Home / Romansa / Mempelai yang Tak Diharapkan / Chapter 111 - Chapter 120

All Chapters of Mempelai yang Tak Diharapkan: Chapter 111 - Chapter 120

229 Chapters

Permintaan Alfa.

Sampai pukul 10 malam Sabia belum juga tidur. Bayi itu rewel karena terus mencari ibunya selain itu badannya juga panas. Dan sejak sore tadi terus menolak dikasih susu formula sehingga tubunya jadi lemas. Dokter sudah dipanggil, obat juga sudah diminumkan tapi suhu badannya masih tetap tinggi. Bayi cantik itu seperti trauma. Akan langsung menagis jika ada yang mendekati dan hanya mau digendong Satya. "Mungkin Sabia lesuh Mas," ucap Bik Tutik yang sejak tadi mengerkori Satya. "Biasanya dipanggilkan tukang pijat khusus bayi," sambungnya menatap sendu bayi yang sudah diasuhnya sejak baru lahir. Satya menghela nafas, bagaimana mau dipijit digendong bibik yang biasanya mengasuhnya saja tidak mau apalagi dipegang tujang pijit. "Bagaiamana mau dipijit Bik? Bibi lihat sendiri Sabia langsung nangis kalau ada yang mendekat," sahut Satya dengan wajah frustasi. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Panik memenuhi otaknya saat memikirkan keberadaan istrinya saat ini. Ingin sekali ber
last updateLast Updated : 2024-10-14
Read more

Bukann saudara yang harus selalu mengalah

Saat Bestari membuka matanya dia sudah berada di atas ranjang di sebuah kamar. Jendela kaca yang ditutup tirai tipis hal pertama yang dia lihat sebelum dirinya menyadari jika tangan dan kaki terikat. Ingatan akan kejadian beberapa jam yang lalu membuatnya sadar jika saat ini dirinya sedang berada ditempat yang tidak aman. Kepalanya yang berdengut nyeri tak menjadi alasan untuk dirinya tetap meringkuk di atas tempat tidur. Dengan susah payah Bestari bangun dan bersandar. Dipandanginya sekeliling ruangan ruangan itu. Sebuah kamar dengan meja kayu lengkap dengan kursi di pojok kamar. Taknm jauh dari meja itu ada sebuah pintu, sepertinya itu kamar mandi. Dan dua meter dari pintu itu terdapat sebuah pintu yang lebih besar. "Dimana ini?" gumamnya sambil menggerak-gerakkan tanganya yang terikat. Ceklek, Tiba-tiba pintu terbuka, sesosok wanita berambut sebahu berjalan masuk. Sebuah senyum sinis nampak di wajah yang tak asing baginya. "Sudah bangun?" tanya wanita yang tak l
last updateLast Updated : 2024-10-15
Read more

Tipu daya Rendra.

"A-pa mak-sudnya?" Wajah Sandra mendadak pucat. Tangannya kembali meraih tangan pria yang sangat dicintainya itu. Pria yang deminya Sandra rela mengkhianati orang-orang terdekatnya. "Apa maksudmu dengan berbohong?" tanyanya lagi. Rendra menengua kasar dan kembali menepis tangan Sandra kasar. Tak ketinggalan ekspresi jijiknya yang seketika membuat Sandra tertegun. "Apa kamu sebodoh itu? Belum juga mengerti." Rendra berkacak pinggang. "Harus kuperjelas, semua yang aku katakan itu bohong. Aku tidak akan pernah membun*h Tari, karena dia satu-satunya wanita yang aku cintai." "Lalu aku?" Sandra melangkah maju, mencoba meraih tangan Rendra dan menggenggamnya erat. "Aku sudah sudah mengorbankan segalanya untukmu, teganya kamu mengkhianatiku." Rendra tergelak. "Hanya orang bod*h yang mencintai wanita sepicik kamu. Mengorbankan persaudaraan dan persahabatan demi cinta dari seorang pria." Ibarat pukulan ucapan Rendra membuat Sandra ambruk. Wanita itu terduduk dilantai dengan w
last updateLast Updated : 2024-10-15
Read more

Melarikan diri.

"Pilihannya ada padamu," kata Rendra dengan seringai yang membuat Tari bergidik ngeri. "Kamu mau melihat Sandra meregang nyawa karena senjat* ini atau kamu turuti permintaanku dengan menandatangani surat permohonan gugatan cerai," Rendra mengarahkan ujung pist*l tepat ke dahi Sandra. Sontak Tari membelalakkan matanya. Dia tak percaya Rendra akan melakukan hal sehina itu. Mempermainkan nyawa manusia demi ambisinya. Namun dengan cepat Tari merubah mimik kagetnya dengan ekspresi datar. "Apa kalian pikir aku akan percaya?" ujar Tari dengan senyum sinis. Rendra mengerutkan dahinya, sorot matanya penuh dengan tanya. "Maksudmu?" "Jangan berpura-pura di depanku! Itu membuatku muak," jawab Tari dengan ekspresi jijik. "Jadi kamu pikir aku bersandiwara? Kau ingin bukti?" Rendra tersenyum aneh. Persis psikopat. Tari berdecih. "Tak perlu. Aku tahu kalian bersengkokol untuk menculikku. Dan sekarang ingin menipuku. Kau tak mungkin membunuhnya." "Begitu, apa itu artinya kau ingin
last updateLast Updated : 2024-10-16
Read more

Pertolongan

"Aaaak......" pekik Tari dengan mata masih terpejam. Namun saat tepukan itu berubah jadi elusan lembut di pundaknya, pelan matanya membuka. "Hah..." Tari kaget sampai tak sanggup bergerak saat melihat sosok di depannya. "Kamu siapa Nak?" Seorang wanita tua berjongkok di depan Tari. Rambutnya putih dengan wajah keriput, persis seperti hantu di sebuah film yang berapa bulan lalu sempat booming. "Jangan takut. Nenek bukan hantu." Tari mengangguk, yakin jika sang nenek manusia sama seperti dirinya. "Kenapa duduk di sini?" tanya nenek itu lagi. Niatnya hendak ke kamar mandi setelah pulang dari pasar menjual hasil kebunnya malah dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita cantik dibelakang rumahnya. Tak bisa menjawab Tari hanya menangis tanpa suara sambil memegangi kedua lututnya. "Apa kamu sedang bersembunyi?" tanya sang nenek yang dijawab anggukan oleh Tari. "Tolong saya,..." ucap Tari berusaha menahan tangisnya. "Saya dikejar orang jahat," sambungnya dengan isakan yang
last updateLast Updated : 2024-10-16
Read more

Menjemputnya pulang

"Bik, saya titip Sabia. Tolong jaga dia sampai saya kembali, kumohon Bibi jangan kesal atau marah kalau nanti Sabia rewel dan menangis terus," pinta Satya pada Bik Tutik sambil mengelus lembut pipi Sabia yang kemerahan. Suami Tari itu sudah bersiap untuk pergi setelah mendapatkan informasi lokasi tempat istrinya berada. Dengan memakai jaket kulit berwarna coklat dan celana jeans tak lupa dia membawa sebuah senjata yang terselip dibalik punggungnya. "Nggeh Mas, saya janji akan menjaga Non Sabia. Isya'Allah saya akan sabar kalau nanti Non Sabia nangis nyariin Mas Satya," jawab bik Tutik dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Hati wanita paruh baya itu ikut sedih melihat musibah yang menimpa keluarga majikannya. "Mas Satya jangan Khawatir, serahkan saja Non Sabia sana saya. Fokus cari Mbak Tari dan segera bawa pulang. Kasihan Sabia nyariin mamanya terus," tambah wanita yang sudah mengabdi puluha tahun di kediamana Rahadian itu. "Saya percaya sama Bibik," ujar Satya menatap send
last updateLast Updated : 2024-10-17
Read more

Gila karena cinta

Brakk....brakk..... brakkk Tari memejamkan matanya saking takutnya. Sambil menekuk kedua lutut, kedua tangannya menutup mulutnya sendiri. Namun sampai beberapa detik tidak terjadi apa-apa. Suara dobrakan pintu sudah berhenti. Tari pun membuka mata dan menejamkan pendengarannya. Terdengar suara beberapa orang berbicara. Seperti ada berdebatan di luar sana namun dia tidak bisa mendengar dengan jelas. Hanya suara u. orang membentak diakhir kalimat. Tiba-tiba terdengar pintu di buka. Derap langkah beberapa kaki masuk ke dalam rumah. Tari kembali dilanda ketakutan dan rasa gugup yangbmenbuatbya sampai menahan nafas. "Neng.... Neng Tari," Suara Nini Aroh memanggi Tari. "Neng dimana, Nini sudah kembali Neng," "Nini Aroh?" gumam Tari masih dengan suara lirih. Rasa takut masih mendominasikan di otaknya sehingga dia tidka mau keluar. Takut itu hanya akal-akalan Rendra saja dan saat dia keluar ternyata ada Rendra. Brak.... Pintu lemari di buka dari luar. "Alhamdulillah....
last updateLast Updated : 2024-10-17
Read more

Akhir yang pantas untuk para pendosa.

Dor..... Dor.... Dor.... Suara tembakan berutun itu memecah keheningan kampung pagi itu. Satya memeluk Tari yang merunduk sambil menutup telinganya. Suara tembakan itu serasa memekakkan telinga. Mendadak suasana menjadi hening hanya terdengar erangan dari tiga orang yang terkapar di tanah yang basah oleh embun semalam. "Akhir yang pantas untuk para pendosa," Tari menoleh ke arah suara tersebut, tak seperti orang lain yang katakutan sampai menutup mata dan telinga, wanita tua dengan rambut yang sudah dipenuhinuban itu berdiri tenang dengan menyunggingkan senyum tipis menatap puas pada Rendra yang bersimbah darah. Ya.... Rendra dan kedua anak buahnya yang terkekan tembakan. Sontak Tari tertegun menatap penuh tanta pada nini Aroh. Entah kenapa Tari merasa wanita tua itu tidak sepenuhnya jujur tentang Rendra. Pasti ada alasan yang besar kenapa wanita yang sudah sepuh itu bersedia membantunya. "Kalian tidak apa-apa?" Dengan wajah penuh kekhawatiran Ganendra berjalan m
last updateLast Updated : 2024-10-18
Read more

Duka

Setelah berjuang selama tiga hari akhirnya Farah menghembuskan nafas terakhirnya. Mama Tari itu pun menutup mata tanpa sempat melihat Tari. Tari tak bisa menerima kematian Farah. Istri Satya itu merasa jika kematian sang mama karena dirinya. Begitu sedih sampai beberapa kali pingsan. Tak hanya Tari, Ganendra juga sangat sedih. Pria yang tak pernah terlihat menangis itu sampai tak sanggup berdiri saat mendapat kabar kematian sang Mama. Selain dua orang itu yang paling terpuruk atas kematian Farah adalah Ibra. Pria yang selalu terlihat tenang itu benar-benar hancur. Ibra meraung sambil memeluk tubuh dingin istrinya. Tidak mengizinkan siapapun untuk menyentuh istrinya kecuali kedua anaknya. Karena itu sampai sore jasad Farah belum juga dikebumikan. Jangankan disholati dimandikan saja tidak boleh. Semua orang tidak ada yang berani mendekat. Ibra bahkan tak segan mengacungkan senjat* pada orang yang ingin mendekati jasad Farah. Tari dan Ganendra tak bisa berbuat apa-apa, mereka
last updateLast Updated : 2024-10-20
Read more

Perdebatan ayah dan anak.

"Apa wanita itu Tante Nura?" tebak Ganendra yang langsung menatap papanya tajam. "Katakan!!" teriaknya. Suasana mendadak senyap setelah terdengar teriakan Ganendra. Ibra terdiam begitu juga Dirga, kaka sepupu Farah itu tak memyangka pembicaraannua dengan Ibra terdengar oelj Ganendra. "Apa itu sebabnya Papa tidak jadi melaporkan mereka ke polisi?" sungut Ganendra menepis tangan Dirga yang mencoba menariknya keluar. Ibra masih tetap dengan kebisuannya. Rahangnya mengeras dengan tangan tak lepas dari jasad istrinya. "Tenanglah, jangan bertengkar di depan jasad Mamamu. Dia akan sedih melihat semua ini?" Dirga kembali menarik lengan Ganendra. "Tidak, Pakde. Aku sudah menahannya terlalu lama. Kali ini tidak bisa lagi kutahan," "Ada apa Kak?" Dengan wajah pucat Tari kembali masuk ke kamar utama. Baru juga hendak masuk kamat sudah terdengar teriakan Ganendra yang menggema di seluruu rumah. "Kak kenapa?" tanyanya lagi sambil menggoyangkan lengan Ganendra. "Papa memiliki
last updateLast Updated : 2024-10-21
Read more
PREV
1
...
1011121314
...
23
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status