Home / Romansa / Mempelai yang Tak Diharapkan / Chapter 121 - Chapter 130

All Chapters of Mempelai yang Tak Diharapkan: Chapter 121 - Chapter 130

229 Chapters

isi wasiat Farah

Pagi ini setelah selesai sarapan Dorga mengumpulka semua Ibra dan anak-anaknya. Agar lebih privat mereka berjumpa di riang kerja Ibra. Di ruangan itu Ganendra dan Tari duduk di sofa panjang. Sedangkan Ibra dan Dirga duduk di sofa singgle yang berhadapan. "Ganendra kamu jangan salah faham, Papamu tidak berselingkuh dengan wanita manapun. Apa yang kamu dengar kemarin hanya sepotong kalimatku," jelas Dirga. "Jadi jangan berbicara kasar lagi pada Papamu," Ganendra tak menyahut. Informasi dan bukti yang sudah dia dapatkan menunjukkan jika papanya memiliki perasaan dan hubungan terlarang dengan Nura. Tari menggenggam tangan sang kakak, meminta untuk tenang. Jujur dirinya juga kecewa namun tidak adil jika tak mendengarkan penjelasan papanya. "Bisa langsung ke intinya Pakde?" Ganendra sudah tak. sabar untuk mendengarkan pesan dan permintaan terakhir mamanya. Sebelum berbicara Dirga menatap Ibra. "Katakan Mas, saya sudah siap," ucap Ibra dengan wajah kusut dan lelahnya. Dirga me
last updateLast Updated : 2024-10-21
Read more

Salah faham.

"Dari mana omongan seperti itu?" tanya Ibra setelah beberapa saat dibuat tertegun dengan pernyataan putrinya. "Dari desas-desus yang Kak Ganendra dengar, Papa sengaja memindahkan Om Angga kesana untuk mempelajari perusahaan warisan Opa Galih itu, yang nantinya akan Papa serahkan padanya setelah mama meninggal," terang Tari yang seketika membuat wajah Ibra memerah. "Siapa yang berani bicara seperti itu?" Geram Ibra dengan tatapan tajamnya. "Itu yang dikatakan Angga pada Farah. Angga mengatakan kamu akan memberikan perusahaan Rajasa setelah Farah meninggal dengan syarat menceraikan Nura," sahut Dirga. "Brengs*k!!" umpat Ibra dengan kedua tangan mengepal. "Maaf tapi selama ini Farah tidak e pernah menyinggung apa-apa. Mas Dirga yakin Farha berkata begitu?" "Kamu pikir aku mengada-ngada? Kamu bisa lihat sendiri isi wasiat Farah. Itu sudah menunjukkan betapa kecewanya dia padamu." Ibra mendesah berat, dadanya bergemuruh mengetahui kebaikannya dimanfaatkan oleh Angga.
last updateLast Updated : 2024-10-22
Read more

Pembalasan.

"Papa ngomong apa sih?" Tari mendekati Papanya. "Ini rumah Papa, rumah kita. Mau menemani Mama gimana maksudnya? Jangan tinggalkan aku dan Sabia," Tangis Tari akhirnya pecah. Hatinya sangat sedih dan resah. Mamanya baru saja meninggal dunia dan kini papa dengan Kakaknya bertengkar sampai ingin meninggalkan rumah. Ibra mendesah berat, dipeluknya putri kesayangannya itu. "Papa gak mungkin ninggalin kamu dan Sabia. Papa hanya ingin menebus kesalahan Papa sama mama kalian." "Maksudnya gimana?" tanya Tari lagi sambil menangis. Ibra menarik putrinya itu duduk di sofa lalu meminta Ganendra ikut duduk. Namun putra sulungnya itu menolak dan akhirnya menurut setelah dipaksa Satya. Jihan dan orang tuanya langsung mengikuti Aisyah yang mengajak kembali naik ke lantai atas untuk beristirahat. Tersisa, Ibra, Tari, Satya dan Ganendra di ruangan itu. "Setelah 40 hari mama kalian papa akan pindah. Papa akan tinggal di rumah peristirahatan yang ada pemakaman keluarga kita." "Hah!
last updateLast Updated : 2024-10-23
Read more

Pulang ke Surabaya

Tidak seperti yang diucapkan, Jordan tak berani melawan Ibra karena semua rahasia dan skandal kekuarganya sudah di tangan Ibra. Denga terpaksa Jordan mengambil langkah berpihak pada Ibra. "Jangan usik perusahaan dan keluargaku. Aku janji akan membantumu. Putriku akan bersaksi memberatkan Hutama dan putranya. Merekalah yang menjadi otak penculikan itu." Permintaan Jordan saat datang untuk yang kedua kalinya ke rumah Ibra. "Apa tujuan mereka?" tanya Ibra. "Menurut putriku, Rendra berniat membawa kabur Bestari dan menikahinya di luar negeri lalu kembali setelah proses perceraian Tari dan Satya. Selama proses perceraian mereka akan menghangatkan lagi berita kedekatan Rendra dan Bestari untuk menaikkan saham mereka," jelas Jordan saat itu dan membuat pertanyaan baru dari Ibra. "Tapi Satya dan putriku tidak dalam proses cerai," "Pengacara yang akan mengajukannya setelah Rendra bisa mendapatkan tanda tangan putriku," jawab Jordan. "Tolong beri keringanan untuk putriku, aku bisa ja
last updateLast Updated : 2024-10-24
Read more

Teman lama membawa petaka.

"Iya, ya ampun kamu masih ingat aku?..... Emmmm..." ucapnya manja sambil mengerlingkan matanya dan kembali merapatkan tubuhnya memeluk lengan Satya. Gemuruh di dalam dada memacu detak jantung Tari berdetak lebih kencang bak genderang. Matanya menatap tajam pada suaminya. Tiba-tiba perasan Satya jadi tak enak. Dan benar saja saat dia menoleh ibarat pedang tatapan mata Tari menghunus tepat ke jantungnya. "Eh...." Satya segera menarik tangannya dan mendorong lengan Karina menjauh. Wanita itu langsung merengut dan hendak meraih lagi tangan Satya. "Karina, jangan kayak gitu," ucap seorang pria menarik tangan Karina tapi dengan kasar ditepis oleh wanita itu. "Apa sih?" sentaknya kasar lalu kembali mendekati Satya. Segea Satya menghindar dengan berpindah tempat mendekat Tari dan langsung memeluk pinggang istrinya itu. "Karina kenalkan ini istri aku, Bestari." Satya merapatkan tubuhnya dan tubuh Tari. Meski kesal Tari pun mengurai senyum tipis dan mengulurkam tangannya. N
last updateLast Updated : 2024-10-25
Read more

Teman lama membawa petaka

"Pisah kamar?" tanya Satya menatap istrinya tajam. "Nggak ada." Baru akan dijawab, Satya kembali berbicara dengan nada tegas. "Aku minta maaf sudah membuatmu kesal tapi untuk pisah kamar aku tidak mau," ucapnya lagi. "Sudah cukup dua tahun kita terpisah. Sekarang aku tidak mau lewatkan waktu kebersamaan kita." Tari mendesah berat. Matanya sudah berair ingin menangis namun ditahannya. Dia tidak mau terlihat cengeng di depan Satya. Meski jujur, hatinya sakit mengetahui jika dulu Satya sering menjelekkan dirinya di depan teman-teman pria itu. Tak hanya kali ini. Dulu bahkan Tari mendengar dan melihat sendiri bagaimana Satya menjelekkan dirinya di depan Rendra. Sebagai laki-laki tidak seharusnya Satya mengumbar aib orang lain ynag belum tentu kebenarannya. "Tidurlah di ranjang dengan Sabia. Biar aku tidur di sofa. Jika tak. ingin melihatku anggap saja aku tak ada," Satya beranjak turun dari tempat tidur. Baru beberapa langkah dia kembali lagi. "Dan satu lagi," ucapnya ber
last updateLast Updated : 2024-10-26
Read more

"Aku juga bisa kasar bahkan menghancurkanmu,"

Tidak seperti perkiraan Satya, ternyata pekerjaannya bisa dia selesai sebelum jam lima sore. Pria itu pun segera merapikan meja kerjanya dna bergegas pulang supaya bisa makan malam bersama istri dan anaknya. Tepat saat adzan magrib mobil Satya beehenti di depan teras rumah. Pria itu pun langsung turun dari mobil. "Istri saya mana Bik?" tanya Satya pada bibi yang membukakan pintu. "Mbak Tari lagi sholat di kamar," jawab bibi. "Gimana Sabia?" tanyanya lagi. "Tadi sempat panas lagi tapi sekarang sudah turun habis minum obat." Satya menghela nafas, putrinya pasti rewel seharian dan Tari kerepotan. Jika saja tidak ada meeting mungkin dia akan memilih kerja dari rumah. "Tolong siapkan makan malam ya Bik," ucapnya sebelum melanggar menaiki tangga menuju lantai atas. Saat dia masuk kamar Tari baru selesai sholat magrib. Wanita itu menengadahkan tangannya sambil mengucapkan doa dengan putrinya yang tiduran di karpet tepat di sebelahnya. Hati Satya terenyuh, segera
last updateLast Updated : 2024-10-27
Read more

Sisi kasar dari Bestari.

"Aku juga bisa kasar bahkan menghancurkanmu," desis Tari penuh dengan kemarahan. Hatinya sudah hancur sehancur-hancurnya. Dia tidak pernah menyangka akan jatuh cinta pada orang yang menyebarkan fitnah kejam tentang dirinya. Bahkan pada orang yang sama sekali tidak mengenalnya dan dikenalnya. Sebegitu bencinya kah Satya pada dirinya? Kenapa dia begitu bodoh, Tari merutuki dirinya sendiri. "Assalamu'alaikum.... selamat malam.." Suara mendayu dari depan. Satya menghela nafas. Perlahan dilepaskannya lengan Tari dari genggamannya. Tari menatapnha sinis, ternyata suaminya itu lebih peduli dengan temannya dibanding dirinya dan Sabia. Tak menunggu lama, Tari pun segera berallu dari hadapan Satya. "Wa'alaikum salam." Satya menyambut tamunya. "Silahkan duduk," ucapnya menggiring dua orang tamunya itu ke sofa. Rama mengangguk sopan. Beda dengan Karina, dia menelisik seluruh ruangan itu dengan kedua matanya yang dipasangi bulu mata palsu. Wajahnya langsung sinis saat melihat fot
last updateLast Updated : 2024-10-27
Read more

Kabur.

Sepi, ruang makan juga dapur nampak sepi tak ada satu pun orang yang nampak. Tak seperti pagi sebelumnya meja makan kosong tak ada satu pun piring di sana. Hanya sebuah vas bunga dan kunci lengkap dengan gantungannya tergeletak begitu saja. Masih belum percaya, Satya berlari menuju kamar artnya yang ada di belakang dapur. Diketuk beberapa kali namun tak ada sahutan. Saat dibuka, kamar kosong. Dengan jantung yang bertalu-talu Satya berlari ke depan. Berharap Pak Yono berada di pos dekat pagar depan. "Pak Yono," panggilnya sambil membuka pintu pos lalu berlaih ke garasi. Mungkin Sopirmya itu ada di sana. Sayangnya garasi pun kosong. "Halo, kamu dimana?" Satya menghibungi Johan, bodyguard pemberian Ibra khusus untuk menjaga Tari. "Istri saya sama kamu?" tanyanya lagi menahan amarah karena Johan tidka mau menjawan pertanyaannya. "Berikan ponselnya pada Tari! Saya mau bic," Tut tut.... Sambungan telpon dimatikan. "Sh*T....." umpat Satya marah. Rahangnya mengeras
last updateLast Updated : 2024-10-28
Read more

kepergian Tari.

Setelah sholat dhuhur di bandara Satya langsung menuju kediaman keluarga Rahardian. Art yang membukakan pintu memberitahu jika tidak ada orang di rumah. Jihan dan Ganendra pergi sejak tadi pagi. Tidak percaya begitu saja, Satya izin ke kamar mandi sebentar dan langsung naik ke lantai atas. Memerikda aemua kamar termasuk kamar Ganendra dan kamar milik mertuanya. Sang art yang merasa bingung hanya berani mengawasi dari ruang tengah. Tak hanya kamar semua ruangan sampai halaman samping tak ketinggalan. Merasa tak ada hasil Satya pamit dan langsung menuju kantor pusat perusahaan Rahardian group. Beberapa karyawan mengangguk sopan saat berpasangan di lobby kantor. Selain menantu pemilik perusahaan Satya juga CEO dari perusahaan Aditama yang juga bergabung di bawah Rahardian Group. Sudah pasti banyak karyawan yang mengenalnya. "Siang Pak Satya," sapa salah satu karyawan yang Satua juga kenal. Satya menghentikan langkahnya. "Apa Pak Genendra ada di ruangannya?" tanya Satya pa
last updateLast Updated : 2024-10-29
Read more
PREV
1
...
1112131415
...
23
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status