Beranda / Romansa / The Real CEO / Bab 81 - Bab 90

Semua Bab The Real CEO: Bab 81 - Bab 90

142 Bab

Terus Berdoa

Adi merapatkan diri pada Elok yang duduk bersila di sofa dan berbicara pelan, untuk menggoda putrinya. “Pacarmu itu, harus sering-sering ngobrol sama Kasih, biar nggak kaku seperti triplek.” Elok mengalihkan wajah dari Kasih, dengan memberi sorot mata yang begitu tajam pada Adi. “Papa, aku masih istri orang, dan mas Triplek bukan pacarku.” Adi mengangguk-angguk, menatap punggung Kasih yang duduk di karpet sambil memandang ponsel yang di letakkan di meja. Gadis itu terus saja mengajukan banyak pertanyaan pada Lex, mengenai ruangan-ruangan yang ada di unit pria itu. “Memang sudah nggak pantas lagi kalau pacaran, mending langsung nikah,” kata Adi sambil menyenggol lengan Elok dengan terkekeh pelan. “Hiiiss, Papa!” desis Elok sudah terlampau geregetan dengan sang papa. “Coba Papa pikir, kira-kira apa kata orang kalau aku langsung nikah sama mas Triplek selesai masa iddah.” “Oh, jadi begitu rencananya?” Adi menahan tawa dan menepis ucapan putrinya. “Habis iddah, kamu langsung mau nika
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-25
Baca selengkapnya

Berteman Baik

“Silakan masuk,” ujar Lex setelah membuka pintu apartemennya untuk Elok maupun Kasih. Ketika Elok memberitahukan mereka sudah sampai, Lex segera turun ke lantai lobi untuk menjemput keduanya. Bagi Lex, semua yang dilakukannya kali ini benar-benar terasa aneh. Menjemput seorang wanita dan putrinya di lobi, dan membawa ke unitnya untuk makan malam.Namun, sepertinya tidak hanya Lex seorang yang merasakan keanehan tersebut, tapi pandangan orang-orang yang berada di lobi pun juga seolah mengatakan hal yang sama.Lex membawa seorang wanita dan putrinya? Semua itu benar-benar di luar dugaan.“Makasih, Mas.” Elok mengangguk sambil melewati Lex dengan menggandeng Kasih masuk ke dalam. Setelah melewati lorong pendek berukuran dua setengah meter, mata Elok disajikan ruangan luas yang hanya berisi perabotan inti.Di sebelah kanan, ada sebuah ruang yang cukup luas, dengan sofa letter L berukuran besar yang menghadap televisi. Dinding yang berada di hadapan Elok berdiri saat ini, adalah dinding ka
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-25
Baca selengkapnya

Kapan Aja

“Jadi, jangan berpikir ke arah sana, karena aku sudah nggak tertarik dengan hal seperti itu.”Aga bersandar mendengar ucapan Lex. Ia merentangkan satu tangan di atas punggung sofa, lalu meletakkan satu kakinya ke atas paha yang lain. Baru kali ini Aga melihat pria seperti Lex, tetap setia menyendiri dan sama sekali tidak menjalin hubungan dengan siapa pun setelah istrinya tiada.“Why?” tanya Aga penasaran. Bagaimana bisa Lex betah hidup seorang diri hingga saat ini.“Why not?” balas Lex. “Kebahagiaan seseorang nggak bisa diukur dengan ada pasangan, atau nggak. Dan sejauh ini, aku bahagia hidup sendiri dan—”“Menyedihkan,” putus Aga. “Bukan masalah kamu bahagia hidup tanpa, atau dengan pasangan, Mas. Tapi, hidupmu itu betul-betul menyedihkan.”“Di bagian mananya?” Lex tidak akan pernah tersinggung dengan perkataan siapa pun, selagi orang tersebut berbicara langsung di hadapannya. Andaipun merasa kesal seperti ulah Bening yang selalu saja usil, Lex merasa hal itu masih wajar karena ia h
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-25
Baca selengkapnya

Sudah Malam

“Kami duluan, El.”Tadinya, Aga hendak menemani Elok sampai sopirnya datang menjemput. Namun, Bening sudah sibuk memberi kode agar mereka pulang lebih dulu, dan meninggalkan Elok bersama Lex. Apalagi, ada Awan yang sudah tertidur di sofa bersama Kasih karena terlalu lelah bermain, dan bertengkar.“Nggak perlu diantar.” Bening mengulurkan kedua tangan pada Lex secepat kilat. “Kami tahu di mana pintunya. Jadi, Pak Lex di sini aja.” Satu anggukan kecil Bening berikan pada Elok lalu melambai kecil. “Duluan, ya, Bu El, moga sopirnya datangnya masih lama.”“Beb! Ayo!” Aga yang tengah membawa Awan satu sisi pundaknya itu lantas menghela. Sedari tadi, topik obrolan istrinya itu selalu penuh dengan umpan untuk memancing Lex. Namun, yang dipancing sepertinya tidak terpengaruh sama sekali. Lex memang kerap terpojok, tapi tetap bisa mengendalikan diri dan suasana.“Oia, jangan lupa datang minggu depan, ya.” Bening melambaikan tangan pada Elok dan Lex sambil menyusul Aga yang berjalan lebih dulu m
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-26
Baca selengkapnya

Sebentar Saja

“Sukses ngedatenya tadi malam?” Dengan perlahan, Adi duduk di kursi teras belakang seperti biasanya lalu menyeruput kopi yang dibawanya dari dalam.Elok menurunkan buku yang dibacanya untuk melihat Adi. Pria itu tersenyum, seolah menahan tawa saat sorot mata mereka bertemu. Entah mengapa, Elok curiga jika drama ban mobil bocor tadi malam adalah ulah Adi. Papanya itu pasti menyuruh Josep melakukan hal tersebut, agar tidak menjemput Elok ke apartemen Lex. “Ban mobil papa bocor tadi malam.” Elok menutup bukunya lalu meletakkan di pangkuan.“Ooo …” Adi hanya mengangguk-angguk dengan menampilkan wajah tidak serius. “Untung ada Lex yang antar kamu pulang.”“Intip aja terus di CCTV.”“Papa nggak ngintip,” ralat Adi. “Papa bisa lihat langsung dari hape, ngapain harus ngintip.”Andai Adi tahu hal memalukan apa yang dilakukan Elok tadi malam, papanya itu pasti akan tergelak mengejeknya. Elok tidak bermaksud untuk merayu Lex, hanya ingin mengetahui respons dari pria itu saja. Ternyata, tanggap
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-26
Baca selengkapnya

Maaf

“Apa aku harus telpon mas Harry, Pa?”Sudah 15 menit Kasih berada di kamarnya, dan hati Elok jelas tidak bisa tenang. Ada banyak rasa bersalah karena Eloklah yang telah mengambil keputusan bercerai lebih dulu. Bahkan, Elok sudah berkali-kali menolak bujukan Harry dan keluarga Lukito untuk kembali rujuk.“Telponlah, dan Papa jamin kamu langsung rujuk dengan dia hari ini juga,” ujar Adi sambil terus menatap ujung tangga lantai dua dari ruang keluarga. “Tapi kalau kamu memang nggak keberatan rujuk, silakan.”“Masuklah ke kamar Kasih,” titah Dianti yang sudah berada di ruang keluarga sekitar lima menit yang lalu, dan mengetahui inti cerita secara singkat. “Nggak usah bicarakan yang berat-berat. Masalah kamu cerai sama Harry, biarkan Kasih memahami itu sesuai dengan usianya. Tanya dia mau apa, mau ke mana, dan pergilah! Mumpung hari minggu.”“Nah! Kalau mau ke tempat Lex lagi juga nggak papa.”Satu buah bantal sofa langsung menimpa tubuh Adi setelahnya. Dianti sudah melotot dan memberi sua
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-27
Baca selengkapnya

Kita Semua

“Kasih … sudah tahu kita mau cerai.” Elok menghela panjang setelah mengutarakan hal tersebut pada Harry dan keluarganya. Setelah melalui hari minggu kelabu dengan tidak pergi ke mana pun, pertemuan dengan keluarga Lukito akhirnya terjadi dengan bantuan Adi. “El?” Tidak cuma Elok yang menghela napas panjang, tapi Harry pun melakukan hal yang sama setelah mendengar pernyataan Elok barusan. “Kenapa kamu begitu egois dan keras kepala? Aku sudah melakukan semuanya supaya kita bisa rujuk dan—” “Harry.” Adi buru-buru menyela pria yang masih berstatus sebagai menantunya itu. Beruntung, Lex menyarankan Elok untuk mengadakan pertemuan dua keluarga untuk membahas Kasih. Jika tidak, putrinya pasti akan terpojok walaupun Adi tahu Elok pasti bisa menyanggah semuanya. Akan tetapi, dalam kondisi mental Elok yang sedang dalam titik rendah karena Kasih, putrinya itu pasti akan terdiam di depan Harry. “Dua tahun berselingkuh dan main dengan perempuan lain sampai hamil, itu bukan waktu yang sebentar.”
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-27
Baca selengkapnya

Biarkan

“Tanteee!”Elok menaikkan kedua alisnya saat melihat Awan berlari ke arahnya. Tidak biasanya bocah usil itu keluar lebih dulu daripada Kasih, dan menghampiri Elok seperti sekarang. Elok reflek melihat ke tempat parkir, untuk mencari Aga, atau mungkin Vira tapi ia belum menemukan dua sosok tersebut.“Papamu belum jemput,” kata Elok sambil mengacak rambut cepak Awan, yang tampaknya baru saja dipangkas.Awan menggeleng. “Aku dijemput tante cantik, soalnya papa lagi meeting seharian katanya.”Tante cantik, sebutan Awan untuk gadis yang kini jadi mama barunya. Karena itu pula, Kasih mempertanyakan hal tersebut pada Elok, kemarin pagi.“Kan, sudah jadi mama? Kenapa masih panggil tante cantik?” Mata Elok masih menatap koridor sekolah, tapi tidak kunjung melihat Kasih keluar dari sana.“Ya, nggak tahu!” Awan melihat ke belakang sebentar, lalu kembali mendongak menatap Elok. “Tante! Kasih tadi seharian pelit sama aku. Dia nggak mau pinjemin pensil, sama penghapus juga! Dia marah-marah terus ha
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-27
Baca selengkapnya

Bye, Mas

“El?” Lex memelankan langkahnya, ketika melihat seorang wanita yang berjalan sangat pelan sambil menunduk menatap ponsel. Dari postur tubuh yang tampak dari belakang, Lex sudah bisa menebak bahwa wanita tersebut adalah salah satu kliennya. “Ya?” Elok spontan berbalik. Sedikit terkejut, lalu segera memberikan senyum kecilnya pada pria itu. “Sudah pulang, Mas?” Lex mengangguk, dan menghentikan langkahnya saat Elok juga berhenti. Pandangan Lex tertuju sekilas pada ponsel Elok, serta dua buah paper bag yang tergantung di pergelangan tangan. “Ngapain di sini?” “Mau jemput Kasih, dia lagi di atas, di tempat Awan.” Elok kemudian mengeluarkan sebuah paper bag dari pergelangan tangannya, lalu menyerahkan pada Lex. Menyisakan satu lagi, yang tetap pada tempatnya. “Jaketnya kemarin, makasih, ya. Tadinya mau aku titipin di resepsionis, nggak tahunya ketemu Mas Lex di lobi.” “Sama-sama,” kata Lex sambil menerima paper bag tersebut dari tangan Elok, tanpa melihat isinya sama sekali. “Ini, mau
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-28
Baca selengkapnya

Jangan Khawatir

“Kasih masih marah sama Mama?” Malam itu, Elok memutuskan untuk tidur berdua dengan Kasih. Mungkin, sampai Kasih bisa mengatasi dan mencerna emosinya sendiri, barulah Elok akan kembali tidur di kamarnya sendiri. Kasih yang berbaring miring sambil memeluk guling itu, menggeleng. Namun, enggan mengeluarkan suara. Ada rasa kecewa, yang tidak bisa Kasih cerna dan ungkapkan dengan kata-kata. Elok menarik panjang napasnya. “Liburan minggu depan, kita nginap hotel mau?” Kali ini, Kasih mengangguk dan tidak menolak ajakan Elok. “Tante cantik, sama papanya Awan mau nikah hari sabtu.” Elok tidak langsung membalas kalimat putrinya. Ia mengusap kepala Kasih, sambil merapikan rambut yang menutup telinganya. “Terus, apa papa nanti juga mau nikah sama tante cantik?” lanjut Kasih mempertanyakan hal tersebut karena melihat bagaimana kondisi orangtua Awan. “Mama nggak tahu.” Elok memang tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan hubungan Harry dan Sandra di masa depan. Apakah mereka akan menikah k
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-28
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
7891011
...
15
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status