah Lucas tidak ada di sana. Tumitnya beradu dengan lantai teras, suara langkahnya menggema pelan sebelum pintu rumah terbuka dan menutup dengan cepat di belakangnya.Lucas terdiam. Dia bisa saja menahan Angeline, menanyakan apa yang terjadi, atau setidaknya mencoba memperbaiki suasana. Tapi dia t
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya

Ada Apa Ini Lucas?

Lucas menutup pintu kamar perlahan, membiarkan denting kunci yang terkunci menggema di ruangan.Matanya tetap tertuju pada Angeline yang berdiri di depan lemari. Handuk putih melilit tubuhnya, ketat di dada, jatuh hingga pertengahan pahanya. Kemudian dia naik kembali dan menelusuri lekuk lehernya.Lucas menarik napas dalam, tetapi itu tidak membantu. Dadanya berdegup lebih cepat dari biasanya.Dia mulai melangkah dengan perlahan.Setiap langkahnya begitu berat, bukan karena kelelahan, tetapi karena ketegangan yang memenuhi udara. Ruangan terasa lebih hangat, meskipun AC masih menyala.Angeline pasti tahu Lucas mendekat. Tapi dia tetap diam.Tidak ada reaksi. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Angeline.Lucas berhenti tepat di belakang Angeline. Napasnya kini bisa dirasakan oleh Angeline, menerpa tengkuknya yang terbuka."Angeline." Suaranya berat.Angeline masih tak bergeming.Lucas mencondongkan tubuhnya lebih dekat. "Kamu mau mandi?"Angeline masih diam membisu.Alih-alih me
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Menguji Kemampuan

"Ada apa ini?"Suara Angeline terdengar datar, tapi tatapannya menyelidik. Matanya terpaku pada Lucas, penuh dengan sesuatu yang lebih dari sekadar kecurigaan.Lucas menatapnya balik, berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap netral. "Apa maksudmu?" tanyanya, meskipun dia sudah tahu arah pertanyaan itu.Angeline menyipitkan mata. "Jangan berpura-pura. Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi?"Lucas menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Aku tidak tahu apa-apa, Angeline.""Kamu tahu." Nada suara Angeline tegas, tanpa keraguan sedikit pun.Lucas bisa merasakan tekanan dalam kata-katanya, seperti belati yang siap menembus kebohongannya.Lucas menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku benar-benar tidak tahu. Ini pertama kalinya aku mendengar berita ini, sama seperti kamu."Angeline mendekat satu langkah. "Lucas, jangan berbohong padaku."Lucas tidak bergeming. Dia tahu, jika dia mengatakan yang sebenarnya, Angeline akan murka. Maka dia tetap pada kebohongannya."Aku
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
343536373839
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status