Stella menatap punggung Lucas yang semakin menjauh. Tatapannya penuh frustrasi, dan jari-jarinya mencengkeram garpu di tangannya dengan kuat, nyaris ingin melemparkannya ke dinding.Pria itu bahkan tidak menoleh. Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada basa-basi. Hanya berjalan pergi begitu saja.Julian sempat berdiri di sana, melirik Stella dan Lucas secara bergantian sebelum akhirnya menghela napas dan berjalan menyusul bosnya.Stella meremas garpu itu lebih keras. Jantungnya berdegup cepat, bukan karena amarah, tapi lebih kepada sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.Ketidakpastian.Apa yang salah denganku?Selama ini, Stella tidak pernah ditolak. Tidak ada pria yang bisa mengabaikannya begitu saja, apalagi dengan sikap sedingin itu. Tapi Lucas berbeda.Sekali lagi, Stella memikirkan setiap gerakan, tatapan, dan kata-kata yang ia ucapkan tadi. Apa dia kurang menarik? Apa dia kehilangan daya tariknya?Tidak. Itu tidak mungkin.Dia hanya perlu mengubah strat
Tentu saja sebuah imbalan adalah penentu apakah Adriano mau membantu atau tidak. Jika imbalannya besar maka dia akan membantu tapi jika kecil, dia tidak mau bergerak.“Jadi, berapa yang bisa kalian tawarkan?” tanya Adriano sambil menatap mereka berdua dengan ekspresi bosan, jari-jarinya mengetuk meja kayu hitam di depannya.Randy dan Matias saling berpandangan.“Ehm … berapa kira-kira yang pantas, ya?” Randy bertanya pelan, suaranya nyaris berbisik.Matias mengangkat bahu. “Aku juga tidak tahu.”Hening.Adriano menutup mata sejenak, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Saat ia membuka matanya lagi, tatapannya berubah tajam.“Jadi kalian datang ke sini tanpa tahu berapa yang kalian mau bayar?” tanya Adriano dengan nada yang tajam.Matias menelan ludah. “Kami … kami kira akan ada tarif.”Adriano tertawa kecil, tetapi tawa itu dingin.“Kalian pikir ini jasa laundry? Pembunuhan bukan sesuatu yang bisa ditarifkan seperti layanan kebersihan,” kata Adriano.Randy buru-buru
Lucas melangkah keluar dari mobil dengan ekspresi datar. Udara malam terasa dingin, angin berembus pelan di halaman rumahnya yang sepi. Begitu ia mendekati pintu, sebuah mobil lain berhenti di depan gerbang.Ia menoleh. Angeline.Pintu mobil terbuka, dan wanita itu turun dengan anggun. Wajahnya tetap cantik dalam pencahayaan temaram, tetapi ekspresinya dingin. Di sampingnya, Sabrina turun lebih dulu, lalu melirik Lucas dengan pandangan yang sulit diartikan.Lucas tersenyum, mencoba memberi sapaan hangat. "Kebetulan sekali. Aku baru saja pulang."“Bagaimana harimu?” lanjutnya.Angeline tidak berhenti. Tidak melirik. Tidak merespons.Angeline mengabaikan Lucas.Dia berjalan melewatinya seolah-olah Lucas tidak ada di sana. Tumitnya beradu dengan lantai teras, suara langkahnya menggema pelan sebelum pintu rumah terbuka dan menutup dengan cepat di belakangnya.Lucas terdiam. Dia bisa saja menahan Angeline, menanyakan apa yang terjadi, atau setidaknya mencoba memperbaiki suasana. Tapi dia t
Lucas menutup pintu kamar perlahan, membiarkan denting kunci yang terkunci menggema di ruangan.Matanya tetap tertuju pada Angeline yang berdiri di depan lemari. Handuk putih melilit tubuhnya, ketat di dada, jatuh hingga pertengahan pahanya. Kemudian dia naik kembali dan menelusuri lekuk lehernya.Lucas menarik napas dalam, tetapi itu tidak membantu. Dadanya berdegup lebih cepat dari biasanya.Dia mulai melangkah dengan perlahan.Setiap langkahnya begitu berat, bukan karena kelelahan, tetapi karena ketegangan yang memenuhi udara. Ruangan terasa lebih hangat, meskipun AC masih menyala.Angeline pasti tahu Lucas mendekat. Tapi dia tetap diam.Tidak ada reaksi. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Angeline.Lucas berhenti tepat di belakang Angeline. Napasnya kini bisa dirasakan oleh Angeline, menerpa tengkuknya yang terbuka."Angeline." Suaranya berat.Angeline masih tak bergeming.Lucas mencondongkan tubuhnya lebih dekat. "Kamu mau mandi?"Angeline masih diam membisu.Alih-alih me
"Ada apa ini?"Suara Angeline terdengar datar, tapi tatapannya menyelidik. Matanya terpaku pada Lucas, penuh dengan sesuatu yang lebih dari sekadar kecurigaan.Lucas menatapnya balik, berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap netral. "Apa maksudmu?" tanyanya, meskipun dia sudah tahu arah pertanyaan itu.Angeline menyipitkan mata. "Jangan berpura-pura. Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi?"Lucas menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Aku tidak tahu apa-apa, Angeline.""Kamu tahu." Nada suara Angeline tegas, tanpa keraguan sedikit pun.Lucas bisa merasakan tekanan dalam kata-katanya, seperti belati yang siap menembus kebohongannya.Lucas menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku benar-benar tidak tahu. Ini pertama kalinya aku mendengar berita ini, sama seperti kamu."Angeline mendekat satu langkah. "Lucas, jangan berbohong padaku."Lucas tidak bergeming. Dia tahu, jika dia mengatakan yang sebenarnya, Angeline akan murka. Maka dia tetap pada kebohongannya."Aku
Nero menatap dua pria di hadapannya. Keduanya masih menyeringai, seperti kucing yang bermain dengan tikus sebelum mencabik-cabiknya."Aku ulangi lagi," kata Nero, suaranya tetap santai. "siapa duluan?"Pria pertama tak sabar. Dia maju dengan cepat, melemparkan tinju ke wajah Nero.Nero menunduk sedikit, menghindari serangan itu dengan tipis.Terlalu terburu-buru.Dia melangkah ke samping dan menghantam rusuk pria itu dengan siku.Bugh!Pria itu mengerang, tapi dia masih bertahan. Dia mencoba membalas dengan ayunan siku ke rahang Nero, tapi Nero mundur satu langkah, menghindar dengan presisi.Saat itulah pria kedua melompat masuk, mengayunkan tendangan ke kepala Nero.Nero mengangkat lengannya, menangkis tendangan itu, tapi dampaknya cukup kuat hingga dia sedikit terdorong ke belakang.Lumayan. Mereka bukan amatir.Pria pertama kembali menyerang, kali ini dengan serangkaian pukulan cepat ke arah dada dan perut Nero.Nero menghindari sebagian besar pukulan itu, tapi satu tinju mendarat
Kai melangkah mundur, matanya bergerak liar ke sekeliling. Ia bisa merasakan bulu kuduknya meremang."Kak, kita harus pergi," kata Kai dengan cepat. "kita tidak bisa berlama-lama di sini."Nero tetap berdiri di tempatnya, menatap Kai dengan dahi berkerut. "Kenapa? Aku masih ada urusan dengan mereka."Kai menelan ludah. Lalu dia bercerita, "Aku pernah melihat ini sebelumnya. Saat aku kecil ... ada seorang pria, seperti kita, yang menang dalam perkelahian. Dia menghajar lawannya habis-habisan. Tapi yang terjadi setelahnya..."Kai menggelengkan kepala, matanya dipenuhi bayangan kelam dari masa lalunya. "Mereka menelepon teman-temannya. Puluhan orang datang. Dan mereka membunuh pria itu di tempat."Nero menyipitkan mata, memandangi dua pria yang masih tergeletak di tanah. "Jadi menurutmu mereka bagian dari mafia?"Nero juga sebenarnya sudah mengira kalau mereka berdua adalah orang bayaran."Bukan cuma menurutku. Aku yakin."Belum sempat Nero merespons, sebuah suara keras memecah malam.La
Lucas kini tiba di kantor polisi kota Verdansk.“Lucas?” Polisi itu menatapnya dengan kaget.Lucas melangkah masuk ke kantor polisi dengan tenang, auranya begitu kuat hingga ruangan terasa lebih sempit dari sebelumnya.Polisi yang berjaga segera berdiri lebih tegak. Mereka mengenalnya. Bukan sebagai mafia, tapi sebagai pengusaha besar yang memiliki jaringan luas.Lucas melangkah mendekat ke meja resepsionis. “Di mana Nero?”Polisi itu tampak ragu. “Nero?” dia melirik daftar tahanan sebelum mengangkat kepala, ekspresinya berubah curiga. “Apa dia membuat masalah dengan Anda, Tuan Lucas?”Lucas tidak menjawab langsung. Matanya yang tajam hanya menatapnya, menunggu.Detik berikutnya, pintu kantor utama terbuka. Seorang pria paruh baya dengan seragam polisi masuk ke ruangan. Kepala polisi.“Tuan Lucas,” ucap kepala polisi dengan nada penuh rasa hormat. “tidak menyangka Anda datang ke sini. Ada yang bisa saya bantu?”Lucas tetap tenang. “Aku ingin bertemu seseorang. Namanya Nero.”Kepala po
Matias menelan ludah, menyadari sepenuhnya bahwa nyawa mereka kini dalam ancaman. Dalam situasi seperti ini, harga diri bukan lagi hal yang penting. Satu-satunya hal yang berarti adalah bertahan hidup.“Tuan Lucas, saya... saya minta maaf!” Matias berkata dengan suara bergetar, menundukkan kepala dalam-dalam. “saya telah melakukan kesalahan. Mohon maafkan saya.”Lucas memicingkan matanya, menatap pria yang kini berlutut di hadapannya. “Maksudmu, kau mengakui bahwa kau telah korupsi?”Matias terdiam. Ia tahu, jawaban ini adalah pertaruhan besar. Jika ia mengaku, ada kemungkinan dia akan langsung dieksekusi. Tapi jika tidak mengaku, ada kemungkinan Lucas tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan pengakuan.Saat Matias ragu-ragu untuk menjawab, Lucas menghela napas. Dalam sekejap, kakinya melayang dan menendang wajah Matias. Tendangan itu tidak terlalu kuat, tapi cukup membuat tubuh Matias terpelanting beberapa meter ke belakang.“Arrggh!!” Matias menjerit kesakitan. Hidungnya patah, dar
Nero menatap kedua pria yang kini berlutut di hadapan Lucas, wajah mereka penuh ketakutan. Dia bisa melihat jelas bagaimana keringat mengalir di pelipis Matias, sementara Randy tampak mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan mengalihkan pandangan. Namun, tidak ada yang bisa lolos dari tatapan tajam Nero.Lucas. Duduk diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Namun pria itu sudah menebarkan tekanan yang membuat suasana di ruangan semakin mencekam."Aku tidak mengerti..." Randy akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, suaranya bergetar. "Kenapa kami dibawa ke sini? Apa yang terjadi?"Matias menelan ludah, mencoba mengendalikan emosinya. Dia menoleh ke arah Nero, suaranya sedikit lebih tenang meski tetap dipenuhi ketegangan."Nero, ada apa ini? Jangan karena kau tidak bisa menemukan bukti soal tuduhan korupsi itu, kau bertindak kriminal seperti ini!"Mata Nero menyipit. Dia mendekat, lalu meraih kerah Matias dengan kasar."Berkacalah, Matias! Berhenti bertingkah seolah kau ini orang s
Mobil hitam melaju dengan tenang di jalanan malam yang semakin sepi. Lampu-lampu kota perlahan tertinggal di belakang, digantikan oleh pemandangan lahan kosong dan gedung-gedung tua di pinggiran kota. Di dalam mobil, dua pria terikat dengan kasar, duduk di kursi belakang dengan wajah penuh luka dan mata dipenuhi ketakutan.Randy menggeliat, mencoba menggerakkan tangannya yang terikat. "Sial! Kalian pikir kalian ini siapa? Lepaskan aku sekarang juga!"Buuuk!Tinju keras mendarat di pipinya. Kepalanya terlempar ke samping, rasa besi memenuhi mulutnya."Diam," suara berat dari salah satu pria Veleno terdengar dingin. "atau aku buat kau lebih menderita dari ini."Matias menelan ludah, napasnya tersengal saat melihat darah menetes dari bibir Randy. "Ke-kenapa kalian membawa kami? Kalian tidak bisa melakukan ini! Kami orang penting! Kalian bisa dalam bahaya."Dari jok penumpang depan, Hugo tertawa kecil. Dia melirik ke belakang dengan ekspresi bosan. "Orang penting? Di mata siapa? Kalian ha
Pria itu menekan tombol panggilan dengan tangan gemetar. Suaranya tertahan di tenggorokan, tetapi dia tahu tidak bisa ragu. Jika dia gagal menyampaikan ini, konsekuensinya tidak akan terbayangkan."Tuan," suaranya rendah, berusaha tetap tenang meskipun napasnya tersengal. "Kita punya masalah besar. Verdansk jatuh. Bos Marchetti dikalahkan ... dalam satu serangan."Hening sejenak. Kemudian, suara berat di seberang sana menjawab dengan nada dingin, "Apa yang kau katakan?""Lucas ... dia menghancurkan Marchetti. Dia mengambil alih Verdansk untuk Veleno. Kita ... butuh instruksi."Sementara itu, Lucas dan kelompoknya meninggalkan markas Dominus Noctis. Mereka bergerak cepat, kembali ke sasana Brotherhood. Mobil melaju dalam keheningan. Tidak ada yang berbicara, tetapi ketegangan masih terasa di udara. Lucas menatap ke luar jendela, ekspresinya datar, tetapi pikirannya masih menganalisis segala sesuatu yang baru saja terjadi.Saat mereka sampai di sasana, Kai langsung berlari ke ruang teng
Marchetti melangkah maju dengan penuh percaya diri. Tatapan matanya tajam, penuh determinasi."Aku adalah pemimpin baru Dominus Noctis di Verdansk," ucapnya dengan nada yang menggema di seluruh ruangan.Julian menatapnya dengan mata menyipit, bibirnya membentuk seringai tipis. "Jadi kamu pemimpinnya? Bagus. Aku tidak perlu repot-repot mencari lagi."Marchetti menyilangkan tangan di dada. "Jika kau datang ke sini saat pemimpin lama masih berkuasa, mungkin kau akan menang. Tapi sekarang berbeda. Aku yang memimpin. Dan aku tidak terkalahkan."Julian tertawa kecil. "Oh? Benarkah?"Dari balik pintu, langkah kaki terdengar. Semua kepala menoleh.Lucas melangkah masuk, tatapan matanya tajam seperti elang yang mengintai mangsa. Dia berhenti di samping Julian, menatap Marchetti dengan santai namun penuh tekanan."Jadi, kau yang sekarang memimpin Dominus Noctis?" tanya Lucas.Marchetti menatapnya dengan bingung. "Siapa kau? Aku tidak mengenalmu. Dan jika kau hanya orang biasa, lebih baik tutup
Ketiga pria itu masih menunduk, tubuh mereka sedikit gemetar. Mereka tahu, begitu mereka membawa Lucas ke markas Dominus Noctis, nyawa mereka bisa terancam. Tapi di sisi lain, jika menolak, mereka akan mati di tangan Julian."Kalian sudah mengambil keputusan, bukan?" Lucas bertanya dengan nada datar.Salah satu dari mereka mengangguk cepat. "Ya … kami akan mengantar kalian ke markas."Lucas melangkah ke mobil dengan tenang. Julian menyusul di belakangnya, lalu sebelum masuk, dia menoleh."Lucas, kau sudah memikirkan ini matang-matang?"Lucas menatapnya. "Kenapa? Kamu takut?"Julian mendengus. "Takut? Tidak. Aku hanya ingin memastikan kamu sadar konsekuensinya. Jika kita pergi ke sana, itu berarti kita secara resmi berperang dengan Dominus Noctis."Lucas menyandarkan punggungnya ke kursi mobil dan tersenyum tipis. "Lalu kenapa? Aku adalah pemimpin Veleno. Aku tidak peduli berapa banyak musuh yang datang. Jika mereka mengancam wilayahku, maka aku akan menghancurkan mereka terlebih dahul
Pemimpin pasukan musuh berdiri tegak. Seolah dia Ingin menunjukkan diri jika dia tidak takut kepada siapapun."Kalian pikir siapa, hah? Aku bukan orang yang bisa kalian takuti begitu saja!" Pemimpin musuh mendengus, melangkah maju dengan mata penuh keyakinan. Tatapannya menyapu tubuh Lucas dan Julian dengan penuh rasa percaya diri."Aku telah melalui lebih banyak pertempuran daripada yang bisa kalian bayangkan," katanya lagi, suaranya tajam. "Jika kalian berani melawanku, bersiaplah untuk mati!"Julian tersenyum tipis, menatap pria itu dengan tatapan yang hampir mengejek. "Lebih baik kalian semua menyerahkan diri sekarang," katanya santai. "kau sudah kehilangan banyak orang. Tidak ada gunanya melawan."Pemimpin musuh itu menggeram, matanya menyala karena amarah. "Serahkan diri? Setelah kalian membunuh anak buahku?”“Ciih! Aku tidak akan pernah melakukannya!" ucapnya dengan angkuh.Julian mengangkat bahu. "Kalau itu keputusanmu, kau juga akan mati sebentar lagi."Pria itu terkekeh, men
"Aku tidak suka ini," gumam Hugo, tatapannya tajam menyapu sekeliling. Lima pria bersenjata berdiri dalam formasi setengah lingkaran, mengawasi mereka seperti pemangsa menunggu mangsanya jatuh ke perangkap.Nero tetap tenang, meskipun pikirannya berpacu cepat. “Kita ulur waktu," bisiknya nyaris tak terdengar. "The Obsidian Blade pasti sudah membaca pesanku. Dia akan datang untuk menolong.”Hugo mengangguk kecil. Dia langsung memutar otak bagaimana caranya agar dia bisa mengukur waktu.Setelah beberapa saat, Hugo mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi malas. "Hei, aku kesulitan membuka pintunya," katanya, suaranya terdengar santai, seolah situasi ini bukan ancaman serius.Pemimpin kelompok itu,seorang pria bertubuh kekar dengan janggut tebal dan bekas luka di pelipisnya, menyipitkan mata. "Jangan main-main dengan kami!” ucapnya."Aku serius," kata Hugo, memasang ekspresi kesal. "kuncinya macet. Bagiamana aku bisa keluar?”Salah satu pria bertato di leher melangkah maju, menatap H
“Kendalikan dirimu.”Nero menatap Hugo dengan tajam. Suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi ada ketegasan yang tak bisa diabaikan.Hugo tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, matanya terus menatap Randy dan Matias yang kini duduk santai di sudut restoran, berbincang seolah dunia sedang berpihak pada mereka.“Kita tidak bisa menyerang mereka sekarang,” lanjut Nero. “itu bukan perintah.”Hugo mengembuskan napas kasar. “Kalau bukan karena perintah dari The Obsidian Blade, mereka sudah mati di tempat ini.”“Dan itulah sebabnya kau harus menahan diri.” Nero mengaduk kopinya perlahan. “kita tunggu.”Hugo mengepalkan tangannya di bawah meja. “Tunggu apa? Sampai mereka menghancurkan semuanya?”Nero tidak menjawab. Matanya masih memperhatikan Randy dan Matias yang kini tidak lagi sendirian. Dua pria bertubuh besar masuk ke restoran, tubuh mereka dipenuhi tato, dari tangan, leher, hingga wajah. Salah satunya bahkan memiliki luka panjang di pipi kanan, memberi kesan bahwa ia bukan orang ya