All Chapters of Pelukan Bos Cantik, Membuatku Kembali Menjadi Raja Mafia: Chapter 351 - Chapter 360

388 Chapters

Jangan Kabur!

Asap mengepul, bercampur dengan debu yang beterbangan saat reruntuhan perlahan berhenti bergerak. Potongan kayu, baja, dan batu bata berserakan, menutupi tubuh Raja Verdansk yang terkubur di bawahnya.Lucas berdiri beberapa langkah dari tempat itu, napasnya berat, tapi matanya tetap tajam. Perlahan, dia mengepalkan tangannya, merasakan energi cakra bumi yang mengalir di tubuhnya, lalu menutupnya dengan perlahan.Tidak ada lagi perlawanan. Tidak ada lagi ancaman.Dia telah menang.Lucas menatap puing-puing di depannya, lalu berkata, "Dengan ini, aku resmi menjadi Raja Verdansk yang baru."Di bawah reruntuhan, Raja Verdansk tergeletak tak berdaya. Matanya setengah terbuka, tetapi sinarnya telah redup. Pukulan terakhir Lucas menghancurkan jaringan vitalnya. Tubuhnya terasa mati rasa, seperti tidak lagi miliknya sendiri. Nafasnya tersengal, dan di batas kesadarannya, bayangan kematian mulai menari-nari di pelupuk matanya.Di kejauhan, suara gemuruh kembali terdengar. Struktur bangunan yan
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

Peringatan Bagi Siapa Saja Yang Melawan

Angeline duduk di kursi ruang rapat dengan ekspresi dingin, kedua tangannya terlipat di atas meja. Anak buah Matteo sudah berbicara panjang lebar, menjelaskan situasi yang terjadi dengan detail yang bertele-tele. Namun, di mata Angeline, kata-kata pria itu hanya seperti gema kosong yang berulang-ulang. "Aku mengerti," ujar Angeline akhirnya, suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Pria itu tampak lega, seolah kalimat itu adalah tanda bahwa Angeline akan mengambil keputusan sesuai keinginannya. Tapi sebelum ia sempat bicara lagi, Angeline menambahkan dengan nada lebih tegas, "Aku akan mempelajari lebih lanjut." Kerutan halus muncul di dahi pria itu. "Tapi, Nona Angeline, aku pikir lebih baik jika kita membahas ini lebih dalam sekarang. Ada beberapa detail yang —" "Cukup." Suara Angeline memotong dengan ketegasan yang tidak bisa dibantah. Tatapannya tajam seperti pisau yang menghunus ke dalam hati pria itu. "Aku akan membicarakannya langsung dengan Jack Will. Setelah itu, aku a
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

Jangan Ikut Campur!

Ponsel di tangan Angeline masih bergetar halus, tapi itu tidak bisa meredam kemarahannya. Ia menghela napas tajam sebelum akhirnya menekan tombol panggil.Di sisi lain, Lucas baru saja turun dari mobil ketika ponselnya berdering. Nama Angeline tertera di layar, dan ia segera mengangkatnya. Namun, sebelum sempat mengeluarkan satu kata pun, suara Angeline sudah menghantamnya.‘Lucas! Kenapa kamu selalu membuat masalah?’ geram Angeline.Lucas mengerutkan kening. Nada suara Angeline tajam, penuh kemarahan. Ia menempelkan ponsel ke telinganya dan berusaha memahami situasi.‘Masalah? Apa yang kamu maksud?’ tanya Lucas, bingung.Angeline mendengus kesal. Lalu dia berkata, ‘Jangan pura-pura bodoh! Aku sedang bicara tentang pertengkaranmu di perusahaan Bellucci! Kamu bertengkar dengan satpam dan seorang direktur, dan sekarang namaku ikut terseret dalam berita ini!’Lucas menghela napas dalam. ‘Aku hanya —’‘Jangan bilang kamu punya alasan!’ Angeline langsung menyela. ‘apapun alasanmu, kamu tet
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

Membawa Mayat Matteo Ke Rumahnya

Julian melangkah dengan tenang di antara barisan anak buahnya. Dua puluh pria terbaiknya, mengiringi dalam formasi yang rapi, masing-masing membawa aura dingin yang mengintimidasi.Di tengah mereka, tergeletak sebuah peti mati usang. Mayat Matteo Bellucci ada di dalamnya, terbungkus kain hitam, dingin, tak bernyawa.Mereka tiba di halaman besar kediaman keluarga Bellucci, sebuah mansion megah dengan lampu-lampu kristal yang berpendar di dalamnya.Namun, keindahan itu tak bisa menyamarkan hawa ketegangan yang mulai memenuhi udara saat beberapa anggota keluarga Bellucci keluar dari dalam rumah.Suara langkah kaki terdengar tergesa-gesa. Beberapa pria berjas hitam muncul, ekspresi mereka dipenuhi amarah. Salah satu dari mereka, pria bertubuh kekar dengan wajah penuh bekas luka, melangkah paling depan.Mereka sudah mendengar tentang kematian pemimpin keluarga mereka beberapa saat sebelumnya. Jadi, mereka tahu yang di dalam peti mati itu adalah jenazah Matteo."Apa maksudmu membawa mayat M
last updateLast Updated : 2025-03-13
Read more

Sudah Cukup!

Lisa duduk tegak di atas sofa mewah berlapis beludru, matanya yang tajam menatap lurus ke arah Angeline. Kemarahannya tak terbendung lagi.Kali ini, Lisa benar-benar akan memisahkan cucunya dari pria itu."Sudah cukup," kata Lisa dengan suara dingin. "kali ini, kamu akan meninggalkan Lucas."Angeline tetap diam, ekspresinya netral, tetapi dalam hatinya, amarah mulai bergejolak.Lisa menatap Cecilia, putrinya sendiri, dengan tajam. "Aku tahu kamu telah mencoba memisahkan mereka, tetapi kamu gagal."Cecilia menghela napas, ekspresi lelah tergambar di wajahnya. "Aku sudah mencoba, Mama. Tapi cinta mereka terlalu besar. Mereka tidak bisa dipisahkan."Lisa mengibaskan tangan dengan kesal."Omong kosong!" dengusnya. "cinta? Itu hanya alasan bodoh untuk menutupi kelemahan!"Lisa kini menoleh ke Ryan, putranya, yang duduk dengan tenang di seberang ruangan. Tatapannya menusuk seperti belati."Dan kamu!" kata Lisa, suaranya semakin merendahkan. "kamu tidak pernah bisa diandalkan. Sejak kecil, k
last updateLast Updated : 2025-03-13
Read more

Bertekuk Lutut

Ashton dan Luki membeku. Pertanyaan Lucas menggantung di udara, tajam seperti pisau yang siap menembus tenggorokan mereka.Lucas menyandarkan punggungnya, menatap mereka dengan mata dingin. “Kenapa kalian tidak mau mati, tapi bisa dengan mudah membunuh orang?”Luki menelan ludah, mencoba meredakan ketakutan yang mencekiknya. Akhirnya, dia menjawab, suaranya terdengar serak, “Kami ... kami tidak punya pilihan. Kami melakukan itu untuk menyelamatkan diri dan keluarga.”Lucas tersenyum samar. “Jadi kalian terpaksa?” Dia mengangguk pelan, membiarkan kata-kata itu meresap. “Menarik.”Ashton mengangguk cepat, berharap Lucas memahami posisi mereka. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.Lucas mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya menembus mereka. “Kalau begitu, alasan yang sama juga berlaku untukku,” kata Lucas.Ashton dan Luki saling pandang, kebingungan.Lucas melanjutkan, “Aku tidak ingin kalian menjadi batu ganjalan. Dan yang lebih penting, aku tidak bisa percaya kalian seratus pers
last updateLast Updated : 2025-03-13
Read more

Mengampuni

Lobby hotel dipenuhi ketegangan. Udara terasa berat, seperti dihimpit oleh sesuatu yang tak kasatmata.Lorenzo Bellucci berdiri di tengah ruangan, rahangnya mengeras, menunggu jawaban dari pria yang kini memegang nasibnya di tangan.Lucas duduk dengan tenang, bersandar pada kursinya, ekspresinya tak terbaca. Seakan menikmati momen di mana seseorang dari keluarga Bellucci, keluarga yang selama ini mendominasi dunia bisnis dengan tangan besi, kini harus merendahkan diri di hadapannya.Seluruh ruangan menahan napas.Lucas akhirnya berbicara."Aku menerimanya."Lorenzo mengembuskan napas lega, sebelum Lucas melanjutkan."Tapi dengan satu syarat."Lorenzo menegakkan tubuhnya lagi, mendengar setiap kata dengan saksama."Kamu dan seluruh keluarga Bellucci harus menjadi pengikutku," kata Lucas, suaranya begitu tenang, tapi menusuk. "tidak ada pengecualian. Semua anggota keluargamu tunduk kepadaku. Tidak ada kemandirian. Tidak ada permainan di belakang. Jika ada satu saja yang berkhianat, kamu
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

Lucas Adalah Raja Mafia

Keheningan menebal di ruangan itu. Pertanyaan Lorenzo menggantung di udara, menciptakan tekanan yang tak kasatmata. Semua mata tertuju pada Julian, menunggu jawaban. Tapi Julian tetap diam.Tidak ada jawaban yang mudah. Tidak ada jawaban yang aman.Ketegangan semakin merayap, dan dalam kebisuan yang semakin pekat, suara Albin memecah suasana."Semuanya sudah jelas."Kepala mereka semua serempak menoleh ke arahnya.Lorenzo menyipitkan mata. Lali dia bertanya, "Apa maksudmu?"“Jadi kamu sudah mengetahuinya?" tanya Gigio dengan mata yang tajam.Albin mengangkat kedua bahunya, ekspresinya netral. "Kalian semua hanya butuh sedikit keberanian untuk melihat kenyataan."Luki mengernyit. "Apa yang kamu bicarakan?"Albin tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum samar, membiarkan ketidakpastian menggerogoti mereka sedikit demi sedikit.Ashton menghela napas panjang. "Albin, aku tidak sedang ingin bermain teka-teki. Kami bertanya, dan kami butuh jawaban. Bukan pertanyaan lain yang harus kami
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

Sambutan Kurang Baik

Matahari pagi mulai merangkak naik di cakrawala, menciptakan semburat oranye di antara gedung-gedung kota. Udara masih sejuk, tapi di dalam ruangan tempat mereka berkumpul, atmosfernya jauh dari tenang.Gigio tiba lebih dulu, diikuti oleh Ashton dan Luki yang datang bersamaan dengan Diego dan Moretti. Mereka semua membawa kegelisahan dan antisipasi yang sama.Ashton menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap ke arah Gigio yang duduk dengan tangan terlipat di depan dada. "Jadi ini benar-benar terjadi," katanya pelan, seakan masih mencoba mencerna semuanya.Gigio mengangguk. "Lucas akan pergi ke istana Raja Verdansk."Diego menyeringai, ekspresi bahagia terpampang jelas di wajahnya. "Siapa yang menyangka? Lucas, Raja Verdansk. Kedengarannya... luar biasa.""Lebih dari luar biasa," timpal Moretti. "Dia tidak hanya menumbangkan Raja Verdansk, tapi juga mengambil tahta yang selama ini hanya legenda bagi kita."Luki, yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. "Tapi... apakah aman? Apakah mereka
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

Kota Verdansk Punya Raja Baru

Pertempuran masih berlangsung, tetapi bagi mereka yang berdiri di samping Lucas, Gigio, Lorenzo, Ashton, dan Luki, tidak ada rasa cemas.Suara senjata yang meletus, tubuh yang terhempas ke tanah, dan jeritan orang-orang yang kalah seharusnya membuat mereka tegang. Namun, tidak.Lucas dan pasukannya berada di puncak rantai makanan di kota ini.Gigio menatap pertarungan yang sedang terjadi di halaman istana dengan penuh kekaguman. Gerakan anak buah Lucas begitu cepat dan efisien, seakan mereka telah berlatih selama bertahun-tahun untuk momen ini.Gigio menyeringai. Lalu berkata, "Mereka bertarung seperti serigala lapar. Tidak ada celah, tidak ada belas kasihan."Lorenzo mengangguk, matanya mengikuti pergerakan Julian yang baru saja menghabisi seorang penjaga dengan satu tusukan bersih ke leher.Dan yang paling menakutkan adalah ilmu tenaga dalam milik Julian, cakranya begitu memukau."Bukan hanya cepat, mereka juga mematikan. Kota Verdansk tidak pernah melihat kekuatan seperti ini sebel
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more
PREV
1
...
343536373839
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status