Home / Romansa / Cinta untuk Tabitha / Chapter 31 - Chapter 40

All Chapters of Cinta untuk Tabitha: Chapter 31 - Chapter 40

49 Chapters

BAB 31 : KALUNG

“Kalung itu ternyata bukan untuk lo! Itu untuk perempuan lain!” Gadis itu tersenyum mengejek. Untung wanita muda itu tidak bisa melihatnya, karena saat ini mereka tidak sedang berdiri saling berhadapan. Kalau iya, wanita muda itu pasti sudah mencakar wajah gadis itu dengan kuku-kukunya yang panjang dan diberi cat pewarna kuku yang selalu berganti warna, karena dia paling tidak suka bila ada orang lain yang merendahkannya, apalagi sampai berani mentertawakannya. Tidak percuma julukan “singa” yang didapat oleh wanita itu, karena dia tidak pernah segan untuk menyerang setiap orang yang tidak disukainya. Entah itu pria atau sesama wanita. “Oh begitu ya? Lo yakin itu bukan untuk gue?” tanya wanita muda itu, sambil mengeluarkan rokok elektrik dari dalam tas bermerek miliknya.Tetapi, rokok itu tidak segera dia nyalakan. Dia hanya iseng memutar-mutarnya di antara sela-sela jari tangannya, sambil memutar pandang ke sekelilingnya. Saat ini wanita muda itu sedang berdiri di tengah lahan p
last updateLast Updated : 2022-12-29
Read more

BAB 32 : SAKIT JIWA

Tabitha menaiki tangga menuju lantai dua rumah kosnya dengan langkah lemas, seolah hampir tidak bertenaga. Bahkan, di ujung tangga tadi, awal dia baru melangkah menaikinya, dia hampir jatuh terpeleset. Untung saja tangan kanannya yang bebas tanpa direpoti tas bahu warna putih gading dengan sigap mencengkeram besi selusur tangga di sebelah kanan badannya. Dan sekarang, bunyi sepatu pantofel hitam yang dia pakai mulai menggema di sepanjang lorong lantai dua. Enam kamar kos yang berada di lantai dua itu, termasuk kamarnya, tampak masih gelap gulita. Pertanda bahwa para penghuninya belum ada yang kembali dari aktivitas mereka masing-masing. Baik di kantor, di kampus, atau di mana pun. Diam-diam Tabitha bersyukur, karena itu berarti dia tidak perlu repot-repot tersenyum seandainya tiba-tiba dia harus berpapasan dengan salah satu dari para tetangga kamar kosnya, karena tersenyum adalah satu hal yang sangat tidak ingin dia lakukan saat ini. Senyum apa? Senyum manis? Bagaimana mungkin? Hatin
last updateLast Updated : 2023-01-11
Read more

BAB 33 : THE DAY

Hidup bukan tentang mendapatkan apa yang kamu inginkan, Tapi tentang menghargai apa yang kamu miliki, dan sabar menanti apa yang akan menghampiri. =Koleksi Mutiara Kata= Pria itu seperti tidak menyadari kalau kehadirannya di depan mata Tabitha selalu membuat Tabitha resah. Bagaimana aku bisa melupakan dia, kalau dia selalu muncul di depan mata? Tabitha mengeluh. Kedua mata bulatnya menatap seorang pria yang baru saja keluar dari lift yang membawanya turun dari gedung menara utara. Merasa enggan untuk sekedar bertegur sapa, Tabitha lekas bersembunyi, berdiri di balik tanaman hias besar di samping pintu lift. Untungnya, Adriano terlalu sibuk dengan ponsel di tangan hingga akhirnya pria itu melintas di depan Tabitha tanpa menyadari kehadiran gadis itu di sana. Tabitha menarik nafas lega. Diperhatikannya langkah kaki panjang pria itu dan sosok tubuh tinggi menawannya yang mulai menjauh. Punggungnya terlihat kokoh, seolah menjanjikan tempat paling nyaman untuk bersandar. Teta
last updateLast Updated : 2023-01-24
Read more

BAB 34 : SAY IT AGAIN!

"Apakah … Helen pernah datang menemuimu? Di kantormu atau … di rumah kosmu, mungkin?” tanya Adriano, membuat Tabitha terkejut. "Pernahkah?" Adriano mengulang pertanyaannya. Tabitha memandang pria itu dengan heran. "Hmm ... iya, kok kamu tahu?" Tabitha balik bertanya. “Sudah kuduga!” Adriano tersenyum. “Apa yang dia katakan padamu waktu itu? Kamu masih mengingatnya?” tanya Adriano, sambil menatap wajah Tabitha lekat-lekat. Sorot mata cokelatnya terasa tajam bagi Tabitha, hingga berhasil membuat gadis itu merasa gugup. Tabitha menggigit bibirnya dengan gelisah. Kebiasaan lama yang dia pikir adalah cara yang paling efektif untuk membantunya menghilangkan efek kegugupan yang muncul tiba-tiba. Satu detik ... dua detik ... tiga detik ... Adriano memperhatikan Tabitha dalam diam. Dengan sabar pria itu menanti sampai akhirnya gadis itu berhenti menggigiti bibirnya, dan mulai membuka mulutnya. “Dia … dia bilang kamu itu miliknya, jadi ... aku nggak boleh dekat-dekat sama kamu. W
last updateLast Updated : 2023-02-21
Read more

BAB 35 : I LOVE YOU!

Please, Adriano, katakan sesuatu! Jangan diam begitu, Adrian! Tolong, katakan lagi! Tetapi … tidak. Pria itu hanya tersenyum sambil menatap Tabitha, tanpa berkata apa-apa. Tidak ada kalimat yang terucap. Pria itu hanya berdiri tegak sambil menyilangkan tangan di dada, dan menatap Tabitha dengan matanya yang cokelat gelap. Tabitha mendongakkan kepala, karena memang harus begitu untuk bisa membalas menatap wajah pria itu. Adriano yang tubuhnya tinggi menawan membuat tubuh langsing Tabitha hanya sampai setinggi dagunya. Hal sudah lama disadari oleh Tabitha, kalau dia adalah “si pendek” saat berdiri sejajar dengan pria itu. Dan, adalah perlakuan yang sangat menyiksa ketika “si pendek” harus menunggu “si tinggi” membuka mulutnya untuk bicara. Ketika leher sudah terasa pegal karena kepala yang terus mendongak, tetapi kalimat yang ditunggu-tunggu belum juga keluar dari mulutnya. Please, Adriano! Tabitha hampir putus asa menatap pria itu. Bahkan, kakinya pun sudah berdiri di ambang p
last updateLast Updated : 2023-03-16
Read more

BAB 36 : MASA LALU

Tabitha terpaku. Serius nih, Tuhan? Dia? Ini sama sekali bukan keinginan Tabitha. Apalagi salah satu dari mimpinya. Bertemu dengan dia? Pria itu? Di sini? Saat ini? Dalam situasi seperti ini? Ya Tuhan, apa kehendak-Mu? Apa masih belum cukup usahaku untuk menyembuhkan luka hatiku yang dulu? Usahaku untuk melenyapkan rasa sakit itu? Trauma-trauma yang pernah menyiksaku ... apa aku harus mengingatnya lagi, Tuhan? Aku tidak sanggup lagi, Tuhan! Tolong, biarkan aku bahagia dengan hidupku yang sekarang ya, Tuhan! Tabitha membatin. Tanpa perlu berpikir dua kali, Tabitha langsung balik kanan bubar jalan. Meninggalkan toko itu selagi masih sempat, pasti pilihan yang jauh lebih baik daripada dia harus menghadapi pria itu lagi. Iya, pasti! Tidak terbayang rasanya kalau harus beramah tamah lagi dengan orang-orang yang pernah menyakitimu kan? Tetapi sayang .... “Bitha!” ... terlambat! Pria itu sudah terlanjur melihat Tabitha. “Bith! Bitha! Tabitha!” Tabitha menolak untuk berhenti.
last updateLast Updated : 2023-03-28
Read more

BAB 37

Adriano berdiri di tengah-tengah supermarket sambil memandangi Tabitha yang sibuk memilih buah alpukat. Sambil mendorong troli berisi aneka bahan makanan, aneka minuman dan makanan ringan yang sudah dipilih oleh Tabitha, Adriano melempar pandangan ke sekelilingnya. Sesekali pria itu tersenyum ramah pada wanita atau gadis-gadis yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya, yang akan membalas senyumannya dengan tersenyum malu-malu, atau membuang muka dengan pipi merona. Tabitha geleng-geleng kepala. “Suka tebar pesona juga rupanya? Aku baru tahu ...” ujarnya, sambil memasukkan sekantung buah alpukat ke dalam troli. Adriano tertawa kecil. “Aku hanya berusaha ramah! Apa itu salah?” Adriano balik bertanya. Tabitha merengut. “Nggak! Nggak ada yang bilang kalau itu salah!” ujarnya, dengan nada sedikit kesal. Kening Adriano sedikit berkerut. "Kamu cemburu?" tanyanya, lalu tersenyum menggoda. Tabitha menoleh. "Apa? Cemburu? Nggak!" bantahnya. "Yes, you are!" "Nggak!" Adri
last updateLast Updated : 2023-10-16
Read more

BAB 38

Bayi mungil yang masih merah itu tertidur pulas di atas kasur kecilnya. Tabitha seolah tidak puas memandangi wajah cantik bayi yang berjenis kelamin perempuan itu. Bibirnya yang merah kecil. Hidungnya yang mungil. Rambut hitam yang masih sangat halus dan lembut. Sungguh anugerah Tuhan yang sungguh luar biasa! “Bayi yang sangat cantik ya! Seperti dirimu!” Adriano tiba-tiba memeluk Tabitha dari belakang. Lengannya melingkar erat di pinggang gadis itu. Tabitha menggeliat kegelian. Hembusan nafas hangat pria itu baru saja mengusap lembut tengkuknya. Rambut panjang bergelombangnya memang sedang digelung. Memperlihatkan tengkuk yang putih mulus dan berbulu halus. Sangat menggoda hasrat Adriano untuk membuat “tanda merah”nya di situ. Tetapi sayang, bukan sekarang saatnya. “Berarti ... aku cantik seperti bayi, begitu maksudmu?” tanya Tabitha. “Yes. And you are my baby!” Adriano berbisik di telinga Tabitha. Bibirnya menempel di daun telinga gadis itu, hingga membuat Tabitha semakin me
last updateLast Updated : 2023-10-24
Read more

BAB 39

“Hmm … Adriano … kamu ... mau bawa aku ke mana? Adrian ... Adrian ... sayaang ...." “Ke surga, Sayang! Kita akan pergi ke sana! Sabar ya!” ujar pria itu sambil menggendong tubuh seorang gadis menaiki tangga menuju sebuah kamar di lantai tiga. Suara bising dari musik yang menghentak di lantai dua masih dapat dia dengar jelas. Suara desahan nafas dari dalam kamar dengan pintu-pintu tertutup rapat yang baru saja mereka lewati, apalagi! Setelah membaringkan tubuh gadis yang sudah tidak berdaya itu di atas kasur, pria itu langsung mengunci rapat pintu kamar yang selama ini hanya boleh digunakan olehnya. Matanya tampak nyalang menatap tubuh yang sudah terbaring lemas di hadapannya, hampir tanpa busana. Tubuh dengan kulit putih mulus itu hanya terbalut pakaian dalam yang masih melekat, dan sebuah kemeja yang sudah setengah terbuka. Jeans yang sebelumnya dipakai oleh gadis itu sudah melayang entah ke mana. Kancing kemeja yang masih dipakai oleh gadis itu pun beberapa sudah terlepas d
last updateLast Updated : 2023-10-25
Read more

BAB 40

Gadis itu terbaring di ranjang rumah sakit. Kondisinya sudah lebih baik, walau masih terlihat lemah dan tidak berdaya. Tidak ada yang mengira bahwa dia mampu bertahan hidup setelah mengalami kecelakaan fatal seperti itu. Ketika tubuhnya sudah tidak bergerak, semua berpikir gadis itu sudah mati. Pengemudi mobil yang menabraknya pun berpikiran sama. Tetapi, dugaan mereka semua salah. Tuhan memberi gadis itu kesempatan hidup kedua. Entah untuk apa. Ketika petugas aparat membawa tubuh yang mereka pikir sebentar lagi akan menjadi mayat, pengemudi mobil yang menabraknya pun langsung tertangkap. Tetapi sayang, belum sempat mereka interogasi, para petugas itu sudah kecolongan. Mereka hanya lengah sebentar, tetapi nyawa pengemudi yang ternyata seorang pria berbadan besar sudah terlanjur melayang. Pria itu bunuh diri. Menelan pil racun yang langsung menghancurkan lambungnya dalam seketika. Tidak ada surat-surat. Tidak ada tanda pengenal. Sidik jari dan DNA pengemudi itu bahkan tidak terdaf
last updateLast Updated : 2023-10-31
Read more
PREV
12345
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status